Assalaamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin. Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ali Muhammad.
Beberapa tahun yang lalu, K.H. Abdullah Gymnastiar, atau lebih populer dengan panggilan Aa’ Gym menghadapi ujian yang begitu berat, beliau diserang dari berbagai arah, terutama dari kalangan ibu-ibu, dikarenakan mengambil tindakan yang dianggap kontradiktif bagi kalangan sebagian kaum hawa, poligami. Hal tersebut tidak main-main, tokoh yang terkenal dengan bengkel akhlak dengan Manajemen Qalbunya ini mengalami pemorosotan pengikut jamaah yang luar biasa drastis ba’da keberaniannya mengambil keputusan tersebut. Jauh sebelum itu, kita juga pernah mendengar dan menyaksikan, K.H. Zainuddin, MZ yang pernah mendapat julukan “ Da’i Sejuta Umat ” mengalami penurunan pengikut yang juga sangat drastis, semenjak beliau berani menerjunkan diri ke dalam dunia politik.
Tanpa disangkal, dua tokoh agama di negri ini memang memiliki kharismatik yang luar biasa dalam menyampaikan tausiah-tausiah seputar ke Islaman. Mereka merupakan penda’i yang memiliki ciri khas tersendiri dalam metode menyampaikan dakwah, sehingga membuat umat terpukau dan menerima ajaran mereka dengan sepenuh hati. Namun ada satu hal yang membuat kita miris, disaat melihat apa yang terjadi setelah itu, disaat apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan keinginan umat, padahal, apa yang mereka lakukan toh, sama sekali tidak melanggar syari’at. Umat langsung berbalik menjauhi mereka.
Inilah dalam konsep dakwah yang disebut dengan figuritas, artinya dakwah yang terbangun dengan baik hanya dikarenakan pengaruh kharismatik tokoh, figur semata, bukan karena keinginan umat untuk menerima substansi dakwah yang sesungguhnya. Orang Minangkabau mengatakan “ rancak di labuah ”, kelihatannya sangat luar biasa, tapi sebenarnya bukan seperti yang kelihatan. Konsep figuritas tidak akan membawa perubahan apa-apa pada umat, hanya bersifat sementara dan akan punah dengan sendirinya seiring dengan pudarnya pamor figur yang dijadikan ukuran.
Lantas, apakah Aa’ Gym dan K.H. Zainuddin, MZ, salah dalam hal ini ? Tentu saja tidak, secara jujur mereka malah layak diapresiasi dengan kemampuan mereka memformat dakwah dengan cara yang menarik bagi umat. Bahkan kita bangga memiliki mereka, dan kita tentunya berprasangka baik bahwa mereka tiada niat sedikitpun untuk menjadikan diri mereka figur, namun yang harus menjadi bahan renungan dan pemikiran kita, dari sana hendaknya menjadi pelajaran dan menyadarkan kita, ternyata kecendrungan umat lebih pada konsep figuritas, bukan pada substansi dakwah yang sesungguhnya. Dari sinilah kita mengambil pijakan awal untuk menentukan strategi dakwah bagaimana mengalihkan konsep figuritas menjadi konsep yang lebih mengarah pada pemahaman pada substansi dakwah, sehingga umat, dikala mereka kehilangan tokoh yang membawa risalah dakwah, dikarenakan sesuatu dan lain hal, substansi dakwah tetap terjaga dan melekat dihati umat.
Demikianlah kiranya yang diterapkan Rasulullah SAW, walaupun pada hakekatnya diantara salah satu keberhasilan dakwah beliau memang karena figur beliau yang bergelar “Al Amin ”, namun Rasulullah SAW tidak menjadikan hal tersebut standar ukuran bagaimana umat menerima dakwah yang sesungguhnya. Sehingga beliau membangun sebuah konsep penanaman ruh substansi dakwah dengan konsep halaqah di rumah Arqam bin Abil Arqam, yang merupakan institusi dan madrasah pertama. Disana berjalan proses kaderisasi yang berksinambungan. Dari lembaga itu lahirlah generasi-generasi tangguh, istiqamah dan solid dalam urusan dakwah. Walaupun Rasulullah SAW telah wafat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar