Mahfuzhat
:
اَلْاِخْلَاصُ جَمِيْلٌ
(
Tulus Hati Adalah Indah )
Penjelasan :
Akibat dari perbuatan yang kita lakukan,
hanya kita yang merasakan. Kegelisahan, kekalutan, kegembiraan, kesenangan yang
kita rasakan kala telah melakukan suatu perbuatan merupakan hasil dari
sejauhmana pengaruh perbuatan itu terhadap diri kita. Bukankah engkau pernah
melihat orang sangat bergembira kala selesai melakukan suatu aktifitas, walau terkadang
ia tampak kelelahan, tapi kelelahannya itu seakan tak bermakna kala seulas
senyum menghiasi bibirnya. Itulah kepuasan. Kepuasan yang dimunculkan dari
hati, yang sama sekali tak dapat dirasakan oleh orang lain.
Hati yang puas adalah hati yang tidak
terbebani kala telah selesai melakukan suatu perbuatan. Jika masih ada yang
mengganjal dalam hati kala telah melakukan perbuatan, seperti merasa cemas
terhadap perbuatan yang telah dilakukan, maka kepuasan hakikatnya belum
tercapai. Logikanya begini, disaat kita melakukan suatu perbuatan, lalu kita
cemas terhadap dampak perbuatan kita tersebut,
maka saat itu kepuasan tidak akan tercapai. Seperti pelaku pencuri yang
sebenarnya ia telah sukses dalam melakukan pencurian, namun ia diliputi
kecemasan kalau-kalau perbuatannya tersebut terbongkar kelak. Sugguh, hal ini
jauh dari kepuasan.
Ketahuilah …
Kepuasan hati hanya akan dicapai kala
perbuatan ditunaikan dengan ketulusan hati, ketulusan dalam artian benar-benar
yang dilakukan itu berpangkal dari kesucian hati tanpa ada satupun yang
menodainya, Islam menyebutnya Ikhlas. Orang yang tulus hatinya tidak terpengaruh
dengan keadaan apapun disekitarnya dalam melakukan tindakan, ia fokus pada
tindakan tersebut hingga pada tujuannya. Sejak mulai ia memancangkan niat,
melaksanakan aktifitas hingga mengakhirinya, sampai kepada setelah
melakukannya, kondisi hatinya tidak berubah semenjak keadaannya semula. Inilah
yang disebut kemurnian hati, kemurnian itu adalah sebuah ketulusan. Sebagai
contoh, kala kita bersedekah pada orang lain, niat yang kita tanam adalah
menanam amal kebajikan yang mendapat ridha dari Allah swt, maka mulai dari
niat, lalu mengeluarkan sedekah, sampai setelah mengeluarkan sedekah kita tetap
bertahan pada niat semula menanam amal kebajikan dengan harapan mendapat ridha
dari Allah swt. Seandainya saat melakukan aktifitas sedekah tersebut, kita tidak
mendapat ucapan terimakasih dari orang yang diberi sedekah, maka tidak muncul
perasaan jengkel, tidak akan keluar kata-kata : “ dasar tak tahu terima kasih ”
. Inilah ketulusan hati. Duhai… sungguh indah sekali ketulusan itu.
Apa yang kita rasakan kala mencapai
puncak kemuliaan ini ? Sungguh sangat indah dan menawan, hati akan tenang dan
sangat puas. Mengapa ? Sebab jika terjadi peralihan dari pada ketulusan semula,
maka hati akan mengalami kegelisahan, saat peralihan ketulusan itu tidak
mencapai yang diinginkan. Seperti contoh tadi, jika muncul perasaan jengkel
kala orang yang diberi sedekah tidak mengucapkan terimakasih, puncak
kegelisahan yang akan menyelimuti hati kita. Aduhai … sungguh sangat memberatkan.
Untuk itu sadarilah ….
Hanya ketulusan hatilah yang membuat
hidup ini indah. Disaat ketulusan hati telah menjadi perhiasan dalam hidup,
bagaimana dan apapun yang menimpa kita akibat dari ulah perbuatan yang kita lakukan tidak akan membuat kita
terbebani dan menyesali perbuatan yang telah ditunaikan, karena secara nawaitu
yang penuh ketuludan apa yang kita inginkan telah tercapai. Tentunya perbuatan
yang kita lakukan adalah perbuatan yang benar-benar bermakna ketulusan. Artinya
perbuatan yang berlandaskan nawaitu yang benar dan tidak menentang fitrah.
Sederhana contohnya, seperti tadi, kala
kita bersedekah, mendapatkan ucapan terimakasih dari orang yang menerimanya atau
tidak kondisi hati kita akan tetap mencapai kepuasan, karena yang kita harapkan
bukan itu, tapi menanam amal kebajikan berharap ridha Allah swt., yang
merupakan ketentuan syari’at semestinya dijalankan. Demikianlah Islam
mengajarkan kita. Subhaanallaah, sungguh begitu indah pengajaran Islam terhadap
kita. Inilah kiranya yang dimaksud oleh mahfuzhat : Tulus hati adalah indah.
Keterangan :
Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan
Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita,
1971 ), Cet. Ke-2
Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor
©2007 by Ebta Setiawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar