WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 25 Agustus 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Kesungguh-sungguhan Itu Bermanfaat


Mahfuzhat :

اَلْاِجْتِهَادُ مُفِيْدٌ
(Kesungguh-sungguhan itu bermanfaat )

Penjelasan :

Hidup di dunia ini penuh dengan  tantangan dan rintangan, semakin kuat kita berjuang menghadapi nya  semakin kuat pula tantangan dan rintangan itu menghadang, hanya orang-orang yang bersungguh-sungguhlah yang akan mampu melaluinya.

Ketahuilah, akankah Allah swt akan membagi secara rata tentang apa yang diinginkan manusia ? Tidak, tapi apapun yang diinginkan oleh manusia hanya akan diberikan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh memperolehnya. Disanalah letak keadilan Allah swt, yakni kemampuan Allah swt meletakkan sesuatu pada tempatnya secara adil. Tidak akan sama rezki yang didapat manusia yang bersungguh-sungguh mencarinya, dengan rezki manusia yang hanya bermalas-malasan dan berharap belas kasih orang lain. Memang rezki itu telah tercatat di Lauh Mahfuz, namun upaya pencapaian rezki itu berada dalam ikhtiar manusia, sejauhmana kesungguhan ia menggapainya, maka sejauh itulah yang ia dapat. Ini hanya sekelumit  contoh tentang makna kesungguhan. Untuk hal ini setiap kita mungkin paham, jadi tak perlu diperpanjang penjelasannya.

Namun, ada hal penting tentang kesungguhan yang sering terlupakan, dalam hal mengejar dan menghadapi kerasnya hidup di dunia, kita mampu mewujudkan kesungguhan untuk menaklukkan keduniaan kita. Banting tulang mencari nafkah, siang malam belajar menuntut ilmu, namun semua itu hanya untuk keduniaan semata. Mencari nafkah tak lebih dari pada menumpuk –numpuk harta dan berbangga-bangga dengan manusia, menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan kedudukan dan kemuliaan dimata manusia. Ketahuilah, sungguh, kesungguhan tersebut hanyalah akan membuat diri payah, sementara harta yang ditumpuk tidak pernah merasa cukup, ilmu yang dituntut tidak akan mendapatkan kemuliaan. Sebab, baik harta maupun ilmu, jika tidak ditujukan untuk fungsinya untuk apa Allah swt menciptakan, maka kecelakaanlah bagi yang menggunakannya.

Sadarilah, bukan kesungguhan demikian yang dituntut dalam hidup, tapi kesungguhan untuk mengenali diri, hingga mampu mengenali siapa yang menciptakan diri, dan untuk apa diri ini diciptakan. Semua itu hanya dapat diperoleh dengan ilmu, maka tujuan menuntut ilmu hendaklah untuk mengenali diri, mengenali siapa yang menciptakan diri dan untuk apa diri ini diciptakan. Jika menuntut ilmu itu tidak bisa diperoleh kecuali dengan perjalanan jauh, mendatangi tempat-tempat yang membutuhkan harta untuk mencapainya, maka untuk itulah harta dicari, karena harta itu alat untuk mencapai tujuan. Kesungguhan mencari harta dalam tataran ini, merupakan jalan kemuliaan.

Berpayah-payah dalam urusan kesungguhan mencapai kebenaran hakiki dalam hidup, mengenali diri, mengenali siapa yang menciptakan diri, dan untuk apa diri ini diciptakan, akan dapat mendatangkan manfaat yang begitu dahsyat pada diri. Tujuan hidup akan jelas, apa yang akan dilakukan tidak ngambang, upaya-upaya yang dilakukan memiliki orientasi yang pasti. Disaat dipahami apa tindakan yang harus dilakukan dalam hidup, jelas arah dan tujuannya, saat itu, setiap tindakan yang akan dilakukan terasa nikmat dan mudah, karena jelas petunjuk arahnya. Bukankah yang memotivasi kita untuk melakukan tindakan adalah kala tindakan yang akan kita tunaikan memiliki orientasi yang jelas ?

Seperti saat hendak wudhu’, bagi orang-orang yang tidak memahami  hakikat yang terkandung dalam wudhu’, saat melaksanakan wudhu’ tidak ada terbetik sedikitpun semangat dan perasaan yang bergelora untuk menunaikan, tak lebih hanya sekedar karena wudhu’ itu wajib jika hendak mendirikan shalat, maka jadilah wudhu’ hanya ritual rutin belaka tanpa nilai dan kenikmatan rasa yang diraih. Akankah kita rindu dengan wudhu’ jika wudhu’ hanya dipahami sebatas ini ? Sama sekali tidak, bisa jadi wudhu’ malah dianggap beban. Ujungnya, karena terasa beban bermuara pada pelaksanaan wudhu’ tidak dengan kesungguhan, asal-asalan, asal beban telah tertunaikan. Hilanglah hakikat wudhu’, sama sekali tidak terasa manfaatnya. Ini adalah akibat dari tidak adanya kesungguhan mengenali hakikat hidup yang menyebabkan hilangnya manfaat.

Tapi, bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh memahami hakikat hidup, kala hendak berwudhu’, ia berupaya bersungguh-sungguh memahami hakikat wudhu’, bahwa wudhu’ bukan sekedar ritual cuci muka , tangan, mengusap kepala, dan cuci kaki. Tapi ada petunjuk syari’at yang menjelaskan, bahwa dalam ritual tersebut terkandung suatu makna pembersiha n jiwa. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw, bahwa air wudhu’ bukan sekedar mencuci lahirnya fisik, tapi juga mencuci bathin dengan mensucikannya dari dosa-dosa. Seperti air yang mengalir pada tangan dapat mencuci atau menggggugurkan dosa-dosa yang dilakukan pada tangan. Jika kita memahami hal ini, tentulah wudhu’ akan terasa nikmatnya, sehingga wudhu’ akan dilaksanakan dengan khusyu’ penuh kesungguhan. Sebab kita mengetahui besarnya manfaat  yang diperoleh dari wudhu’.

Jadi, semua itu berpangkal dari kesungguhan.  Karena kesungguhan itulah yang akan mendatangkan manfaat pada diri. Jangan heran, jika engkau melihat mengapa ada orang yang mampu menunaikan ibadah siang dan malam tanpa sedikitpu merasa terbebani ?Aapalagi kalau bukan karena kesungguhan ? Mengapa para ulama-ulama terdahulu mampu menembus luasnya dunia untuk menuntut ilmu sehingga kita orang belakangan dapat mereguk kenikmatan ilmu tersebut ? Tiada lain itu karena kesungguhan.  Mengapa kita temukan adanya orang-orang yang mampu hidup secara fakir, namun tak pernah mengeluh, malah bersyukur ditengah-tengah kefakirannya ? Ya, jelas karena kesungguhan. Kok, kebanyakan orang-orang miskin yang kita temukan, dalam sebuah keluarga yang bahkan berada di bawah standar kecukupan, tapi masih mampu tertawa, bercengkrama dengan keluarga dalam segala kekurangannya. Sekali lagi, semua itu karena kesungguhan memaknai hidup.   

Benarlah mahfuzhat : “ Kesungguh-sungguhan itu bermanfaat “. Dengan kesungguhanlah kita akan mencapai manfaat yang hakiki. Renungkan saudaraku.

Keterangan :
Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar