WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 03 September 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Hemat Itu Berguna


Mahfuzhat :

اْلِاقْتِصَادُ مُفِيْدٌ
( Hemat Itu Berguna )
Penjelasan :

Dalam bahasa ekonomis, hemat adalah upaya bagaimana mengendalikan harta pada hal-hal yang sesuai dengan kebutuhan, apabila berlebihan Islam mencap sebagai mubazir, dan jika cendrung menyimpan dan enggan berbagi pada orang lain maka jatuh pada kikir. Maka hemat merupakan jalan tengah diantara berlebihan mengeluarkannya dan terlalu menyimpannya.

Namun  dalam keseharian kita, perilaku yang cendrung kita tunaikan malah terbalik dari pemaknaan tersebut, kita lebih cendrung menahan harta kita untuk dikeluarkan dan berbagi dengan orang lain dengan alasan hemat, dan disisi lain kala kita menghambur-hamburkan harta pada jalan yang berlebihan, malah kita merasa apa yang kita lakukan merupakan sebuah kebutuhan yang harus ditunaikan. Pemaknaan yang salah kaprah inilah yang menyebabkan, mengapa muncul golongan orang kaya yang kikir. Ia dianggap kaya karena memiliki harta yan melimpah, namun ia sama sekali tak pernah berbagi harta tersebut dengan orang yang membutuhkan, sementara ia belanjakan hartanya pada hal-hal yang bersifat bermegah-megahan.

Ketahuilah …

Dalam perspekstif ilmu hati, hemat bukan sekedar kemampuan mengendalikan harta, tapi ada nilai mendalam yang terkandung didalamnya. Orang yang hemat adalah orang yang menyadari bahwa harta sepenuhnya adalah titipan Allah swt, maka ia belanjakan harta itu untuk kepentingan Sang Penitip. Ia tidak ragu membelanjakan hartanya kala perbelanjaan itu bertujuan untuk menunaikan tugas pengabdiannya. Seperti ia beli kendaraan bermotor yang berharga mahal, dikala tanpa kendaraan itu ia tidak mampu menunaikan tugas dakwah, seperti ia akan sulit mencapai medan dakwah tanpa kendaraan bermotor tersebut. Atau yang lebih sederhana, ia beli makanan yang dapat menguatkan tubuhnya agar ia mampu menunaikan ibadah dengan jumlah yang banyak.

Ini hanya sekelumit contoh, bahwa hemat dalam perspektif ilmu hati bukan berarti menahan harta atau cukup memiliki harta yang sedikit. Ketahuilah … harta adalah media untuk penyampai pada cita-cita pengabdian, tanpa harta pengabdian tidak akan dapat dilakukan. Dan juga harus kita pahami, harta termasuk bagian dari ciptaan Allah swt yang dibolehkan kita mengambil manfaat darinya. Jadi salah besar jika ada yang menganggap harta tidaklah dibutuhkan dalam hidup. Sederhananya, bagaimana kita akan mampu menutup aurat dalam shalat jika tidak punya harta ? Bagaimana kita akan mampu membela agama jika tidak punya harta ? Bagaimana akan mampu berjuang di medan jihad tanpa harta, dalam jihad itu membutuhkan senjata, dan senjata hanya diperoleh dengan harta, termasuk senjata itu sendiri adalah bagian dari harta. Ini bukan berarti kita mengadakan pembelaan terhadap orang-orang yang hidupnya mengejar harta. Tapi untuk lebih mendudukkan posisi, bahwa harta adalah  elemen yang termasuk dari bagian pencapaian pelaksanaan pengabdian. Maka agar harta menjadi nilai sebuah pengabdian, harta harus dijalankan sesuai dengan tuntutan amanah untuk apa harta itu diberikan. Kala amanah harta tersebut tertunaikan, sungguh kala itu kita telah berlaku hemat terhadap harta.

Inilah hakikat hemat yang sesungguhnya, jadi walaupun kita mengeluarkan harta yang banyak, tapi untuk sebuah pengabdian, maka itulah sifat kemuliaan, dan sama sekali jauh dari sifat mubazir. Namun kala kita mengeluarkan harta yang sedikit, namun sama sekali tidak untuk sebuah pengabdian, sungguh perbuatan kita itu sia-sia, sekali lagi sekalipun harta itu sedikit. Mengapa ? Dikala harta tidak ditunaikan untuk sebuah pengabdian, maka kala itu kita telah terjatuh pada konsep berlebih-lebihan, bukankah kelebihan itu tidak berguna dari sisi hitung-hitungan, dan harta bagian dari hitung-hitungan. Konsepnya adalah, harta berkaitan erat dengan kegunaan, sementara kegunaan itu berada dalam aturan Sang Pemberi harta, Dialah Allah swt yang telah menitipkan harta itu kepada kita. Jika dikeluarkan tidak berdasarkan kegunaan, maka jatuh pada mubazir. Tiada lain semua itu jalannya hanyalah dengan kehematan. Benarlah mahfuzhat : Hemat Itu Berguna.

Keterangan :
Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar