Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Duhai ... sesungguhnya pertama sekali yang layak kita ucapkan adalah syukur kepada Allah SWT yang telah mengizinkan kita untuk terjun dalam barisan dakwah, walaupun hakikatnya kita belum layak dikatakan aktifis dakwah. Shalawat teruntuk panutan para aktifis dakwah, Rasulullah SAW.
Untuk membakar semangat dakwah kita, Ana mulai penyampaian ini dengan mengutip sebuah kisah yang dituturkan Ibnu al-Jauzi dalam karya beliau “ Ahla al-Hikayat min Kitabi al-Adzkiya ”, diterjemahkan oleh Abdurrahim Ahmad dengan Judul : Humor Cerdas ala Orang-Orang Cerdik ( Jakarta : Qisthi Press, 2007 ) :
Berikut ini adalah kisah tentang kecerdikan Isa a.s :
Suatu hari, Iblis datang menemuinya dan bertanya, “ Bukankah kamu meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi padamu adalah hanya yang telah ditetapkan Allah bagimu ?”
“ Benar,” jawab Isa a.s.
Lantas, Iblis berkata, ” Kalau begitu, jatuhkanlah dirimu dari atas gunung ini. Sebab, jika Allah menakdirkanmu selamat, pastilah engkau akan selamat !”
Maka Isa a.s. pun menjawab, “ Wahai makhluk terlaknat, sesungguhnya hanya Allah s.w.t saja yang berhak menguji hamba-hamba-Nya. Sementara hamba-hamba-Nya tidak berhak sama sekali untuk menguji Tuhannya.” (( Halaman 10-11 )
Apa yang terlintas dalam pikiran kita disaat memaknai kisah ini ? Sungguh sebuah pengajaran yang begitu luar biasa untuk kita yang meniti jalan dakwah yang mana terasa begitu besar rintangan yang menghadang. Di hadapan kita segala aral melintang untuk memberangus gerakan dakwah yang ingin kita semai ...mungkin kita pernah merasakan dalam pengalaman dakwah yang kita tunaikan ... disaat kita menyampaikan suatu kebenaran ...ternyata kita mendapatkan tanggapan “ Alaaa ...h jangan sok alim, memangnya kamu orang yang benar, dijamin masuk sorga, apa yang kamu sampaikan itu apakah kamu mampu menunaikan sepenuhnya, ngaca dong, jangan hanya mampu bicara doang ! ”. Bagaimana perasaan kita disaat itu ?
Disatu sisi kita menyadari, bahwa apa yang dikatakan benar adanya, bukankah masih banyak dosa yang kita lakukan, hal ini tidak dapat kita pungkiri. Namun, jika perasaan ini kita bawakan secara mendalam dan dibiarkan berlarut-larut akan mengakibatkan semangat dakwah kita menjadi down, berujung pada suatu kesimpulan, kita belum layak untuk berdakwah, tapi kita selayaknya menjadi objek dakwah. Muncullah kata hati kita : “ Kita belum layak untuk berdakwah, sebab apa yang kita dakwahi belum tentu kita mampu untuk menunaikannya. ”
Aduhai ... ketahuilah ...
Jika hal ini yang menimpa kita ... sungguh kita telah tertipu, tertipu dengan ujian dakwah yang sama sekali kita tidak menyangka disanalah awal dari kehancuran misi kita dalam membangun izzah Islam wal muslimin. Memang benar ... kita selaku insan yang lemah, tidak terlepas dari kekurangan dan kealpaan, namun hal tersebut bukan berarti kita menjadi lemah, namun hendaknya berubah menjadi sebaliknya, menjadi cambuk agar kita lebih menggiatkan mengejar keutamaan kita disisi Allah SWT, sementara kita tidak berhenti menjalankan misi agung yang Allah SWT tetapkan hanya untuk orang-orang pilihan.
Seandainya para ulama-ulama terdahulu, orang-orang shaleh yang telah menyerahkan dirinya untuk agama ini, berfikiran sama dengan apa yang kita fikirkan, merasa diliputi rasa takut akan kesalahan diri dan takut tidak mampu menunaikan apa yang didakwahkan ... sehingga mereka menutup diri, enggan menunaikan kewajiban dakwah kemungkinan hari ini kita tidak akan mendapatkan cahaya keagungan nilai-nilai Islam. Maka terpendamlah cahaya Islam itu dalam lumpur yang hitam lagi pekat.
Ujian tersebut memiliki dua sisi yang perlu kita cermati dan kita posisikan pada tempatnya, Pertama, hal tersebut bisa jadi ujian yang didatangkan oleh Allah SWT untuk kita, sebagai barometer sejauhmana ketangguhan dan keistiqamahan kita dalam meniti jalan dakwah ini, mampukah kita untuk bertahan atau mungkin malah terkapar tidak beradaya yang berujung pada putus asa. Jika memang hal ini keadaannya, maka obatilah dengan kembali menguak dan mengambil i’tibar dari bagaimana cara Rasulullah SAW mengatasi hal ini. Disaat Rasulullah SAW menyeru orang-orang Thaif, tepatnya Bani Tsaqif, bagaimana reaksi mereka ? Bahkan main-main, Rasulullah SAW dianggap sebagai orang gila dan dilempari dengan batu hingga kaki beliau berdarah. Namun berputus asakah beliau ? Tidak, sama sekali tidak, bahkan beliau melihat dari sisi lain, mengapa orang-orang Thaif menolak ajakan beliau, ya, sesuai dengan kandungan do’a yang beliau lantunkan kepada Allah SWT : Ya Allah, berikanlah petunjuk pada kaumku, sesungguhnya mereka tidak memahami ”. Dengan kecerdasan beliau mampu melihat bahwa penolakan orang-orang Thaif terhadap dakwah bukan berarti mereka menolak kebenaran risalah, tapi tidak lebih dari pada karena mereka belum memahami yang sesungguhnya.
Demikian pulalah kita hendaknya jika mengalami hal yang serupa, dalam kadar dan bentuk apapun, belajarlah bagaimana cara Rasulullah SAW menyikapinya. Dengan ini lebih menguatkan dan memompa semangat kita bahwa sesungguhnya dalam setiap asa yang kita perjuangkan, jika hal tersebut berurusan dalam penegakan risalah dakwah, maka Allah SWT tidak akan membiarkan kita dalam kesendirian. Tapi pertolongan itu pasti akan datang.
Kedua, bisa jadi ujian tersebut adalah, upaya bagi bagi orang-orang yang menentang dakwah ini dengan mematahkan semangat dakwah kita yang masih labil dengan menguji keistiqamahan kita. Jika hal ini yang terjadi, kisah Nabi Isa a.s tersebut cukup kiranya bagi kita sebagai penawarnya, terpatri dalam ucapan Nabi Isa a.s : “ Wahai makhluk terlaknat, sesungguhnya hanya Allah s.w.t saja yang berhak menguji hamba-hamba-Nya. Sementara hamba-hamba-Nya tidak berhak sama sekali untuk menguji Tuhannya.”.
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar