WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 04 September 2012

Pelajaran Mahfuzhat : Ketenangan Itu Sifat Berani


Mahfuzhat :

اَلشَّبَاتُ مُقْدِمٌ

( Ketenangan Itu Sifat Berani )
Penjelasan :

Ketenangan merupakan pancaran jiwa yang damai, sebaliknya kegelisahan merupakan pancaran jiwa yang kalut. Orang yang tenang hidupnya adalah orang yang mampu menyikapi permasalahan hidup secara bijak, walau terkadang beban hidup terasa berat, kegelisahan terus mencoba untuk menghimpit, tapi ia selalu mencoba menyikapinya dengan melihat sisi-sisi positif dari semua itu tanpa berkeluh kesah. Sederhananya begini, kala ia dicaci oleh orang lain, ia tidak cepat-cepat menyikapi cacian itu dengan membalasnya atau sakit hati, tapi ia mencoba menelusuri apa yang menyebabkan orang tersebut melahirkan cacian, jangan-jangan akibat ulahnya yang memang melakukan kekeliruann sehingga mengundang orang melahirkan cacian. Jika seseorang sampai pada tahap ini dalam memahami masalah, insya Allah yang lahir dari lubuk hati bukanlah kegelisahan, tapi ketenangan jiwa yang lebih banyak melakukan intropeksi terhadap diri.

Ketahuilah …

Jiwa itu cendrung pada kemenangan dan pantang diremehkan, maka segala sesuatu yang terasa bersifat penindasan terhadapnya ia akan bergejolak dan melakukan pemberontakan dalam bentuk perlawanan. Dalam hakikat jiwa kemanusiaan, inilah yang disebut harga diri. Demi menjaga harga diri agar tidak terhinakan maka perlawanan jiwa akan selalu berkobar. Selemah apapun orangnya, jika harga dirinya yang diusik maka ia tidak akan terima, akan mengadakan pembelaan dalam bentuk apapun.

Saudaraku …

Tidak salah memang, dan hal itu suatu kewajiban kita untuk memperjuangkannya, karena harga diri adalah harga kita selaku manusia, jika kemanusiaan kita dihinakan secara otomatis kita telah dijatuhkan pada tingkat dibawahnya, hina dina. Kehinaan dalam bentuk apapun tidak boleh dimiliki oleh diri, ia harus dikikis dan dibuang, termasuk dalam hal ini menghinakan diri. Maka berjuang dalam memperjuangkan harga diri adalah fitrah kita selaku manusia yang dikarunia kelebihan dibandingkan binatang. Hanya saja dalam menyikapi hal ini terkadang kita terlalu gegabah, jiwa sensitif lebih mendominasi dari pada akal sehat, sehingga kala harga diri kita diusik oleh seseorang, sensifitas kitalah yang lebih dominan menonjol dibandingkan akal sehat dan kontrol nurani. Kala kita terjatuh pada lembah ini, nafsu kemarahan akan menjadi raja. Kala nafsu kemarahan yang menjadi raja berarti kita telah masuk pada bentangan-bentangan pintu syetan yang telah terbuka lebar.

Maka lihatlah saudaraku …

Seseorang yang dengan alasan menjaga dan memperjuangkan harga diri, ia rela melakukan tindakan-tindakan yang pada hakikatnya menjatuhkan harga dirinya sendiri. Seperti tindakan kriminal yang bertebaran dengan alasan menjaga harga diri dan memperjuangkan. Memang harga diri harus diperjuangkan, tapi perjuangan tersebut harus dalam rangka benar-benar berada pada koridor yang ditentukan.  
Artinya adalah, menyikapi suatu persoalan dalam bentuk apapun haruslah disikapi dengan jiwa yang penuh perhitungan, berpegang pada kontrol akal dan kekuatan hati yang suci. Bawalah akal untuk bermusyawarah dan serahkan pada keputusan hati untuk melakukan tindakan. Hati itu dilingkupi fitrah. Ia akan selalu memberikan ide-ide pemecahan yang cemerlang, maka hati merupakan hakim yang paling bijak dalam diri. Jangan pernah melawan apa yang dikehendaki hati, sebab itu jalan kebinasaan. Kala keputusan bijak hati yang kita gunakan, dan kita tak mencoba melawan kesucian hati, disanalah ketenangan akan diperoleh.

Jika diri ini telah tenang, maka lihatlah, apapun yang akan dilakukan dapat dipikirkan secara matang, sebab jauh dari ketergesa-gesaan, muaranya segala yang dilakukan berada pada ranah perhitungan, baik dan buruk dapat diketahui secara bijak, yang akan menjadi landasan untuk melakukan tindakan. Itulah pikiran yang cemerlang, sehingga setiap apapun yang dilakukan, jika berasal dari pikiran yang cemerlang ia tidak akan takut akan resiko yang menimpa, sebab resiko itupun telah dipikirkan jalan pemecahannya dan jalan untuk menanggulanginya. Disanalah nilai berani nampak dan memiliki peran. Tidakkah engkau melihat orang-orang yang berani dalam memperjuangkan kebenaran, walaupun ia tahu resiko yang akan ia hadapi sangat besar.

Benar keberanian itu membawa bahaya bagi dirinya, tapi ia lebih memahami bahwa bahaya itu bukan berarti ia hendak membahayakan dirinya, tapi lebih dari pada sunnatullah yang tak bisa dihindari.  Karena suatu urusan yang hendak dicapai tidak akan diperoleh dengan cara yang sederahana, tapi penuh dengan bahaya. Bahaya itupun hakikatnya hanyalah cobaan, karena dibalik bahaya itu terkandung nilai berharga. Seperti orang-orang yang gugur di medan jihad, sebagai syahid, bukankah berbahaya upayanya melakukan peperangan, berbahaya untuk jiwanya, tapi apabila bahaya itu tetap menimpanya hakikat sebenarnya bukan bahaya, tapi kemuliaan yang ia capai, gelar syuhada akan ia sandang,  tujuh puluh bidadari surga ganjarannya, dan dicabut nyawanya dengan cara yang sangat tidak menyakitkan. Subhaanallaah, begitu indahnya bagaimana Allah swt menetap urusan dalam hidup ini.
Ketahuilah …

Semua itu berpangkal dari ketenangan, ketenangan penuh perhitungan, ketenangan yang lahir dari pikiran cemerlang dan hati yang suci, pada hati yang mendapatkan bimbingan hidayah dari Allah swt. Benarlah mahfuzhat : Ketenangan Itu Sifat Berani

Keterangan :

Sumber Mahfuzhat : K.H. Aslam Zakaria dan Abd. Halim Manaf B.A, Buku Pelajaran Mahfuzhat I (Bandung: C.V Sulita, 1971 ), Cet. Ke-2

Penulisan Format Tulisan Arab : Freeware Arabic Unicode text editor ©2007 by Ebta Setiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar