WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Kamis, 06 September 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Tulus Hati Adalah Indah


Mahfuzhat :

اَلْاِخْلَاصُ جَمِيْلٌ

( Tulus Hati Adalah Indah )
Penjelasan :

Akibat dari perbuatan yang kita lakukan, hanya kita yang merasakan. Kegelisahan, kekalutan, kegembiraan, kesenangan yang kita rasakan kala telah melakukan suatu perbuatan merupakan hasil dari sejauhmana pengaruh perbuatan itu terhadap diri kita. Bukankah engkau pernah melihat orang sangat bergembira kala selesai melakukan suatu aktifitas, walau terkadang ia tampak kelelahan, tapi kelelahannya itu seakan tak bermakna kala seulas senyum menghiasi bibirnya. Itulah kepuasan. Kepuasan yang dimunculkan dari hati, yang sama sekali tak dapat dirasakan oleh orang lain.

Hati yang puas adalah hati yang tidak terbebani kala telah selesai melakukan suatu perbuatan. Jika masih ada yang mengganjal dalam hati kala telah melakukan perbuatan, seperti merasa cemas terhadap perbuatan yang telah dilakukan, maka kepuasan hakikatnya belum tercapai. Logikanya begini, disaat kita melakukan suatu perbuatan, lalu kita cemas terhadap dampak  perbuatan kita tersebut, maka saat itu kepuasan tidak akan tercapai. Seperti pelaku pencuri yang sebenarnya ia telah sukses dalam melakukan pencurian, namun ia diliputi kecemasan kalau-kalau perbuatannya tersebut terbongkar kelak. Sugguh, hal ini jauh dari kepuasan.

Ketahuilah …

Kepuasan hati hanya akan dicapai kala perbuatan ditunaikan dengan ketulusan hati, ketulusan dalam artian benar-benar yang dilakukan itu berpangkal dari kesucian hati tanpa ada satupun yang menodainya, Islam menyebutnya Ikhlas. Orang yang tulus hatinya tidak terpengaruh dengan keadaan apapun disekitarnya dalam melakukan tindakan, ia fokus pada tindakan tersebut hingga pada tujuannya. Sejak mulai ia memancangkan niat, melaksanakan aktifitas hingga mengakhirinya, sampai kepada setelah melakukannya, kondisi hatinya tidak berubah semenjak keadaannya semula. Inilah yang disebut kemurnian hati, kemurnian itu adalah sebuah ketulusan. Sebagai contoh, kala kita bersedekah pada orang lain, niat yang kita tanam adalah menanam amal kebajikan yang mendapat ridha dari Allah swt, maka mulai dari niat, lalu mengeluarkan sedekah, sampai setelah mengeluarkan sedekah kita tetap bertahan pada niat semula menanam amal kebajikan dengan harapan mendapat ridha dari Allah swt. Seandainya saat melakukan aktifitas sedekah tersebut, kita tidak mendapat ucapan terimakasih dari orang yang diberi sedekah, maka tidak muncul perasaan jengkel, tidak akan keluar kata-kata : “ dasar tak tahu terima kasih ” . Inilah ketulusan hati. Duhai… sungguh indah sekali ketulusan itu.

Apa yang kita rasakan kala mencapai puncak kemuliaan ini ? Sungguh sangat indah dan menawan, hati akan tenang dan sangat puas. Mengapa ? Sebab jika terjadi peralihan dari pada ketulusan semula, maka hati akan mengalami kegelisahan, saat peralihan ketulusan itu tidak mencapai yang diinginkan. Seperti contoh tadi, jika muncul perasaan jengkel kala orang yang diberi sedekah tidak mengucapkan terimakasih, puncak kegelisahan yang akan menyelimuti hati kita. Aduhai … sungguh sangat memberatkan.

Untuk itu sadarilah ….

Hanya ketulusan hatilah yang membuat hidup ini indah. Disaat ketulusan hati telah menjadi perhiasan dalam hidup, bagaimana dan apapun yang menimpa kita akibat dari ulah perbuatan  yang kita lakukan tidak akan membuat kita terbebani dan menyesali perbuatan yang telah ditunaikan, karena secara nawaitu yang penuh ketuludan apa yang kita inginkan telah tercapai. Tentunya perbuatan yang kita lakukan adalah perbuatan yang benar-benar bermakna ketulusan. Artinya perbuatan yang berlandaskan nawaitu yang benar dan tidak menentang fitrah.

Sederhana contohnya, seperti tadi, kala kita bersedekah, mendapatkan ucapan terimakasih dari orang yang menerimanya atau tidak kondisi hati kita akan tetap mencapai kepuasan, karena yang kita harapkan bukan itu, tapi menanam amal kebajikan berharap ridha Allah swt., yang merupakan ketentuan syari’at semestinya dijalankan. Demikianlah Islam mengajarkan kita. Subhaanallaah, sungguh begitu indah pengajaran Islam terhadap kita. Inilah kiranya yang dimaksud oleh mahfuzhat : Tulus hati adalah indah.

Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar