WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 16 Agustus 2011

Upaya Pengembangan Potensi Dakwah Sekolah


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Alhamdulillaahirabbil’alaamiin, kita ucapkan kepada Allah SWT yang hingga detik ini kita masih diberikan kekuatan dan petunjuk dalam dakwah ini, shalawat  teruntuk Rasulullah SAW.

Ada semacam kerisauan bagi kita, jika kita coba menilik situasi objek dakwah dari kalangan generasi muda, tepatnya kaum pelajar, anak sekolahan. Hal ini mungkin dialami oleh saudara-saudara kita yang bergerak dalam pembinaan dakwah sekolah, dan dakwah remaja dan pemuda. Kerisauan ini diantaranya : Tidak terdapatnya keseimbangan keberhasilan dakwah antara kaum akhwat dengan kaum ikhwah. Dakwah lebih cepat diterima oleh kaum akhwat daripada kaum ikhwah, sehingga tidak heran jika kita lebih sering mendengar istilah “ Forum Annisa’ ” dari pada “ Forum Ar-Rijal ” dalam lingkungan Rohis ( Rohani Islam ) disekolahan. Apakah karena kaum Hawa lebih cepat mendapat hidayah dari pada kaum Adam ? Tentu saja tidak. Atau karena memang jumlah kaum perempuan lebih banyak dari pada kaum laki-laki di permukaan bumi ini ? Hal ini juga bukan alasan.

Setidaknya dalam menyikapi hal ini, ada beberapa fenomena yang perlu kita cermati, sesuai dengan situasi perkembangan kejiwaan anak sekolahan, dari hal ini kita akan mampu menarik suatu jalan keluar. Secara kejiwaan, kaum perempuan lebih cendrung pada hal-hal yang bersifat perasaan, diperhatikan dan pemecahan solusi jiwa mereka yang tidak terungkap. Hal ini mereka peroleh seutuhnya dalam kegiatan rohis, karena memang kita akui, secara umum kegiatan rohis kenyataannya lebih banyak berorientasi pelaksanaannya ke arah sana. Tentunya tanpa mengabaikan mungkin ada rohis yang tidak hanya terfokus pada hal tersebut. Namun, bagaimanapun, pandangan para generasi tersebut, jika berbicara tentang rohis atau dakwah sekolah berarti berbicara tentang hati dan perasaan. Bagaimana menjaga hati, mengelola rasa cinta, ceramah, dan lain sebagainya. Semua itu merupakan hal yang memang diminati oleh kaum perempuan. Karena kehidupam mereka lebih banyak di dominasi hal tersebut.

Berbeda halnya dengan kaum laki-laki, kecendrungan mereka lebih berorientasi pada pamor dan kekuatan fisik, sehingga tidak heran jika mereka lebih mencintai kegiatan-kegiatan sekolah ekstrakurikuler yang bersifat kompetisi, petualangan, tantangan dan rintangan. Bagi mereka yang ditonjolkan adalah bagaimana mereka selalu menjadi yang terbaik, dielu-elukan banyak orang,  dianggap pemain basket idola, pemain sepak bola yang banyak mencetak gol, atau vokalis band yang memiliki banyak penggemar.

Berangkat dari deskripsi ini, maka kita harus mampu merancang strategi dakwah ke depan untuk gerakan dakwah sekolah, tetap melalui rohis dengan mengagendakan kegiatan rohis sesuai dengan karakter dan kondisi kejiwaan anak sekolahan. Bagaimana kita mampu menjadikan rohis bukan hanya dalam bentuk format pengajian, penyampaian ceramah atau penanaman nilai-nilai melalui nasehat-nasehat di Masjid atau Mushalla, hendaknya ada upaya mengarah pada dunia anak sekolahan, masuk ke dalam dunia mereka, lalu dari sana kita tarik mereka ke arah nilai-nilai yang kita usung. Tentunya masuk ke dalam dunia mereka bukan berarti rohis harus diformat sama dengan dunia mereka, tapi dunia mereka dijadikan metode dan alat untuk penyampai pesan, dengan syarat selama masih dalam koridor kewajaran.  Sehingga rohis tidak lagi berbentuk pengajian rutin layaknya majlis taklim, tapi berisi kelompok-kelompok pelajar Islami yang tetap berada pada kecendrungan kejiwaan mereka. Tidak salah kiranya jika ada tim sepak bola dari rohis, grup nasyid dengan menggunakan alat-alat musik tingkat tinggi, hingga adanya kegiatan-kegiatan Hiking, Out Bound, Perkemahan, Mendaki Gunung, dan seabrek aktifitas yang menjadi kegemaran anak sekolahan. Dari sana nilai-nilai itu ditanamkan kepada mereka. Hal ini juga merupakan upaya pembuktian bahwa anak rohis bukan berarti keningnya harus hitam karena banyak sujud, selalu menunjukkan wajah serius, pakai peci dalam setiap keadaan, dan kegiatannya selalu di Masjid atau Mushalla. Tapi anak rohis adalah sosok-sosok yang mampu menunjukkan dirinya dengan berislam yang benar dengan segala potensi kebaikan yang ada pada dirinya kapan dan dimanapun ia berada.  Jika berprestasi dalam bidang olah raga, dia mampu menjadikan olah raga sebagai ajang untuk syi’ar, jika berpotensi dalam bidang  seni  atau musik dia mampu memposisikan dan mengarahkan  seni dan musik ke jalan kebaikan, bahkan dijadikan lahan untuk menyampaikan risalah, jika dia tergolong pencinta alam dan berjiwa petualang, dia mampu menjadikan hal tersebut sebagai upaya menggali nilai-nilai kebajikan yang tersebar dipelosok bumi. Demikian seluruhnya untuk setiap potensi-potensi dari masing-masing mereka.

Bagi kalangan dakwah kampus hal ini mungkin sebagian besar telah tertunaikan. Sehingga tidak heran jika dalam gurita pergerakan dakwah kampus, ada semacam kejar-mengejar antara gerakan dakwah kaum akhwat dengan gerakan dakwah kaum ikhwah.  Jika dalam gerakan dakwah kampus kita mampu menunaikannya, alasan apa yang menyebabkan kita tidak mampu untuk menunaikannya dalam dakwah sekolah ? Kata kuncinya adalah : Dakwah harus ditunaikan, jangan lihat kondisi dan alasan apapun, tapi lihatlah bahwa dakwah adalah kebutuhan umat, disaat umat merasakan urgensi yang sesungguhnya dari dakwah, maka mereka akan merasa beruntung mendapatkan sentuhan dakwah, termasuk anak sekolahan sekalipun.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar