Mahfuzhat
:
اَلْاِجْتِهَادُ مُفِيْدٌ
(Kesungguh-sungguhan
itu bermanfaat )
Penjelasan :
Hidup di dunia ini penuh dengan tantangan dan rintangan, semakin kuat kita
berjuang menghadapi nya semakin kuat
pula tantangan dan rintangan itu menghadang, hanya orang-orang yang
bersungguh-sungguhlah yang akan mampu melaluinya.
Ketahuilah, akankah Allah swt akan
membagi secara rata tentang apa yang diinginkan manusia ? Tidak, tapi apapun
yang diinginkan oleh manusia hanya akan diberikan kepada orang-orang yang
bersungguh-sungguh memperolehnya. Disanalah letak keadilan Allah swt, yakni
kemampuan Allah swt meletakkan sesuatu pada tempatnya secara adil. Tidak akan
sama rezki yang didapat manusia yang bersungguh-sungguh mencarinya, dengan
rezki manusia yang hanya bermalas-malasan dan berharap belas kasih orang lain.
Memang rezki itu telah tercatat di Lauh Mahfuz, namun upaya pencapaian rezki
itu berada dalam ikhtiar manusia, sejauhmana kesungguhan ia menggapainya, maka
sejauh itulah yang ia dapat. Ini hanya sekelumit contoh tentang makna kesungguhan. Untuk hal
ini setiap kita mungkin paham, jadi tak perlu diperpanjang penjelasannya.
Namun, ada hal penting tentang
kesungguhan yang sering terlupakan, dalam hal mengejar dan menghadapi kerasnya
hidup di dunia, kita mampu mewujudkan kesungguhan untuk menaklukkan keduniaan
kita. Banting tulang mencari nafkah, siang malam belajar menuntut ilmu, namun
semua itu hanya untuk keduniaan semata. Mencari nafkah tak lebih dari pada
menumpuk –numpuk harta dan berbangga-bangga dengan manusia, menuntut ilmu hanya
untuk mendapatkan kedudukan dan kemuliaan dimata manusia. Ketahuilah, sungguh,
kesungguhan tersebut hanyalah akan membuat diri payah, sementara harta yang
ditumpuk tidak pernah merasa cukup, ilmu yang dituntut tidak akan mendapatkan
kemuliaan. Sebab, baik harta maupun ilmu, jika tidak ditujukan untuk fungsinya
untuk apa Allah swt menciptakan, maka kecelakaanlah bagi yang menggunakannya.
Sadarilah, bukan kesungguhan demikian
yang dituntut dalam hidup, tapi kesungguhan untuk mengenali diri, hingga mampu
mengenali siapa yang menciptakan diri, dan untuk apa diri ini diciptakan. Semua
itu hanya dapat diperoleh dengan ilmu, maka tujuan menuntut ilmu hendaklah
untuk mengenali diri, mengenali siapa yang menciptakan diri dan untuk apa diri
ini diciptakan. Jika menuntut ilmu itu tidak bisa diperoleh kecuali dengan
perjalanan jauh, mendatangi tempat-tempat yang membutuhkan harta untuk mencapainya,
maka untuk itulah harta dicari, karena harta itu alat untuk mencapai tujuan.
Kesungguhan mencari harta dalam tataran ini, merupakan jalan kemuliaan.
Berpayah-payah dalam urusan kesungguhan
mencapai kebenaran hakiki dalam hidup, mengenali diri, mengenali siapa yang
menciptakan diri, dan untuk apa diri ini diciptakan, akan dapat mendatangkan
manfaat yang begitu dahsyat pada diri. Tujuan hidup akan jelas, apa yang akan
dilakukan tidak ngambang, upaya-upaya yang dilakukan memiliki orientasi yang
pasti. Disaat dipahami apa tindakan yang harus dilakukan dalam hidup, jelas
arah dan tujuannya, saat itu, setiap tindakan yang akan dilakukan terasa nikmat
dan mudah, karena jelas petunjuk arahnya. Bukankah yang memotivasi kita untuk
melakukan tindakan adalah kala tindakan yang akan kita tunaikan memiliki
orientasi yang jelas ?
Seperti saat hendak wudhu’, bagi
orang-orang yang tidak memahami hakikat yang
terkandung dalam wudhu’, saat melaksanakan wudhu’ tidak ada terbetik sedikitpun
semangat dan perasaan yang bergelora untuk menunaikan, tak lebih hanya sekedar
karena wudhu’ itu wajib jika hendak mendirikan shalat, maka jadilah wudhu’
hanya ritual rutin belaka tanpa nilai dan kenikmatan rasa yang diraih. Akankah
kita rindu dengan wudhu’ jika wudhu’ hanya dipahami sebatas ini ? Sama sekali
tidak, bisa jadi wudhu’ malah dianggap beban. Ujungnya, karena terasa beban
bermuara pada pelaksanaan wudhu’ tidak dengan kesungguhan, asal-asalan, asal
beban telah tertunaikan. Hilanglah hakikat wudhu’, sama sekali tidak terasa
manfaatnya. Ini adalah akibat dari tidak adanya kesungguhan mengenali hakikat
hidup yang menyebabkan hilangnya manfaat.
Tapi, bagi orang-orang yang
bersungguh-sungguh memahami hakikat hidup, kala hendak berwudhu’, ia berupaya
bersungguh-sungguh memahami hakikat wudhu’, bahwa wudhu’ bukan sekedar ritual
cuci muka , tangan, mengusap kepala, dan cuci kaki. Tapi ada petunjuk syari’at
yang menjelaskan, bahwa dalam ritual tersebut terkandung suatu makna pembersiha
n jiwa. Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw, bahwa air wudhu’ bukan
sekedar mencuci lahirnya fisik, tapi juga mencuci bathin dengan mensucikannya
dari dosa-dosa. Seperti air yang mengalir pada tangan dapat mencuci atau
menggggugurkan dosa-dosa yang dilakukan pada tangan. Jika kita memahami hal ini,
tentulah wudhu’ akan terasa nikmatnya, sehingga wudhu’ akan dilaksanakan dengan
khusyu’ penuh kesungguhan. Sebab kita mengetahui besarnya manfaat yang diperoleh dari wudhu’.
Jadi, semua itu berpangkal dari
kesungguhan. Karena kesungguhan itulah
yang akan mendatangkan manfaat pada diri. Jangan heran, jika engkau melihat
mengapa ada orang yang mampu menunaikan ibadah siang dan malam tanpa sedikitpu
merasa terbebani ?Aapalagi kalau bukan karena kesungguhan ? Mengapa para
ulama-ulama terdahulu mampu menembus luasnya dunia untuk menuntut ilmu sehingga
kita orang belakangan dapat mereguk kenikmatan ilmu tersebut ? Tiada lain itu
karena kesungguhan. Mengapa kita temukan
adanya orang-orang yang mampu hidup secara fakir, namun tak pernah mengeluh,
malah bersyukur ditengah-tengah kefakirannya ? Ya, jelas karena kesungguhan. Kok,
kebanyakan orang-orang miskin yang kita temukan, dalam sebuah keluarga yang
bahkan berada di bawah standar kecukupan, tapi masih mampu tertawa,
bercengkrama dengan keluarga dalam segala kekurangannya. Sekali lagi, semua itu
karena kesungguhan memaknai hidup.
Benarlah mahfuzhat : “ Kesungguh-sungguhan
itu bermanfaat “. Dengan kesungguhanlah kita akan mencapai manfaat yang hakiki.
Renungkan saudaraku.
Keterangan :
Sumber
Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran
Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2
Penulisan
Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor
©2007 by Ebta Setiawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar