“ Ketahuilah kaum muslimin ! Bahwa setiap
musibah yang menimpa kita, apakah penyakit, kehilangan sesuatu yang kita cintai,
semuanya berada dalam kekuasaan Allah SWT, yakinlah semua itu mengandung hikmah
yang luar biasa. Kita harus yakin apapun yang Allah SWT timpakan pada kita itulah
yang terbaik untuk kita, maka tetaplah bersyukur dalam segala himpitan hidup,
bersyukur karena Allah SWT masih menganugerahkan kebaikan pada kita. Agar kita
mampu menjadi hamba yang bersyukur kala ditimpa musibah, maka ambillah hikmah
atas musibah yang menimpa kita, seperti kala kita ditimpa penyakit, ketahuilah,
jika penyakit itu kita pahami sebagai penebus dosa-dosa kita sebagaimana yang
dijanjikan Rasulullah SAW, maka penyakitpun akan terasa nikmat, nikmat yang
melahirkan kesyukuran. Jika kita mampu mengambil hikmah-hikmah dari setiap
musibah, niscaya kita akan bersabar kala ditimpa musibah. Subhaanallaah !
Begitu agung ajaran agama kita ini. Untuk itu, kala kita ditimpa musibah, maka
ucapkanlah Alhamdulillaah. ”
Demikianlah Sang Khatib itu dengan khidmatnya
memberi petuah dalam khutbah Jum’at pada sebuah masjid. Jama’ah Jum’at
terpesona mendengar untaian kata penuh makna tersebut. Sang Khatib kala menyaksikan
petuahnya seakan mendapat tempat dihati jama’ah Jum’at merasa besar hati dan
bangga akan upayanya menyadarkan umat agar memaknai musibah hidup bukan sebagai
beban, tapi malah mensyukurinya sebagai bagian dari hikmah yang telah
digariskan Allah SWT.
Kala pelaksanaan shalat Jum’at usai, beberapa
jama’ah sudah mulai meninggalkan masjid. Lalu Sang Khatib juga keluar hendak
meninggalkan masjid, kala sampai di tempat meletakkan sandal, Sang Khatib
kebingungan mencari sandalnya yang tidak ada di tempat, ia berputar-putar
disekitar masjid mencari-cari, kalau-kalau sandalnya pindah posisi, namun
sampai jama’ah Jum’at tidak ada lagi yang tinggal di masjid Sang Khatib masih
belum menemukan sandalnya.
“ Ada apa ustadz ? ” Tanya penjaga masjid yang
telah berdiri di sampingnya.
“ Sandal saya hilang ! ” Seru Sang Khatib dengan
suara tak rela.
“ Alhamdulillaah ! ” Penjaga masjid menimpali
dengan tersenyum.
Muka Sang Khatib memerah karena marah, seakan
dilecehkan oleh penjaga masjid, bukannya simpati malah penjaga masjid itu
bersyukur.
Namun cepat-cepat Sang Khatib menelan
kemarahannya, kala ia menyadari barusan ia telah memberi petuah pada jama’ah Jum’at
bagaimana mensyukuri musibah. “ Ternyata mengamalkan apa yang dibicarakan lebih
sulit dari pada mengamalkan apa yang di dengar. “ Batin Sang Khatib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar