Alkisah, di kalangan Bani Israil ada
seorang laki-laki yang fakih, ahli ibadah, dan suka berjihad. Dia memiliki
seorang istri yang sangat dia sukai. Ketika istrinya meninggal dunia, dia
sangat berduka cita dan menyendiri di suatu rumah dan menguncinya, serta tidak
mengizinkan siapa pun masuk menemuinya.
Kemudian seorang wanita dari Bani Israil
mendengar tentang keadaannya, lalu dia mendatanginya dan berkata, ”Aku memiliki
keperluan untuk meminta fatwa darinya, yang apabila dia tidak mengizinkanku
masuk ke rumahnya maka aku akan tidak mengetahui jawabannya.”
Orang-orang pun mengantarkan wanita itu
kepadanya. Setelah mengetuk pintu, mereka memberitahukan kepadanya keinginan
wanita itu. Diapun mengizinkan wanita itu masuk. Wanita itu berkata, “Aku
meminta fatwa kepadamu tentang suatu perkara.”
“Apakah itu?” tanyanya.
Wanita itu berkata, ”Aku meminjam perhiasan
dari tetangga perempuanku. Aku lalu memakainya dan meminjamnya dalam waktu yang
lama, kemudian tiba-tiba dia menyuruh orang datang kepadaku untuk memintanya;
apakah aku harus mengembalikannya?”
“Ya, tentu saja,” jawabnya.
Wanita itu bertanya lagi, “Tapi, demi
Allah, perhiasan itu telah lama ada padaku?”
“Itu sudah menjadi haknya untuk engkau kembalikan,”
jawabnya tegas.
Wanita itu berkata, “Semoga Allah
merahmatimu, apakah engkau juga tidak mau mengembalikan apa yang telah Allah
pinjamkan kepadamu, yang kini sudah Dia ambil darimu, dan Dia memang lebih
berhak darimu?”
Laki-laki itu pun tersadar akan
kesalahannya selama ini. Allah telah memberikan manfaat dari kata-kata wanita
itu. [Al-Muwaththa’ (vol. 2, hlm. 237)] (**)
Saudaraku …,
Hati, sesuai dengan namanya, ia bolak
balik, terkadang kuat, terkadang lemah. Kala ia kuat mungkin bisa menerima
kenyataan apapun yang menimpa, tapi saat berada pada titik lemah sulit untuk
mengkondisikannya. Hanya saja, hati itu kala ditimpa oleh suatu kesulitan, ia
cendrung berada pada titik lemah jika tidak ada yang menguatkannya. Disinilah
kita diuji bagaimana untuk mampu bertahan dalam kesabaran walau pada titik
lemah sekalipun agar ia merangkak naik menjadi kuat.
Diantara ujian itu adalah kehilangan dari
apa yang telah dimiliki. Merasa kehilangan sesuatu yang berada dalam genggaman memang
sangat meninggalkan sisa-sisa luka yang mendalam. Apalagi sesuatu yang hilang
itu sangat dicintai bahkan mempengaruhi pola hidup kita, seperti harta, anak
ataupun keluarga. Terlebih kala manfaatnya sangat terasa dan kita masih berada
dalam kenikmatan mereguknya lalu lenyap hilang seketika.
Namun semua itu tidak akan terjadi jika
kita memahami siapa diri kita sesungguhnya, dari mana segala yang kita miliki,
dan untuk apa kita memiliki segala sesuatu. Dengan sedikit merenung, cobalah
untuk bertafakur. Saat kita dilepas kealam dunia, apa yang kita bawa? Tidak
lebih dari pada membawa diri yang dipundak terkandung beban amanah. Amanah yang
harus kita tunaikan sesuai dengan perjanjian kita pada saat Allah swt. berkata:
“alastu birabbikum? (bukankah aku ini Tuhanmu?)”, kita jawab,”balaa
syahidna (benar, kami menyaksikan) (Q.s. Al-A’raaf : 172). Amanah untuk
hanya menghamba pada-Nya. Amanah untuk mengabdikan diri hidup di permukaan bumi
dan kelak akan kembali kepada-Nya. Kelak segala amanah itu akan dipertanyakan.
Itulah inti tujuan kita diciptakan kepermukaan bumi, hanya untuk mengabdi
kepada-Nya, “dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk
mengabdi kepada-Ku” (T.Q.S.
Adz-Dzaariyaat : 56.). Tidak ada selain itu yang kita bawa. Tapi apa yang kita
bawa itu sungguh sangata berat tanggungjawabnya.
Jika memang
demikian adanya, lantas segala apa yang kita peroleh, keluarga, anak, harta dan
segalanya di permukaan bumi ini dari mana kita dapatkan? Tentu saja dari Allah
swt. yang telah memberi kita beban amanah di alam perjanjian. Semua itu kita
dapatkan cuma-cuma dan gratis, tidak ada satupun kita yang mampu mengadakannya
dengan sendiri. Karena kita diciptakan telah berjanji untuk menunaikan amanah,
maka seluruh apa yang diberikan pada kita merupakan amanah yang harus
dipertanggungjawabkan. Ia bukan milik kita, tapi suatu titipan yang kelak akan
diambil kembali pemiliknya, namun selama ia berada dalam titipan, kita harus
menjaganya sesuai dengan amanah tersebut.
Menjaga amanah
berupa titipan dalam artian, kita harus mampu menggunakannya untuk apa hal
tersebut dititipkan. Disebabkan inti amanah adalah pengabdian, maka setiap
perbuatan kita harus untuk pengabdian. Seluruh yang diberikan kepada kita juga
harus difungsikan untuk pengabdian. Harta, anak, istri ataupun keluarga
haruslah difungsikan untuk mengabdi kepada-Nya. Seperti harta yang dititipkan
kepada kita, hendaklah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, mengandung
kemashlahatan dan dikeluarkan di jalan Allah swt. Begitu juga dengan keluarga,
kecintaan kita kepada mereka hendaklah bermuara pada pengabdian, dalam bentuk
menafkahi keluarga dan memberikan pendidikan agama yang benar pada mereka,”quu anfusakum ahliikum naaraa. (peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka)” (Q.S. At-Tahriim
: 6).
Ketahuilah …
setiap penyimpangan yang kita lakukan terhadap amanah, sungguh kita telah
ingkar akan perjanjian, kelak niscaya kita akan mendapatkan ganjarannya, “wa mayya’mal mitsqaala dzarratin syarrayyarah (dan barangsiapa yang berbuat keburukan seberat biji dzarrah, niscaya
ia akan melihat balasannya)(Q.s. Az-Zalzalah : 8)
Jika kita
menyadari hakikat ini, sungguh ternyata beban amanah itu berat. Secara umum,
beban amanah yang dipikul oleh manusia telah ditawarkan kepada yang lain, namun
semuanya enggan untuk menerima, karena beratnya amanah tersebut. Manusialah
yang bersedia menerimanya.
Oleh karena itu,
pahamilah ! Tiada satupun yang menjadi milik kita dipermukaan bumi ini, tapi
malah kita dibebankan amanah yang berat terhadap apa yang telah dimiliki. Lantas
kala segala yang berada dalam amanah ditarik kembali oleh pemiliknya, pantaskah
kita untuk berkeluh kesah, bersedih hati ataupun enggan untuk mengembalikannya?
Bukankah yang layak bagi kita bersyukur? Sebab semakin ditarik beban amanah
kepada kita semakin berkurang beratnya dipundak? Dan sebaliknya semakin kita
berupaya mempertahankannya bukankah kita mempertahankan beban dalam hidup?
Ambillah
pelajaran ini, agar hati kita lebih lapang menerima kenyataan kala kehilangan
sesuatu. Sebab hilangnya sesuatu yang kita “miliki”, hakikatnya berkurangnya
beban amanah kita. Sadarilah ! Apa yang telah hilang dari genggaman kita
pertanda kita tidak lagi diberikan amanah untuk mengembannya dan ia telah
kembali pada pemiliknya. Apa yang menyebabkan kita tidak senang untuk kembali
sesuatu kepada pemiliknya? Dan apakah yang lebih menggembirakan kala beban
dipundak menjadi ringan?
Demikianlah
kiranya pelajaran penting dari kisah di atas, kala laki-laki dari Bani Israil
itu diingatkan oleh sang wanita bahwa kala ia kehilangan istri yang membuat ia
berat, sang wanita berkata, “Semoga Allah merahmatimu, apakah engkau juga tidak mau
mengembalikan apa yang telah Allah pinjamkan kepadamu, yang kini sudah Dia
ambil darimu, dan Dia memang lebih berhak darimu?”.
Jika kita mampu meresapi nilai-nilai luhur
ini, niscaya apapun yang menimpa kita dari kehilangan sesuatu yang sangat
dicintai, insya Allah kita akan mampu untuk bersabar, dan hati yang bolak balik
itu akan kuat dengan daya sabar yang bergelora. Sungguh Allah swt. Maha
Sempurna dalam mengatur jalan hidup kita.
Keterangan
:
(*)
Judul berdasarkan kisah
(**)
Lihat kisah tersebut dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, diterjemahkan dari ’Uddah
ash-Shâbirîn wa Dzakhîrah asy-Syâkirîn oleh Imam Firdaus, Lc., Q.Dpl dengan
judul ‘Uddatush Shâbirîn: Bekal Untuk Orang-Orang yang Sabar (Jakarta: Qisthi
Press, 2010), Cet. 1, h. 129
Tidak ada komentar:
Posting Komentar