Mahfuzhat
:
اَلشَّجَاعَةُ
عِزٌّ
(
Keberanian Itu Mulia )
Penjelasan :
Kala mendengar istilah berani, yang
terbayang bagi kita mungkin adalah keperkasaan, ketangguhan dan jiwa-jiwa
ksatria secara kasat mata, tak salah memang, karena keberanian berkaitan erat
dengan hal yang demikian. Tapi terlalu sempit jika kita memahami keberanian
hanya milik mereka yang punya kesempatan untuk meraih keperkasaan, ketangguhan
dan jiwa ksatria secara kasat mata. Sebab ranah berani bukan berada pada ranah
tertentu, ia berada pada setiap jiwa insan, hanya saja terkadang jiwa itu tidak
terpupuk sehingga ia terpendam begitu dalam. Apalagi tiada upaya menggalinya,
bagaikan mutiara dalam lumpur yang tidak dikenali hakikatnya oleh orang-orang
yang tidak pernah menggalinya.
Untuk itu saudaraku …
Kita coba menilik berani dalam perspektif
yang lebih spesifik, sesuai dengan kebutuhan fitrah kita, dan keberanian yang
hendak kita gali ini bahkan melebihi dari pada keberanian yang kita ungkapkan
diatas. Ya, apalagi kalau tidak keberanian jiwa yang mampu berani terhadap diri
sendiri. Berani berbuat untuk jiwa sendiri, berani melakukan pembenahan
terhadap diri, berani mengakui kelemahan diri, dan berani menyadari diri, bahwa
kita hanyalah hamba yang memiliki tugas sebuah pengabdian agung terhadap Sang
Khalik.
Aneh kedengarannya, memangnya ada orang
yang takut pada diri sendiri ? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dalam pikiran
kita kala mendapatkan ungkapan di atas.
Memang aneh kedengarannya, namun pada keanehan itulah yang membuat kita lupa
hingga tidak meyadari, bahwa berani terhadap diri sendiri merupakan fundamen
dasar dalam membangun jiwa menuju arah yang dapat menyelamatkan diri dan
pengabdian yang setulusnya terhadap Allah swt.
Lihatlah orang-orang yang takut dengan
dirinya, ia dikuasai oleh syahwat, sehingga apapun keinginan syahwat itu ia
perturutkan, ia rela menentang nuraninya sendiri untuk melakukan hal-hal yang
sama sekali bertentangan dengan fitrahnya. Kita sendiri mungkin pernah
merasakan, kala kita melakukan suatu kesalahan, dan kita tahu itu salah,apa
yang kita rasakan saat melakukan perbuatan tersebut ? Jiwa ini bergetar hebat, darah
seakan mengalir begitu cepatnya, bukankah itu sebagi pertanda, fitrah kita
sebenarnya menolak, namun karena kita tidak berani untuk melawannya, maka
kalahlah fitrah dengan ambisi syahwat, sehingga kala kita selesai melakukan
sesuatu yang bertolak belakang dengan fitrah kita, kegelisahan meliputi.
Kegelisahan demi kegelisahan menghantui kita, tapi terkadang kita tetap mengulang
kesalahan yang sama terhadap pelanggaran fitrah tersebut. Apa sebabnya ? Tiada
lain, karena kita tidak berani terhadap diri sendiri. Kita takut dengan diri
kita yang telah dikuasai syahwat. Inilah yang dimaksud dengan kita tidak berani
dengan diri sendiri.
Ketahuilah saudaraku …
Keberanian akan diri, itulah yang
menyelamatkan kita, yakni keberanian untuk mengendalikan diri agar tetap berada
dalam koridor syari’at, keberanian menahan diri agar tidak tergiur dengan
indahnya gemerlap dunia yang menipu, keberanian untuk memaksa diri agar tunduk
pada aturan-aturan baku yang telah menjadi doktrin agama kita, yakni Al-Quran
dan Sunnah, dan keberanian pada diri untuk tidak mencari petunjuk lain selain
dari dua perintah tersebut.
Inilah keberanian yang hakiki, pada jalan
ini pulalah syetan dan balatentaranya memasang perangkap, karena mereka tahu,
jalan ini adalah jalan yang paling berbahaya bagi mereka, sebaliknya jalan
keselamatan bagi kita. Jika kita mampu untuk berani terhadap diri sendiri, maka
cahayanya akan memancar dan melahirkan canbang-cabang keberanian terhadap
perilaku yang kita munculkan. Jika kita mampu berani pada diri sendiri, lantas
apakah kita tidak akan mampu lebih berani terhadap apa yang ada diluar diri
kita ? Musuh yang terbesar pada diri kita sebenarnya adalah diri kita sendiri,
karena ia berada dalam diri dan kekuasaannya berada ditangan kita. Kala kita
lemah ia akan memberontak, namun kala kita kuat ia akan tunduk. Maka berani
terhadap diri sendiri adalah berani menguasai diri dan mengendalikan diri untuk
tetap berada pada fitrah kita yang tentunya dalam rangka menggapai penunaian
amanah selaku hamba, mengabdi kepada Sang Khalik.
Keberanian akan dirilah yang mengantarkan
kita mencapai derajat ketinggian, karena orang yang mulia adalah orang-orang
yang mampu melahirkan perbuatan terpuji dan perbuatannya tersebut menjadi
keteladanan bagi orang lain, sehingga ia dihormati dan dihargai serta dicintai
hati manusia. Tidak bisa tidak, perbuatan terpuji itu lahir dari diri yang
terkendali. Terkendalinya diri karena kita berani terhadap diri sendiri. Benarlah
mahfuzhat : Keberanian Itu Mulia
Keterangan :
Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan
Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita,
1971 ), Cet. Ke-2
Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar