Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur hanya kepada Allah Azza wa Jalla
Shalawat tercurah buat Rasululllah saw.
Takkan hancur dihantam badai, takkan goyang dari
derunya taufan, sekokoh karang yang bertahan dari hantaman gelombang yang
menggurita. Selama jalan itu berporos pada lingkaran kebajikan, selama alur
yang dilalui tidak keluar dari garis rel kebijaksanaan, maka akankah bermanfaat
segala hinaan dan cacian ? Akankah bermakna segala rintangan yang mencoba
menenggelamkan ? Tak akan, insya Allah.
Demikianlah kami bertahan, demikianlah kami
diajarkan, demikianlah kami ditempa. Dengan semangat ukhuwah, yang lahir dari
satu kesamaan, kesamaan akan kesadaran diri bahwa tak ada yang layak
dipersembahkan dalam hidup ini kecuali hanya sebuah pengabdian yang tulus,
pengabdian yang menyatukan hati kami atas kecintaan, saling mencintai karena
Allah swt.
Kami retas jalan berliku, kami hadang jalan bergelombang, kami
pancangkan asa ditengah derunya laju keangkuhan yang mencoba meluluh lantakkan
semangat kami yang tertanam bak akar yang terhunjam pada dasar bumi, terpatri kuat tak tergoyahkan.
Biar siapapun bilang apa tentang kami, namun
kami tetaplah kami, kami yang mencoba untuk mengikhlaskan diri menjadi orang
yang ikhlas, kami yang mencoba mengagumi diri sebagai sosok yang layak dikagumi.
Kagum karena kami seorang muslim, kagum
karena kami terlahir sebagai muslim, kagum karena kami dibesarkan dalam lingkungan
muslim, kagum kami dipertemukan dengan saudara kami sesama muslim, kagum kami
disatukan atas sebuah komunitas muslim, yang berjuang untuk kemusliman kami,
sebuah komunitas yang kelak insya Allah menjadi saksi sejarah bahwa kami
pernah menanam kebajikan bernilai ukhuwah, kebajikan yang diajarkan sang utusan,
Rasulullah saw. bahwa sesama mukmin adalah bersaudara.
Kami sulam benang-benang ukhuwah, menjadi
rangkaian tenunan cinta yang memukau, cinta yang kokoh atas dasar keyakinan
tauhid. Apapun, bentuk apapun, kami coba menoreh dalam lembaran-lembaran
sejarah, dengan tinta emas jiwa penuh persaudaraan.
Dan… torehan sejarah itu menuai,
yang semoga torehan sejarah itu mengikat kami, menyatukan kami, menggembirakan jiwa kami, serta mengokohkan kami. Lebih dari itu, menyadarkan
diri kami bahwa jalan yang kami tempuh, adalah jalan kebajikan.
“
Balanjuang”, demikianlah kami menjadikannnya momentum untuk mengikat jiwa-jiwa
kami, mempersatukan kami, mengokohkan kami.
Inilah torehan sejarah yang telah menjadi tradisi bagi kami, keluarga
besar PK MAN Maninjau, dari generasi kegenerasi.
Generasi yang kesekian dari komunitas
kami, PK MAN Maninjau, generasi Ash-Haby (XI PK) dan Haraki (XII PK)
mencoba mengulang sejarah, perhelatan
akbar itu tuntas sudah dengan nawaitu yang telah dipancangkan dengan
kesungguhan, “Balanjuang Kolak Labu Plus Durian”. Subhaanalllaah ! Sungguh
Allah swt. punya rencana yang lebih dahsyat dari apa yang kita fikirkan.
Siapa
yang menyangka tradisi itu semakin menggurita dari generasi ke generasi. Untuk
dalam hal ini, nampak suatu keniscayaan, bahwa segala sesuatu yang ditorehkan
jika dilandasi nawaitu ikhlas mengharapkan keridhaan Allah swt, maka ia akan
menjalar menebar bagaikan asap yang terbang kemana-mana, ia akan menjadi
ketauladanan bagi orang-orang belakangan.
Secara kasat mata, apalah keistimewaan dari
“balanjuang”, toh acara makan-makan bersama, tapi tahukah ? Bahwa balanjuang bagi kami bukan sekedar makan-makan, tapi pembelajaran akan hidup secara bersama dalam ikatan Ukhuwah Islamiyah, rasa saling berbagi, saling mencintai, saling menghargai.
Apapun yang dirasakan dari “balanjuang”, yang jelas “balanjuang” tidak mungkin
dilaksanakan secara personal dan individual, sebab yang namanya “balanjuang”
membutuhkan banyak orang. Dan banyak orang itu haruslah disatukan, jika tidak,
“balanjuang” tidak akan berwujud. Maka balanjuang bagi kami momen untuk
mengikat hati agar rasa kesamaan, kesatuan,
untuk mengarahkan persepsi yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh.
Kami memang berbeda, berbeda latar belakang, berbeda tingkat keilmuan, berbeda
akan pemahaman akan suatu hal. Mungkin ada diantara kami yang memiliki
kekurangan disatu sisi namun disisi lain terdapat kelebihan, demikian pula
sebaliknya bagi tiap-tiap individu-individu kami. Namun kekurangan yang saling
mengisi bukankah akan mewujudkan suatu kesempurnaaan ? Insya Allah.
Untuk itu “balanjuang” bagi kami memiliki nilai
tinggi, nilai untuk merajut ukhuwah, nilai bagi kami bahwa kami adalah
bersaudara, nilai bagi kami bahwa kami harus bersatu, nilai bagi kami bahwa
kami adalah satu kesatuan, dan nilai bagi kami bahwa kami saling membutuhkan.
Ketahuilah
…apapun yang kami lakukan menunjukkan bahwa kami bangga meniti jalan yang
menurut kami menuju jalan kebajikan yang dijanjikan.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
(Catatan Kenangan Balanjuang Kolak Labu Plus
Durian, Generasi Ash-Haby dan Haraki PK MAN Maninjau, pada 7 Muharram 1435 H di
Lokal XI PK MAN Maninjau)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar