Gadis itu tersungkur di atas sajadah yang telah
lusuh, air matanya bergulir hingga membasahi tempat sujud. Jiwanya goncang,
penuh penderitaan. Bayangan laki-laki yang telah mengecewakannya melintas.
Memamerkan seringai culas penuh kemenangan karena ia telah berhasil
mengkhianati cinta sang gadis. Kemudian bayang-bayang sosok lain hadir seiring
pudarnya bayangan laki-laki yang telah menghancur luluhkan hatinya.
Bayang-bayang yang baru hadir itu awalnya samar, namun akhirnya jelas.
Itulah sosok gurunya dulu, guru dengan tubuh
kurus semampai, tulang-tulang pipinya yang menonjol, sorot matanya yang tajam,
dengan wajah pasaran seadanya, keningnya berkerut seakan mengandung beban
pikiran yang begitu berat, bibirnya tebal menghitam. Namun dari pancaran
wajahnya terbersit sinar harapan pada murid-muridnya kelak menjadi sosok hebat
yang akan memegang tampuk kejayaan dunia.
Dialah sosok guru yang dulu menanamkan pada
gadis itu termasuk pada siswa yang lain, jangan sekali-kali mendekati ,
jangankan mendekati memikirkanpun jangan, satu kata khalwat. Ya,
menjalin hubungan cinta ilegal antara laki-laki dengan perempuan yang tidak
diikat ikatan suci pernikahan, pacaran.
“ Ketahuilah, cinta itu fitrah, ia tumbuh dan
berkembang dengan kesucian yang harus tetap dengan kesuciannya, maka jagalah
kesucian cinta itu dalam suatu ikatan suci, pernikahan. Jika kalian belum
sanggup maka bersabarlah, jangan sampai karena ketidaksabaran, kalian mulai
menempuhnya dengan cara menzhalimi kesucian cinta itu, melalui pacaran.”
“ Sungguh kepedihan akan mendera, kala kalian
menzhalimi kesucian cinta yang kalian miliki. Boleh saja kalian berkilah, toh
saat menjalankan hubungan cinta dengan pacaran,
enjoy-enjoy saja terasa, bahkan asyik. Ketahuilah …kebahagiaan yang kalian
rasakan itu semu, lihatlah kelak, kala kalian mengalami kegoncangan, seperti,
ternyata cinta kalian dikhianati oleh seseorang akibat kalian menyerahkan cinta
padanya secara ilegal, bukan melalui pernikahan, maka kala itu kalian baru akan
merasakan beratnya beban akibat cinta yang dikhianati, apakah kalian akan
menuntut pada orang yang telah mengkhianati cinta kalian ? Ooo…tidak, malah
semakin kalian menuntut akan semakin jatuh harga cinta kalian. Lalu bagaimana
cara mengobatinya, rumit dan butuh waktu yang panjang. Cinta yang telah dirusak
oleh orang lain akan menimbulkan keperihan yang meninggalkan sisa luka yang
menganga. Dan sisa luka itu akan tetap tinggal dan berbekas. Sehingga harganya
tidak akan sama dengan sesuatu yang masih utuh tanpa cacat.”
Banyak siswanya yang mengamalkan ajaran sang
guru itu. Menjaga diri agar tidak terjatuh pada cinta terlarang. Hanya saja
sang gadis ini, kala mendegar petuah sang guru tersebut ia berlagak setuju,
paham, dan dari segi sikapnya dibuktikan dalam kesehariannya dilingkungan
sekolah. Ia gadis yang terkenal menjaga diri dari laki-laki, ahli shalat
berjama’ah. Sampai-sampai sang guru yang memberi petuah itu kagum dan membanggakannnya
dengan memberi gelar “shalehah”.
Ternyata semua itu hanya kebohongan semata, yang
tersembunyi dalam balutan kecantikan wajahnya, terselubung dalam perilakunya
yang menunjukkan keshalehan. Kala ia telah meninggalkan sekolah tersebut, dan
sekarang ia telah menjadi mahasiswi. Maka segala nilai yang ia dapat di sekolahnya
itu sama sekali tidak berbekas. Mana keshalehannya yang dibanggakan gurunya
dengan gelar “shalehah” ?
Ia bangga dengan dirinya yang merasa cantik. Ia
hapus jejak indah pengajaran yang ia dapat di sekolah dulu, ia bangun jejak
baru, kala bertemu dengan seorang laki-laki gagah, rupawan dan cerdas. Hatinya
mulai tertarik, lalu terpesona, akhirnya tak tahan untuk mengikatnya dengan
hati sang laki-laki yang katanya juga mencintainya itu, maka keluarlah bahasa “My
Darling”, kata-kata yang dulu tidak pernah singgah dilisannya.
Kala di sekolah dulu ia tidak begitu peduli yang
namanya jejaring sosial. Hanya sekedar gabung dan berinteraksi
dengan sesama. Namun kala ia telah menjadi mahasiswi, dan bertemu pujaan hati, jejaring sosial menjadi mainan jiwa, hari-harinya lebih banyak bersama jejaring sosial. Karena jejaring sosial membuat ia leluasa menuangkan lantunan nyanyian jiwanya yang penuh gelora
asmara. Berharap sang pujaan hati mendengar isi hatinya, keluhannya,
kerinduannya, keinginannya dan segala macamnya secara fulgar. Cinta telah
membutakan hatinya, sehingga ia tidak menyadari bahwa jejaring sosial dinikmati banyak orang termasuk gurunya dulu dan
teman-teman seperjuangannya satu komunitas, komunitas jurusan yang
digadang-gadangkan oleh gurunya menjadi pelopor lahirnya sosok hebat yang akan
membangun peradaban dunia yang menjulang. Cinta butanya membuat ia menganggap
bahwa jejaring sosial adalah milik kita berdua.
Berbagai macam nasehat muncul, baik dari
teman-teman satu komunitasnya dulu yang prihatin akan keadaannya yang mengalami
perubahan kearah yang tidak diinginkan, sampai-sampai sosok gurunya itu juga
ikut ambil bagian untuk mencoba memperbaiki keadaan.
Namun, cinta buta memang membutakan, nasehat
tidak lebih ia anggap nyanyian setan yang mencoba mempengaruhinya, nasehat dari
orang yang peduli padanya ia anggap kecemburuan, nasehat ia anggap kebencian
orang padanya, nasehat ia anggap …., akhirnya karena keangkuhan dan
kesombongannya, ia tercampakkan, terhinakan, dan terlupakan oleh orang-orang
yang mencintainya atas nama kebajikan,teman-teman dan guru satu komunitasnya
dulu. Aduhai …sungguh malang sekali nasib seseorang yang dicampakkan.
Namun ia merasa enjoy saja, tak peduli, memang
cinta membuat ia buta, dan ia setuju dengan kebutaan itu hingga menikmati
kebutaan itu. Malah ia blokade hubungan di jejaring sosial untuk orang-orang
yang mencoba meluruskannnya dari cinta buta.
Namun hari itu, diatas sajadah lusuh itu,
hatinya telah hancur luluh lantak akibat ulah sang pujaan hati yang ternyata
mengkhianatinya. My Darling itu telah memiliki hati yang lain. My
Darling yang menyebabkan ia rela menjual harga dirinya untuk kenikmatan
semu. My Darling yang membuat ia rela melangkahi ajaran gurunya yang penuh
harapan muridnya menjadi orang besar. My Darling yang membuat ia putus
hubungan dengan teman-teman satu komunitas yang mencintainya.
Di atas sajadah lusuh itu, dihadapan
bayang-bayang gurunya itu, yang dulu mencintainya karena kebajikan, memberinya
gelar shalehah. Bayang-bayang itu kelihatan menakutkan, seakan mentertawakan
dirinya yang dulu diberi gelar shalehah. Baru ia menyadari ternyata
kesombongan, keangkuhan, jiwa arogansinya telah membuat ia tercampakkan pada
jurang yang dalam. Kebenaran petuah gurunya mulai merayap dan terasa menyiksa
karena sekarang ia merasakan kebenaran itu benar adanya. Hatinya perih karena
telah terkhianati oleh sang kekasih, pilu bagai ditusuk sembilu, telah sembab
matanya menahan keperihan kekecewaan. Ingin ia mengobatinya, tapi dengan apa ?
Bukankah gurunya itu telah mengatakan, luka yang telah menganga akibat cinta terlarang
akan meninggalkan bekas, bekas yang menyebabkan harganya akan jatuh. Tidak akan
sama nilainya dengan yang masih utuh, tanpa cacat.
Akankah, berguna sebuah penyesalan ? Akankah
bermanfaat air mata yang mengalir ? Akankah masih ada yang akan menampung cinta
yang telah terkoyak ini pada jalan yang benar ? Apakah mungkin kesucian itu
akan bisa diraih kembali kala telah ternodai ? Entahlah. (Wallaahu a’lam)
MasyaAllah ,, Berasa belajar lagi di ruangan kala masih sekolah dulu. 😭😭 rindu berkumpul
BalasHapusSuasana dari cerita d atas terasa amat dekat dengan suasana yg telah d lalui
BalasHapus