WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Minggu, 02 September 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Sabar Itu Terpuji


Mahfuzhat :

اَلْحَلِمُ مَحْمُوْدٌ

( Sabar Itu Terpuji )

Penjelasan :

Sabar, istilah yang tidak begitu asing bagi kita, bahkan mungkin terlalu sering lisan ini mengucapkannya, terutama sekali kala menyaksikan orang-orang sekitar kita mendapatkan musibah atau sesuatu hal yang menuntut mereka harus bersabar, maka kita berupaya menguatkan mereka untuk bersabar sebagai bentuk kasih sayang dan rasa simpati. Namun ada pada umumnya, hakikat sabar yang melekat dalam pemahaman kita lebih berorientasi pada sabar kala ditimpa musibah, selain itu banyak yang terabaikan, padahal ruang lingkup sabar tidak sesederhana dan sekecil itu. Dalam segala aspek kehidupan ada tuntutan sabar di dalamnya. Namun belum begitu membumi bagi kita. Sehingga sikap itu tidak begitu menjadi akhlak perilku keseharian kita.

Ketahuilah ….!!!

Memang, yang berat kita rasakan dalam hidup ini secara lahiriyah adalah kala kita ditimpa musibah atau cobaan dalam kondisi-kondisi yang rumit, sehingga sabar perisai yang ampuh untuk menanggulanginya, agar kita tetap bertahan dan tegar menghadapinya. Tapi apakah kita lupa, sabar dalam melaksanakan keta’atan, atau sabar dalam menjaga diri dari berbuat maksiat juga merupakan hal yang berat ? Bahkan disini kita banyak yang terjatuh. Seperti perintah menunaikan  shalat, kala azan berkumandang, bagaimana cara kita menyikapinya, apakah kita telah bersabar untuk berupaya meninggalkan segala aktifitas keduniaan kita untuk menyegerakan diri menunaikan panggilan shalat tersebut, atau mungkin kita berdalih, ah, waktu shalat masih panjang, nanti sajalah. Memang, secara kajian ilmu fiqh, selama shalat ditunaikan dalam waktunya, maka tertunailah kewajiban tersebut. Tapi disini yang kita garis bawahi bukan masalah sah atau tidaknya, tapi keinginan hati untuk tunduk dan pasrah akan sebuah aturan syari’at, sehingga lebih kita utamakan dari pada aktifitas-aktifitas lain, walaupun aktifitas itu masih dalam konteks dibolehkan ( mubah ). Disinilah tuntutan sabar itu nampak, bagaimana kita dituntut untuk sabar dalam menunaikan keta’atan dengan berupaya menepis dalih-dalih yang dibisikkan syetan. Sekali lagi, hal ini kita sering lupa akan hakikat sabar seperti ini.

Begitu juga sabar dalam menjaga diri dari kemaksiatan, bersabar untuk tidak terjerumus pada kehancuran diri, seperti bersabarnya kita untuk menahan diri agar tidak mengumbar aurat. Untuk yang satu ini, macam-macam dalih kita keluarkan. Terutama kaum Hawa yang lebih terpesona dengan kecantikan dan keindahan diri. Kala ditanyakan mengapa tidak memakai Jilbab ? Malah ia balik bertanya; mana yang lebih baik, orang yang hatinya bersih tapi tidak memakai jilbab, dengan orang yang memakai jilbab tapi hatinya kotor ? Perkataannya ini hanyalah pembelaan terhadap dirinya yang berupaya berdalih dari kenyataan syari’at yang berat baginya untuk menunaikannya. Kalaupun toh ditanya hatinya, apakah dia yakin hatinya benar-benar bersih ? Dia sendiripun mungkin ragu. Yang tepatnya bukan ragu, memang hatinya sebenarnya tidak bersih. Mengapa ? Perkataannya tersebut telah menunjukkan ketidakbersihan hatinya, karena tidak lebih dari pada dalih untuk menyelamatkan diri yang memang telah tersesat. Maka ia tutup kesesatannya dengan alasan-alasan yang dia sendiri sebenarnya tidak paham dengan alasan tersebut. Apakah ia tidak menyadari, bahwa yang lahir itu menunjukkan yang batin ? Hati yang bersih melahirkan perbuatan yang bersih, lantas bisakah diterima ungkapan, walaupun kita tidak berjilbab, yang penting hati kita bersih. Ooo… sangat jauh pemahaman tersebut, keengganan berjilbab menunjukkan keengganan menunaikan syari’at, itu menunjukkan hatinya tidak bersih, sangat tidak bersih, lalu dimana istilah hati bersih itu ia pahami ? Sangat tertipulah orang-orang yang memahami konsep yang demikian itu.

Ketahuilah, mengapa semua itu terjadi, kembali pada konsep sabar tadi, sebenarnya hati ini belum sabar untuk berupaya menahan diri agar tidak terjatuh pada kemaksiatan. Selama penyakit itu bercokol dalam hati, maka selama itu pula syetan akan menampakkan jalan untuk mencari dalih pembenaran akan kemaksiatan yang dilakukan. Berhati-hatilah saudaraku ….

Jika demikian adanya,

Ternyata, berat sekali penunaian sabar ini dalam kehidupan. Memang berat, tapi dalam berat itulah terkandung keutamaan. Sesuatu yang diperoleh dengan cara yang berat maka hasilnya juga akan berat, artinya hasil yang diperoleh sangat memuaskan, sementara sesuatu yang diperoleh dengan cara yang ringan, hasilnyapun ringan ( sedikit ). Maka berpayah-payah dalam mencapai sesuatu merupakan konsep ikhtiar yang diajarkan dalam Islam. Balasan sesuai dengan tingkat usaha, apakah sama balasan yang diperoleh orang-orang yang bersungguh-sungguh dengan orang yang lalai dalam kesungguhan ? Jelas tidak. Tidak akan sama sama tingkat keilmuan seseorang yang belajar siang malam dengan ketekunan, dengan keilmuan seseorang yang hanya belajar apa adanya penuh dengan kesantaian. 

Renungkanlah, sungguh makna ini mengandung hikmah yang begitu dalam. Ingatlah sebuah nasehat agung yang ditanamkan Rasulullah saw : “ Pada kesabaran atas apa yang tidak kamu sukai terdapat kebaikan yang banyak.” ( Hadits Riwayat Ath-Thurmidzi dari Hadits Ibnu Abbas ), Hadits ini dapat ditemukan dalam Ihya’ ’Ulumiddin karya Imam al-Ghazali.

Saudaraku …

Kelalaian pemahaman konsep sabar yang mungkin kita juga lupa memahaminya adalah kita mungkin telah menganggap diri kita orang yang sabar, kala ditimpa suatu urusan yang tidak menyenangkan. Namun  kesabaran itu muncul seiringnya perjalanan waktu, artinya, kala kita ditimpa hal yang tidak diinginkan, awalnya terasa perih dan menyakitkan, kala itu hati ini belum mampu menerimanya tapi seiring perputaran waktu dan berjalannya hari, mulai tumbuh rela menerima keadaan tersebut, lantas dengan hal tersebut kita menganggap kerelaan kita akan penerimaan urusan yang awalnya tidak kita senangi itu telah menganggap diri kita orang yang sabar.

Ketahuilah ...

Perputaran waktu adalah proses yang menyebabkan kita banyak melupakan hal, beban yang berat seiring perputaran waktu dihimpit oleh beban yang lain, sehingga yang telah berlalu lambat laun terhapus, setidaknya terlupakan. Jika demikian adanya, jelas kita akan mampu bersabar akan sesuatu yang tidak menyenangkan karena telah pupus dengan beban-beban lain dan jauhnya beban itu meninggalkan kita oleh waktu. Kalau demikian adanya, pantas saja kita bersabar. Ini bukan berarti kita menolak kalau hal tersebut masih dikatakan sabar, hanya saja kita ingin menekankan disini bahwa sabar itu kemampuan menguasai diri kala sesuatu yang tidak menyenangkan itu menimpa, tepat saat peristiwa itu terjadi.

Ulasan tentang semua kesabaran ini dapat kita pahami secara mendalam yang merupakan makna dari ungkapan Ibnu Abbas ra. sebagaimana dituangkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab fenomenalnya Ihya’ ‘Ulumiddin. Ibnu Abbas ra. Berkata :

“ Sabar di dalam al-Qur’an itu ada tiga macam yaitu : sabar dalam menunaikan kewajiban-kewajiban yang diwajibkan Allah ta’ala, maka bagi sabar ini memperoleh tiga ratus derajat, dan sabar dari apa saja yang diharamkan Allah, maka bagi sabar ini memperoleh enam ratus derajat dan sabar atas mushibat pada pukulan pertama, maka bagi sabar ini memperoleh sembilan ratus derajat. Sesungguhnya tingkat ini dilebihkan, padahal ia termasuk amal-amal yang wajib karena setiap orang mu’min itu mampu sabar dari perkara-perkara yang haram.”

Untuk itu saudaraku pencari jalan kesabaran …

Sekilas tampak sabar itu sulit ditunaikan, tapi ketahulilah, kala hati telah berazzam, semangat telah ditancapkan, maka kemuliaan sabar tidak akan rumit menggapainya. Semoga ini menjadi bahan intropeksi diri, bahwa urusan sabar sebenarnya bukan urusan sederhana, tapi urusan yang hendaknya lebih membuat kita menyadari bahwa ternyata kita belum apa-apa dalam beramal untuk agama ini, apalagi telah menganggap diri kita orang shaleh yang memiliki kedekatan yang luar biasa dengan Allah swt. Disisi lain semoga menjadi pemicu semangat pula bagi kita untuk mencapai ketinggian derajat sabar. Bukankah Rasulullah saw telah menjanjikan pada hadits tadi : “ Pada kesabaran atas apa yang tidak kamu sukai terdapat kebaikan yang banyak.”  Benarlah Mahfuzhat : “ Sabar itu terpuji ”.

Keterangan dan Referensi :

1). “ Terjemah Ihya’ ‘Ulumiddin Jilid VII ” dari Karya Imam al-Ghazali, dialih bahasakan oleh Drs. H.Moh Zuhri, Dipl. TAFL., H. Muqoffin Mochtar, LC,  H. Muqorrobin Misbah, diterbitkan CV. Asy Syifa’ Semarang, cetakan tahun 2003)  
2). Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2
3). Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar