Assalaamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur hanya kepada Allah Azza Wa Jalla, Shalawat teruntuk Rasulullah SAW.
Ana ingin sedikit berbagi cerita dengan Antum semua, beberapa hari yang lalu, Ana pernah memberikan pesan terhadap salah seorang murid Ana disuatu madrasah, pesan itu Ana berikan kepadanya setelah anak tersebut menetapkan pilihan dalam pengambilan jurusan dengan memilih PK ( Program Keagamaan ). PK dalam jurusan madrasah merupakan jurusan pilihan ditingkat Aliyah yang berbasis keagamaan, yakni agama Islam, dalam jurusan ini siswa ditempa dengan nilai-nilai mata pelajaran ke Islaman yang ditanamkan secara mendalam, seperti Akhlak Tasawuf, Ilmu Kalam, Tafsir, Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh,Bahasa Arab dan Sejarah Kebudayaan Islam, serta materi kegamaan Islam lainnya. Materi ini ditanamkan lebih banyak porsinya dibandingkan jurusan selain PK yang berada pada instansi madrasah. Karena memang, PK khusus jurusan yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai ke Islaman. Inti dari pesan yang ana sampaikan : “ Bersiap-siaplah menjadi anak PK ”. Saat itu dia tidak menimpali. Namun kemudian setelah itu dia mengirim pesan singkat melalui SMS dengan pertanyaan mengapa harus bersiap-siap. “ PK bukan hanya sekedar pilihan jurusan, tapi adalah pilihan keimanan, berani masuk ke dalam jurusan PK berarti kita telah menerjunkan diri dalam sebuah perjuangan besar meniti jalan Ilahi, akan banyak ditemukan rintangan dan hambatan yang akan melemahkan, apakah hal itu cemoohan, ejekan dan lain sebagainya yang bersifat melecehkan dan menjatuhkan, namun jangan takut, jika kita bangun dengan kebersamaan semua itu akan dapat diatasi. ” Demikian hakikat dari jawaban yang Ana berikan.
Tak lama berselang, anak tersebut Ana temukan telah duduk dalam jurusan PK. Subhaanallaah.
Ada perasaan yang membuat Ana terharu dengan fenomena ini, keterharuan tersebut disaat Ana mendapatkan anak tersebut tetap istiqamah dengan pilihannya walaupun telah Ana gambarkan rintangan dan hambatan yang akan di alami. Duhai ... anak sebesar itu, sweetseventeen, dalam zaman sekarang sulit untuk dicari keistiqamahannya. Bukankah, dengan maaf Ana sampaikan, masa-masa itu adalah masa-masa mencari jati diri, sulit untuk diarahkan, ingin menang sendiri, dan cendrung pada hal-hal yang disenangi oleh nafsu. Namun ia menetapkan pilihan hidup dengan menentang arus dan kebiasaan layaknya remaja sweetseventeen, dia rela menerjunkan dirinya dalam sebuah lingkaran yang memiliki rintangan dan hambatan yang begitu dahsyat, ya, lingkaran itu adalah lingkaran dakwah. Padahal, kecendrungan sebagian anak-anak zaman sekarang lebih mengarah pada hedonisme, bagaimana mereka mendapatkan kesenangan hidup sesuai dengan tuntutan nafsu dengan mengabaikan norma-norma yang ada, siapa lu siapa gue, emangnya gue pikirin, demikian falsafah mereka. Kalaupun bicara tentang cita-cita, harapan mereka lebih bertumpu pada bagaimana pendidikan dijadikan alat untuk mencapai dunia kerja, agar dapat mendapatkan pekerjaan yang dapat mengumpulkan harta melimpah, materialistis.
Disinilah keterharuan Ana tersebut, terlepas dari apa sebenarnya nawaitu yang ingin dia kejar dengan mengambil jurusan PK, namun secara lahiriah membuktikan bahwa dari sekian seringnya kita memandang negatif terhadap generasi yang dalam proses mencari jati diri, terdapat dikalangan mereka yang bisa diharapkan dan ditanamkan harapan untuk mengusung dakwah ini. Hal-hal inilah hendaknya yang menjadi perhatian kita dan dijadikan skala utama dalam menambah panjangnya barisan dakwah. Hendaknya hal ini juga menyadarkan kita, ternyata orang-orang yang istiqamah dan mencintai dakwah ini begitu banyak, bahkan berada dekat disekitar kita, hanya saja karena kurang jelinya kita dalam menangkap situasi menyebabkan mereka tidak terjaring dan masuk dalam satu barisan dakwah yang kita usung.
Assalaamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar