WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 20 Mei 2014

Seorang Laki-laki Bani Israil yang Kehilangan Istrinya (*)

Alkisah, di kalangan Bani Israil ada seorang laki-laki yang fakih, ahli ibadah, dan suka berjihad. Dia memiliki seorang istri yang sangat dia sukai. Ketika istrinya meninggal dunia, dia sangat berduka cita dan menyendiri di suatu rumah dan menguncinya, serta tidak mengizinkan siapa pun masuk menemuinya.
Kemudian seorang wanita dari Bani Israil mendengar tentang keadaannya, lalu dia mendatanginya dan berkata, ”Aku memiliki keperluan untuk meminta fatwa darinya, yang apabila dia tidak mengizinkanku masuk ke rumahnya maka aku akan tidak mengetahui jawabannya.”
Orang-orang pun mengantarkan wanita itu kepadanya. Setelah mengetuk pintu, mereka memberitahukan kepadanya keinginan wanita itu. Diapun mengizinkan wanita itu masuk. Wanita itu berkata, “Aku meminta fatwa kepadamu tentang suatu perkara.”
“Apakah itu?” tanyanya.
Wanita itu berkata, ”Aku meminjam perhiasan dari tetangga perempuanku. Aku lalu memakainya dan meminjamnya dalam waktu yang lama, kemudian tiba-tiba dia menyuruh orang datang kepadaku untuk memintanya; apakah aku harus mengembalikannya?”
“Ya, tentu saja,” jawabnya.
Wanita itu bertanya lagi, “Tapi, demi Allah, perhiasan itu telah lama ada padaku?”
“Itu sudah menjadi haknya untuk engkau kembalikan,” jawabnya tegas.
Wanita itu berkata, “Semoga Allah merahmatimu, apakah engkau juga tidak mau mengembalikan apa yang telah Allah pinjamkan kepadamu, yang kini sudah Dia ambil darimu, dan Dia memang lebih berhak darimu?”
Laki-laki itu pun tersadar akan kesalahannya selama ini. Allah telah memberikan manfaat dari kata-kata wanita itu. [Al-Muwaththa’ (vol. 2, hlm. 237)] (**)

Saudaraku …,

Hati, sesuai dengan namanya, ia bolak balik, terkadang kuat, terkadang lemah. Kala ia kuat mungkin bisa menerima kenyataan apapun yang menimpa, tapi saat berada pada titik lemah sulit untuk mengkondisikannya. Hanya saja, hati itu kala ditimpa oleh suatu kesulitan, ia cendrung berada pada titik lemah jika tidak ada yang menguatkannya. Disinilah kita diuji bagaimana untuk mampu bertahan dalam kesabaran walau pada titik lemah sekalipun agar ia merangkak naik menjadi kuat.
Diantara ujian itu adalah kehilangan dari apa yang telah dimiliki. Merasa kehilangan sesuatu yang berada dalam genggaman memang sangat meninggalkan sisa-sisa luka yang mendalam. Apalagi sesuatu yang hilang itu sangat dicintai bahkan mempengaruhi pola hidup kita, seperti harta, anak ataupun keluarga. Terlebih kala manfaatnya sangat terasa dan kita masih berada dalam kenikmatan mereguknya lalu lenyap hilang seketika.
Namun semua itu tidak akan terjadi jika kita memahami siapa diri kita sesungguhnya, dari mana segala yang kita miliki, dan untuk apa kita memiliki segala sesuatu. Dengan sedikit merenung, cobalah untuk bertafakur. Saat kita dilepas kealam dunia, apa yang kita bawa? Tidak lebih dari pada membawa diri yang dipundak terkandung beban amanah. Amanah yang harus kita tunaikan sesuai dengan perjanjian kita pada saat Allah swt. berkata: “alastu birabbikum? (bukankah aku ini Tuhanmu?)”, kita jawab,”balaa syahidna (benar, kami menyaksikan) (Q.s. Al-A’raaf : 172). Amanah untuk hanya menghamba pada-Nya. Amanah untuk mengabdikan diri hidup di permukaan bumi dan kelak akan kembali kepada-Nya. Kelak segala amanah itu akan dipertanyakan. Itulah inti tujuan kita diciptakan kepermukaan bumi, hanya untuk mengabdi kepada-Nya, “dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk mengabdi kepada-Ku” (T.Q.S. Adz-Dzaariyaat : 56.). Tidak ada selain itu yang kita bawa. Tapi apa yang kita bawa itu sungguh sangata berat tanggungjawabnya.
Jika memang demikian adanya, lantas segala apa yang kita peroleh, keluarga, anak, harta dan segalanya di permukaan bumi ini dari mana kita dapatkan? Tentu saja dari Allah swt. yang telah memberi kita beban amanah di alam perjanjian. Semua itu kita dapatkan cuma-cuma dan gratis, tidak ada satupun kita yang mampu mengadakannya dengan sendiri. Karena kita diciptakan telah berjanji untuk menunaikan amanah, maka seluruh apa yang diberikan pada kita merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Ia bukan milik kita, tapi suatu titipan yang kelak akan diambil kembali pemiliknya, namun selama ia berada dalam titipan, kita harus menjaganya sesuai dengan amanah tersebut.
Menjaga amanah berupa titipan dalam artian, kita harus mampu menggunakannya untuk apa hal tersebut dititipkan. Disebabkan inti amanah adalah pengabdian, maka setiap perbuatan kita harus untuk pengabdian. Seluruh yang diberikan kepada kita juga harus difungsikan untuk pengabdian. Harta, anak, istri ataupun keluarga haruslah difungsikan untuk mengabdi kepada-Nya. Seperti harta yang dititipkan kepada kita, hendaklah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, mengandung kemashlahatan dan dikeluarkan di jalan Allah swt. Begitu juga dengan keluarga, kecintaan kita kepada mereka hendaklah bermuara pada pengabdian, dalam bentuk menafkahi keluarga dan memberikan pendidikan agama yang benar pada mereka,”quu anfusakum ahliikum naaraa. (peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka)” (Q.S. At-Tahriim : 6).
Ketahuilah … setiap penyimpangan yang kita lakukan terhadap amanah, sungguh kita telah ingkar akan perjanjian, kelak niscaya kita akan mendapatkan ganjarannya, “wa mayya’mal mitsqaala dzarratin syarrayyarah (dan barangsiapa yang berbuat keburukan seberat biji dzarrah, niscaya ia akan melihat balasannya)(Q.s. Az-Zalzalah : 8)
Jika kita menyadari hakikat ini, sungguh ternyata beban amanah itu berat. Secara umum, beban amanah yang dipikul oleh manusia telah ditawarkan kepada yang lain, namun semuanya enggan untuk menerima, karena beratnya amanah tersebut. Manusialah yang bersedia menerimanya.
Oleh karena itu, pahamilah ! Tiada satupun yang menjadi milik kita dipermukaan bumi ini, tapi malah kita dibebankan amanah yang berat terhadap apa yang telah dimiliki. Lantas kala segala yang berada dalam amanah ditarik kembali oleh pemiliknya, pantaskah kita untuk berkeluh kesah, bersedih hati ataupun enggan untuk mengembalikannya? Bukankah yang layak bagi kita bersyukur? Sebab semakin ditarik beban amanah kepada kita semakin berkurang beratnya dipundak? Dan sebaliknya semakin kita berupaya mempertahankannya bukankah kita mempertahankan beban dalam hidup?
Ambillah pelajaran ini, agar hati kita lebih lapang menerima kenyataan kala kehilangan sesuatu. Sebab hilangnya sesuatu yang kita “miliki”, hakikatnya berkurangnya beban amanah kita. Sadarilah ! Apa yang telah hilang dari genggaman kita pertanda kita tidak lagi diberikan amanah untuk mengembannya dan ia telah kembali pada pemiliknya. Apa yang menyebabkan kita tidak senang untuk kembali sesuatu kepada pemiliknya? Dan apakah yang lebih menggembirakan kala beban dipundak menjadi ringan?
Demikianlah kiranya pelajaran penting dari kisah di atas, kala laki-laki dari Bani Israil itu diingatkan oleh sang wanita bahwa kala ia kehilangan istri yang membuat ia berat, sang wanita berkata, “Semoga Allah merahmatimu, apakah engkau juga tidak mau mengembalikan apa yang telah Allah pinjamkan kepadamu, yang kini sudah Dia ambil darimu, dan Dia memang lebih berhak darimu?”.

Jika kita mampu meresapi nilai-nilai luhur ini, niscaya apapun yang menimpa kita dari kehilangan sesuatu yang sangat dicintai, insya Allah kita akan mampu untuk bersabar, dan hati yang bolak balik itu akan kuat dengan daya sabar yang bergelora. Sungguh Allah swt. Maha Sempurna dalam mengatur jalan hidup kita.

Keterangan :
(*) Judul berdasarkan kisah
(**) Lihat kisah tersebut dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, diterjemahkan dari ’Uddah ash-Shâbirîn wa Dzakhîrah asy-Syâkirîn oleh Imam Firdaus, Lc., Q.Dpl dengan judul ‘Uddatush Shâbirîn: Bekal Untuk Orang-Orang yang Sabar (Jakarta: Qisthi Press, 2010), Cet. 1, h. 129   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar