WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Minggu, 27 Januari 2013

Rohis Kecamatan Tanjung Raya, Gelar Silaturrahim di MAN Maninjau


Pagi itu, di seputaran Maninjau,  cahaya mentari telah menyembul diufuk timur, cahayanya yang kekuning-kuningan berpendar menyeruak menerpa tanah-tanah basah dan tumpukan pasir berkerikil dan bebatuan yang tak beraturan, hasil dari olahan air hujan yang memang lebat semalam. Hari itu Minggu, tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1434 H. Seperti biasanya jadwal libur anak sekolahan, mungkin diantara mereka ada yang menggunakan kesempatan tersebut untuk ngenet, kumpul-kumpul sama teman, atau bertamasya ke tempat-tempat indah penuh sensasi sekedar melepas lelah dan mengencerkan otak yang dalam enam hari berturut-turut sebelumnya telah disesaki berbagai macam muatan ilmu, baik teori maupun praktek.

Namun tidak untuk beberapa orang pelajar Islam yang pada saat itu berkumpul di lingkungan sebuah institusi pendidikan keagamaan  tepatnya di tepian Danau Maninjau itu, yakni MAN Maninjau. Tak ada acaran ngenet-ngenetan, apalagi ngumpul-ngumpul sekedar ngerumpi, tentunya tidak juga untuk tamasya ria. Mereka berkumpul untuk satu tujuan, bergabung dalam sebuah komunitas jaringan para kafilah dakwah yang terdiri dari para remaja yang memiliki pemikiran yang layak dibanggakan selaku muslim. Ya, disana sedang digelar sebuah acara akbar, pertemuan para aktifis pelajar Islam, dalam suatu wadah yang mereka kenal dengan sebutan Rohis. Kegiatan yang dirancang secara bulanan oleh Forum Rohis se Kecamatan Tanjung Raya itu mengagendakan silaturrahim antar pelajar Islam se-kecamatan Tanjung Raya yang pada waktu itu Rohis MAN Maninjau baik dari kelompok Rohis Bina Remaja Islam maupun Rohis Forum Annisa’ bergabung sebagai tuan rumah (panitia pelaksana).

Begitu banyak para pelajar Islam yang hadir, seandainya kalau sekiranya ada orang-orang yang menganggap Rohis sebagai kegiatan yang tidak bermanfaat dan tidak menarik, mungkin jika mereka menyaksikan kegiatan yang digelar oleh pelajar Islam tersebut akan berubah pikiran. Bahwa ternyata kegiatan Rohis diminati oleh pelajar, dan mereka memiliki kesungguhan atas itu. Buktinya, hanya bermodal snack dan satu minuman kecil, mereka mampu bertahan dalam waktu yang lama mengikuti kegiatan hingga usai. Subhaanallaah !


Dalam kegiatan tersebut, hadir pemateri yang memberikan tausyiah oleh Afni Lindra, S.Pd.I dan pemberian untaian-untaian problematika remaja Islam serta pentingnya mengikuti kegiatan Rohis oleh ketua Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau, Hendriko. Dengan protokol Sukmayeti (sekretaris Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau), pembacaan ayat suci al-Qur'an oleh Abrar Kurniawan (departemen Syi'ar Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau), sepatah kata dari Sepriyanto (ketua Forum Rohis se-Kecematan Tanjung Raya, siswa SMKN 1 Tanjung Raya), kata sambutan dari instansi keluarga besar MAN Maninjau (diwakili Bapak Noval Amri Hilal, S.Pd) selaku yang menyediakan tempat, dan ditutup dengan do'a oleh Febri Ramadhan (anggota Rohis Bina Remaja Islam MAN Maninjau), banyak hal-hal kebajikan yang dapat dipetik dari kegiatan tersebut. Maka merugilah pelajar yang mengaku muslim, sementara mereka mengetahui ada wadah yang mempersatukan mereka, namun jangankan peduli, melirikpun tidak. Dan beruntunglah pelajar Islam yang telah menggunakan potensi dirinya untuk kebajikan, berupaya bermenshalehkan diri dan bercita-cita untuk meshalehkan orang lain.

Yang terpenting, yang ingin diungkapkan disini, bahwa kehadiran mereka, para pelajar Islam di seputaran Tanjung Raya tersebut, merupakan suatu pembuktian, bahwa masih ada harapan kekuatan Islam itu akan tersemai indah melalui tangan-tangan mereka, masih ada harapan bahwa pelajar hari ini bisa diharapkan menjadi pelopor kebangkitan umat, kekuatan umat yang kokoh, sebagaimana para pendahulun mereka telah membuktikannya. Hal ini cukup menjadi sebuah pembuktian, bahwa jika yakin akan suatu upaya yang dilakukan dengan kesungguhan, Insya Allah harapan itu akan selalu ada. Sungguh yang paling merugi dalam hidup ini adalah, kala ada orang-orang yang menyemai kebajikan dalam bentuk apapun, tapi ternyata kita tidak tergabung dalam barisan itu, kita hanya menjadi penonton yang pesimis, setelah itu akan terkurung dalam ketidakberdayaan, saat menyaksikan orang-orang telah jauh melampaui kita dari segi potensi menggunakan kesempatan hidup yang fana ini.
     

Jumat, 25 Januari 2013

Materi LDKS : Sirah Nabawiyah



Kegiatan :
LDKS MAN Maninjau T.P. 2012/2013

Materi :
Sirah Nabawiyah

Hari/Tanggal :
Jum’at, 13 Rabi’ul Awwal 1434 H/25 Januari 2013.

Penyaji/Pemateri :
M. Nur Akhiar, S.Ag, ( Kepala KUA Kecamatan Tanjung Raya ), Tempat/Tanggal Lahir : Koto Malintang/17 Januari 1978, Pendidikan : Ushuluddin, Aqidah Filsafat

Intisari Materi (ini berdasarkan hal yang ditangkap dari pemaparan penyaji ) :

Rasulullah saw  sosok yang luar biasa, beliau dibesarkan  oleh alam, berbeda dengan pemimpin-pemimpin dunia yang terkenal, Alexander Yang Agung misalnya, tokoh yang begitu terkenal namun ia dibesarkan oleh didikan Aristoteles, ada sosok yang membesarkannya. Sementara Rasulullah saw tidak ada sosok yang membesarkan, tapi alam yang membesarkan, dalam artian beliau dihidupkan oleh Allah SWT dalam keadaan kehidupan alam yang sulit . Saat dalam kandungan ayah beliau telah meninggal, saat kecil diasuh sang kakek, dididik sebagai pengembala. Demikianlah cara Allah SWT mendidik Nabi SAW dengan cara hidup yang keras. Pelajaran pertama yang dapat diambil :

“ Biasakanlah hidup keras, hidup yang sulit, karena hidup itu memang memiliki tantangan yang keras “

Rasulullah saw hidup dengan tantangan yang besar. Namun Allah SWT telah menggariskan, Allah SWT tidak akan memberi beban sesuatu yang tidak mampu kita memikulnya (lihat Q.s al-Baqarah : 286). Sebagaimana sejarah menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW menghadapi kejamnya Abu Lahab, Abu Jahal, Abu Sofyan dan berbagai tantangan. Namun dalam tantangan itu, sikap Nabi SAW membuat orang hormat, sebab dalam menyikapi semua itu, Rasulullah SAW selalu memaafkan. Membalas boleh dalam Islam, tapi dengan yang setimpal, namun lebih diutamakan memaafkan. Jika menyangkut masalalah pribadi, Rasulullah SAW lebih memilih memaafkan, namun tidak berlaku dalam masalah Aqidah, Rasulullah SAW tegas jika aqidah dilecehkan, begitu juga jika masalah syari’a, jika fathimah yang berbuat kesalahan, beliau siap menerapkan hukuman, disini tidak berlaku kemaafan. Pelajaran kedua yang dapat diambil :

“Berjiwa pemaaflah”

Rasulullah SAW sangat rendah hati (tawadhu’), jika bertemu dengan anak kecil, beliau dulu yang menyapa. Rendah hati inilah yang membuat baik dan banyak hubungan kita dengan orang lain. Jika kita merasa lebi dari orang lain maka hal ini akan menimbulkan jarak antara kita dengan orang lain. Rendah hati yang ditonjolkan Rasulullah SAW menyebabkan siapa saja bisa bersahabat dengan beliau. Seandainya beliau ingin sombong hal itu mudah saja, bukankah beliau Nabi, dosa beliau diampuni, namun beliau tidak menunjukkan sikap sombong. Maka pelajaran yang ketiga :

“Rendah hatilah !”

Hendaklah mampu menunda kesenangan sesaat yang diinginkan untuk masa depan yang datang, itulah kesabaran. Disinilah keunggulan Rasulullah SAW.. Jika beliau sebenarnya ingin mendapatkan kesenangan, beliau bisa saja hidup bersama pamannya beliau yang kaya, yakni Abbas, namun beliau malah memilih pamannya yang miskin. Maka pelajaran yang keempat :

“ Hendaklah mampu menunda kesenangan sesaat“



Kamis, 24 Januari 2013

PK MAN Maninjau Gelar Kegiatan MABIT


Alhamdulillaah, shalawat teruntuk Rasulullah saw. Akhirnya sebuah cita-cita yang telah tertanam dengan azzam yang kuat, pelaksanaan pembinaan mental spiritual pelajar MAN Maninjau Program Keagamaan (PK) kelas XI dan XII akhirnya terwujud. Kegiatan yang populer dengan sebutan MABIT ( Malam Bina Iman dan Taqwa) tersebut terkesan sangat luar biasa. Dikatakan luar biasa, karena mulai dari perencanaan hingga usai walau dalam waktu yang relatif singkat, kesan yang di dapat sangat menimbulkan bekas. Yang jelas, hal ini bagi kami keluarga besar PK MAN Maninjau lebih dapat merekatkan jalinan ukhuwah dan rasa saling mencintai semoga karena Allah SWT, sebagaimana yang telah kami tanam secara turun temurun dengan harapan dapat membentuk sebuah komunitas besar kelompok orang-orang yang berjuang untuk tegaknya ‘Izzah Islam wal Muslimin.

Pelaksanaan kegiatan dimulai hari Rabu tepatnya 11 Rabi’ul Awwal 1434 , mulai waktu shalat maghrib hingga berakhir hari Kamis pagi, 12 Rabi’ul Awwal 1434 H dengan agenda kegiatan yang begitu padat, seperti Shalat berjama’ah, berdo’a dan zikir, tilawah al-Qur’an, tausyiah, muzakarah, Quiz Game, Qiyaumulullail, kultum, pembelajaran do’a dan zikir al-Ma’tsurat. Kegiatan yang dihadiri oleh Kepala Sekolah bapak Erman Rahman, S.Ag dan Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Bapak Taufiq, S.Pd.I, dengan guru pembimbing Bapak Wendri Naldi, S.Pd.I selaku wali kelas kelas XI Program Keagamaan (PK) dan Bapak Zulfiyandri, S.Pd, dan tausyiah serta muzakarah oleh Ustadz Ridmu Hendri, S.H.I, yang berlokasi di Mushalla dekat MTs S Maninjau berjalan dengan khidmat.


Kegiatan ini lebih mengedepankan aspek amaliah dalam menggemarkan diri untuk beribadah, menyadari hakikat ilmu bukanlah untuk diketahui semata tapi lebih menuntut pengamalan yang sungguh-sungguh. Betapa banyak orang-orang yang paham akan ilmu tapi belum tentu mereka mampu mengamalkannya. Maka merugilah orang-orang yang berilmu tapi ilmunya sama sekali tidak teraplikasi nyata dalam kehidupan. Apalagi ilmu tersebut tidak membawa pengaruh pada aspek perilaku. Sungguh …sungguh … sangat tertipu orang tersebut dengan ilmunya.


Kami tahu, dan kami menyadari, jalan yang kami tempuh adalah jalan berliku, jalan yang sangat sulit ditembus kecuali dengan kekuatan kesabaran dan mujahadah. Tapi kami diajarkan, kala semua itu diupayakan dengan sungguh-sungguh dan dilaksanakan secara berjama’ah, insya Allah seberat apapun rintangan yang mencoba menggoyahkan azzam kami, semuanya akan berguguran dan hancur lebur. Kami sangat yakin dengan pertolongan Allah SWT, kami begitu yakin janji Allah SWT, bahwa Allah SWT akan menolong hamba-Nya, jika sang hamba menolong agama-Nya.

Bagi kami yang terpenting hari ini, tanamkan azzam, kuatkan tekad, jalin persaudaraan yang kokoh, bergerak secara bersama-sama, maka hasilnya, lihat saja nanti, tak penting apakah kami akan memanen hasilnya, atau kami menyaksikan keberhasilan apa yang telah kami usahakan, tapi yang terpenting bagi kami, berbuat, bertindak, dan buktikan dengan perilaku bahwa belajar tentang Islam, memperjuangkan Islam, merupakan keharusan bagi kami yang mengaku Islam sebagai agama kami. Kami akan membela, kami akan berjuang, kami akan buktikan, inilah agama kami, inilah jalan hidup kami, inilah petunjuk hidup kami, dan inilah kami, bahwa kami adalah “ SEORANG MUSLIM ”  

Sang Guru Kena Batunya


Konon guru itu telah puluhan tahun menjadi menjadi tenaga pengajar pada sekolah yang sudah tua tersebut, berbagai macam ilmu ia kuasai; mantiq, hadits, fiqh, tafsir hingga ilmu akhlak. Tak terkecuali ilmu hayat, astronomi dan ilmu bumi dan seabrekm keilmuan lainnya. Sehingga ia menjadi guru yang paling disegani, sebab selain sarat dengan pengalaman juga dikarenakan kedalaman ilmunya. Namun ada satu sifat beliau yang terkenal kurang menyenangkan, merasa selalu benar dan pantang disalahkan jika berbicara masalah keilmuan. Suatu perilaku yang tidak layak disandang ahli imu.

Suatu ketika, “ Guru, apakah tidak salah letak baris huruf tersebut ? Bukankah barisnya kasrah, bukan fathah sebagaimana yang guru tulis ? ” Salah seorang muridnya protes kala menyaksikan tulisan sang Guru di papan tulis yang memberi baris fathah ( di atas ) pada salah satu huruf ayat al-Qur’an saat ia memberi pelajaran tafsir, padahal seharusnya memang kasrah ( di bawah).

Ooo …iya, memang itu maksud saya ! ” Kata beliau tanpa merasa bersalah. “Saya hanya bermaksud menguji kalian, apakah kalian jeli atau tidak ? ” Ujarnya membela diri. Benar-benar merasa benar sendiri, pantang sekali untuk disalahkan, walau telah nyata-nyata terbukti salah.

Tak lama berselang, saat beliau menjelaskan makna ayat demi ayat, lalu sang guru mencoba mengkorelasikan pelajaran yang beliau terangkan dengan pelajaran yang telah diajarkan minggu lalu. Saat itu topik pembelajaran tafsiran ayat surat al-Ankabut ayat 45, mengenai shalat yang dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Tentunya shalat berkaitan erat dengan wudhu’. Tafsiran ayat tentang wudhu’ telah dijabarkan minggu lalu. Beliau mencoba untuk kembali menguji muridnya apakah pelajaran minggu lalu masih berbekas bagi muridnya,
Shalat  tidak akan sah tanpa berwudhu’, minggu lalu kita telah pelajari surat al-Maidah ayat enam, bagaimana tata cara wudhu’ yang diajarkan al-Qur’an. Apabila hendak shalat maka cucilah wajahmu, siapa yang bisa melafazkan redaksi ayat yang menjelaskan hal tersebut ?

Wamsahuu biru uu sikum, ” Teriak salah seorang murid dari bagian belakang.

Salah ! ” Teriak sang guru. “ Baru minggu lalu dipelajari kalian telah lupa dengan materi pelajaran, bagaimana kalian ini ? Dasar murid bodoh ! ”  Sang Guru mencak-mencak.

Apa yang benarnya ? ” Beliau kembali memberikan pertanyaan.

Tidak ada satupun yang menjawab, seluruh murid tampak ketakutan, sebab jika salah jawab siap-siap saja kena gebrak.

Faghsiluu wujuu hakum ! Itu yang benar ! ”. Akhirnya beliau sendiri yang menjawab.

Ooo …iya itu maksud saya guru ! ” Teriak murid yang tadi memberikan jawaban  salah dan dicap bodoh oleh beliau.

Sang guru terlongo. Kemarahannya naik pada puncak tertinggi, ia merasa  telah dipermainkan, namun kemarahan itu tak terlampiaskan, saat menyadari, jawaban itu sama dengan jawaban yang ia berikan saat muridnya meluruskan kesalahannya dalam pemberian baris salah satu ayat al-Qur’an.


Selasa, 22 Januari 2013

Pak Tua Sang Mantan Guru


Pak tua yang sudah renta dengan sepotong tongkat penyangga tubuhnya itu datang tiba-tiba dan mencak-mencak diruang kantor majlis guru di sebuah sekolah menengah, disebelahnya anaknya dengan sesekali mengusap matanya yang basah, ““ Dasar ! Guru sekarang tidak layak diteladani, bicaranya kasar, lihat ! Anak saya sampai menangis akibat dari ucapan guru di sekolah ini ! ”

Saat itu jam istirahat. Beberapa orang guru yang ada dalam ruangan terkejut mendapat dampratan yang datang tiba-tiba. “ Sabar pak ! Silahkan duduk dulu, baru Bapak jelaskan permasalahannya ! ” Salah seorang guru mencoba mengkondisikan suasana.

“ Aaah … tak perlu basa-basi, mana guru yang telah menyakiti anak saya ? ” Pak tua itu masih berdiri dengan kemarahan yang meletup-letup.

“ Siapa pak ? ” Tanya salah seorang guru.

Tiba-tiba dari ruang sebelah muncul sosok guru muda, “ Itu beliau pak ! ” Teriak anak Pak Tua tersebut sembari menunjuk pada guru muda yang barusan datang.

“ Ooo… ini gurumu yang tidak berpendidikan ini ? ” Pak Tua itu menatap garang pada guru muda tersebut sambil mengacungkan tongkatnya.
“ Siapa namamu anak muda ? Kau tahu tidak ! Saya ini mantan guru, belasan tahun saya mendidik anak orang, belum pernah saya menyakiti perasaan murid-murid saya hingga sampai menangis seperti yang kau lakukan pada anak saya ! Kau baru anak kemarin sore, tapi sikapmu sok jagoan jadi guru ! ”

Guru muda itu hanya tersenyum, lalu dengan santai ia berujar, “ Ooo… ini anak bapak ya ? Saya tidak tahu. Tapi Saya tahu bapak mantan guru, tentunya bapak masih ingat dengan murid bapak yang bernama Muhammad Fauzi  ? Siswa kelas dua yang dulu bapak tuduh mencuri uang koperasi, sampai ia mengis-nangis menyatakan bahwa ia tidak melakukannya, namun bapak tidak menghiraukan, ternyata belakangan terbukti ia tidak melakukannya ? ”

“ Oh, ya ? Apa urusannya denganmu, mengungkap kejadian masa lalu yang sepele itu ? ”

“ Saya Muhammad Fauzi, murid bapak itu ! ” Suara guru muda itu menggelegar. Membuat tubuh pak tua itu menggigil. Cepat-cepat ia menarik tangan anaknya dan meninggalkan ruangan itu dengan muka memerah.

Petuah Sang Kiyai


“ Anak-anakku, apapun yang kita lakukan dalam hidup ini berada dalam pantauan Allah SWT, maka segala yang kita lakukan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kala kita melakukan kebaikan, maka Allah SWT akan membalasnya dengan kebaikan yang lebih baik, yakinlah itu ! Sebaliknya, kala kita melakukan keburukan maka kita akan mendapatkan balasan yang setimpal akibat keburukan yang kita lakukan. Yang membuat kita ini sering lupa dengan keburukan yang pernah kita lakukan adalah kala kita menganggap remeh sebuah keburukan yang kita anggap kecil dan kita anggap hal tersebut suatu hal yang biasa. Namun, jangan lupa, sekecil apapun keburukan yang pernah kita lakukan niscaya kita akan mendapatkan balasannya, berhati-hatilah. ”

Demikian untaian pesan Sang Kiyai pengasuh pondok pesantren itu dengan kharismatiknya menasehati dua orang santri yang kedapatan melakukan kesalahan, menyembunyikan kitab kuning temannya yang hendak mengikuti ujian membaca kitab kuning, sehingga temannya tidak lulus ujian.

Seperti biasa, setiap pagi, menjelang matahari terbit, sang Kiyai yang sudah dipenghujung usia itu berjalan-jalan ditaman untuk menyegarkan tubuh. Pada jalan setapak yang ditumbuhi rumput yang tidak terlalu tinggi, tiba-tiba kakinya terasa tertahan saat hendak melangkah, namun ia paksakan, akibatnya malah beliau tersungkur jatuh, hingga menyebabkan hidungnya berdarah terbentur kerikil. Beliau meringis, seraya mengusap darah yang mengalir.

Kemudian beliau melakukan pemeriksaan apa yang menyebabkan kakinya tertahan. Berulangkali beliau istighfar kala menyaksikan, ternyata yang menahan kakinya adalah rumput yang terikat membelintang di tengah jalan. Hati beliau berdebar, menyadari, itulah rumput yang pernah diikatnya dulu kala masih jadi santri di pondok pesantren yang sekarang ia asuh, kala itu ia hanya iseng-iseng untuk menjahili santri yang lain, namun sekarang ia menuai akibatnya. Entah sudah berapa orang yang menjadi korban akibat perbuatan masa lalunya yang dianggap sepele. Hari ini Allah SWT membuktikan petuahnya kepada dua santri yang melakukan kesalahan.      

Sang Khatib Kehilangan Sandal


“ Ketahuilah kaum muslimin ! Bahwa setiap musibah yang menimpa kita, apakah penyakit, kehilangan sesuatu yang kita cintai, semuanya berada dalam kekuasaan Allah SWT, yakinlah semua itu mengandung hikmah yang luar biasa. Kita harus yakin apapun yang Allah SWT timpakan pada kita itulah yang terbaik untuk kita, maka tetaplah bersyukur dalam segala himpitan hidup, bersyukur karena Allah SWT masih menganugerahkan kebaikan pada kita. Agar kita mampu menjadi hamba yang bersyukur kala ditimpa musibah, maka ambillah hikmah atas musibah yang menimpa kita, seperti kala kita ditimpa penyakit, ketahuilah, jika penyakit itu kita pahami sebagai penebus dosa-dosa kita sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah SAW, maka penyakitpun akan terasa nikmat, nikmat yang melahirkan kesyukuran. Jika kita mampu mengambil hikmah-hikmah dari setiap musibah, niscaya kita akan bersabar kala ditimpa musibah. Subhaanallaah ! Begitu agung ajaran agama kita ini.  Untuk itu, kala kita ditimpa musibah, maka ucapkanlah Alhamdulillaah. ”

Demikianlah Sang Khatib itu dengan khidmatnya memberi petuah dalam khutbah Jum’at pada sebuah masjid. Jama’ah Jum’at terpesona mendengar untaian kata penuh makna tersebut. Sang Khatib kala menyaksikan petuahnya seakan mendapat tempat dihati jama’ah Jum’at merasa besar hati dan bangga akan upayanya menyadarkan umat agar memaknai musibah hidup bukan sebagai beban, tapi malah mensyukurinya sebagai bagian dari hikmah yang telah digariskan Allah SWT.

Kala pelaksanaan shalat Jum’at usai, beberapa jama’ah sudah mulai meninggalkan masjid. Lalu Sang Khatib juga keluar hendak meninggalkan masjid, kala sampai di tempat meletakkan sandal, Sang Khatib kebingungan mencari sandalnya yang tidak ada di tempat, ia berputar-putar disekitar masjid mencari-cari, kalau-kalau sandalnya pindah posisi, namun sampai jama’ah Jum’at tidak ada lagi yang tinggal di masjid Sang Khatib masih belum menemukan sandalnya.

“ Ada apa ustadz ? ” Tanya penjaga masjid yang telah berdiri di sampingnya.

“ Sandal saya hilang ! ” Seru Sang Khatib dengan suara tak rela.

“ Alhamdulillaah ! ” Penjaga masjid menimpali dengan tersenyum.

Muka Sang Khatib memerah karena marah, seakan dilecehkan oleh penjaga masjid, bukannya simpati malah penjaga masjid itu bersyukur.

Namun cepat-cepat Sang Khatib menelan kemarahannya, kala ia menyadari barusan ia telah memberi petuah pada jama’ah Jum’at bagaimana mensyukuri musibah. “ Ternyata mengamalkan apa yang dibicarakan lebih sulit dari pada mengamalkan apa yang di dengar. “ Batin Sang Khatib.