Mahfuzhat
:
اَلشَّبَاتُ مُقْدِمٌ
(
Ketenangan Itu Sifat Berani )
Penjelasan :
Ketenangan merupakan pancaran jiwa yang
damai, sebaliknya kegelisahan merupakan pancaran jiwa yang kalut. Orang yang
tenang hidupnya adalah orang yang mampu menyikapi permasalahan hidup secara
bijak, walau terkadang beban hidup terasa berat, kegelisahan terus mencoba
untuk menghimpit, tapi ia selalu mencoba menyikapinya dengan melihat sisi-sisi
positif dari semua itu tanpa berkeluh kesah. Sederhananya begini, kala ia
dicaci oleh orang lain, ia tidak cepat-cepat menyikapi cacian itu dengan
membalasnya atau sakit hati, tapi ia mencoba menelusuri apa yang menyebabkan
orang tersebut melahirkan cacian, jangan-jangan akibat ulahnya yang memang
melakukan kekeliruann sehingga mengundang orang melahirkan cacian. Jika
seseorang sampai pada tahap ini dalam memahami masalah, insya Allah yang lahir
dari lubuk hati bukanlah kegelisahan, tapi ketenangan jiwa yang lebih banyak
melakukan intropeksi terhadap diri.
Ketahuilah …
Jiwa itu cendrung pada kemenangan dan
pantang diremehkan, maka segala sesuatu yang terasa bersifat penindasan
terhadapnya ia akan bergejolak dan melakukan pemberontakan dalam bentuk
perlawanan. Dalam hakikat jiwa kemanusiaan, inilah yang disebut harga diri. Demi
menjaga harga diri agar tidak terhinakan maka perlawanan jiwa akan selalu
berkobar. Selemah apapun orangnya, jika harga dirinya yang diusik maka ia tidak
akan terima, akan mengadakan pembelaan dalam bentuk apapun.
Saudaraku …
Tidak salah memang, dan hal itu suatu
kewajiban kita untuk memperjuangkannya, karena harga diri adalah harga kita
selaku manusia, jika kemanusiaan kita dihinakan secara otomatis kita telah
dijatuhkan pada tingkat dibawahnya, hina dina. Kehinaan dalam bentuk apapun
tidak boleh dimiliki oleh diri, ia harus dikikis dan dibuang, termasuk dalam
hal ini menghinakan diri. Maka berjuang dalam memperjuangkan harga diri adalah
fitrah kita selaku manusia yang dikarunia kelebihan dibandingkan binatang.
Hanya saja dalam menyikapi hal ini terkadang kita terlalu gegabah, jiwa sensitif
lebih mendominasi dari pada akal sehat, sehingga kala harga diri kita diusik
oleh seseorang, sensifitas kitalah yang lebih dominan menonjol dibandingkan
akal sehat dan kontrol nurani. Kala kita terjatuh pada lembah ini, nafsu
kemarahan akan menjadi raja. Kala nafsu kemarahan yang menjadi raja berarti
kita telah masuk pada bentangan-bentangan pintu syetan yang telah terbuka
lebar.
Maka lihatlah saudaraku …
Seseorang yang dengan alasan menjaga dan
memperjuangkan harga diri, ia rela melakukan tindakan-tindakan yang pada
hakikatnya menjatuhkan harga dirinya sendiri. Seperti tindakan kriminal yang
bertebaran dengan alasan menjaga harga diri dan memperjuangkan. Memang harga
diri harus diperjuangkan, tapi perjuangan tersebut harus dalam rangka
benar-benar berada pada koridor yang ditentukan.
Artinya adalah, menyikapi suatu persoalan
dalam bentuk apapun haruslah disikapi dengan jiwa yang penuh perhitungan,
berpegang pada kontrol akal dan kekuatan hati yang suci. Bawalah akal untuk
bermusyawarah dan serahkan pada keputusan hati untuk melakukan tindakan. Hati
itu dilingkupi fitrah. Ia akan selalu memberikan ide-ide pemecahan yang
cemerlang, maka hati merupakan hakim yang paling bijak dalam diri. Jangan
pernah melawan apa yang dikehendaki hati, sebab itu jalan kebinasaan. Kala
keputusan bijak hati yang kita gunakan, dan kita tak mencoba melawan kesucian
hati, disanalah ketenangan akan diperoleh.
Jika diri ini telah tenang, maka
lihatlah, apapun yang akan dilakukan dapat dipikirkan secara matang, sebab jauh
dari ketergesa-gesaan, muaranya segala yang dilakukan berada pada ranah
perhitungan, baik dan buruk dapat diketahui secara bijak, yang akan menjadi
landasan untuk melakukan tindakan. Itulah pikiran yang cemerlang, sehingga
setiap apapun yang dilakukan, jika berasal dari pikiran yang cemerlang ia tidak
akan takut akan resiko yang menimpa, sebab resiko itupun telah dipikirkan jalan
pemecahannya dan jalan untuk menanggulanginya. Disanalah nilai berani nampak
dan memiliki peran. Tidakkah engkau melihat orang-orang yang berani dalam
memperjuangkan kebenaran, walaupun ia tahu resiko yang akan ia hadapi sangat
besar.
Benar keberanian itu membawa bahaya bagi
dirinya, tapi ia lebih memahami bahwa bahaya itu bukan berarti ia hendak
membahayakan dirinya, tapi lebih dari pada sunnatullah yang tak bisa dihindari.
Karena suatu urusan yang hendak dicapai
tidak akan diperoleh dengan cara yang sederahana, tapi penuh dengan bahaya.
Bahaya itupun hakikatnya hanyalah cobaan, karena dibalik bahaya itu terkandung
nilai berharga. Seperti orang-orang yang gugur di medan jihad, sebagai syahid,
bukankah berbahaya upayanya melakukan peperangan, berbahaya untuk jiwanya, tapi
apabila bahaya itu tetap menimpanya hakikat sebenarnya bukan bahaya, tapi
kemuliaan yang ia capai, gelar syuhada akan ia sandang, tujuh puluh bidadari surga ganjarannya, dan
dicabut nyawanya dengan cara yang sangat tidak menyakitkan. Subhaanallaah,
begitu indahnya bagaimana Allah swt menetap urusan dalam hidup ini.
Ketahuilah …
Semua itu berpangkal dari ketenangan,
ketenangan penuh perhitungan, ketenangan yang lahir dari pikiran cemerlang dan
hati yang suci, pada hati yang mendapatkan bimbingan hidayah dari Allah swt. Benarlah
mahfuzhat : Ketenangan Itu Sifat Berani
Keterangan :
Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan
Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita,
1971 ), Cet. Ke-2
Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor
©2007 by Ebta Setiawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar