WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 16 Agustus 2011

Upaya Membangun Format Dakwah


Assalaamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Bersyukur kita kepada Allah SWT yang telah menancapkan cahaya iman ke dalam relung kehidupan kita, yang telah mengajarkan kita akan sebuah pilihan hidup yang sesungguhnya. Shalawat kita curahkan buat Rasulullah SAW.

Ada kesan tersendiri yang saya peroleh disaat melepas lelah dalam perjalanan di malam hari mendaki Gunung Merapi yang bersebelahan dengan Gunung Singgalang. Saat itu, dalam satu rombongan di tengah perjalanan malam, kami yang terdiri dari para ikhwah beristirahat disuatu tempat, ditemukan ada rombongan lain yang juga mengadakan perjalanan dengan tujuan yang sama, mendaki Gunung Merapi,  mereka terdiri dari para pemuda. Dalam istirahat tersebut ketua rombongan kami memberikan komentar terhadap para pemuda tersebut, komentar beliau diarahkan kepada kami sebagai pengikut rombongan.  “ Mereka anak-anak muda itu, tidak terjamah oleh Dakwah-dakwah di Masjid, karena mereka hidup di alam bebas, ” Demikian intisari makna komentar beliau.

Bagi Ana komentar beliau tersebut menggambarkan betapa dakwah itu tidak cukup hanya ditunaikan melalui ceramah-ceramah atau diskusi-diskusi di Masjid, karena tidak akan menjamah seluruh potensi umat. Apalagi jika kita melihat fenomena yang tumbuh berkembang dalam masyarakat, Masjid masih jauh dari kalangan anak-anak muda, hanya didominasi oleh kaum tua, dan itupun mayoritas oleh kaum ibu-ibu. Padahal secara syari’at, yang dituntut untuk datang ke Masjid lebih utama adalah kaum laki-laki, sementara kaum wanita lebih dituntut untuk di rumah.

Masih sunyinya Masjid dari kalangan generasi muda hendaknya menguras cara berfikir kita bagaimana merancang strategi dakwah agar semata-mata tidak lagi aktifitas dakwah berpusat di Masjid, namun kita harus turun ke lapangan, berbaur dengan generasi tersebut, ikuti jalan kehidupan mereka, lalu lambat laun kita arahkan mereka ke jalan Masjid sebagai pusat sentral dalam institusi pergerakan dakwah.
Inilah makna yang dapat Ana tangkap dari penuturan ketua rombongan tersebut, kita harus masuk ke dalam dunia objek dakwah, jangan telalu memaksakan konsep dakwah dengan konsep yang ideal. Memang kita dituntut untuk idealis dalam urusan dakwah, namun bukan berarti menutup cara pandang realistis. Suatu hal yang ideal tanpa dikolaborasikan dengan realita hanya akan terkungkung dalam tataran ide atau teori yang tidak melahirkan sebuah kesimpulan hasil, tapi berputar-putar diantara angan-angan yang tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas.

Maka jangan heran jika kita pernah mendengar terdapat sebuah organisasi pergerakan dakwah yang memiliki klub sepak bola, kelompok pencinta alam, atau grup musik Islami yang bernuansa harakah, serta adanya kegiatan-kegiatan kemah dakwah. Hal tersebut tiada lain karena menyadari sepenuhnya bahwa untuk menjaring objek dakwah tidak cukup hanya dengan membawa mereka ke dalam dunia dakwah dengan ucapan-upacapan lisan dan nasehat-nasehat belaka, disebabkan terkadang mereka tidak memahami hakikat sesungguhnya sebelum mereka sendiri merasakan nilai-nilai dakwah itu dalam kehidupan nyata mereka. Sementara, permasalahannya, mereka enggan masuk dalam sebuah komunitas dakwah, ya, itu, dikarenakan mereka tidak memahami hakekat dakwah yang sesungguhnya. Untuk itu tinggal kita lagi yang dituntut, bagaimana upaya kita dalam menjaring mereka agar dapat merasakan nilai-nilai dakwah, hal tersebut diantaranya dengan memasukkan ruh dakwah ke dalam kehidupan yang mereka jalani.
Kesimpulannya, jika mereka tergolong pada para pemuda para pencinta alam, tuntutan dakwah hendaklah dikemas dengan format pencinta alam, jika mereka adalah terdiri dari kelompok para pelajar intelektual, tentunya tuntutan dakwah juga dikemas dengan gaya intelektual, begitu juga jika objek dakwah terdiri dari kaum ibu-ibu yang sudah tua renta dan lebih senang menghabiskan masa tuanya dengan beribadah, maka orientasi dakwah juga hendaknya mampu dirancang sesuai dengan kebutuhan mereka. Intinya adalah, dakwah dimana, kapan, dan dalam bentuk apapun harus mampu disesuaikan dan diasimilasikan dengan kebutuhan. Namun, tentunya harus diperhatikan tetap berada dalam koridor yang wajar, bukan dengan cara yang kebablasan yang berkibat malah melenceng dari tujuan yang ingin dicapai. Disini sangat dibutuhkan kehati-hatian, karena setan itu masuk di tempat-tempat yang paling kita anggap baik.

Assalaamualaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar