Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kita bukti-bukti sejarah yang agung, yang telah menunjukkan kepada kita bahwa kekuatan iman sangat menentukan akan sebuah keberhasilan sebuah perjuangan. Shalawat teruntuk Rasulullah SAW.
Inilah kisah yang membuat jiwa-jiwa pemberani bergetar, inilah sejarah yang membuktikan akan kekuatan sebuah keimanan, inilah kisah para perindu syahid yang entah akan muncul kembali tandingannya ..., ya kisah luar biasa yang telah dicontohkan para shahabat agung, para shahabat yang mendapatkan gemblengan tarbiyah dari madrasah Rasulullah SAW. Akan Ana sampaikan kisah ini dengan merujuk kepada penuturan Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph. D dengan judul “ Hayat Muhammad ”, ( terbitan Dar Al-Maaref,119, Corniche El-Nil, Cairo, Egypt ), yang diterjemahkan oleh Ali Audah dengan judul “ Sejarah Hidup Muhammad ”, ( Jakarta : Tintamas, 1984 ) :
Dalam bulan Jumadil Awal tahun kedelapan Hijrah ( tahun 629 M ), dalam ekspedisi Mu’ta Nabi SAW memanggil tiga ribu orang pilihan, dari sahabat-sahabatnya, dengan menyerahkan pimpinannya kepada Zaid bin Haritha dengan mengatakan :
“ Kalau Zaid gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib yang memegang pimpinan, dan kalau Ja’far gugur, maka Abdullah bin Rawaha yang memegang pimpinan.”
... Disinilah Zaid bertempur mati-matian sehingga akhirnya hancur luluh ia oleh tombak musuh. Saat itu juga benderanya disambut oleh Ja’far bin Abi Thalib dari tangannya. Ketika itu usianya baru tigapuluh tiga tahun, sebagai pemuda yang berwajah tampan dan berani. Ja’far terus bertempur dengan membawa bendera itu.
Bendera waktu itu dipegang di tangan kanan Ja’far; ketika tangan ini terputus, dipegangnya dengan tangan kirinya; dan bila tangan kiri ini pun terputus, dipeluknya bendera itu dengan kedua pangkal lengannya sampai ia tewas.
Setelah Ja’far tewas bendera diambil oleh Abdullah ibn Rawaha. Dia maju dengan kudanya membawa bendera itu. Sementara itu terpikir olehnya akan turun saja. Ia masih agak ragu-ragu. Kemudian katanya :
O diriku, bersumpah aku
Akan turun engkau, akan turun
Aku masih terpaksa juga
Jika orang sudah berperang
dan genderang sudah berkumandang
Kenapa kulihat kau masih membenci surga ?
Kemudian diambilnya pedangnya dan dia maju terus bertempur akhirnya dia pun tewas juga.
... setelah berita ini diketahui oleh Nabi, ia sangat terharu sekali, terutama terhadap Zaid dan Ja’far. Lalu katanya : Mereka telah diangkat kepadaku di surga – seperti mimpi orang yang sedang tidur – di atas ranjang emas. Lalu saya lihat ranjang Abdullah bin Rawaha agak miring daripada ranjang kedua temannya. Lalu ditanya : Kenapa begitu ? Dijawabnya: Yang dua orang terus maju, tapi Abdullah agak ragu-ragu. Kemudian terus maju juga. ... ( Halaman 485 dan 487-488 ).
Aduhai ... begitu agung kisah ini,bukan dongengan belaka, apalagi cerita pembual yang mampu mengukir kata, tapi kisah nyata sarat makna yang harus kita gali agar tidak hanya menjadi sejarah yang terlupakan.
Tertanam suatu nilai begitu luar biasa yang dapat kita tangkap dalam peristiwa ini, pembelajaran dalam menetapkan tekad perjuangan menegakkan izzah islam wal muslimin agar tidak ragu-ragu. Setiap kita meyakini, dan mungkin akan sepakat,bahwa shahabat sekaliber Abdullah bin Rawaha merupakan shahabat agung yang memiliki tingkat keimanan tidak perlu lagi diragukan. Bukti keagungan beliau dapat dibuktikan dengan terpilihnya sebagai pemegang pimpinan setelah Ja’far dan langsung ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Tapi mengapa terjadi hal yang mungkin menurut pemikiran kita suatu peristiwa yang tidak layak disandang oleh seseorang sekaliber shahabat.
Disini kita bukan untuk menghakimi Abdullah bin Rawaha, namun mencoba menggali pengajaran yang disampaikan Allah SWT melalui hamba-hamba-Nya yang shaleh. Pertama, kita harus mengakui, terkadang muncul keraguan dalam diri kita akan hasil sebuah perjuangan, disaat kita merasakan rintangan dan hambatan dakwah yang terasa semakin berat dan melelahkan, sementara gelombang serangan dari musuh-musuh kita terasa semakin memiliki kekuatan dan mencapai hasil kegemilangan yang berlipat ganda. Proses dakwah yang kita lakukan terkadang terasa jalan di tempat bahkan merosot, berbagai macam cara rasanya telah kita tunaikan, namun hasilnya tetap berada pada tahap di bawah garis memuaskan. Memang demikian kenyataannya perasaan tersebut, hal itu pulalah kiranya yang dirasakan Abdullah bin Rawaha disaat menemukan kenyataan pahit gugurnya dua pimpinan perang yang gagah berani Zaid dan Ja’far. Muncul dihatinya keragu-raguan. Namun disini kata kunci itu terkuak, Abdullah bin Rawaha mengajarkan kepada kita, keragu-raguan itu harus ditepis dan tidak boleh dibiarkan berkembang apalagi mekar, sehingga dengan cepat dia merengsek maju dan menetapkan pilihan hidupnya, syahid di jalan Allah SWT. Nilai inilah selayaknya kita tanamkan dalam jiwa kita, disaat keragu-raguan akan pencapaian hasil sebuah perjuangan terbersit dalam jiwa, tepislah segera, bangkit dan maju. Jangan biarkan sedetikpun waktu keragu-raguan itu mengendap apalagi membentuk kekuatan yang bermuara pada keputusasaan.
Kedua, ketahuilah, tekad dan azzam itu sangat menentukan kadar hasil yang diperoleh, Subhaanallaah, hanya sedikit keragu-raguan yag muncul dalam jiwa Abdullah bin Rawaha namun dapat membedakan hasil yang diperoleh beliau dibandingkan Zaid dan Ja’far. Duhai ... begitu besar peran tekad dan azzam itu, tidak boleh terkontaminasi dengan apapun, sesedikit apapun, karena bagi Allah SWT tiada satupun yang luput dari pantauan-Nya, sungguh Allah SWT Maha Adil dalam menetapkan urusan.
Bagaimana tekad dan azzaam kita hari ini ? Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk tetap istiqamah dalam jalan dakwah ini, dengan tekad dan azzam ikhlas hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT.
Assalaamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar