WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 02 Desember 2013

Wasiat Untuk Remaja Islam (9) : Jagalah Batasan Pergaulan

Saudaraku …, yang dimaksud mejaga batasan pergaulan adalah batasan antara dirimu dengan lawan jenismu. Jika kau seorang laki-laki, maka jagalah batas pergaulanmu dengan kaum perempuan, demikian sebaliknya.

Ketahuilah …,

Pergaulan yang tidak memiliki batasan merupakan kehidupan binatang, hidup yang didominasi hawa nafsu, sesuatu berdasarkan kelezatan semata. Apakah kau rela kedudukanmu yang mulia terlahir sebagai manusia tapi derajatmu jatuh seperti binatang dikarenakan kau menyepelekan aturan menjaga batas pergaulan ?

Kaum laki-laki itu jelas, dan kaum perempuanpun jelas. Masing-masing terlahir dengan fitrahnya. Maka jika kau terlahir sebagai laki-laki, maka jadilah laki-laki. Bergaullah dengan laki-laki, agar jiwa laki-lakimu tumbuh sesuai fitrahmu. Demikian sebaliknya, jika kau perempuan, maka tumbuhkanlah fitrahmu menjadi perempuan, bergaullah dengan kaummu, agar engkaupun menjadi perempuan yang sesungguhnya.

Kaum lelaki menyukai perempuan itu fitrah, demikian sebaliknya, kaum perempuan menyukai laki-lakipun fitrah, dan demikian seharusnya. Maka Islam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan dalam ikatan suci, yakni pernikahan. Jika kau telah sanggup untuk menikah maka menikahlah, jika belum sanggup namun keinginanmu  kuat, maka bersabarlah.
Jangan kau mulai melangkah kejenjang mendekati cara-cara pernikahan sementara kau belum sanggup. Jangan kau pernah berangan-angan hidup dengan cara pernikahan jika kau tidak yakin akan mampu menunaikannya. Apalagi kau melakukan hidup dengan cara pernikahan, sementara kau belum melakukan pernikahan.

Mencari alasan untuk mengenal pasangan hidup, lalu kau mulai mengenal lawan jenismu tanpa melalui jalur proses pernikahan hanya akan mengantarkanmu pada kebinasaan. Yang dimaksud proses pernikahan adalah ta’arufan, ta’arufan yang benar-benar kau telah memiliki nawaitu untuk menikah. Jika belum untuk pernikahan, apapun alasanmu, ketahuilah …itu bathil.


Jika kau mengatakan, kita harus mengenal calon pasangan kita, bagaimana kita bisa hidup dalam satu pasangan jika tidak mengenal pasangan ? Jawabannya benar, namun mengenal bukan berarti kau menjalin hubungan illegal dengan lawan jenismu, kau harus melalui orang ketiga, orang ketiga yang amanah. Cukup kau mengenal calon pasanganmu melalui orang ketiga yang amanah. Jika tidak demikian, itu bathil, apapun alasanmu.

Wasiat Untuk Remaja Islam (8) : Jadilah Shahabat Yang Baik

Jika engkau dituntut untuk mencari shahabat yang dapat menyelamatkanmu, kau juga harus mampu membawa keselamatan bagi shahabatmu, tidak layak jika kau mencari shahabat yang baik, sementara dirimu sendiri tidak menjadi shahabat yang baik bagi orang lain.

Bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik (H.R. Turmidzi), demikian petuah Rasulullah saw. Berlaku baiklah pada shahabatmu, jangan kau pernah membuat ia tersakiti sekecil apapun, jangan pernah kau membiarkan ia teraniaya dan terzhalimi, walau kau hanya mampu membantu dalam untaian do’a. Jika ia membutuhkan bantuanmu dari segi harta, maka bantulah sebisamu, jika ia sakit jenguklah, jika ia kesulitan maka permudahlah urusannya. Kewajibanmu pada shahabatmu hendaknya seperti kau mencintai dan kewajibamu bagi dirimu sendiri.

Yang dimaksud shahabatmu disinilah tentulah yang seakidah denganmu, orang yang beriman, maka perlakukanlah ia sebagaimana Rasulullah saw. telah mencontohkan bagaimana memperlakukan shahabat beliau. Sebagaiman para shahabat Rasulullah saw. bersikap dalam bershahabat diantara mereka. Tidak saling mencaci, tidak saling menyalahkan dan tidak saling menjatuhkan. Tapi saling mencintai karena Allah swt., saling mengingatkan kala salah, dan saling memperkokoh keimanan.

Jangan kau selalu ingin menjadi yang lebih unggul dibanding shahabatmu hingga kau berupaya menjatuhkannya, berupayalah untuk ber-fastabiqul khairat dalam menuju puncak ketaqwaan. Jika kau berupaya menjadi orang bertaqwa, maka berupayalah membantu shahabatmu agar iapun  menjadi taqwa.

Kala kau mendapatkan kenikmatan hidup, dalam bentuk apapun, berupayalah agar shahabatmu juga mendapatkan kenikmatan yang engkau dapatkan. Paling kurang kau berbagi dengannya dengan kenikmatan yang ada padamu. Satu kenikmatan terbagi lebih baik dari pada kenikmatan yang hanya dimiliki secara penuh tapi dibawah kenikmatan itu shahabatmu menderita.

Terhadap seseorang yang tidak menjadi shahabatmu, karena kejelekan akhlaknya, hingga engkau tidak memilihnya, tetaplah berlaku baik padanya, jangan kau membenci dan memusuhinya. Memang kita harus untuk memilih siapa yang hendak menjadi shahabat, tapi itu bukan berarti kita harus membeda-bedakan antara satu orang dengan lainnya. Ini dalam artian jangan kau jauhi orang yang tidak menjadi shahabatmu karena memang ia tidak layak menjadi shahabatmu, tapi jangan pula kau jadikan shahabat, jadikanlah ia objek yang hendak kau bawa pada jalan yang benar hingga kau kelak berharap dapat merangkulnya menjadi shahabatmu.

Tapi jalan ini berbahaya dan penuh rintangan, kau harus berhati-hati. Sebab, bisa jadi nawaitumu baik, hendak merangkulnya ke jalan yang kamu kehendaki, namun karena kecerobohan malah kau yang terseret dan dirangkulnya. Untuk itu hati-hati, kau harus tahu rambu-rambu yang harus ditempuh dalam pershahabatan, dan rambu-rambu memperlakukan seseorang yang telah jadi shahabat serta rambu-rambu seseorang yang hendak dijadikan shahabat.

Rambu itu jelas, nyata dan telah digariskan. Cukup kau jadikan pemahaman pershahabatan yang telah -perkehidupan Rasulullah saw., dalami Sirah Nabawiyah. Pahamilah kehidupan para shahabat dalam menunaikan hak pershahabatan, bacalah kitab-kitab ulama yang menjelaskan panjang lebar dalam hal ini.

Jangan kau berpegang pada prinsip pershahabatan yang tidak memiliki landasan yang jelas, atau kau berpedoman pada prinsip pershahabatan yang diajarkan dalam dongeng –dongeng penuh mitos, apalagi hanya merujuk pada perilaku yang umum dilakukan manusia. Sebab semua itu tidak menjadi jaminan akan hakikat pershahabatan yang sesungguhnya.

Ketahuilah …, kau punya contoh, kau punya keteladanan, kau punya warisan mutiara yang berharga dalam meniti pershahabatan, cukup kau berpegang padanya. Itulah keteladanan Rasulullah saw., para shahabat beliau, hingga catatan pena dan tintanya ulama.


Disana kau akan temukan, bagaimana cara memperlakukan seorang yang beriman dalam pershabatan. Disana kau akan terkagum-kagum bagaimana hebatnya keutamaan memperlakukan orang beriman dalam pershahabatan.


Wasiat Untuk Remaja Islam (7) : Pilihlah Siapa Yang Akan Menjadi Shahabatmu

Ketahuilah …seseorang sangat dipengaruhi dengan siapa ia bershahabat, shahabat itulah yang akan mewarnainya. Suatu keharusan bagi engkau untuk memilah dan memilih siapa yang layak engkau jadikan shahabat.

Jangan kau terpedaya dengan ucapan-ucapan atau anggapan-anggapan dengan selubung yang menyatakan bahwa dalam hidup ini tidak boleh pilih kasih terhadap manusia, lantas diharuskan bershahahat dengan siapa saja. 

Ooo …tidak, kau harus memilih siapa yang akan menjadi shahabatmu. Kau harus menentukan siapa shahabat yang layak membawamu pada kebaikan, dan itu hanya diperoleh dengan pilihan.

Bershahabatlah dengan orang-orang shaleh, ahli ibadah, dan para penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan keshalehannya akan membawa dirimu menjadi orang shaleh, dengan ibadahnya akan menimbulkan kegemaran pada dirimu untuk bersemangat menunaikan ibadah, dan dengan kekuatan azzamnya dan ketangguhan dalam beramar am’ruf nahi mungkar menjadi keteladanan bagimu bahwa perjuangan menegakkan Izzah Islam wal Muslimin suatu keharusan.

Cukup kau jadikan pelajaran, kala kau menyaksikan betapa seseorang semenjak kecilnya kala dibina dan ditempa dengan cara yang baik oleh orang tuanya, namun kala ia menemukan shahabat yang jahat, iapun berubah menjadi jahat. Dan bisa pula kau jadikan i’tibar (pelajaran), kala kau menyaksikan orang yang tidak tampak tanda-tanda kebaikan  dalam perilakunya, namun kala ia bersentuhan dengan orang baik ia berubah menjadi baik.

Shahabat yang baik bukanlah shahabat yang selalu memujimu, atau yang selalu memberi sesuatu padamu. Bukan pula shahabat yang baik adalah shahabat yang selalu membelamu dalam keadaan apapun walaupun kau melakukan kesalahan, namun ia selalu memberi pembenaran akan tindakanmu, dengan alasan karena ia menjaga pershahabatan. Sungguh shahabat yang demikian adalah shahabat yang celaka, hindarilah bershahabat dengan golongan ini.

Ketahuilah …, shahabat yang baik adalah shahabat yang menegurmu kala kau salah, dan ia menjelaskan kesalahan itu padamu walau kau akan marah dengannya. Shahabat yang baik adalah shahabat yang menjaga aibmu dan termasuk keluargamu serta kerabatmu. Shahabat yang baik adalah shahabat yang tidak merasa apa yang dimilikinya itu adalah milik pribadinya, tapi ia berupaya membagi denganmu. Shahabat yang baik tidak bermanis-manisan padamu, caranya bergaul tidak berlebihan dengan dirimu, tapi ia menunjukkan kecintaan padamu. Ia selalu menjaga harga dirimu, ia marah kalau kau dicela, dan iapun marah padamu kala mendapati kau suka mencela saudara se-iman. Itulah golongan orang-orang shaleh, ahli ibadah dan penyeru pada kebaikan.

Maka bergaullah dengan mereka, contohlah apa yang mereka lakukan, ikuti apa yang mereka lakukan, niscaya kau akan merasakan makna bahwa seseorang itu akan dipengaruhi dengan siapa ia bershahabat.


Jika kau tidak menemukan seseorang yang layak dijadikan shahabat, menyendiri bagimu lebih baik dari pada bergaul dengan pelaku keburukan. Kau dicela lebih baik dari pada kau diseret pada kehinaan, kau disingkirkan dalam pergaulan dunia lebih baik dari pada kelak di akhirat kau disingkirkan dari golongan barisan panjang orang-orang shaleh. 
Camkanlah hal ini !

Senin, 18 November 2013

Wasiat Untuk Remaja Islam (6) : Kepada Orang Tuamu Berbaktilah

Ketahuilah …orang tuamu adalah sosok yang paling berjasa dalam hidupmu. Sosok yang paling dekat dan paling banyak tahu tentang dirimu.  Sosok yang tak kau temui cinta yang melebihi dari mereka. Sosok yang rela bersusah payah, banting tulang, hingga hancur luluh diri mereka ditelan beratnya badai kehidupan untuk menghidupimu. Namun mereka tetap tegar dan selalu berupaya untuk tangguh.

Kehadiranmu dalam kehidupan mereka suatu anugrah yang menjadikan mereka merasa hidup ini bermakna. Kecintaan mereka padamu dengan apapun takkan sanggup kau membalasnya. Walau sepanjang umurmu kau gunakan untuk berupaya membalas jasanya katamu, takkan terbalas seperempatpun dari muatan cinta mereka untukmu.

Siapa yang mengandungmu dalam keadaan susah yang bertambah-tambah selama sembilan bulan ? Siapa yang merawatmu semenjak kecil, dari tidak tahu apa-apa hingga kau seperti ini adanya ? Siapa yang mendekapmu kala malam menjelang seiring dinginnya semilir angin malam yang mulai menghembus menusuk pada tulang-tulang ? Siapa yang merasakan kesedihan dan kepiluan hati kala menyaksikan dirimu ditimpa sesuatu yang membuatmu berat ? Itulah ibumu yang selalu merawatmu sejak kecil mulai dari kandungan hingga kau seperti ini. Dialah ayahmu yang tak kenal lelah mencari nafkah walau terkadang harus berurusan dengan hal-hal tersulit yang jika dihadapkan padamu kau tidak akan sanggup.

Berbaktilah pada orang tuamu, posisikanlah kecintaanmu kepada mereka dibawah kecintaanmu kepada Allah swt. rasul-Nya dan berjihad dijalan-Nya. Tinggikanlah ia dalam hatimu di atas insan-insan umumnya di permukaan bumi ini. Selama mereka mengajakmu pada keta’atan, maka kedurhakaan besar bagimu jika kau melanggar perintah mereka. Jangan kau menzhalimi mereka, mengucapkan  kata-kata yang dapat menyinggung mereka saja akan berdampak besar bagi kehidupanmu, dampak yang akan membinasakanmu.

Berharaplah akan ridha orang tuamu, karena  Ridha Allah swt. terletak pada ridha orang tuamu, dan kemurkaan Allah swt. terletak pada kemurkaan orang tuamu (H.R. Tirmidzi dan Hakim).

Jadilah anak shaleh yang selalu mendo’akan mereka, baik kala mereka masih hidup maupun telah meninggal. Kewajibanmu tidak terbatas ruang dan waktu. Hanya tercerabutnya nyawa dari badanmulah yang menjadi batas untuk berbakti kepada orang tuamu. Selama hembusan nafasmu masih ada, kau wajib berbakti pada mereka. Asuh dan berlaku baiklah dihari tua mereka, berdo’alah untuk mereka disetiap untaian do’a-do’amu yang panjang.

Ketahuilah …orang tuamu, semakin bertambah usianya, semakin sensitif jiwanya, kelak kau akan temui hal-hal yang membuat kau tidak menyenangi akan apa yang mereka lakukan, mereka akan kembali pada jiwa kekanak-kanakan, ingatan merekapun tak sempurna, kondisi mereka payah, saat itulah kau akan diuji, apakah kau mampu berbuat kebajikan pada mereka dalam kondisi sulit itu sebagai bukti baktimu pada mereka.

Kala mereka wafat, keharusan bagimu untuk mengurus jenazah mereka, jangan kau serahkan pada orang lain, kecuali jika peran orang lain hanya sebagai pembantumu sebagai manifestasi fardhu kifayah. Jika kau serahkan segala urusan jenzah orang tuamu pada orang lain, sungguh kau anak yang tidak berguna. Apakah kau lupa setiap hari kau dimandikan kala kau kecil, namun  hanya untuk memandikan jenazahnya yang satu kali itu kau menyatakan tidak mampu, sungguh suatu kebodohan jika hal ini menimpamu. Apalagi jika kau tidak mampu menyalatkan jenazah mereka. Apakah kau berharap do’a orang lain untuk orang tuamu. Sementara do’a yang tidak terhijab itu adalah do’a dari anak yang shaleh. Maka kau harus shaleh, kau harus menjadin anak yang mampu mendo’akan kedua orang tuamu, dan kau harus berupaya agar do’amu diijabah oleh Allah swt.

Namun, jika mereka mengajakmu pada kemaksiatan, maka tiada kewajiban bagimu untuk mengikuti dan patuh pada mereka. Tapi hendaklah kau menyadarkan mereka. Dan jika mereka tetap pada pendirian mereka. Kau harus tetap berlaku baik pada mereka. Berlaku baik dalam artian bukan  berarti kau harus patuh pada kemaksiatan mereka.      

Wasiat Untuk Remaja Islam (5) : Menuntut Ilmu Suatu Kewajiban Bagimu

Ketahuilah … takkan kau retas hidup dengan kemuliaan jika kau bodoh, takkan kau dapat keutamaan jika kau golongan orang yang pandir, sesungguhnya Allah swt., telah menjanjikan dalam surat al-Mujadilah ayat 11 bahwa akan ditinggikan  derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Rasulullah saw., begitu banyak menjelaskan tentang keutamaan berilmu. Dan para shahabatpun telah mencontohkan dalam kepribadian mereka tentang urgensi ilmu.

Para cendekiawan muslimpun telah menunjukkan bahwa dengan ilmulah Islam itu maju, dan dengan ilmu pulalah umat Islam itu mampu berinteraksi dengan alam dan menguasai peradaban.

Apakah tidak cukup bagimu sebagai contoh bagaimana kala umat Islam menguasai ilmu, Islam menjadi pusat peradaban dunia ? Andalusia yang tandus dan  gersang, kala tumbuh dan  besar dalam kekuasaan Islam yang diisi oleh orang-orang berilmu, mampu membawa perubahan besar bagi kemajuan Eropa. Bahkan kalangan yang tidak seakidahpun rela menuntut ilmu dalam lingkaran keilmuan umat Islam. Betapa banyak riwayat yang menyatakan hal ini. Cukup kau menyimak lembaran-lembaran sejarah tentang hal ini.

Untuk itu berilmulah, carilah ilmu itu dimana saja kau berada, tinggalkan kampung halamanmu untuk menuntut ilmu, kelak sebarkan ilmu kembali dikampung yang pernah kau tinggalkan. Jangan biarkan umat buta dengan ilmu, maka dengan keharusanmu menuntut ilmu dengan harapan kau juga mampu membawa ilmu itu kepada saudaramu se-iman yang bisa jadi tidak memiliki kesempatan yang engkau miliki.

Ketahuilah … amal ibadah yang kau tunaikan, rukuk dan sujud disetiap shalatmu, bacaan al-Qur’anmu yang mendayu-dayu, jika tidak dilandasi ilmu, percuma dan hanya menggiringmu pada kepayahan, tapi tidak bernilai apa-apa disisi Allah swt.
Menjadi pelaku taqlid (pengikut) buta adalah kebodohan diatas kebodohan. Kelak di Yaumul Hisab, kala amalmu dipertanyakan, dan kau merasa kau ahli ibadah, ternyata kosong melompong disebabkan taqlid  butamu. Sungguh merugi dan menyesal.

Yang harus kau berhati-hati, ilmu itu dilingkari ketertipuan yang begitu banyak, kau harus mampu memilah dan memilih ilmu mana yang layak untuk kau kuasai. Jangan sampai kau menghabiskan umur dalam menuntut ilmu, tapi yang kau dapat tidak lebih dari pada meninggikan derajatmu di dunia, namun tidak menyelamatkanmu di akhirat. Untuk itu kaupun harus mengetahui rambu-rambu dalam menuntut ilmu. Awasi ketertipuan dalam menuntutnya.

Sesungguhnya ilmu yang menyelamatkanmu adalah ilmu ma’rifatullah (mengenal Allah swt.), ilmu yang akan membersihkan jiwamu, serta ilmu yang dapat mengantarkanmu pada pengabdian yang tulus kepada Allah swt. yang telah menciptakanmu. Maka utamakanlah mengejar ilmu tersebut. Ia tertuang dalam al-Qur’an dan Sunnah. Keilmuan lain yang dapat menjadi penyokong hal tersebut juga tidak boleh kau abaikan, sebab segala sesuatu itu saling bantu membantu untuk sampai pada tujuan.

Sedangkan keilmuan keduniaan semata, hendaklah kau posisikan secara bijak, jangan sampai ia melalaikanmu untuk pencarian ilmu yang lebih utama. Jadikanlah ia pembantu dan pasukanmu untuk mewujudkan keilmuan yang lebih utama kau pelajari.

Sadarilah …menjadi orang berilmu bukanlah perkara yang selesai dengan gelar di depan atau belakang nama, atau perkara yang hanya dituntaskan dengan ijazah atau simbol lembaga kependidikan. Menjadi orang berilmu adalah manifestasi akan pemahaman terhadap ajaran agama yang kau anut, Dinul Islam. Ia mengejewantah dalam kehidupanmu, ia membawa kebaikan bagi dirimu, dan menebar pada orang-orang disekitarmu.

Kelilmuanmu menjadi suluh penerang bagi dirimu dalam melangkah dan bertindak, ia menjadi penunjuk jalan menuju puncak hidayah. Ia menjadi penyemangat akan kegemaranmu dalam menunaikan amal shaleh. Dan ia pun menjadi kebutuhan akan penyelesaian konflik baik lahir atau batin seluruh manusia. Maka ia menjadi solusi akan problematika pernik-pernik kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. Berperanlah engkau dalam hal ini, hendaklah engkau menjadi sosok yang belajar akan ilmu dan mengajarkannya pada manusia.

Ketahuilah …ilmu itu datang dari Allah swt. dan ia milik Allah swt. tidak akan peroleh jika kau tidak menunaikan adab-adabnya. Dan kaupu n harus mengetahui ilmu itu tidak akan menyusup ke dalam hatimu kecuali ada proses yang mengantarkannya. Ia tidak datang dengan sendirinya, ia melalui proses yang panjang, dan panjangnya itu sepanjang usiamu yang ada. Dalam proses itulah dibutuhkan adab, aturan dan akhlak.

Hal yang substansial yang tidak boleh terabaikan, berilmu haruslah berguru, belajar dari seseorang yang dianggap ‘alim (berilmu) dibandingkan dirimu. Disini manifestasi adab itu akan tampak. Kau harus menjaga adabmu terhadap yang mengajarkanmu ilmu, sosok guru yang kau harap darinya memancar cahaya muatan kedahsyatan ilmu tersebut.
Gamblang Rasulullah saw,. mengajarkan tentang adab menuntut ilmu, dan shahabatpun  telah mencontohkan bagaimana adab-adab mereka dalam memahami proses menuntut ilmu. Terutama sekali adab dalam berhadapan dengan orang ‘alim.

Posisikan dirimu sebagai murid, orang yang berkehendak untuk mendapatkan muatan ilmu. Jangan posisikan dirimu sebagai raja yang merasa lebih berkuasa dan behak mengatur segalanya dengan titahnya. Kala kau memposisikan dirimu sebagai murid, saat itu engkau menunjukkan suatu kebutuhan yang mendesak, sementara kebutuhan engkau itu berada pada seseorang, bagaimana sikapmu ? Tentu saja engkau akan melakukan hal-hal yang dapat menarik simpati orang itu dengan cara merendahkan hati agar kebutuhanmu terpenuhi.
Maka jadilah orang yang tawadhu’ dalam menyerap ilmu, dengan hati penuh ketundukan dilingkari perasaan akan kebutuhanmu pada ilmu itu ibarat kebutuhan akan air ditengah padang pasir yang kering kerontang, dalam keadaan tenggorokan sangat kering.


Jagalah adab-adabmu terhadap guru yang mengajarkanmu ilmu. Ini bukan bermakna perendahan harga diri, tapi wujud dari kesungguhan dan penyadaran diri bahwa kau bukan siapa-siapa, kau hanyalah orang lemah dan bodoh yang memang membutuhkan petunjuk untuk sampai pada ketinggian kemuliaan hidup. Kenyataan itu harus kau sadari karena memang demikian kenyataan dirimu.

Wasiat Untuk Remaja Islam (4) : Jihad Adalah Jalan Mulia

Ketahuilah …jihad adalah manifestasi kesungguhan perjuangan. Ia memiliki rukun dan syarat. Ia adalah jalan untuk menegakkan kalimat yang haq dan alat untuk menebas kebathilan. Ia thariqah (jalan) untuk meninggikan Izzah Islam wal Muslimin (harga diri Islam dan kaum muslimin). Ia adalah penyelamat umat manusia dari kezhaliman, ia datang membawa kedamaian dan keselamatan jiwa insan yang mendiami alam semesta.

Pahamilah jihad sebagaimana Allah swt. mengajarkannya di dalam al-Qur’an, pahamilah jihad sebagaimana Rasulullah saw. mencontohkannya, dan pahamilah jihad sebagaimana para shahabat radhiyallaahu ‘anhum merealisasikannya.

Jangan kau palingkan makna jihad dari petunjuk al-Qur’an dan hadits Rasulullah saw. Jangan kau palingkan makna jihad hanya dengan melihat kenyataan yang dilakukan oleh segelintir orang yang mengatasnamakan jihad, namun menyimpang dari rambu-rambu aturan al-Qur’an dan Hadits Rasulullah saw. Dan jangan pula kau pahami makna jihad dari teori-teori pemikiran yang hanya berlandaskan akal dan hasil pemikiran manusia.

Sesungguhnya jihad membawa kedamaian bagi umat manusia. Dengan jihad Rasulullah saw. menebarkan Islam yang rahmatallil’aalamiin (rahmat bagi sekalian alam), dengan jihad para shahabat membebaskan manusia dari kemusyrikan dan kejahiliyahan, dengan jihad para panglima-panglima tangguh Islam membebaskan wilayah dari cengkraman kaum penjajah yang zhalim.

Tidakkah kau saksikan dalam lembaran sejarah umat Islam yang gemilang, kala jihad menjadi pakaian mereka, kala jihad menjadi cita-cita mereka, tak ada satupun wilayah yang dikuasai umat Islam melainkan para penduduknya bersuka cita dengan kehadiran umat Islam yang datang dengan jihadnya. Ini artinya, jihad adalah pembebasan, pembebasan akan kejahiliyahan, pembebasan dari ketertindasan, pembebasan akan hak-hak kemanusiaan, bukan penaklukan. Dan lebih dari itu jihad menjunjung nilai-nilai luhur kemanusiaan agar manusia dapat hidup dengan layak dan dapat mengabdikan diri kepada Sang Pencipta dengan penuh ketenangan tanpa adanya gangguan dan rasa was-was.

Untuk menumbuhkan semangat jihadmu, belajarlah dari Sirah Nabawiyah, Sirah Shahabat, dan sejarah para panglima-panglima yang tha’at, niscaya disana kau akan dapat menggali semangat jihad yang dikobarkan. Sekaligus kau akan memahami rambu-rambu jihad secara hakikat serta kau akan mengerti apa yang melatar belakangi besarnya animo para pendahulumu untuk menggelorakan jihad.


Jangan kau terjebak dengan perdebatan, apa itu jihad, definisi jihad dan apa yang dimaksud dengan jihad, tapi cukup kau mencontoh bagaimana Rasulullah saw. telah mencontohkannya. Bagaimana para shahabat telah menorehkannya, dan bagaimana para panglima-panglima Islam memahaminya. Dari sanalah poros makna jihad itu teruji, dari sanalah definisi jihad itu dapat diukur. Dan dari sana pula, sebagai bukti bahwa jihad memang jalan yang mulia. Maka bercita-citalah untuk berjihad, dan berjihadlan dari apa yang kau bisa, jika engkau memang hendak mendapatkan kemuliaan. Kemuliaan itu memang harus kau dapatkan.

Wasiat Untuk Remaja Islam (3) : Pedomanmu Hanya Al-Qur'an dan Hadits

Berilmulah engkau dengannya, jangan hanya sekedar mampu membaca dan menghafalnya, tapi amalkan segala kandungannya. Inilah sumber utama dari segala macam ilmu yang harus kau kuasai. Jika kau mengabaikan, niscaya kau akan tersesat. Berhati-hatilah dalam memahami tafsirannya, maka kau harus mampu memilah dan memilih tafsiran yang bersumber dari manakah yang layak kau pegang dari setiap penggal kalimat maupun hurufnya. Jangan kau paksakan memahami hal-hal yang menjadi rahasianya, cukupkan dirimu untuk mencontoh bagaimana cara para salafushshaleh (orang-orang shaleh) terdahulu mempelajarinya. Hindarilah pemikiran filsafat ataupun mantiq yang mencoba mengalihkannya dari hakikat makna yang sesungguhnya.

Ketahuilah al-Quran adalah wahyu, kalamullah yang dijaga langsung oleh Allah s.w.t, ia berfungsi sebagai petunjuk, untuk seluruh umat manusia. Ia akan menjadi petunjuk kala kau benar-benar mempelajarinya, hingga kurus tubuhmu, hingga perih matamu menahan kantuk.

Bawalah al-Qur’an kemana saja kau pergi, ingat pesannya dengan kesungguhan. Jangan kau pernah menganggap remeh aturannya, walau terdapat hukum sunnah untuk ditunaikan, jangan mengabaikannya, karena hukum sunnnah itu keutamaan, keutamaan yang memuliakanmu.

Jangan mencari alasan untuk tidak membacanya karena engkau belum paham maknanya, sebab walaupun engkau belum paham tetap bernilai ibadah. Inilah perbedaan al-Qur’an dibandingkan bacaan lainnya. Gemarkan dirimu untuk selalu basah lisanmu dengan lantunan ayat al-Qur’an.

Ketahuilah …al-Qur’an tak cukup jika kau pahami dengan terjemahannya. Sesungguhnya sifat al-Qur’an itu bahasa Arab, maka menjadi keharusan bagimu belajar tentang bahasa Arab untuk berinteraksi dengan al-Qur’an.

Jangan sekali-kali, jangan sekali-kali al-Qur’an kau pahami menurut akalmu semata. Walaupun kau mengenal terdapatnya tafsiran al-Qur’an berpola tafsir bir ra’yu (menafsirka ayat dengan akal), namun itu bukan berarti dengan mudahnya kau menafsirkan al-Qur’an dengan akal pemikiranmu. Jalan yang paling selamat adalah kau rujuk tafsiran ulama-ulama yang berkompeten dibidangnya, menjadi pengikut dengan mengetahui dasar yang jelas (ittiba’) pada mufassir terdahulu lebih menyelamatkan dibandingkan kau menafsirkannya sendiri jika keilmuanmu tak memadai untuk itu.

Jika al-Qur’an dibacakan padamu, maka dengarkanlah, perhatikan, khusyu’kan hatimu dalam mendengarkannya, keutamaan mendengar sama dengan keutamaan membaca.

Dan jika kau membacakan al-Qur’an dihadapan orang lain berhati-hatilah dalam bacaanmu, kesalahan baris satu huruf apalagi kesalahan kalimat berakibat fatal bagi orang yang mendengar, tak kecuali bagi dirimu. Kau telah berperan sebagai orang sesat dan menyesatkan. Na’udzubillah.

Jika kau tak yakin dengan hafalanmu yang kau bacakan pada orang lain, lebih baik kau melihat teks bacaan, karena hal itu lebih selamat dan menyelamatkan.

Untuk menjaga kesalahanmu dalam memahami bacaan al-Qur’an, tidak bisa tidak kau harus belajar tentang ilmu membacanya, ilmu tajwid yang telah diajarkan ahlinya. Karena al-Qur’an itu bukanlah bahasa biasa yang mudah diucapkan asal orang mengerti. Tapi wahyu yang diturunkan Allah subhaanahuwata’ala. Allah swt. sendiri yang menjaganya dari kesalahan, sekecil apapun. Maka suatu kebodohan jika engkau membacanya tidak seperti yang diberikan padamu.

Kuatkanlah tekad dan semangatmu untuk mempelajari makharijul hurufnya, hukum-hukum bacaannya, hingga keluar dari lisanmu dengan cara yang sempurna. Jika lisanmu atau apa yang keluar dari tenggorokanmu tidak mampu menunaikannya dengan sempurna karena memang kau diciptakan dengan segala kekuranganmu, maka cukup kau berupaya untuk membenarkannya semampumu melalui lisan dan tenggorokanmu, walau ia keluar tidak sesempurna yang dituntut secara ideal. Jika hatimu teguh dan memang itu yang kamu maksud, maka sesungguhnya kau telah menyempurnakan bacaannya. Inilah yang dimaksud membaca al-Qur’an dengan sempurna. Allah swt. tidak membebanimu untuk sesuatu yang kau tak sanggup menunaikannya. Allah swt. memandang sejauhmana kekuatan niatmu.

Jangan kau terpedaya membaca al-Qur’an  dengan memfokuskan irama atau lagu sehingga enak didengar karena senandungnya. Walaupun tuntutan itu juga suatu kenyataan yang memang harus dilakukan untuk menunjukkan bahwa al-Qur’an memang pantas mendapat kemuliaan tersebut. Tapi jika kau terfokus dengan irama dan lagunya dan melupakan makna dan tujuan untuk apa al-Qur’an diturunkan,  sungguh kau tertipu.

Al-Qur’an diturunkan bukanlah untuk nyanyian, bukan pula untuk pertunjukan, ataupun musbaqah (lomba) membaca al-Qur’an. Tapi ia diturunkan sebagai hudallinnaas (petunjuk bagi manusia). Petunjuk hanya bisa dirasakan kala kau memahaminya. Petunjuk hanya bisa ditunaikan kala kau paham dengan rambu-rambunya. Maka tugas engkau sesungguhnya adalah mempelajari al-Qur’an, menggali makna-maknanya, agar kau mengetahui rambu-rambunya sehingga kau mampu mengamalkan sepanjang hidupmu.

Jangan kau mengira untuk sampai pada tahap itu cukup hanya duduk dibangku sekolah, lima atau sepuluh tahun, apalagi kau merasa cukup mendengar pengajian dimajlis ta’lim satu kali seminggu. Ooo…tidak, kau harus menggunakan sisa-sisa umurmu untuk selalu mempelajarinya, jika tidak, kau tidak lebih hanya memahami al-Qur’an sangat sedikit, sangat sedikit.

Al-Qur’an semakin digali akan semakin terkuak kedalaman ajarannya, lantas bagaimana bisa kau mengatakan hanya dengan caramu itu kau telah memahami al-Qur’an, menggalinya saja sedikit dan upayamupun tidak menunjukkan kesungguhan, apakah mungkin akan mampu menguak kedalaman makna al-Qur’an yang semakin digali semakin dalam ???

Sesungguhnya al-Qur’an itu turun secara mujmal ataupun global, ia butuh penjelasan lebih lanjut yang membutuhkan keterangan-keterangan. Ini suatu kenyataan yang tak terbantahkan bahwa al-Qur’an tidak terbatas dalam kalimat-kalimat yang ada, tapi memiliki nilai dan pelajaran berupa petunjuk bak bola salju yang bergulir di atas salju, semakin digulirkan semakin besar. Ia akan terasa semakin berkembang kala ia semakin digali dan digali. Petunjuknya akan semakin berpendar, bercabang, beranting kala terus dipelajari makna-maknanya. Maka tak cukup ruang dan waktu untuk menjelaskan hakikat maknanya. Tidak cukup beratus, beribu, berjuta buku untuk menjabarkan hakikat maknanya.

Karena luasnya makna yang dikandung itulah, maka ia turun secara mujmal atau global. Agar dapat menggali maknanya yang begitu banyak dari berbagai sudut macam pandangan. Dan ketahuilah …penafsiran yang paling benar  untuk menjelaskan makna-makna al-Qur’an adalah hadits Rasulullah saw. Untuk itu tidak boleh mengabaikan hadits Rasulullah saw. dalam kehidupan.

Jangan terpedaya dengan pendapat-pendapat yang menyatakan al-Qur’an sudah sempurna, maka tidak perlu hadits Rasulullah saw. Benar al-Qur’an sempurna, dan kau harus yakin itu, tapi itu bukan berarti tidak butuh penjelasan dalam memahaminya, sebab al-Qur’an bukan langsung diturunkan kepada engkau dengan maknanya secara jelas. Apakah kau mampu memahami al-Qur’an saja tanpa petunjuk penjelas sebagai bayan ?

Sungguh …kau perlu penjelasan tentang al-Qur’an, dan itulah fungsi hadits Rasulullah saw. Demikianlah tujuan rasul diutus, sebagai penjelas dari makna-makna al-Qur’an. Maka hadits Rasulullah saw. wajib kau pelajari.

Mempelajari hadits Rasulullah saw. tidak cukup hanya engkau membaca dan mendengar hadits lalu selesai begitu saja. Ia keluar dari lisannya sang utusan, ia mendapat bimbingan wahyu. Maka kau harus berilmu tentangnya.

Ketahuilah …jangan kau anggap remeh urusan mempelajari hadits Rasulullah saw., dengan menganggap sama dengan mempelajari kata-kata hikmah atau sya’ir. Walaupun keluar dari lisannya sosok manusia, tapi manusia itu manusia mulia, berprediket Rasul. Posisikanlah hadits itu pada tempatnya, disana engkau akan menyadari bahwa hadits bukan kalimat-kalimat mutiara, bukan sya’ir, puisi atau prosa. Tapi ajaran yang mengandung konsekwensi hukum;wajib, sunnah, makruh dan haram.

Jangan gegabah dalam memahami hadits Rasulullah saw. dan terlalu cepat mengatakan ini dari beliau jika kau tidak yakin akan hal itu. Tahukah engkau, beliau sendiri yang mengancam siapa yang menyandarkan sesuatu pada beliau, sementara beliau tidak pernah mengucapkannya atau melakukannya, maka tempat duduknya di neraka (H.R Bukhari dan Muslim).

Lalu, dengan ini, apakah kau mengira mudah belajar hadits ? Belajar hadits butuh perjuangan dan kesungguhan. Apalagi ia telah berada dalam wilayah yang terkontaminasi perkembangannya oleh pihak-pihak pengingkar agama dengan memunculkan hadits-hadits maudhu’ (palsu). Sangat sulit untuk memilah apakah sesuatu itu hadits atau bukan.

Untuk itu kau butuh keilmuan yang dalam  tentang ini, kau harus memahami ilmu sanad (periwayatan hadits), matan (muatan hadits) serta perawi-perawi hadits yang telah teruji kredibilitasnya dalam memurnikan dan menjaga keotentikan hadits. Maka kau harus belajar ilmu hadits, tidak cukup hanya mendengar dan membaca lalu mengatakan ini hadits dengan mencukupkan berpedoman pada perkataan orang bahwa ini hadits.

Jalan ini panjang dan berat, dan jalan itu telah ditempuh oleh para pendahulumu, muhadditsin, semoga Allah swt. merahmati mereka. Belajarlah dari keilmuan mereka. Baca buku-buku dan karya-karya mereka, tela’ah apa yang mereka wariskan padamu. Berterimakasihlah pada mereka dengan mempelajari ajaran yang mereka tulis bersama tinta kesungguhan. Disana akan kau temui hadits yang layak kau pedomani hingga menjadi pengamalan.

Jangan kau sampaikan ini hadits kepada seseorang tapi kau sendiri tidak mampu menjelaskan apakah benar hadits atau bukan. Aduhai …berbahaya sekali apa yang kau lakukan. Lebih baik kau dikatakan orang yang tidak mengetahui apa-apa tentang hadits dari pada kau dianggap ahli hadits tapi sebenarnya kau penipu besar dan tukang palsu hadits.

Ketahuilah …tidak pantas kau menganggap dirimu ahli ibadah, atau ahli ilmu jika kau tidak paham dengan hadits, apalagi berharap dan merasa yakin kelak kau akan masuk jannatun na’aim dengan amal ibadahmu, sementara pemahamanmu tentang hadits begitu minim.

Maka suatu kebodohan bagi orang-orang yang melalaikan urusan menuntut ilmu tentang hadits Rasulullah saw. karena sama saja ia melalaikan memahami al-Qur’an, dan ketahuilah ….ibadahnya perlu dipertanyakan.