WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 03 September 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Keberanian Itu Mulia


Mahfuzhat :

اَلشَّجَاعَةُ عِزٌّ
( Keberanian Itu Mulia )
Penjelasan :

Kala mendengar istilah berani, yang terbayang bagi kita mungkin adalah keperkasaan, ketangguhan dan jiwa-jiwa ksatria secara kasat mata, tak salah memang, karena keberanian berkaitan erat dengan hal yang demikian. Tapi terlalu sempit jika kita memahami keberanian hanya milik mereka yang punya kesempatan untuk meraih keperkasaan, ketangguhan dan jiwa ksatria secara kasat mata. Sebab ranah berani bukan berada pada ranah tertentu, ia berada pada setiap jiwa insan, hanya saja terkadang jiwa itu tidak terpupuk sehingga ia terpendam begitu dalam. Apalagi tiada upaya menggalinya, bagaikan mutiara dalam lumpur yang tidak dikenali hakikatnya oleh orang-orang yang tidak pernah menggalinya.

Untuk itu saudaraku …

Kita coba menilik berani dalam perspektif yang lebih spesifik, sesuai dengan kebutuhan fitrah kita, dan keberanian yang hendak kita gali ini bahkan melebihi dari pada keberanian yang kita ungkapkan diatas. Ya, apalagi kalau tidak keberanian jiwa yang mampu berani terhadap diri sendiri. Berani berbuat untuk jiwa sendiri, berani melakukan pembenahan terhadap diri, berani mengakui kelemahan diri, dan berani menyadari diri, bahwa kita hanyalah hamba yang memiliki tugas sebuah pengabdian agung terhadap Sang Khalik.
Aneh kedengarannya, memangnya ada orang yang takut pada diri sendiri ? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita kala mendapatkan ungkapan  di atas. Memang aneh kedengarannya, namun pada keanehan itulah yang membuat kita lupa hingga tidak meyadari, bahwa berani terhadap diri sendiri merupakan fundamen dasar dalam membangun jiwa menuju arah yang dapat menyelamatkan diri dan pengabdian yang setulusnya terhadap Allah swt.

Lihatlah orang-orang yang takut dengan dirinya, ia dikuasai oleh syahwat, sehingga apapun keinginan syahwat itu ia perturutkan, ia rela menentang nuraninya sendiri untuk melakukan hal-hal yang sama sekali bertentangan dengan fitrahnya. Kita sendiri mungkin pernah merasakan, kala kita melakukan suatu kesalahan, dan kita tahu itu salah,apa yang kita rasakan saat melakukan perbuatan tersebut ? Jiwa ini bergetar hebat, darah seakan mengalir begitu cepatnya, bukankah itu sebagi pertanda, fitrah kita sebenarnya menolak, namun karena kita tidak berani untuk melawannya, maka kalahlah fitrah dengan ambisi syahwat, sehingga kala kita selesai melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan fitrah kita, kegelisahan meliputi. Kegelisahan demi kegelisahan menghantui kita, tapi terkadang kita tetap mengulang kesalahan yang sama terhadap pelanggaran fitrah tersebut. Apa sebabnya ? Tiada lain, karena kita tidak berani terhadap diri sendiri. Kita takut dengan diri kita yang telah dikuasai syahwat. Inilah yang dimaksud dengan kita tidak berani dengan diri sendiri.

Ketahuilah saudaraku …

Keberanian akan diri, itulah yang menyelamatkan kita, yakni keberanian untuk mengendalikan diri agar tetap berada dalam koridor syari’at, keberanian menahan diri agar tidak tergiur dengan indahnya gemerlap dunia yang menipu, keberanian untuk memaksa diri agar tunduk pada aturan-aturan baku yang telah menjadi doktrin agama kita, yakni Al-Quran dan Sunnah, dan keberanian pada diri untuk tidak mencari petunjuk lain selain dari dua perintah tersebut.

Inilah keberanian yang hakiki, pada jalan ini pulalah syetan dan balatentaranya memasang perangkap, karena mereka tahu, jalan ini adalah jalan yang paling berbahaya bagi mereka, sebaliknya jalan keselamatan bagi kita. Jika kita mampu untuk berani terhadap diri sendiri, maka cahayanya akan memancar dan melahirkan canbang-cabang keberanian terhadap perilaku yang kita munculkan. Jika kita mampu berani pada diri sendiri, lantas apakah kita tidak akan mampu lebih berani terhadap apa yang ada diluar diri kita ? Musuh yang terbesar pada diri kita sebenarnya adalah diri kita sendiri, karena ia berada dalam diri dan kekuasaannya berada ditangan kita. Kala kita lemah ia akan memberontak, namun kala kita kuat ia akan tunduk. Maka berani terhadap diri sendiri adalah berani menguasai diri dan mengendalikan diri untuk tetap berada pada fitrah kita yang tentunya dalam rangka menggapai penunaian amanah selaku hamba, mengabdi kepada Sang Khalik.

Keberanian akan dirilah yang mengantarkan kita mencapai derajat ketinggian, karena orang yang mulia adalah orang-orang yang mampu melahirkan perbuatan terpuji dan perbuatannya tersebut menjadi keteladanan bagi orang lain, sehingga ia dihormati dan dihargai serta dicintai hati manusia. Tidak bisa tidak, perbuatan terpuji itu lahir dari diri yang terkendali. Terkendalinya diri karena kita berani terhadap diri sendiri. Benarlah mahfuzhat  : Keberanian Itu Mulia


Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab :
Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar