WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Rabu, 13 November 2013

Catatan Balanjuang Kolak Labu + Durian PK MAN Maninjau

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur hanya kepada Allah Azza wa Jalla
Shalawat tercurah buat Rasululllah saw.


Takkan hancur dihantam badai, takkan goyang dari derunya taufan, sekokoh karang yang bertahan dari hantaman gelombang yang menggurita. Selama jalan itu berporos pada lingkaran kebajikan, selama alur yang dilalui tidak keluar dari garis rel kebijaksanaan, maka akankah bermanfaat segala hinaan dan cacian ? Akankah bermakna segala rintangan yang mencoba menenggelamkan ? Tak akan, insya Allah.


Demikianlah kami bertahan, demikianlah kami diajarkan, demikianlah kami ditempa. Dengan semangat ukhuwah, yang lahir dari satu kesamaan, kesamaan akan kesadaran diri bahwa tak ada yang layak dipersembahkan dalam hidup ini kecuali hanya sebuah pengabdian yang tulus, pengabdian yang menyatukan hati kami atas kecintaan, saling mencintai karena Allah swt. 

Kami retas jalan berliku, kami hadang jalan bergelombang, kami pancangkan asa ditengah derunya laju keangkuhan yang mencoba meluluh lantakkan semangat kami yang tertanam bak akar yang terhunjam pada dasar bumi, terpatri kuat tak tergoyahkan.


Biar siapapun bilang apa tentang kami, namun kami tetaplah kami, kami yang mencoba untuk mengikhlaskan diri menjadi orang yang ikhlas, kami yang mencoba mengagumi diri sebagai sosok yang layak dikagumi. Kagum karena  kami seorang muslim, kagum karena kami terlahir sebagai muslim, kagum karena kami dibesarkan dalam lingkungan muslim, kagum kami dipertemukan dengan saudara kami sesama muslim, kagum kami disatukan atas sebuah komunitas muslim, yang berjuang untuk kemusliman kami, sebuah komunitas yang kelak insya Allah menjadi saksi sejarah bahwa kami pernah menanam kebajikan bernilai ukhuwah, kebajikan yang diajarkan sang utusan, Rasulullah saw. bahwa sesama mukmin adalah bersaudara.

Kami sulam benang-benang ukhuwah, menjadi rangkaian tenunan cinta yang memukau, cinta yang kokoh atas dasar keyakinan tauhid. Apapun, bentuk apapun, kami coba menoreh dalam lembaran-lembaran sejarah, dengan tinta emas jiwa penuh persaudaraan.

Dan… torehan sejarah itu menuai, yang semoga torehan sejarah itu mengikat kami, menyatukan  kami, menggembirakan jiwa kami,  serta mengokohkan kami. Lebih dari itu, menyadarkan diri kami bahwa jalan yang kami tempuh, adalah jalan kebajikan.

“ Balanjuang”, demikianlah kami menjadikannnya momentum untuk mengikat jiwa-jiwa kami, mempersatukan kami, mengokohkan kami.  Inilah torehan sejarah yang telah menjadi tradisi bagi kami, keluarga besar PK MAN Maninjau, dari generasi kegenerasi.

Generasi yang kesekian dari komunitas kami, PK MAN Maninjau, generasi Ash-Haby (XI PK) dan Haraki (XII PK) mencoba  mengulang sejarah, perhelatan akbar itu tuntas sudah dengan nawaitu yang telah dipancangkan dengan kesungguhan, “Balanjuang Kolak Labu Plus Durian”. Subhaanalllaah ! Sungguh Allah swt. punya rencana  yang lebih  dahsyat dari apa yang kita fikirkan. 

Siapa yang menyangka tradisi itu semakin menggurita dari generasi ke generasi. Untuk dalam hal ini, nampak suatu keniscayaan, bahwa segala sesuatu yang ditorehkan jika dilandasi nawaitu ikhlas mengharapkan keridhaan Allah swt, maka ia akan menjalar menebar bagaikan asap yang terbang kemana-mana, ia akan menjadi ketauladanan bagi orang-orang belakangan.

Secara kasat mata, apalah keistimewaan dari “balanjuang”, toh acara makan-makan bersama, tapi tahukah ? Bahwa balanjuang bagi kami bukan sekedar makan-makan, tapi pembelajaran akan hidup secara bersama dalam ikatan Ukhuwah Islamiyah, rasa saling berbagi, saling mencintai, saling menghargai. 

Apapun yang dirasakan dari “balanjuang”, yang jelas “balanjuang” tidak mungkin dilaksanakan secara personal dan individual, sebab yang namanya “balanjuang” membutuhkan banyak orang. Dan banyak orang itu haruslah disatukan, jika tidak, “balanjuang” tidak akan berwujud. Maka balanjuang bagi kami momen untuk mengikat hati agar rasa kesamaan, kesatuan,  untuk mengarahkan persepsi yang berbeda menjadi satu kesatuan yang utuh. 

Kami memang berbeda, berbeda latar belakang, berbeda tingkat keilmuan, berbeda akan pemahaman akan suatu hal. Mungkin ada diantara kami yang memiliki kekurangan disatu sisi namun disisi lain terdapat kelebihan, demikian pula sebaliknya bagi tiap-tiap individu-individu kami. Namun kekurangan yang saling mengisi bukankah akan mewujudkan suatu kesempurnaaan ? Insya Allah.

Untuk itu “balanjuang” bagi kami memiliki nilai tinggi, nilai untuk merajut ukhuwah, nilai bagi kami bahwa kami adalah bersaudara, nilai bagi kami bahwa kami harus bersatu, nilai bagi kami bahwa kami adalah satu kesatuan, dan nilai bagi kami bahwa kami saling membutuhkan. 

Ketahuilah …apapun yang kami lakukan menunjukkan bahwa kami bangga meniti jalan yang menurut kami menuju jalan kebajikan yang dijanjikan.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh


(Catatan Kenangan Balanjuang Kolak Labu Plus Durian, Generasi Ash-Haby dan Haraki PK MAN Maninjau, pada 7 Muharram 1435 H di Lokal XI PK MAN Maninjau)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar