Mewangi taman-tamanmu menghamparkan
kesturi
Sosokmu teguh menjulang tinggi membelah
cakrawala
Tubuhmu biaskan keindahan seni peradaban
masa lalu
Tiang-tiangmu kokoh laksana terhujam
kedasar bumi
Sajadah turki, mihrab agung, pesona akan
segala keindahan
Untuk menara itu, kau hamparkan
kumandangkan azan bertalu-talu
Menggema, menghantam, dan menghujam
jiwa-jiwa insan
Namun, segala kemegahanmu itu
Tak lebih dari simbol peradaban yang
menangis
Terisak diantara kepedihan yang mengiris
pilu
Dulu kau tak semegah itu
Hanya sosok renta, lemah dan tak
berdaya,
Wajahmupun enggan dilirik, kusam dan tak
menggoda
Tapi kau dicintai sepenuh jiwa
Aromamu menarik jiwa untuk selalu hadir
dalam segala keterbatasanmu
Tapi kala kemegahan hari ini kau raih
Kau tak lebih seperti permata yang tidak
bermakna
Kau dibanggakan, namun tidak dicintai
Kau mempesonakan, tapi tidak membakar
api cinta
Kau selalu dijaga, tapi kau tak dibela
Sungguh, peradaban telah menggilasmu
dengan cara mengerikan
Kemegahanmu ternyata bukan isyarat akan
keindahan
Senimu ternyata tak selalu melahirkan
rasa
Kau menangis di atas segala
ketercukupanmu
Kau kelaparan diantara lingkaran makanan
yang lezat dan bergizi
Aduhai, adakah kesedihan diatas ini
Kesedihan di atas kesedihan
Kala diri hanyalah bermakna secara
simbol
Tapi jauh dari kekuatan substansi
Lebih baik kau seperti dulu
Hanya bernama Surau Tuo ( surau tua )
yang lapuk
Namun kau dicintai sepenuh jiwa
Dari pada hari ini
Namamu yang megah Masjid Jami’
Tapi tidak membuat dirimu merasa besar
Maninjau, 07 Jumadil Akhir 1433 H
Oleh : W. Khatib Bandaro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar