WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 22 Januari 2013

Sang Khatib Kehilangan Sandal


“ Ketahuilah kaum muslimin ! Bahwa setiap musibah yang menimpa kita, apakah penyakit, kehilangan sesuatu yang kita cintai, semuanya berada dalam kekuasaan Allah SWT, yakinlah semua itu mengandung hikmah yang luar biasa. Kita harus yakin apapun yang Allah SWT timpakan pada kita itulah yang terbaik untuk kita, maka tetaplah bersyukur dalam segala himpitan hidup, bersyukur karena Allah SWT masih menganugerahkan kebaikan pada kita. Agar kita mampu menjadi hamba yang bersyukur kala ditimpa musibah, maka ambillah hikmah atas musibah yang menimpa kita, seperti kala kita ditimpa penyakit, ketahuilah, jika penyakit itu kita pahami sebagai penebus dosa-dosa kita sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah SAW, maka penyakitpun akan terasa nikmat, nikmat yang melahirkan kesyukuran. Jika kita mampu mengambil hikmah-hikmah dari setiap musibah, niscaya kita akan bersabar kala ditimpa musibah. Subhaanallaah ! Begitu agung ajaran agama kita ini.  Untuk itu, kala kita ditimpa musibah, maka ucapkanlah Alhamdulillaah. ”

Demikianlah Sang Khatib itu dengan khidmatnya memberi petuah dalam khutbah Jum’at pada sebuah masjid. Jama’ah Jum’at terpesona mendengar untaian kata penuh makna tersebut. Sang Khatib kala menyaksikan petuahnya seakan mendapat tempat dihati jama’ah Jum’at merasa besar hati dan bangga akan upayanya menyadarkan umat agar memaknai musibah hidup bukan sebagai beban, tapi malah mensyukurinya sebagai bagian dari hikmah yang telah digariskan Allah SWT.

Kala pelaksanaan shalat Jum’at usai, beberapa jama’ah sudah mulai meninggalkan masjid. Lalu Sang Khatib juga keluar hendak meninggalkan masjid, kala sampai di tempat meletakkan sandal, Sang Khatib kebingungan mencari sandalnya yang tidak ada di tempat, ia berputar-putar disekitar masjid mencari-cari, kalau-kalau sandalnya pindah posisi, namun sampai jama’ah Jum’at tidak ada lagi yang tinggal di masjid Sang Khatib masih belum menemukan sandalnya.

“ Ada apa ustadz ? ” Tanya penjaga masjid yang telah berdiri di sampingnya.

“ Sandal saya hilang ! ” Seru Sang Khatib dengan suara tak rela.

“ Alhamdulillaah ! ” Penjaga masjid menimpali dengan tersenyum.

Muka Sang Khatib memerah karena marah, seakan dilecehkan oleh penjaga masjid, bukannya simpati malah penjaga masjid itu bersyukur.

Namun cepat-cepat Sang Khatib menelan kemarahannya, kala ia menyadari barusan ia telah memberi petuah pada jama’ah Jum’at bagaimana mensyukuri musibah. “ Ternyata mengamalkan apa yang dibicarakan lebih sulit dari pada mengamalkan apa yang di dengar. “ Batin Sang Khatib. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar