WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 18 November 2013

Wasiat Untuk Remaja Islam (5) : Menuntut Ilmu Suatu Kewajiban Bagimu

Ketahuilah … takkan kau retas hidup dengan kemuliaan jika kau bodoh, takkan kau dapat keutamaan jika kau golongan orang yang pandir, sesungguhnya Allah swt., telah menjanjikan dalam surat al-Mujadilah ayat 11 bahwa akan ditinggikan  derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Rasulullah saw., begitu banyak menjelaskan tentang keutamaan berilmu. Dan para shahabatpun telah mencontohkan dalam kepribadian mereka tentang urgensi ilmu.

Para cendekiawan muslimpun telah menunjukkan bahwa dengan ilmulah Islam itu maju, dan dengan ilmu pulalah umat Islam itu mampu berinteraksi dengan alam dan menguasai peradaban.

Apakah tidak cukup bagimu sebagai contoh bagaimana kala umat Islam menguasai ilmu, Islam menjadi pusat peradaban dunia ? Andalusia yang tandus dan  gersang, kala tumbuh dan  besar dalam kekuasaan Islam yang diisi oleh orang-orang berilmu, mampu membawa perubahan besar bagi kemajuan Eropa. Bahkan kalangan yang tidak seakidahpun rela menuntut ilmu dalam lingkaran keilmuan umat Islam. Betapa banyak riwayat yang menyatakan hal ini. Cukup kau menyimak lembaran-lembaran sejarah tentang hal ini.

Untuk itu berilmulah, carilah ilmu itu dimana saja kau berada, tinggalkan kampung halamanmu untuk menuntut ilmu, kelak sebarkan ilmu kembali dikampung yang pernah kau tinggalkan. Jangan biarkan umat buta dengan ilmu, maka dengan keharusanmu menuntut ilmu dengan harapan kau juga mampu membawa ilmu itu kepada saudaramu se-iman yang bisa jadi tidak memiliki kesempatan yang engkau miliki.

Ketahuilah … amal ibadah yang kau tunaikan, rukuk dan sujud disetiap shalatmu, bacaan al-Qur’anmu yang mendayu-dayu, jika tidak dilandasi ilmu, percuma dan hanya menggiringmu pada kepayahan, tapi tidak bernilai apa-apa disisi Allah swt.
Menjadi pelaku taqlid (pengikut) buta adalah kebodohan diatas kebodohan. Kelak di Yaumul Hisab, kala amalmu dipertanyakan, dan kau merasa kau ahli ibadah, ternyata kosong melompong disebabkan taqlid  butamu. Sungguh merugi dan menyesal.

Yang harus kau berhati-hati, ilmu itu dilingkari ketertipuan yang begitu banyak, kau harus mampu memilah dan memilih ilmu mana yang layak untuk kau kuasai. Jangan sampai kau menghabiskan umur dalam menuntut ilmu, tapi yang kau dapat tidak lebih dari pada meninggikan derajatmu di dunia, namun tidak menyelamatkanmu di akhirat. Untuk itu kaupun harus mengetahui rambu-rambu dalam menuntut ilmu. Awasi ketertipuan dalam menuntutnya.

Sesungguhnya ilmu yang menyelamatkanmu adalah ilmu ma’rifatullah (mengenal Allah swt.), ilmu yang akan membersihkan jiwamu, serta ilmu yang dapat mengantarkanmu pada pengabdian yang tulus kepada Allah swt. yang telah menciptakanmu. Maka utamakanlah mengejar ilmu tersebut. Ia tertuang dalam al-Qur’an dan Sunnah. Keilmuan lain yang dapat menjadi penyokong hal tersebut juga tidak boleh kau abaikan, sebab segala sesuatu itu saling bantu membantu untuk sampai pada tujuan.

Sedangkan keilmuan keduniaan semata, hendaklah kau posisikan secara bijak, jangan sampai ia melalaikanmu untuk pencarian ilmu yang lebih utama. Jadikanlah ia pembantu dan pasukanmu untuk mewujudkan keilmuan yang lebih utama kau pelajari.

Sadarilah …menjadi orang berilmu bukanlah perkara yang selesai dengan gelar di depan atau belakang nama, atau perkara yang hanya dituntaskan dengan ijazah atau simbol lembaga kependidikan. Menjadi orang berilmu adalah manifestasi akan pemahaman terhadap ajaran agama yang kau anut, Dinul Islam. Ia mengejewantah dalam kehidupanmu, ia membawa kebaikan bagi dirimu, dan menebar pada orang-orang disekitarmu.

Kelilmuanmu menjadi suluh penerang bagi dirimu dalam melangkah dan bertindak, ia menjadi penunjuk jalan menuju puncak hidayah. Ia menjadi penyemangat akan kegemaranmu dalam menunaikan amal shaleh. Dan ia pun menjadi kebutuhan akan penyelesaian konflik baik lahir atau batin seluruh manusia. Maka ia menjadi solusi akan problematika pernik-pernik kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Berperanlah engkau dalam hal ini, hendaklah engkau menjadi sosok yang belajar akan ilmu dan mengajarkannya pada manusia.

Ketahuilah …ilmu itu datang dari Allah swt. dan ia milik Allah swt. tidak akan peroleh jika kau tidak menunaikan adab-adabnya. Dan kaupu n harus mengetahui ilmu itu tidak akan menyusup ke dalam hatimu kecuali ada proses yang mengantarkannya. Ia tidak datang dengan sendirinya, ia melalui proses yang panjang, dan panjangnya itu sepanjang usiamu yang ada. Dalam proses itulah dibutuhkan adab, aturan dan akhlak.

Hal yang substansial yang tidak boleh terabaikan, berilmu haruslah berguru, belajar dari seseorang yang dianggap ‘alim (berilmu) dibandingkan dirimu. Disini manifestasi adab itu akan tampak. Kau harus menjaga adabmu terhadap yang mengajarkanmu ilmu, sosok guru yang kau harap darinya memancar cahaya muatan kedahsyatan ilmu tersebut.
Gamblang Rasulullah saw,. mengajarkan tentang adab menuntut ilmu, dan shahabatpun  telah mencontohkan bagaimana adab-adab mereka dalam memahami proses menuntut ilmu. Terutama sekali adab dalam berhadapan dengan orang ‘alim.

Posisikan dirimu sebagai murid, orang yang berkehendak untuk mendapatkan muatan ilmu. Jangan posisikan dirimu sebagai raja yang merasa lebih berkuasa dan behak mengatur segalanya dengan titahnya. Kala kau memposisikan dirimu sebagai murid, saat itu engkau menunjukkan suatu kebutuhan yang mendesak, sementara kebutuhan engkau itu berada pada seseorang, bagaimana sikapmu ? Tentu saja engkau akan melakukan hal-hal yang dapat menarik simpati orang itu dengan cara merendahkan hati agar kebutuhanmu terpenuhi.
Maka jadilah orang yang tawadhu’ dalam menyerap ilmu, dengan hati penuh ketundukan dilingkari perasaan akan kebutuhanmu pada ilmu itu ibarat kebutuhan akan air ditengah padang pasir yang kering kerontang, dalam keadaan tenggorokan sangat kering.


Jagalah adab-adabmu terhadap guru yang mengajarkanmu ilmu. Ini bukan bermakna perendahan harga diri, tapi wujud dari kesungguhan dan penyadaran diri bahwa kau bukan siapa-siapa, kau hanyalah orang lemah dan bodoh yang memang membutuhkan petunjuk untuk sampai pada ketinggian kemuliaan hidup. Kenyataan itu harus kau sadari karena memang demikian kenyataan dirimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar