WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Kamis, 09 Agustus 2012

Surau Tuo dan Masjid Jami’


Mewangi taman-tamanmu menghamparkan kesturi
Sosokmu teguh menjulang tinggi membelah cakrawala
Tubuhmu biaskan keindahan seni peradaban masa lalu
Tiang-tiangmu kokoh laksana terhujam kedasar bumi
Sajadah turki, mihrab agung, pesona akan segala keindahan
Untuk menara itu, kau hamparkan kumandangkan azan bertalu-talu
Menggema, menghantam, dan menghujam jiwa-jiwa insan

Namun, segala kemegahanmu itu
Tak lebih dari simbol peradaban yang menangis
Terisak diantara kepedihan yang mengiris pilu

Dulu kau tak semegah itu
Hanya sosok renta, lemah dan tak berdaya,
Wajahmupun enggan dilirik, kusam dan tak menggoda
Tapi kau dicintai sepenuh jiwa
Aromamu menarik jiwa untuk selalu hadir dalam segala keterbatasanmu

Tapi kala kemegahan hari ini kau raih
Kau tak lebih seperti permata yang tidak bermakna
Kau dibanggakan, namun tidak dicintai
Kau mempesonakan, tapi tidak membakar api cinta
Kau selalu dijaga, tapi kau tak dibela

Sungguh, peradaban telah menggilasmu dengan cara mengerikan
Kemegahanmu ternyata bukan isyarat akan keindahan
Senimu ternyata tak selalu melahirkan rasa
Kau menangis di atas segala ketercukupanmu
Kau kelaparan diantara lingkaran makanan yang lezat dan bergizi

Aduhai, adakah kesedihan diatas ini
Kesedihan di atas kesedihan

Kala diri hanyalah bermakna secara simbol
Tapi jauh dari kekuatan substansi

Lebih baik kau seperti dulu
Hanya bernama Surau Tuo ( surau tua ) yang lapuk
Namun kau dicintai sepenuh jiwa
Dari pada hari ini
Namamu yang megah Masjid Jami’
Tapi tidak membuat dirimu merasa besar

Maninjau, 07 Jumadil Akhir 1433 H

Oleh : W. Khatib Bandaro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar