WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 18 November 2013

Wasiat Untuk Remaja Islam (3) : Pedomanmu Hanya Al-Qur'an dan Hadits

Berilmulah engkau dengannya, jangan hanya sekedar mampu membaca dan menghafalnya, tapi amalkan segala kandungannya. Inilah sumber utama dari segala macam ilmu yang harus kau kuasai. Jika kau mengabaikan, niscaya kau akan tersesat. Berhati-hatilah dalam memahami tafsirannya, maka kau harus mampu memilah dan memilih tafsiran yang bersumber dari manakah yang layak kau pegang dari setiap penggal kalimat maupun hurufnya. Jangan kau paksakan memahami hal-hal yang menjadi rahasianya, cukupkan dirimu untuk mencontoh bagaimana cara para salafushshaleh (orang-orang shaleh) terdahulu mempelajarinya. Hindarilah pemikiran filsafat ataupun mantiq yang mencoba mengalihkannya dari hakikat makna yang sesungguhnya.

Ketahuilah al-Quran adalah wahyu, kalamullah yang dijaga langsung oleh Allah s.w.t, ia berfungsi sebagai petunjuk, untuk seluruh umat manusia. Ia akan menjadi petunjuk kala kau benar-benar mempelajarinya, hingga kurus tubuhmu, hingga perih matamu menahan kantuk.

Bawalah al-Qur’an kemana saja kau pergi, ingat pesannya dengan kesungguhan. Jangan kau pernah menganggap remeh aturannya, walau terdapat hukum sunnah untuk ditunaikan, jangan mengabaikannya, karena hukum sunnnah itu keutamaan, keutamaan yang memuliakanmu.

Jangan mencari alasan untuk tidak membacanya karena engkau belum paham maknanya, sebab walaupun engkau belum paham tetap bernilai ibadah. Inilah perbedaan al-Qur’an dibandingkan bacaan lainnya. Gemarkan dirimu untuk selalu basah lisanmu dengan lantunan ayat al-Qur’an.

Ketahuilah …al-Qur’an tak cukup jika kau pahami dengan terjemahannya. Sesungguhnya sifat al-Qur’an itu bahasa Arab, maka menjadi keharusan bagimu belajar tentang bahasa Arab untuk berinteraksi dengan al-Qur’an.

Jangan sekali-kali, jangan sekali-kali al-Qur’an kau pahami menurut akalmu semata. Walaupun kau mengenal terdapatnya tafsiran al-Qur’an berpola tafsir bir ra’yu (menafsirka ayat dengan akal), namun itu bukan berarti dengan mudahnya kau menafsirkan al-Qur’an dengan akal pemikiranmu. Jalan yang paling selamat adalah kau rujuk tafsiran ulama-ulama yang berkompeten dibidangnya, menjadi pengikut dengan mengetahui dasar yang jelas (ittiba’) pada mufassir terdahulu lebih menyelamatkan dibandingkan kau menafsirkannya sendiri jika keilmuanmu tak memadai untuk itu.

Jika al-Qur’an dibacakan padamu, maka dengarkanlah, perhatikan, khusyu’kan hatimu dalam mendengarkannya, keutamaan mendengar sama dengan keutamaan membaca.

Dan jika kau membacakan al-Qur’an dihadapan orang lain berhati-hatilah dalam bacaanmu, kesalahan baris satu huruf apalagi kesalahan kalimat berakibat fatal bagi orang yang mendengar, tak kecuali bagi dirimu. Kau telah berperan sebagai orang sesat dan menyesatkan. Na’udzubillah.

Jika kau tak yakin dengan hafalanmu yang kau bacakan pada orang lain, lebih baik kau melihat teks bacaan, karena hal itu lebih selamat dan menyelamatkan.

Untuk menjaga kesalahanmu dalam memahami bacaan al-Qur’an, tidak bisa tidak kau harus belajar tentang ilmu membacanya, ilmu tajwid yang telah diajarkan ahlinya. Karena al-Qur’an itu bukanlah bahasa biasa yang mudah diucapkan asal orang mengerti. Tapi wahyu yang diturunkan Allah subhaanahuwata’ala. Allah swt. sendiri yang menjaganya dari kesalahan, sekecil apapun. Maka suatu kebodohan jika engkau membacanya tidak seperti yang diberikan padamu.

Kuatkanlah tekad dan semangatmu untuk mempelajari makharijul hurufnya, hukum-hukum bacaannya, hingga keluar dari lisanmu dengan cara yang sempurna. Jika lisanmu atau apa yang keluar dari tenggorokanmu tidak mampu menunaikannya dengan sempurna karena memang kau diciptakan dengan segala kekuranganmu, maka cukup kau berupaya untuk membenarkannya semampumu melalui lisan dan tenggorokanmu, walau ia keluar tidak sesempurna yang dituntut secara ideal. Jika hatimu teguh dan memang itu yang kamu maksud, maka sesungguhnya kau telah menyempurnakan bacaannya. Inilah yang dimaksud membaca al-Qur’an dengan sempurna. Allah swt. tidak membebanimu untuk sesuatu yang kau tak sanggup menunaikannya. Allah swt. memandang sejauhmana kekuatan niatmu.

Jangan kau terpedaya membaca al-Qur’an  dengan memfokuskan irama atau lagu sehingga enak didengar karena senandungnya. Walaupun tuntutan itu juga suatu kenyataan yang memang harus dilakukan untuk menunjukkan bahwa al-Qur’an memang pantas mendapat kemuliaan tersebut. Tapi jika kau terfokus dengan irama dan lagunya dan melupakan makna dan tujuan untuk apa al-Qur’an diturunkan,  sungguh kau tertipu.

Al-Qur’an diturunkan bukanlah untuk nyanyian, bukan pula untuk pertunjukan, ataupun musbaqah (lomba) membaca al-Qur’an. Tapi ia diturunkan sebagai hudallinnaas (petunjuk bagi manusia). Petunjuk hanya bisa dirasakan kala kau memahaminya. Petunjuk hanya bisa ditunaikan kala kau paham dengan rambu-rambunya. Maka tugas engkau sesungguhnya adalah mempelajari al-Qur’an, menggali makna-maknanya, agar kau mengetahui rambu-rambunya sehingga kau mampu mengamalkan sepanjang hidupmu.

Jangan kau mengira untuk sampai pada tahap itu cukup hanya duduk dibangku sekolah, lima atau sepuluh tahun, apalagi kau merasa cukup mendengar pengajian dimajlis ta’lim satu kali seminggu. Ooo…tidak, kau harus menggunakan sisa-sisa umurmu untuk selalu mempelajarinya, jika tidak, kau tidak lebih hanya memahami al-Qur’an sangat sedikit, sangat sedikit.

Al-Qur’an semakin digali akan semakin terkuak kedalaman ajarannya, lantas bagaimana bisa kau mengatakan hanya dengan caramu itu kau telah memahami al-Qur’an, menggalinya saja sedikit dan upayamupun tidak menunjukkan kesungguhan, apakah mungkin akan mampu menguak kedalaman makna al-Qur’an yang semakin digali semakin dalam ???

Sesungguhnya al-Qur’an itu turun secara mujmal ataupun global, ia butuh penjelasan lebih lanjut yang membutuhkan keterangan-keterangan. Ini suatu kenyataan yang tak terbantahkan bahwa al-Qur’an tidak terbatas dalam kalimat-kalimat yang ada, tapi memiliki nilai dan pelajaran berupa petunjuk bak bola salju yang bergulir di atas salju, semakin digulirkan semakin besar. Ia akan terasa semakin berkembang kala ia semakin digali dan digali. Petunjuknya akan semakin berpendar, bercabang, beranting kala terus dipelajari makna-maknanya. Maka tak cukup ruang dan waktu untuk menjelaskan hakikat maknanya. Tidak cukup beratus, beribu, berjuta buku untuk menjabarkan hakikat maknanya.

Karena luasnya makna yang dikandung itulah, maka ia turun secara mujmal atau global. Agar dapat menggali maknanya yang begitu banyak dari berbagai sudut macam pandangan. Dan ketahuilah …penafsiran yang paling benar  untuk menjelaskan makna-makna al-Qur’an adalah hadits Rasulullah saw. Untuk itu tidak boleh mengabaikan hadits Rasulullah saw. dalam kehidupan.

Jangan terpedaya dengan pendapat-pendapat yang menyatakan al-Qur’an sudah sempurna, maka tidak perlu hadits Rasulullah saw. Benar al-Qur’an sempurna, dan kau harus yakin itu, tapi itu bukan berarti tidak butuh penjelasan dalam memahaminya, sebab al-Qur’an bukan langsung diturunkan kepada engkau dengan maknanya secara jelas. Apakah kau mampu memahami al-Qur’an saja tanpa petunjuk penjelas sebagai bayan ?

Sungguh …kau perlu penjelasan tentang al-Qur’an, dan itulah fungsi hadits Rasulullah saw. Demikianlah tujuan rasul diutus, sebagai penjelas dari makna-makna al-Qur’an. Maka hadits Rasulullah saw. wajib kau pelajari.

Mempelajari hadits Rasulullah saw. tidak cukup hanya engkau membaca dan mendengar hadits lalu selesai begitu saja. Ia keluar dari lisannya sang utusan, ia mendapat bimbingan wahyu. Maka kau harus berilmu tentangnya.

Ketahuilah …jangan kau anggap remeh urusan mempelajari hadits Rasulullah saw., dengan menganggap sama dengan mempelajari kata-kata hikmah atau sya’ir. Walaupun keluar dari lisannya sosok manusia, tapi manusia itu manusia mulia, berprediket Rasul. Posisikanlah hadits itu pada tempatnya, disana engkau akan menyadari bahwa hadits bukan kalimat-kalimat mutiara, bukan sya’ir, puisi atau prosa. Tapi ajaran yang mengandung konsekwensi hukum;wajib, sunnah, makruh dan haram.

Jangan gegabah dalam memahami hadits Rasulullah saw. dan terlalu cepat mengatakan ini dari beliau jika kau tidak yakin akan hal itu. Tahukah engkau, beliau sendiri yang mengancam siapa yang menyandarkan sesuatu pada beliau, sementara beliau tidak pernah mengucapkannya atau melakukannya, maka tempat duduknya di neraka (H.R Bukhari dan Muslim).

Lalu, dengan ini, apakah kau mengira mudah belajar hadits ? Belajar hadits butuh perjuangan dan kesungguhan. Apalagi ia telah berada dalam wilayah yang terkontaminasi perkembangannya oleh pihak-pihak pengingkar agama dengan memunculkan hadits-hadits maudhu’ (palsu). Sangat sulit untuk memilah apakah sesuatu itu hadits atau bukan.

Untuk itu kau butuh keilmuan yang dalam  tentang ini, kau harus memahami ilmu sanad (periwayatan hadits), matan (muatan hadits) serta perawi-perawi hadits yang telah teruji kredibilitasnya dalam memurnikan dan menjaga keotentikan hadits. Maka kau harus belajar ilmu hadits, tidak cukup hanya mendengar dan membaca lalu mengatakan ini hadits dengan mencukupkan berpedoman pada perkataan orang bahwa ini hadits.

Jalan ini panjang dan berat, dan jalan itu telah ditempuh oleh para pendahulumu, muhadditsin, semoga Allah swt. merahmati mereka. Belajarlah dari keilmuan mereka. Baca buku-buku dan karya-karya mereka, tela’ah apa yang mereka wariskan padamu. Berterimakasihlah pada mereka dengan mempelajari ajaran yang mereka tulis bersama tinta kesungguhan. Disana akan kau temui hadits yang layak kau pedomani hingga menjadi pengamalan.

Jangan kau sampaikan ini hadits kepada seseorang tapi kau sendiri tidak mampu menjelaskan apakah benar hadits atau bukan. Aduhai …berbahaya sekali apa yang kau lakukan. Lebih baik kau dikatakan orang yang tidak mengetahui apa-apa tentang hadits dari pada kau dianggap ahli hadits tapi sebenarnya kau penipu besar dan tukang palsu hadits.

Ketahuilah …tidak pantas kau menganggap dirimu ahli ibadah, atau ahli ilmu jika kau tidak paham dengan hadits, apalagi berharap dan merasa yakin kelak kau akan masuk jannatun na’aim dengan amal ibadahmu, sementara pemahamanmu tentang hadits begitu minim.

Maka suatu kebodohan bagi orang-orang yang melalaikan urusan menuntut ilmu tentang hadits Rasulullah saw. karena sama saja ia melalaikan memahami al-Qur’an, dan ketahuilah ….ibadahnya perlu dipertanyakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar