WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 06 Februari 2012

Layakkah Kita Mendapatkan Cinta Ilahi


Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasululullah saw

Cinta, ungkapan yang mebuat jiwa bergetar karena aromanya. Cinta, bahasa hati yang membuat siapa saja akan mendongakkan kepalanya dikala mendengar kalimat itu terlontarkan. Cinta, kata yang selalu ingin dimiliki oleh setiap makhluk. Namun disisi lain, cinta malah bumerang yang membuat hati merana. Cinta merupakan bahasa yang sangat dibenci  oleh orang-orang yang nestapa. Cinta adalah pengkhianatan hidup bagi orang yang tersakiti. Cinta adalah racun mematikan yang mampu membuat orang bunuh diri. Cinta, membuat rasa malu hilang ditelan nafsu. Cinta mengubah rasa menjadi kasar.

Demikianlah cinta itu menunjukkan eksistensinya, ia menjadi raja dan menguasai makhluk dengan sekehendaknya, tidak toleran dan membabi buta. Keangkuhannya sulit untuk dibendung, kekuatannya tak terkalahkan, pengaruhnya begitu menyentak tak terperikan.

Setiap insan memiliki cinta, dan rindu sekaligus membenci cinta. Cinta bagian hidup yang tak terpisahkan. Sehingga bermunculan istilah-istilah cinta yang mendera; cinta buta, jatuh cinta, putus cinta, rasa cinta, gejolak cinta, kekasih tercinta, yang tercinta, hingga  aduhai… aku mencintaimu sepenuh jiwa.

Bagi seorang muslim, cinta merupakan rasa terindah dari anugrah yang Allah swt titipkan ke dalam jiwa, dengan cinta Allah swt tanamkan rasa saling mencintai sesama saudara seiman, dengan cinta Allah swt bakar semangat jihad hingga menumbuhkan rasa perindu akan kesyahidan. Dengan cinta kedengkian orang lain dapat dimaafkan. Bahkan dengan cintalah tegaknya kalimat Allah swt dipermukaan bumi.

Namun terkadang cinta bagi seorang muslim juga mampu memunculkan hal-hal yang dilematis, dikala cinta akan dunia harus mengalami pertaruhan dengan cinta akan kebahagiaan akhirat yang hakiki. Cinta ini berada dalam medan tempur antara pertarungan akal dan nafsu, maka hatilah yang akan mengejewantahkannya menjadi perilaku. Dikala akal dikalahkan oleh nafsu dalam pertarungan memperebutkan cinta, maka jatuhlah manusia pada cinta buta yang membinasakan. Itulah cinta akan harta, tahta dan keindahan fatamorgana. Cinta yang akan membuat manusia lupa untuk apa ia diciptakan, cinta yang melahirkan pengkhianatan akan janji yang telah diikrarkan dikala ruh akan ditiupkan  kealam rahim. Cinta yang akan menumpulkan rasa akan bahaya dosa. Inilah cinta yang dipropagandakan oleh tentara syetan. Jatuhlah manusia pada barisan kafilah syetan. Maka engkau jangan heran, dikala menemukan betapa banyak orang-orang yang melakukan kemaksiatan, namun sama sekali ia seakan-akan tidak merasakan sedikitpun bahwa yang ia lakukan adalah maksiat, malah ia merasa nikmat dikala melakukannya, tanpa beban, tanpa ada rasa takut akan bahaya yang menimpanya, karena memang cinta telah membuat ia buta. Bukankah syetan itu menunjukkan sesuatu yang jelek indah dipandang mata ?

Saudaraku … !

Sebagai seorang muslim, ketika hati telah dibakar gelora api cinta, kita mungkin punya keinginan bagaimana kobaran api itu berlabuh pada kodratnya yang mulia, mencari sang pemberi cinta itu, yakni Allah swt. Kita berharap, bahkan kita pancangkan nawaitu yang tulus bahwa api cinta yang bergelora ini, jika toh harus terpatri pada kecintaan akan ciptaan-Nya hendaknya tetaplah dalam rangka pencarian akan cinta-Nya yang hakiki. Dalam artian cinta kita akan cipataan-Nya tetap bermuara pada karena kecintaan kita pada Sang Pemilik cinta tersebut. Inilah basaha cinta kita yang disebut, “ Mencintai sesuatu karena Allah swt ”, puitis memang bahasanya, namun semua itu bukanlah hal mudah, karena seperti yang dikatakan tadi, ada pertarungan alot antara akal dan nafsu yang menentukannya, bahayanya jika kecendrungan pada nafsu lebih mendominasi jiwa kita dari pada kecendrungan pada kekuatan akal. Maka disinilah kekuatan iman itu dipertaruhkan. Hanya imanlah yang mampu menetralisir semua itu hingga cinta menjadi sebuah kenikmatan yang akan mengantarkan kita pada cahaya hidayah Allah swt.

Saudaraku …

Duri-duri untuk mempertahankan keimanan ini sangat tajam, begitu tajam dan menyakitkan. Hanya jiwa-jiwa yang sabar dan pemberani yang dilumuri dengan keikhlasan yang mampu melaluinya. Duri itu adalah cobaan, sebagai pengukur kadar sejauhmana kekuatan iman itu terpancang. Pernahkah antum merasakan, dikala mencoba membangun mahligai cinta terhadap ciptaan Allah swt dengan segala kekuatan agar cinta yang dibangun dengan pondasi iman mampu mengantarkan cinta pada kecintaan terhadap Allah swt ? Dikala antum mencintai seseorang misalnya, antum mencoba untuk mencintai sosok itu dikarenakan bukan harta, jabatan dan keduniaanya, tapi karena keshalehannya, keta’atannya, akhlak terpujinya, yakni mencintainya karena ia mencintai Allah swt, tapi ternyata sosok itu tidak mencintai antum, bahkan tidak peduli dengan cinta antum, dan tidak mau tahu dengan kecintaan antum yang tulus. Pada titik ini bagaimana perasaan antum ?

Disinilah ujian iman itu dipertanyakan ? Masihkah kita bertahan dengan kondisi keimanan kita untuk bertahan dengan prinsip bahwa kita mencintainya karena Allah swt dikala cinta kita ditolak, bahkan untuk dikasihanipun tidak oleh orang yang kita cintai, yang menurut kita cinta kita berdasarkan iman yang kokoh.

Ooooh !!! Sungguh suatu hal yang sangat berat untuk menetapkan sebuah keputusan, jika hati kita merasa marah, sakit, tersakiti, karena ketulusan kita sama sekali tidak mendapat tempat, hingga berujung pada asumsi, dan mempertanyakan, mengapa cinta yang telah dibangun dengan ketulusan iman, tapi berujung pada kekecewaan ? Sekali lagi, jika hal ini yang kita pertanyakan, ketahuilah kita telah tertusuk oleh duri-duri keimanan yang tajam, kita telah jatuh pada cinta yang dikuasai oleh nafsu. Pada saat itu, layakkah kita mengaku, bahwa kita berharap cinta hanya kepada Allah swt ? Jawabannya kita telah tahu, dan sangat mengetahui, ternyata kita masih jauh untuk layak mendapat cinta dari Allah swt. Karena kita sebenarnya, baru layak untuk dikasihani, bukan untuk dicintai. Renungkanlah … Sungguh ini sangat bermanfaat untuk hati kita yang dirundung cinta, hati yang rindu akan cinta Ilahi.

Assalaamu'laikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Senin, 30 Januari 2012

Duhai Hati, Mengapa Engkau Enggan Menerima Nasehat


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalwat buat Rasulullah saw.

Nasehat kebajikan, merupakan pancaran cahaya yang hendak dimasukkan ke dalam hati manusia, berharap dengan nasehat orang-orang yang mendapatkan nasehat dapat merubah cara pandang hidupnya kearah jalan kebaikan. Para ulama terdahulu, penguasa-penguasa muslim yang ta’at, kita temukan dalam sejarah, mereka banyak yang mencintai nasehat, nasehat dari para ulama, atau kaum sufi, sehingga para ulama atau kaum sufi berada pada kedudukan yang mulia. Bagi orang-orang shaleh terdahulu, mereka biasa saja dikala berbicara dengan saudaranya seiman, “ Saudaraku, nasehatilah aku ”. Walau terkadang bisa jadi orang yang memberi nasehat tingkat keilmuannya berada dibawah orang yang diberi nasehat. Namun jiwa haus akan nasehat itulah yang membuat mereka selalu merasa butuh untuk dinasehati.

Dalam tataran kehidupan kita hari ini, bagaimana kita menyikapi nasehat ? Apalagi jika yang memberi nasehat itu orang-orang yang berada dibawah kita kedudukannya dalam berbagai hal. Bagaimana kita menyikapi nasehat dikala anak kita mencoba memberi nasehat kepada kita ? Bagaimana kesan kita dikala orang miskin yang memberi nasehat kepada kita, sementara kita orang kaya ? Bagaimana tanggapan kita jika murid kita memberi nasehat kepada kita selaku guru ? Bagaimaan perasaan kita jika kita seorang pemimpin diberikan nasehat oleh rakyat ? Bagaimana reaksi kita dikala kita mendapatkan nasehat dari orang biasa, sementara kita seorang ulama dan paham akan hakikat nasehat ? Semuanya berpulang kepada hati kita masing-masing.
Nasehat, dalam bentuk apapun, dari sumber manapun, dengan cara apapun selama berupa pancaran kebajikan yang mengalir dari ruh tataran al-Qur’an dan Sunnah hakekatnya tetap bermakna nasehat, karena nasehat tidak akan mengalami perubahan makna jika diberikan oleh anak kepada orang tua, orang miskin kepada orang kaya, murid kepada guru, rakyat kepada pemerintah, orang biasa kepada ulama. Inti nasehat bukanlah pada kedudukan keduniaan sang pemberi nasehat, tapi sejauhmana pemahaman sang pemberi nasehat akan nasehat yang ia sampaikan.

Saudaraku …

Ketahuilah … penyebab gersang dan kerasnya hati dikarenakan hati ini jarang dialiri nasehat, hati ini selalu diliputi oleh rasa merasa diri lebih dari segalanya, sehingga tak ada yang melembabkan dan melunakkannya. Terkadang nasehat itu ada, tapi karena merasa diri lebih yang menyebabkan nasehat tak bergeming. Bagaimana nasehat akan bergeming dikala, misalnya, kita seorang guru, lalu ada seorang murid yang memberi nasehat tentang kesalahan kita, lantas karena ia murid, kita enggan menerima nasehat darinya secara kedudukan kita sebagai guru, maka dengan berbagai macam dalih dan alasan kita lontarkan kepada sang murid tentang kesalahan kita yang intinya kita tidak bisa menerima nasehat dari sang murid, dengan satu alasan dia murid kita, tak layak memberi nasehat kepada kita sebagai guru. 

Begitu juga dikala kita sebagai orang tua yang mendapat nasehat dari sang anak, paling-paling tanggapan kita, “ Orang tua pula kau ajari,  dasar anak durhaka ”. Padahal kita yang durhaka pada nasehat yang disampaikannya. Hal itu sebenarnya karena itu tadi, merasa diri lebih, sehingga nasehat tak mampu menembusnya.

Untuk itu saudaraku …

Agar jiwa yang gersang dan keras ini luluh dengan kebaikan, mampu menerima pancaran nasehat, maka bukalah benteng-benteng penghalangnya, bukalah belenggu-belenggunya, cabutlah ranjau-ranjaunya, apakah gerangan ? Ya, hapuslah dalam jiwamu perasaan merasa diri lebih, karena tidak ada yang melebihi manusia di dunia ini dimata Allah swt kecuali tingkat ketaqwaannya. Dikala kita mendapatkan nasehat dari manapun sumbernya, hakikatnya ia mengajarkan kita untuk mencapai derajat ketinggian dalam pandangan Allah swt. Maka berterima kasihlah kepada orang-orang yang telah bersedia memberi nasehat kepada kita, walau dari anak kita, dari murid kita, dari orang miskin dari kita, dari rakyat, dari segala apapun yang mungkin selama ini kita anggap tidak layak memberi nasehat, padahal layak dari sisi hakekat nasehat. Ketahuilah … semua itu bentuk kepedulian dan rasa cinta … ternyata masih banyak orang yang bersedia menasehati kita … berarti masih banyak orang yang tidak ingin membiarkan kita berkubang kesalahan … dan berarti masih banyak orang yang berharap kita berada pada jalan kebaikan. 

Syukurilah semua itu … sebelum kesempatan bersyukur itu dicabut oleh Allah swt. Terimalah nasehat dari manapun … selama nasehat tersebut berdasarkan tuntutanan al-Qur’an dan Sunnah.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

" Setiap Kata Yang Terucap Tak Satupun Luput Dari Pantauan Allah swt "


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Kata, alat komunikasi penyampai pesan dalam bentuk apapun, dengan kata seseorang mampu menjalin silaturrahim, dengan kata seseorang mampu menanam amal kebajikan, namun juga dengan kata segala kemungkaran akan bertebaran secara berantai. Bukankah dengan kata, nasehat akan berbekas dalam hati, namun juga dengan kata dua orang bersaudara akan dapat bermusuhan. Dakwah disampaikan dengan kata, ghibah juga dengan kata, dusta juga berhubungan erat dengan kata. Intinya kata merupakan media untuk mencapai apa yang diinginkan, ia akan membawa kebaikan, jika mengandung kebaikan, dan akan membawa malapetaka jika mengandung marabahaya.

Menempatkan kata dalam hidup begitu penting, seseorang bisa diukur hatinya dari perkataannya, selihai apapun orang merangkai kata, tapi dari rangkaian kata yang keluar dari katanya, menunjukkan siapa dia sesungguhnya. Seseorang yang berdusta tetap akan diketahui kedustaannya dari cara ia berkata-kata, walau hal ini sulit dideteksi. Seseorang yang jujur dalam berkata-kata juga akan dapat diketahui kejujurannya, juga walau hal ini sulit dipahami. Tapi tetap kata adalah bentuk lahir dari apa yang ada dihati.

Namun ada kata yang tidak sesuai dengan apa yang dihati, lain apa yang keluar dari mulut, lain pula dari apa yang sesungguhnya dalam hati, agama kita menyebutnya, inilah yang dimaksud dengan munafik. Ancaman Allah swt tidak main-main dalam urusan munafik ini. Hal ini mengindikasikan tetap apa yang dikatakan menunjukkan siapa dia sesungguhnya, yakni munafik.

Pernahkah kita mencoba mengintropeksi kata-kata yang keluar dari lisan kita dalam satu hari ? Dari rangkaian kata yang bertebaran kepada banyak  orang sudahkah mengandung kebaikan? Atau malah menebar malapetaka bagi orang yang mendengarnya, apalagi jika sampai kata-kata yang mengandung malapetaka itu disampaikan orang pula secara berantai, na’udzubillah, mengalir dosanya kepada kita, walau jasad kita telah hancur dikandung tanah.

Saudaraku …

Kita mungkin pernah melontarkan kata-kata yang membuat orang lain sakit hati, namun kita abaikan begitu saja, dengan alasan lidah tidak bertulang, biasalah kalau lidah keseleo, setelah itu kita lupa. Kelupaan kita tersebut merupakan awal dari rusaknya hubungan kita dengan orang yang pernah kita sakiti dengan kata-kata, dan tahukah antum setelah itu … jika hal ini lama-lama dan bertambah banyak kita semai, lambat laun orang-orang akan menjauh dari kita, bahkan orang-orang yang kita cintai sekalipun, muaranya adalah putusnya hubungan silaturrahim. Duhai … sadarilah … besar kemurkaan Allah swt bagi orang-orang yang memutuskan hubungan silaturrahim, tidak akan masuk sorga, ancam Rasulullah saw.

Namun terkadang, kesadaran kita bebal akan hal ini, malah dikala orang-orang menjauh dari kita, karena ulah kata yang tidak pada tempatnya namun telah kita lupakan, dan dikala orang-orang menjauh dari kita akibat dari kata-kata tersebut, kita malah melontarkan tuduhan orang tersebut yang memutuskan hubungan silaturrahim dengan kita karena menjaga jarak dengan kita. Pertanyaannya, mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Ya … karena itu tadi, berawal dari kata yang keluar, namun dianggap sepele.

Untuk itu saudaraku …

Sebelum tidur, cobalah merenung agak sejenak, tentang perbendaharaan kata-kata yang pernah terucap oleh kita dalam satu hari, dikala hati sedang tenang, jiwa dalam keadaan stabil menerima kebenaran, disana akan terpancar kebenaran hakiki yang akan mengoreksi segala tindakan kita, termasuk kata-kata kita. Insya Allah, jika kita bersedia merenung kata-kata yang pernah kita ucapkan dalam satu hari, mengoreksinya, ternyata banyak kesalahan dan kekhilafahan yang bukan main-main dan berdampak buruk terhadap orang-orang yang pernah kita lontarkan kata-kata.

Perenungan ini akan mengasah jiwa kita untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata, berpikir sebelum melontarkannya, dan menganalisa dampaknya. Takutlah … jika kata-kata telah terlontar …maka tidak akan mampu ditarik kembali … ia mengalir deras bagaikan air, menghantam apa saja yang ada didepannya. Alangkah ngerinya dikala kata-kata yang kita ucapkan membinasakan banyak orang, bahkan menjadi pegangan dan rujukan orang lain dalam mengeluarkan kata-kata. Na’udzubillah.

Sesungguhnya setiap kata yang diucapkan akan dicatat oleh malaikat dan akan menjadi persaksian kelak diakhirat kelak tentang apa yang kita ucapkan, tak ada satupun yang luput dari pantauan Allah swt, berhati-hatilah wahai saudaraku seiman.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

“ Zakat, Rasa Yang Enggan Dirasakan ”


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Dalam Islam, terdapat tiga komponen harta yang harus dikeluarkan; Jizyah, Kharaj dan Zakat. Jizyah merupakan harta yang harus dikeluarkan oleh kalangan kafir zimmi yang berada dibawah perlindungan umat Islam, kafir zimmi yang dimaksud orang-orang kafir yang hidup dan bermukim dalam kekuasaan umat Islam, sementara umat Islam memberikan perlindungan keamanan terhadap mereka, dikeluarkan satu kali setahun dengan ketentuan tertentu yang telah dijelaskan secara detail dalam ilmu Fiqh. Sedangkan Kharaj merupakan penghasilan yang harus dikeluarkan oleh orang-orang kafir dikala mereka mendapatkan hasil panen dari tanah garapan mereka yang merupakan milik Islam. Kharaj ini dikeluarkan dikala panen dan dibayarkan pada pemerintahan Islam. Sementara zakat merupakan kewajiban yang harus dikeluarkan umat Islam yang memiliki harta untuk disalurkan kepada yang berhak menerimanya ( Q.s. Attaubah [ 9 ] : 60 ).

Dari tiga bentuk pengeluaran harta tersebut, jelas kewajiban bagi masing-masing individu dalam Islam teratur secara gamblang. Tidak ada satupun yang luput, disanalah Islam menunjukkan keadilannya.
Saudaraku …Seiman …

Untuk urusan Jizyah dan Kharaj, biarlah, mungkin kita tidak terlibat di dalamnya, tapi untuk urusan zakat, pernahkah kita memikirkannya ??? Selaku muslim, kita mengakui bahwa zakat merupakan sebagai syarat seseorang itu mengaku muslim, sehingga zakat tergolong pada rukun Islam. Namun bagaimana sikap kita tentang zakat ini ???

Banyak alasan yang dikemukakan seseorang yang mengaku muslim tapi enggan membayar zakat, bisa jadi kita termasuk orang-orang yang mencari-cari alasan tersebut. Dengan alasan kita banyak tanggunganlah, anak-anak yang masih banyak duduk dibangku pendidikan sedang membutuhkan biaya, dan berbagai dalih yang diada-adakan hingga berujung pada keengganan membayar zakat,  apalagi keadaan yang mendukung karena memang disekitar kita mungkin kita tidak ditemukan pihak-pihak yang memungut  zakat secara paksa, atau memang tidak terdapat amil, maka dengan leluasa kita abaikan saja kewajiban ini, toh jika tidak membayar zakat, kita tidak akan masuk penjara, tidak akan ada surat tagihan zakat, tidak akan ada surat teguran dan lain sebagainya.

Namun anehnya … dengan jujur kita bayar pajak dengan segera, kita tuliskan segala harta kekayaan kita, kita hitung penghasilan setahun, lalu dengan ikhlas kita buat SPT Tahunan dan kita laporkan kepada kantor pajak, tepat waktu, sangat jujur. Mengapa ? Karena kita takut mendapat surat tagihan pajak jika terlambat membayar pajak, takut akan denda yang menimpa jika terlambat membuat laporan SPT Tahunan, dan tentunya takut jika dianggap pembangkang dalam urusan pajak sehingga kita akan masuk penjara.

Mengapa dikatakana aneh ??? Kita takut akan hal yang membinasakan kita karena tidak membayar pajak, tapi kita tidak takut dengan hal yang membinasakan kita karena tidak membayar zakat. Kita takut dengan pejabat pajak yang siap menginterogasi dan menghukum kita karena melakukan kesalahan dalam urusan pajak, tapi kita tidak merasa takut dengan malaikat pencatat amal karena kita ingkar dengan kewajiban zakat.

Dalam hal ini kita bukan membicarakan masalah kedudukan pajak dalam Islam, namun kita membicarakan bagaimana rasa ketundukan  kita terhadap aturan Islam, selaku kita mengaku muslim. Secara jujur ketundukan itu sangat jauh … sangat jauh. Mengapa ??? Karena urusan Islam adalah urusan hati, hakikatnya  tidak tampak, namun dapat dirasakan, hanya saja kecendrungan kita lebih kuat pada yang tampak, sementara yang tidak tampak kita masih meragukan.

Urusan pajak adalah urusan kasat mata, nampak akibat yang menimpa dikala melakukan pelanggaran, namun urusan zakat urusan jiwa, tak nampak dampak dari pelanggarannya namun dapat dirasakan. Tapi, na’udzubillah, entah karena rasa ini tidak melekat dalam hati kita, sehingga tanpa beban kita tinggalkan kewajiban zakat ini. Ya, rasa itu mungkin yang sangat jauh dalam hati kita, bukan berarti tidak ada rasa itu, tapi kita enggan merasakan.

Sebenarnya dampak yang diakibatkan tidak membayar zakat berlaku didunia. Pernahkah kita merasakan  dikala jiwa tidak mampu untuk khusyu’ dalam beribadah ? Bisa jadi karena isi perut kita dipenuhi dengan harta zakat. Pernahkah kita merasakan, mengapa anak-anak kita begitu nakal ? Bisa jadi karena mereka kita besarkan dengan harta zakat, kita nafkahi mereka dengan harta yang seharusnya kita zakatkan. Karena harta zakat substansinya bukan milik kita, tapi harta orang lain yang melekat dalam harta kita. Namun tanpa beban kita makan harta tersebut, kita nafkahi keluarga kita dengan harta tersebut.

Kitapun mungkin paham, haram hukumnya memfungsikan harta yang bukan milik kita tanpa izin pemiliknya, apakah dalam bentuk menggunakan atau mengkonsumsi. Sehingga kita takut untuk mecari harta dengan jalan yang bathil. Kita berupaya mengumpul harta dan menafkahi keluarga kita dengan jalan yang halal.Tapi pernahkah kita menyadari, ternyata dalam upaya kesadaran kita untuk mencari harta dengan jalan yang halal, ternyata kita telah melakukan kesalahan besar dengan menjadikan harta zakat menjadi milik kita, tanpa beban dan tanpa merasa berdosa.

Inilah kesalahan yang tak kasat mata, namun begitu membinasakan, semua itu berawal karena kita mengabaikan kewajiban zakat dengan berbagai macam dalih. Berawal dari ketakutan kita akan yang tampak, tapi kita lupa akan sesuatu yang tidak tampak, namun dapat dirasakan. Berawal dari rasa yang tidak pernah kita rasakan.
Berhati-hatilah … hal ini begitu samar … hanya rasa yang dapat merasakan hal ini, bukan kasat mata.

Kita renungkan kutipan kalamullah yang begitu agung :
“ Pungutlah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan  dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.  Sesungguhnya doa kamu itu (membuat) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”( Q.s. At-Taubah [ 9 ] : 103 )


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Kamis, 26 Januari 2012

Catatan Perjalanan Hiking XI PK MAN Maninjau 1433 H


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur hanya milik Allah swt, shalawat tercurah buat Rasulullah saw.

Catatan kenangan bersama orang-orang yang Ana cintai, kelas XI PK MAN Maninjau 1433 H.
Alam menunjukkan pesonanya, reranting dan dedaunan bersinergi menyambut pagi  yang indah memukau, hari itu tanggal 29 Shafar 1433 H sekelompok generasi  muda berkumpul di depan Masjid Ummul Qura Bancah, Maninjau. Kehadiran mereka cukup menarik perhatian orang yang lalu lalang ditengah jalan beraspal antara Maninjau dan Sungai Batang.



Ya, Insya Allah kelak itulah rombongan anak-anak para perindu dakwah Ilalllah. Hari itu mereka telah menancapkan nawaitu, akan terlaksana sebuah program, program yang mungkin bagi sebagian anak ABG program main-main dan hura-hura, program yang mungkin ada yang menganggap sebagai pelampiasan rasa kekesalan karena telah berhari-hari dijejali  rumus-rumus ilmu pengetahuan dibangku sekolah, tapi … tunggu dulu, bagi segerombolan generasi ini, program tersebut merupakan program yang telah ditata dengan ruh ukhuwah, program yang dibimbing oleh guru-guru mereka, program yang telah lama dirancang dan dipikirkan dengan akal sehat. Program itu adalah “ HIKING ”, menembus semak belukar, menikmati harumnya aroma dedaunan rimba belantara, menyusuri jalan-jalan setapak  hingga mendaki tingginya puncak dan menuruni dalamnya lembah, menyeberangi derasnya air sungai dan meniti titian-titian maut yang menunggu siapa saja untuk menjadi mangsa empuknya. Semua itu untuk satu tujuan besar, menjalin ikatan persaudaraan yang kuat dalam satu ranah kekeluargaan keluarga besar kelas XI Program Keagamaan ( PK ) MAN Maninjau.



Perjalananpun dimulai, diiringi lantunan-lantunan nasyid haroki, setapak demi setapak pematang sawah ditelusuri, hingga mendaki perbukitan  menuju sebuah kampung yang perumahannya didominasi rumah kosong, itulah Kubu Gadang. Terus mendaki mencapai  perkampungan yang disebut Panji. Sampai disanakah ??? OOOooo… tidak shahabat, pendakian dilanjutkan, medan yang ditempuh sudah mulai terasa berat, jika sebelumnya perjalanan hanya dihadang oleh tingginya pendakian, namun perjalanan ini membutuhkan kehati-hatian, berjalan ditepian tebing yang di bawahnya air sungai dangkal berbatu. Sementara jalan  ditepian tebing hanya sebatas jalan setapak, yang bisa saja menyebabkan kemungkinan terpeleset, karena jalan ini dibuat secara permanen dari semen.



Subhaanallaah !!! Begitu besar nikmat yang diberikan oleh Allah swt kepada hamba-Nya, rombongan masih diberikan kesempatan oleh Allah swt untuk melanjutkan perjalanan, mendaki bukit terjal, ada yang cepat, namun ada juga yang tertatih mendakinya. Tapi semua itu bermuara pada sebuah kesimpulan. Alhamdulillaahirabbil’aalamiin. Akhirnya rombongan sampai di wilayah Ambun Pagi. Wilayah yang jika ditempuh melalu jalan umum akan dapat dicapai melalui kelok 44.
Waktu menunjukkan sekitar jam dua belas siang, matahari sudah terasa terik,  Subhaanallaah, hamparan Danau Maninjau begitu memukau memancarkan pesona.Dari wilayah ini tampak jelas keindahan Danau Maninjau dengan kharismanya  yang membuat lidah ini berdecak kagum, dan akan membuat seorang muslim mengucapkan kata : “ Subhaanallaah, Subhaanallaah ”



Jika ada yang mengatakan pesona Danau Maninjau akan terasa nyata jika dilihat melalui “ Puncak Lawang ” , maka dari Ambun Pagipun tidak kalah mempesona keindahannya, yang terpenting dari sudut mana kita memandang keindahan tersebut ???



Ada hal menarik yang tidak boleh dilupakan, rombongan mendapat suguhan luar biasa dari wali murid salah seorang anggota rombongan, makan kolak labu, naneh, dan satu lagi suguhan batangan “ TABU ” dari salah seorang saudara dari anggota rombongan. Semoga Allah swt membalas dengan kebaikan.
Prosesi kegiatan mencapai garis finish disebuah panorama yang belum  mencapai kesempurnaan pengelolaannya. Untuk sampai pada lokasi ini, diharuskan kembali untuk mendaki, bisa melalui jalur memotong  “ Parak Tabu ” di jalan Ambun Pagi, atau melalui  gerbang lokasi “ Ambun Tanai ” .

Semoga perjalanan ini menjadi kesan penting dalam menanamkan ruh Ukhuwah Islamiyah antar sesama saudara XI PK MAN Maninjau 1433 H, dan semoga perjalanan ini menjadi meomentum berharga bahwa persaudaraan dan kebersamaan yang diikat oleh rasa cinta karena Allah swt menjadi suatu keharusan,
Semoga kelak, antum menjadi sosok generasi yang Ana banggakan, generasi RABBANI, generasi yang tidak sombong akan kecerdasannya, generasi yang tidak angkuh akan potensi diri, generasi yang memahami dengan kesungguhan jiwa bahwa Islam adalah agama yang harus diperjuangkan, generasi yang berani berkata benar dalam kondisi apapun, tentunya generasi yang menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman, generasi yang belajar kitab dan mengajarkannya.

Takbiiiii…………………………………………..r !!!!

Ditulis oleh sosok yang mencintai antum semua …Semoga kita dipertemukan dijalan dakwah. 

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Dikala Ibadah Terasa Hambar


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur hanya kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Mungkin kita pernah merasakan, mengapa ibadah yang kita tunaikan terasa hambar, rutinitas shalat yang kita lakukan tak lebih dari gerakan rukuk dan sujud tanpa pengaruh, percikan air wudhu’  seakan tak terasa menyentuh relung hati yang terdalam, bacaan tilawah al-Qur’an yang kita lantunkan seperti tak berkesan dalam kalbu, mengapa demikian … ??? Pernahkah kita mempertanyakan ??? Atau mungkin memang kita enggan untuk mempertanyakan ???

Sebagai bahan intropeksi bagi diri kita, layak kiranya kita mempertanyakan hal demikian, sebab jika hal ini dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan kesan bahwa ibadah hanya sebatas ritual belaka, ibadah hanya sebatas tiket untuk masuk ke dalam surga, ibadah hanya sebatas karena kita tak ingin dicap kafir.

Padahal, hakekat pensyari’atan ibadah kepada kita oleh Allah swt memiliki tujuan agung agar kita mampu mengarungi kehidupan ini dengan penuh ketenangan.  Pensyari’atan ibadah selalu melahirkan hikmah yang luar biasa, seperti pensyari’atan shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar sebagaimana Allah swt gariskan yang tercantum dalam al-Qur’an surat al-Ankabut ayat 45. Puasa yang menumbuhkan rasa kepedulian sosial, dan haji yang membangkitkan rasa kebersamaan, semuanya bermuara pada ketenangan kalbu dan melahirkan pengaruh begitu dahsyat akan kelangsungan hidup.
Namun seperti pertanyaan tadi, entah mengapa ibadah yang kita tunaikan seakan tak mewujudkan kesan seperti di atas, dalam tahap ini kita coba untuk menganalisis ibadah kita, semoga hal ini menjadi pemicu dan membangkitkan kesadaran kita akan pentingnya ibadah dan menumbuhkan semangat beribadah yang mengarah pada hakikat ibadah yang sesungguhnya :

Pertama, Yang harus dipahami ibadah adalah manifestasi ketundukan, dikala kita hendak melakukan ibadah dalam level apapun, maka resapilah bahwa ibadah yang kita lakukan bentuk kesadaran kita selaku hamba yang  telah digariskan untuk beribadah kepada-Nya, jelas hal tersebut termaktub dalam al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 56. Pertanyaannya bagaimana menumbuhkan kesadaran akan pentingnya ibadah sebagai bentuk ketundukan ? Ya, kita harus menyadari, kehidupan yang diberikan oleh Allah swt kepada kita untuk apa ?

Hakikat yang kita butuhkan dalam hidup ini sebenarnya adalah ibadah, hanya saja karena dalam perjalanannya terdapat banyak godaan, maka makna hakikat itu menjadi buram sampai kabur, bahkan sampai menghitam. Mengapa ibadah yang kita butuhkan hakikatnya ? Sederhana jawabnya, kalau bukan untuk ibadah untuk apa kita hidup ? Apakah untuk mencari makan, binatang juga mencari makan, untuk mencari harta yang banyak ? Toh, harta tersebut akan kita tinggalkan. Untuk mendapatkan kesenangan ? Bukankah lebih baik kita tidak dilahirkan kedunia ini yang mengandung berbagai macam problema ? Yang namanya hidup, kesenangan tidak akan selalu berpihak pada kita.
Menyadari hal tersebut, jelas yang kita butuhkan hakikatnya adalah ibadah, sekarang bentuk ibadah itu telah diberikan oleh Allah swt, telah diberikan kita petunjuk jalan untuk melakukannya tanpa meraba-raba, yakni al-Qur’an dan Sunnah. Tidak mampu kita membayangkan jikalau kita membutuhkan ibadah, sementara kita tidak diberikan petunjuk dan tata cara pelaksanannya, meraba-raba sesuatu yang kita harapkan merupakan suatu hal yang menggelisahkan dan menyakitkan.

Bagi Allah swt skenario tersebut telah tertata rapi, melalui rasul-Nya, Allah swt tuntun kita mencapai kebutuhan yang kita butuhkan, Allah swt penuhi kebutuhan kita akan ibadah, tinggal kita lagi bagaimana menunaikan kebutuhan yang telah diberikan tersebut.
Pada tahap ini, dapatlah kita pahami, dikala kebutuhan kita terpenuhi, apakah kita akan meremehkan kebutuhan tersebut ? Tak masuk akal jika jawabannya ya, sebab tidak termasuk dalam logika orang-orang yang berakal, disaat seseorang membutuhkan sesuatu, lalu saat kebutuhan yang dibutuhkan tergapai malah ia campakkan. Logisnya kebutuhan itu ia jaga sepenuh jiwa, bahkan dengan darah dan nyawanya.

Dari sinilah hendaknya langkah kita mengambil pemahaman akan kesadaran ibadah, bahwa ibadah adalah kebutuhan yang telah diberikan oleh Allah swt, akankah kita sia-siakan hal ini, tentu tidak, malah kita akan mempertahankan dengan sepenuh jiwa. Jika hal ini telah terpatri dalam jiwa kita, yakinlah ibadah tidak akan bermakna beban ritual yang memberatkan, tapi malah menjadi kebutuhan yang membuat kita rindu untuk selalu melakukannya.

Kedua, Suatu makanan akan terasa hambar jika tidak dicukupi dengan bumbu yang membuatnya menjadi lezat, maka disaat kesadaran akan pentingnya ibadah itu telah tertancap dalam jiwa, maka bumbuilah ibadah itu agar bermakna. Apakah gerangan bumbu tersebut ? Nawaitu ikhlas mengharap keridhaan yang memberikan syari’at ibadah,  Allah swt. Karena arah dan tujuan kebutuhan akan ibadah itu hanya untuk Allah swt. Allah swt mencukupi kebutuhan kita akan  ibadah, maka tempat muara ibadah itu harus ditujukan kepada sang pemberi kecukupan.

Kembali kepada tadi, kesadaran akan tumbuh dikala kita merasa butuh, sekarang kebutuhan itu telah terpenuhi, namu pemenuhan kebutuhan ini tidak akan cukup dirasakan oleh jiwa, dalam artian kebutuhan tersebut belum merasa tercukupi dikala tidak dibumbui dengan porsi bumbunya.  Kita tidak akan merasakan nikmatnya memakan suatu makanan yang kurang bumbunya, hambar. Maka ibadah tidak akan mendapatkan kenikmatan dikala bumbunya tidak terpenuhi, itulah ikhlas. Nikmat ibadah akan terasa dikala ditunaikan dengan ikhlas, bukan karena sesuatu hal lain, murni karena memang kita selayaknya mengibadahkan diri dengan tulus kepada Allah swt.
Apabila hal ini telah tercapai, insya Allah, ibadah yang kita tunaikan selama ini, akan menimbulkan bekas dalam kehidupan kita, bekas yang akan semakin memicu semangat kiat untuk terus dan terus menanam keinginan untuk beribadah.
Renungkanlah … semoga bahan intropeksi bagi kita semua …

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Sabtu, 03 Desember 2011

Dikala Dakwah Tidak Menampakkan Hasil


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur hanya milik Allah swt, shalawat teruntuk Rasulullah saw.

Saudaraku yang dirahmati Allah swt, ana ingin mengutip sebuah hadits Ibnu Abbas, kutipan ini ana peroleh dari sebuah karya terjemahan Tim SAHARA, yang disunting oleh Ahmad Fadhil, berjudul Ensiklopedi ar-Rahman ar-Rahim : Menjelajah Taman Kasih Sayang Allah SWT ( Jakarta : SAHARA publishers, 2006 ) dari judul asli “ Raudhah an-Na’im Fi Ma’rifah ar-Rahman ar-Rahim, karya Sayyidah Hanan Fathi ( Mesir : al-Wafa, 2003 ), cetakan pertama :

Rasulullah saw mengirim da’i kepada Wahsyi, pembunuh Hamzah, untuk menyerunya masuk Islam. Wahsyi menjawab, “ Wahai Muhammad, mengapa engkau menyeru diriku masuk Islam, padahal engkau telah berkata bahwa pembunuh, pelaku syirik, ataupun pezina telah berbuat dosa dan akan disiksa pada Hari Kiamat secara berlipat ganda dan dalam kondisi terhina? Aku telah melakukan semua kejahatan itu. Apakah menurutmu ada keringanan buat diriku ?”

Maka, Allah SWT menurunkan ayat :
“ Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan beramal shaleh. Mereka itulah orang-orang yang kejahatannya diganti oleh Allah dengan kebajikan, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ ( Q.s. al-Furqan [25] : 70 )

Wahsyi berkata, “ Wahai Muhammad, bertobat, beriman, dan beramal shaleh adalah syarat yang sangat berat. Aku kira aku tidak akan mampu melakukannya.”

Maka, Allah SWT menurunkan ayat:
“ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik terhadap-Nya, dan mengampuni dosa yang selainnya bagi orang yang dikehendaki-Nya.” ( Q.S. an-Nisa’ [4]: 116 )

Wahsyi kembali berkata, “ Wahai Muhammad, aku piker, kecil sekali kemungkinannya aku termasuk orang-orang yang dikehendaki Allah SWT itu. Aku tidak tahu, apakah Allah SWT akan mengampuni atau tidak? Apakah ada ketetapan selain ini?

Maka, Allah SWT menurunkan ayat:
“ Katakanlah,’ Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ ”

Wahsyi berkata,” Kalau ini, aku bisa.” Dia pun masuk Islam. Kemudian, orang-orang lain berkata,” Wahai Rasulullah, kami juga melakukan apa yang dilakukan Wahsyi.” Rasulullah saw bersabda: “ Ayat ini berlaku umum bagi semua kaum Muslim.” ( Dalam catatan kaki tulisan ini dijelaskan: H.R. al-Bukhari nomor 4810, Muslim nomor 122, dan an-Nasa’I nomor 469 ).( Halaman 56-57 ).

Dramatis, demikianlah kenyataannya, bagaimana Islam begitu luas membuka kesempatan bagi orang-orang yang hendak mensucikan diri untuk kembali ke jalan yang lurus. Sosok sekaliber Wahsyi yang dicatat oleh sejarah bagaimana ia membunuh paman Rasulullah saw, Hamzah, prajurit yang gagah berani di medan Uhud. Pendosa yang telah menoreh tinta hitam peradaban umat Islam itu akhirnya tergabung dalam barisan panjang pejuang agama Allah swt.

Siapa sangka, dan siapa yang mengira keadaan manusia bisa berbalik dari biadab menjadi beradab, dari pecundang malah menjadi pejuang, dari terkutuk hingga layak diteladani. Ya, tiada satupun manusia yang tahu bagaimana Allah swt membolak-balikkan hati manusia, dan tiada satupun manusia dapat memprediksi siapa yang akan mendapat hidayah atau tersesat.

Hakekat ini kiranya menjadi tolok ukur bagi kita dalam menyikapi perjalanan dakwah yang harus terus berjalan, dikala dakwah terasa tidak bernilai apa-apa dimata insan yang kita harapkan penerimaannya, bahkan mendapat kecaman, dikala benturan dakwah terkadang terasa begitu kokoh sampai-sampai menyakitkan.

Saudarakau se-Iman

Kita pernah mungkin mendapatkan kedaan demikian, dakwah yang kita harapkan mendapatkan cahaya dari dakwah yang kita usung, malah yang kita temukan mereka memperolok-olokkan, menghina, dan mencaci. Pada saat kita ditimpa keadaan seperti demikian, bagaiman sikap kita ? Minimal sikap hati kita.
Mungkin muncul perasaan sakit hati, marah, hingga terkadang tanpa kontrol malah kita balas tantangan itu dengan cara yang memalukan, “ Dasar manusia pendurhaka, laknat Allah swt akan menimpa kalian ! ” Demikian kiranya sumpah serapah kita, walau dalam hati. Atau agar lebih terasa memuaskan, malah kita berdo’a kepada Allah swt, “ Ya Allah, sesungguhnya mereka telah melecehkan agama-Mu, kami mohon kepada-Mu agar Engkau menimpakan azab kepada mereka, agar kami dapat menyaksikan kemenangan agama-Mu,”.
Aduhai, Na’udzubillah min Dzaalik.

Ketahuilah saudaraku…

Benar, kita harus marah dikala kebenaran dihinakan, saat hikmah tidak bernilai apa-apa, namun sebelum kita terlalu jauh mengambil sikap demikian, hendaklah kembali menapak tilas, bagaimana  orang-orang shaleh sebelum kita menanamkan nilai-nilai dakwah kepada umat, adakah mereka berharap kehancuran pada objek dakwah ? Sama sekali tidak, bahkan dalam peperangan sekalipun, walaupun kita sering mendapatkan adanya beberapa peristiwa peperangan yang dilakukan umat Islam untuk membebaskan suatu wilayah, tapi dimulai dengan menyeru penduduknya untuk menganut Islam dengan cara yang bijak, jika tiada jalan lain, barulah pedang yang bermain, itupun bukan untuk menghancurkan penguasa wilayah setempat, tidak lebih untuk membebaskan wilayah dari cengkraman penjajah yang berlaku zhalim. Disaat suatu wilayah yang dikuasai kaum muslimin tidak dengan perlawanan, penduduk setempat diberikan kebebasan menganut kepercayaan masing-masing tanpa harus dipaksakan memeluk Islam.

Lihat ! Adakah mereka memaksakan dakwah? Hal ini penting kita pahami, sangat penting, agar kita mampu menunjukkan dan membuktikan bahwa Islam benar-benar rahmatallillaalamiiin, bukan agama kekerasan yang disemai dengan pedang sebagaimana dipahami oleh sebagian kalangan.

Oleh karena itu terlalu terburu-buru jika kita mencap seseorang sebagai pendusta agama, kafir, munafik, pembangkang, apalah namanya, bahkan sampai berharap segala Allah swt mendatang azab kepada mereka. Bagi Allah swt hal itu begitu mudah, bahkan sangat mudah. Tapi jika hanya selesai urusan sampai disitu, untuk apa Rasul diutus kepermukaan bumi, mengapa harus ada perintah berdakwah, mengapa harus ada ulama pewaris para nabi ? Duhai … ketahuilah, urgensi dakwah adalah menyeru umat manusia dari pengabdian kepada makhluk agar mengalihkan kepada kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mengajak, menasehati dan menyampaikan peringatan terhadap orang-orang yang lalai, menghidupkan api suluh yang dapat memberi penerangan orang-orang yang berjalan dikegelapan.

Saudaraku, keberadaan mereka, para pendurhaka inilah yang menyebabkan keberadaan dakwah, jika urusan mereka cukup dimintakan azab atas pelanggaran mereka, lantas dimana peran dakwah ?
Benahilah rasa yang muncul dihati kita yang tidak layak terlintas, kembali ungkai dan tanamkan dalam jiwa kita, tugas dakwah adalah tugas penyeruan, mengajak dan membimbing umat manusia ke jalan yang telah digariskan Allah swt. Tancapkan pemahaman ini di dalam dada kita agar kita lebih lapang untuk menerima benturan dakwah yang hakikatnya sebagai pengukur kadar azzam kita, sejauhmana baru kita berjuang untuk dakwah.

Pada garis ini nampak urgensi kisah diatas sebagai referensi dalam menetapkan garis perjuangan dakwah, bagaimana metode Rasulullah saw menanamkan dakwah ke dalam dada umat manusia, walaupun terhadap pendurhaka semacam Wahsyi sekalipun. Beliau selalu memberi harapan, cita-cita dan kemudahan dalam urusan agama, sebagai pembuktian Islam bukanlah agama yang dibangun dengan kekerasan hati dan berlebihan, Islam bukanlah dibangun dengan paksaan dan tirani, tapi Islam mengajarkan pertengahan, siapa saja tanpa pandang status, kedudukan dan latar belakang mereka, selama dengan kesungguhan dan keikhlasan menerima cahaya Islam maka akan selalu ada tempat, bahkan bagi golongan penentang keras sekalipun selalu ada harapan untuk mendapatkan tempat jika Allah swt menghendaki. Bukankah hidayah itu berada dalam genggaman Allah swt. Alangkah indahnya dikala hidayah itu jatuh pada hati manusia melalui upaya kita. Subhaanallaah.

Wahsyi, hanya sekelumit contoh pendurhaka yang akhirnya mendapat cahaya Islam, masih banyak sosok-sosok lain yang jika kita telusuri jejak hidup mereka dalam menentang dakwah,  saham mereka begitu besar, seperti Abu Sofyan dan istrinya Hindun, namun lihat setelah itu Abu Sofyan dan Hindun masuk dalam barisan Islam, bahkan putra mereka Muawiyah bin Abu Sofyan tergolong figur tokoh yang memiliki pengaruh luar biasa, orang pilihan yang ditugaskan sebagai pencatat wahyu, pendiri Dinasti Umayyah yang kekuasaannya merambah hingga daratan perbatasan Cina, menyeberang lautan hingga mencapai Andalusia, Eropa. Atau Siapa yang tidak kenal Umar bin Khattab ? Sosok premanisme yang begitu ditakuti zaman jahiliyah, bahkan beliaulah orang yang telah menanam anak perempuannya hidup-hidup di masa jahiliyah karena adat yang menuntut, lahirnya anak perempuan merupakan corengan hitam pada dahi, sangat memalukan, hingga ia tenggelamkan anaknya dalam tumpukan pasir. Sadis, kejam dan tidak berperikemanusiaan, namun setelah itu, saksikanlah, disaat cahaya Islam masuk ke dalam jiwanya, dia berubah menjadi Khalifah agung Umar al –Faruq, diantara khulafaurrasyidin yang hanya berkuasa sekitar sepuluh tahun namun telah mampu membangun pemerintahan Islam yang solid, imperium besar yang gagah berani dan selalu menjadi bahan perbincangan semenjak zaman Rasulullah saw, yakni Persia dan Romawi akhirnya tunduk dalam kekuasaannya pada peristiwa penting dalam sejarah Perang Qadisiyah dan Perang Yarmuk, Palestina yang begitu lama dijajah akhirnya bebas dari cengkraman perbudakan. Ya, dialah sosok yang berasal dari pendurhaka, tapi berbalik menjadi sosok taat yang luar biasa. Siapa sangka ? Hidayah memang milik Allah swt. Subhaanallaah.

Untuk itu saudaraku se-Iman. Dikala dakwah kita tidak menampakkan hasil, mendapatkan penolakan yang serius, maka berdoa’alah kepada Allah swt, “ Ya Allah bukakanlah pintu hati mereka menerima dakwah ini, berikanlah mereka petunjuk ke jalan yang Engkau ridho. “ Karena siapa tahu, kelak dikala Allah swt menetapkan hidayah pada mereka, jangan-jangan golongan yang kita hinakan itu lebih besar sahamnya dari pada saham dakwah yang kita lakukan yang terasa belum bernilai apa-apa. Renungkanlah.


Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh