Ketahuilah … takkan kau retas hidup dengan
kemuliaan jika kau bodoh, takkan kau dapat keutamaan jika kau golongan orang
yang pandir, sesungguhnya Allah swt., telah menjanjikan dalam surat
al-Mujadilah ayat 11 bahwa akan ditinggikan
derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Rasulullah
saw., begitu banyak menjelaskan tentang keutamaan berilmu. Dan para shahabatpun
telah mencontohkan dalam kepribadian mereka tentang urgensi ilmu.
Para cendekiawan muslimpun telah menunjukkan
bahwa dengan ilmulah Islam itu maju, dan dengan ilmu pulalah umat Islam itu
mampu berinteraksi dengan alam dan menguasai peradaban.
Apakah tidak cukup bagimu sebagai contoh
bagaimana kala umat Islam menguasai ilmu, Islam menjadi pusat peradaban dunia ?
Andalusia yang tandus dan gersang, kala
tumbuh dan besar dalam kekuasaan Islam
yang diisi oleh orang-orang berilmu, mampu membawa perubahan besar bagi
kemajuan Eropa. Bahkan kalangan yang tidak seakidahpun rela menuntut ilmu dalam
lingkaran keilmuan umat Islam. Betapa banyak riwayat yang menyatakan hal ini.
Cukup kau menyimak lembaran-lembaran sejarah tentang hal ini.
Untuk itu berilmulah, carilah ilmu itu dimana
saja kau berada, tinggalkan kampung halamanmu untuk menuntut ilmu, kelak
sebarkan ilmu kembali dikampung yang pernah kau tinggalkan. Jangan biarkan umat
buta dengan ilmu, maka dengan keharusanmu menuntut ilmu dengan harapan kau juga
mampu membawa ilmu itu kepada saudaramu se-iman yang bisa jadi tidak memiliki
kesempatan yang engkau miliki.
Ketahuilah … amal ibadah yang kau tunaikan,
rukuk dan sujud disetiap shalatmu, bacaan al-Qur’anmu yang mendayu-dayu, jika
tidak dilandasi ilmu, percuma dan hanya menggiringmu pada kepayahan, tapi tidak
bernilai apa-apa disisi Allah swt.
Menjadi pelaku taqlid (pengikut) buta
adalah kebodohan diatas kebodohan. Kelak di Yaumul Hisab, kala amalmu
dipertanyakan, dan kau merasa kau ahli ibadah, ternyata kosong melompong
disebabkan taqlid butamu. Sungguh
merugi dan menyesal.
Yang harus kau berhati-hati, ilmu itu dilingkari
ketertipuan yang begitu banyak, kau harus mampu memilah dan memilih ilmu mana
yang layak untuk kau kuasai. Jangan sampai kau menghabiskan umur dalam menuntut
ilmu, tapi yang kau dapat tidak lebih dari pada meninggikan derajatmu di dunia,
namun tidak menyelamatkanmu di akhirat. Untuk itu kaupun harus mengetahui
rambu-rambu dalam menuntut ilmu. Awasi ketertipuan dalam menuntutnya.
Sesungguhnya ilmu yang menyelamatkanmu adalah
ilmu ma’rifatullah (mengenal Allah swt.), ilmu yang akan membersihkan
jiwamu, serta ilmu yang dapat mengantarkanmu pada pengabdian yang tulus kepada
Allah swt. yang telah menciptakanmu. Maka utamakanlah mengejar ilmu tersebut.
Ia tertuang dalam al-Qur’an dan Sunnah. Keilmuan lain yang dapat menjadi
penyokong hal tersebut juga tidak boleh kau abaikan, sebab segala sesuatu itu
saling bantu membantu untuk sampai pada tujuan.
Sedangkan keilmuan keduniaan semata, hendaklah
kau posisikan secara bijak, jangan sampai ia melalaikanmu untuk pencarian ilmu
yang lebih utama. Jadikanlah ia pembantu dan pasukanmu untuk mewujudkan
keilmuan yang lebih utama kau pelajari.
Sadarilah …menjadi orang berilmu bukanlah
perkara yang selesai dengan gelar di depan atau belakang nama, atau perkara
yang hanya dituntaskan dengan ijazah atau simbol lembaga kependidikan. Menjadi
orang berilmu adalah manifestasi akan pemahaman terhadap ajaran agama yang kau
anut, Dinul Islam. Ia mengejewantah dalam kehidupanmu, ia membawa
kebaikan bagi dirimu, dan menebar pada orang-orang disekitarmu.
Kelilmuanmu menjadi suluh penerang bagi dirimu
dalam melangkah dan bertindak, ia menjadi penunjuk jalan menuju puncak hidayah.
Ia menjadi penyemangat akan kegemaranmu dalam menunaikan amal shaleh. Dan ia pun
menjadi kebutuhan akan penyelesaian konflik baik lahir atau batin seluruh
manusia. Maka ia menjadi solusi akan problematika pernik-pernik kehidupan, baik
di dunia maupun di akhirat. Berperanlah engkau dalam hal ini, hendaklah engkau
menjadi sosok yang belajar akan ilmu dan mengajarkannya pada manusia.
Ketahuilah …ilmu itu datang dari Allah swt. dan
ia milik Allah swt. tidak akan peroleh jika kau tidak menunaikan adab-adabnya.
Dan kaupu n harus mengetahui ilmu itu tidak akan menyusup ke dalam hatimu kecuali
ada proses yang mengantarkannya. Ia tidak datang dengan sendirinya, ia melalui
proses yang panjang, dan panjangnya itu sepanjang usiamu yang ada. Dalam proses
itulah dibutuhkan adab, aturan dan akhlak.
Hal yang substansial yang tidak boleh
terabaikan, berilmu haruslah berguru, belajar dari seseorang yang dianggap ‘alim
(berilmu) dibandingkan dirimu. Disini manifestasi adab itu akan tampak. Kau
harus menjaga adabmu terhadap yang mengajarkanmu ilmu, sosok guru yang kau
harap darinya memancar cahaya muatan kedahsyatan ilmu tersebut.
Gamblang Rasulullah saw,. mengajarkan tentang
adab menuntut ilmu, dan shahabatpun
telah mencontohkan bagaimana adab-adab mereka dalam memahami proses
menuntut ilmu. Terutama sekali adab dalam berhadapan dengan orang ‘alim.
Posisikan dirimu sebagai murid, orang yang
berkehendak untuk mendapatkan muatan ilmu. Jangan posisikan dirimu sebagai raja
yang merasa lebih berkuasa dan behak mengatur segalanya dengan titahnya. Kala
kau memposisikan dirimu sebagai murid, saat itu engkau menunjukkan suatu kebutuhan
yang mendesak, sementara kebutuhan engkau itu berada pada seseorang, bagaimana
sikapmu ? Tentu saja engkau akan melakukan hal-hal yang dapat menarik simpati
orang itu dengan cara merendahkan hati agar kebutuhanmu terpenuhi.
Maka jadilah orang yang tawadhu’ dalam
menyerap ilmu, dengan hati penuh ketundukan dilingkari perasaan akan
kebutuhanmu pada ilmu itu ibarat kebutuhan akan air ditengah padang pasir yang
kering kerontang, dalam keadaan tenggorokan sangat kering.
Jagalah adab-adabmu terhadap guru yang mengajarkanmu
ilmu. Ini bukan bermakna perendahan harga diri, tapi wujud dari kesungguhan dan
penyadaran diri bahwa kau bukan siapa-siapa, kau hanyalah orang lemah dan bodoh
yang memang membutuhkan petunjuk untuk sampai pada ketinggian kemuliaan hidup.
Kenyataan itu harus kau sadari karena memang demikian kenyataan dirimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar