WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 16 November 2013

Derita Cinta Sang Gadis Bergelar “Shalehah”

Gadis itu tersungkur di atas sajadah yang telah lusuh, air matanya bergulir hingga membasahi tempat sujud. Jiwanya goncang, penuh penderitaan. Bayangan laki-laki yang telah mengecewakannya melintas. Memamerkan seringai culas penuh kemenangan karena ia telah berhasil mengkhianati cinta sang gadis. Kemudian bayang-bayang sosok lain hadir seiring pudarnya bayangan laki-laki yang telah menghancur luluhkan hatinya. Bayang-bayang yang baru hadir itu awalnya samar, namun akhirnya jelas.

Itulah sosok gurunya dulu, guru dengan tubuh kurus semampai, tulang-tulang pipinya yang menonjol, sorot matanya yang tajam, dengan wajah pasaran seadanya, keningnya berkerut seakan mengandung beban pikiran yang begitu berat, bibirnya tebal menghitam. Namun dari pancaran wajahnya terbersit sinar harapan pada murid-muridnya kelak menjadi sosok hebat yang akan memegang tampuk kejayaan dunia.
Dialah sosok guru yang dulu menanamkan pada gadis itu termasuk pada siswa yang lain, jangan sekali-kali mendekati , jangankan mendekati memikirkanpun jangan, satu kata khalwat. Ya, menjalin hubungan cinta ilegal antara laki-laki dengan perempuan yang tidak diikat ikatan suci pernikahan, pacaran.

“ Ketahuilah, cinta itu fitrah, ia tumbuh dan berkembang dengan kesucian yang harus tetap dengan kesuciannya, maka jagalah kesucian cinta itu dalam suatu ikatan suci, pernikahan. Jika kalian belum sanggup maka bersabarlah, jangan sampai karena ketidaksabaran, kalian mulai menempuhnya dengan cara menzhalimi kesucian cinta itu, melalui pacaran.”
“ Sungguh kepedihan akan mendera, kala kalian menzhalimi kesucian cinta yang kalian miliki. Boleh saja kalian berkilah, toh saat menjalankan hubungan cinta  dengan pacaran, enjoy-enjoy saja terasa, bahkan asyik. Ketahuilah …kebahagiaan yang kalian rasakan itu semu, lihatlah kelak, kala kalian mengalami kegoncangan, seperti, ternyata cinta kalian dikhianati oleh seseorang akibat kalian menyerahkan cinta padanya secara ilegal, bukan melalui pernikahan, maka kala itu kalian baru akan merasakan beratnya beban akibat cinta yang dikhianati, apakah kalian akan menuntut pada orang yang telah mengkhianati cinta kalian ? Ooo…tidak, malah semakin kalian menuntut akan semakin jatuh harga cinta kalian. Lalu bagaimana cara mengobatinya, rumit dan butuh waktu yang panjang. Cinta yang telah dirusak oleh orang lain akan menimbulkan keperihan yang meninggalkan sisa luka yang menganga. Dan sisa luka itu akan tetap tinggal dan berbekas. Sehingga harganya tidak akan sama dengan sesuatu yang masih utuh tanpa cacat.”   

Banyak siswanya yang mengamalkan ajaran sang guru itu. Menjaga diri agar tidak terjatuh pada cinta terlarang. Hanya saja sang gadis ini, kala mendegar petuah sang guru tersebut ia berlagak setuju, paham, dan dari segi sikapnya dibuktikan dalam kesehariannya dilingkungan sekolah. Ia gadis yang terkenal menjaga diri dari laki-laki, ahli shalat berjama’ah. Sampai-sampai sang guru yang memberi petuah itu kagum dan membanggakannnya dengan memberi gelar “shalehah”.
Ternyata semua itu hanya kebohongan semata, yang tersembunyi dalam balutan kecantikan wajahnya, terselubung dalam perilakunya yang menunjukkan keshalehan. Kala ia telah meninggalkan sekolah tersebut, dan sekarang ia telah menjadi mahasiswi. Maka segala nilai yang ia dapat di sekolahnya itu sama sekali tidak berbekas. Mana keshalehannya yang dibanggakan gurunya dengan gelar “shalehah” ?

Ia bangga dengan dirinya yang merasa cantik. Ia hapus jejak indah pengajaran yang ia dapat di sekolah dulu, ia bangun jejak baru, kala bertemu dengan seorang laki-laki gagah, rupawan dan cerdas. Hatinya mulai tertarik, lalu terpesona, akhirnya tak tahan untuk mengikatnya dengan hati sang laki-laki yang katanya juga mencintainya itu, maka keluarlah bahasa “My Darling”, kata-kata yang dulu tidak pernah singgah dilisannya.

Kala di sekolah dulu ia tidak begitu peduli yang namanya jejaring sosial. Hanya sekedar gabung dan berinteraksi dengan sesama. Namun kala ia telah menjadi mahasiswi, dan bertemu pujaan hati, jejaring sosial menjadi mainan jiwa, hari-harinya lebih banyak bersama jejaring sosial. Karena jejaring sosial membuat ia leluasa menuangkan lantunan nyanyian jiwanya yang penuh gelora asmara. Berharap sang pujaan hati mendengar isi hatinya, keluhannya, kerinduannya, keinginannya dan segala macamnya secara fulgar. Cinta telah membutakan hatinya, sehingga ia tidak menyadari bahwa jejaring sosial dinikmati banyak orang termasuk gurunya dulu dan teman-teman seperjuangannya satu komunitas, komunitas jurusan yang digadang-gadangkan oleh gurunya menjadi pelopor lahirnya sosok hebat yang akan membangun peradaban dunia yang menjulang. Cinta butanya membuat ia menganggap bahwa jejaring sosial adalah milik kita berdua.

Berbagai macam nasehat muncul, baik dari teman-teman satu komunitasnya dulu yang prihatin akan keadaannya yang mengalami perubahan kearah yang tidak diinginkan, sampai-sampai sosok gurunya itu juga ikut ambil bagian untuk mencoba memperbaiki keadaan.

Namun, cinta buta memang membutakan, nasehat tidak lebih ia anggap nyanyian setan yang mencoba mempengaruhinya, nasehat dari orang yang peduli padanya ia anggap kecemburuan, nasehat ia anggap kebencian orang padanya, nasehat ia anggap …., akhirnya karena keangkuhan dan kesombongannya, ia tercampakkan, terhinakan, dan terlupakan oleh orang-orang yang mencintainya atas nama kebajikan,teman-teman dan guru satu komunitasnya dulu. Aduhai …sungguh malang sekali nasib seseorang yang dicampakkan.

Namun ia merasa enjoy saja, tak peduli, memang cinta membuat ia buta, dan ia setuju dengan kebutaan itu hingga menikmati kebutaan itu. Malah ia blokade hubungan di jejaring sosial untuk orang-orang yang mencoba meluruskannnya dari cinta buta.

Namun hari itu, diatas sajadah lusuh itu, hatinya telah hancur luluh lantak akibat ulah sang pujaan hati yang ternyata mengkhianatinya. My Darling itu telah memiliki hati yang lain. My Darling yang menyebabkan ia rela menjual harga dirinya untuk kenikmatan semu. My Darling yang membuat ia rela melangkahi ajaran gurunya yang penuh harapan muridnya menjadi orang besar. My Darling yang membuat ia putus hubungan dengan teman-teman satu komunitas yang mencintainya.

Di atas sajadah lusuh itu, dihadapan bayang-bayang gurunya itu, yang dulu mencintainya karena kebajikan, memberinya gelar shalehah. Bayang-bayang itu kelihatan menakutkan, seakan mentertawakan dirinya yang dulu diberi gelar shalehah. Baru ia menyadari ternyata kesombongan, keangkuhan, jiwa arogansinya telah membuat ia tercampakkan pada jurang yang dalam. Kebenaran petuah gurunya mulai merayap dan terasa menyiksa karena sekarang ia merasakan kebenaran itu benar adanya. Hatinya perih karena telah terkhianati oleh sang kekasih, pilu bagai ditusuk sembilu, telah sembab matanya menahan keperihan kekecewaan. Ingin ia mengobatinya, tapi dengan apa ? Bukankah gurunya itu telah mengatakan, luka yang telah menganga akibat cinta terlarang akan meninggalkan bekas, bekas yang menyebabkan harganya akan jatuh. Tidak akan sama nilainya dengan yang masih utuh, tanpa cacat.

Akankah, berguna sebuah penyesalan ? Akankah bermanfaat air mata yang mengalir ? Akankah masih ada yang akan menampung cinta yang telah terkoyak ini pada jalan yang benar ? Apakah mungkin kesucian itu akan bisa diraih kembali kala telah ternodai ? Entahlah. (Wallaahu a’lam)

   

2 komentar:

  1. MasyaAllah ,, Berasa belajar lagi di ruangan kala masih sekolah dulu. 😭😭 rindu berkumpul

    BalasHapus
  2. Suasana dari cerita d atas terasa amat dekat dengan suasana yg telah d lalui

    BalasHapus