WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 20 Mei 2014

Dialog Seorang Syaikh dari Murrah dengan Bilal Ibn Abi Burdah (*)

Diriwayatkan dalam Jâmi’ at-Tirmidzi, dari seorang syaikh dari Bani Murrah, dia bercerita,
Setibaku di Kufah, aku diberitahukan tentang Bilal ibn Abi Burdah, kemudian aku berkata (dalam hati),”Di dalam dirinya pasti terdapat sesuatu yang bisa dijadikan pelajaran.” Maka aku mendatanginya.
Ternyata dia sedang mengurung dirinya di rumah yang dulu terbangun apik, dan ternyata segala keadaannya telah berubah; tampak padanya seperti bekas siksaan dan pukulan dan dia seperti berada di tempat sampah.
Aku berkata padanya,“Segala puji bagi Allah. Wahai Bilal, Aku dulu pernah melihatmu melintas kami, sementara engkau memegang hidungmu tanpa ada debu menempel padamu, dan kini engkau dalam keadaan seperti ini. Bagaimana kesabaranmu sekarang?”
Dia bertanya,“Dari bani apakah engkau?”
“Dari Bani Murrah ibn Ubbad,” jawabku.
Dia berkata,“Maukah engkau kuberi tahu tentang suatu perkataan, yang bisa jadi Allah memberi manfaat darinya?”
“Katakanlah!” tegasku.
Dia berkata,“Abu Burdah (ayahku) menceritakan kepadaku dari Abu Musa bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda,’Seorang hamba tertimpa suatu musibah, atau yang lebih dari itu atau yang kurang dari itu, hanyalah akibat suatu dosa (yang telah dia perbuat). Dan dosa yang Allah ampuni adalah (karunia yang) lebih banyak (daripada musibah itu)’.” [H.R. Tirmidzi (hadis no. 3252)].
Dia kemudian membacakan firman Allah,“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”(QS. Asy-Syûrâ: 30)(1)

Saudaraku ….

Dalam setiap tindakan kita, tak satupun yang luput dari pantauan dan pengetahuan Allah swt. Boleh saja seluruh makhluk dipermukaan bumi tidak mengetahuinya, bisa saja mereka kita tipu dengan kamuflase yang kita susun secara kamuflase, tapi tidak untuk Allah swt.
Jangan heran jika kita temukan dalam lapangan kehidupan, terdapatnya orang-orang yang aman-aman saja dalam melakukan maksiat dari hukum manusia, bahkan ia semakin langgeng dengan kemaksiatannya tanpa ada satupun hambatan. Tapi apakah ia aman dari hukum Allah swt.? Secara kasat mata mungkin aman, karena tidak tampak hukuman yang menimpanya, namun benarkah demikian? Jika memang, mengapa orang yang kelihatan telah hidup dalam berkecukupan dengan materi, tapi masih lagi menambah dan ingin menambah, bahkan dalam upaya menambah itu ia lalui dengan jalan yang bathil, tanpa lagi mengindahkan halal haram. Apakah keinginan untuk menambah dan menambah itu bukan kegelisahan dan kesusahan hati yang membuat hidup terasa tidak tenang? Apakah semua itu bukan hambatan hidup untuk merasakan nikmatnya kebahagiaan?
Baiklah, penyadaran diri hakikatnya lebih penting. Kita tidak perlu melihat pada orang lain, cukup diri kita dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Dalam menempuh hidup, sering kita menemukan hambatan-hambatan yang sama sekali tidak kita duga, sehingga kita merasa gelisah. Sebagai permisalan, jika kita orang tua, mengapa kala kita memberi nasehat pada anak kita, seakan nasehat kita tak bermakna dalam diri mereka, mereka enggan menerimanya apalagi untuk melaksanakan. Bukankah orang tua adalah sosok yang terdekat dengan anak? Memiliki pertalian batin yang begitu kuat, rasa yang mendalam serta kecintaan yang menggelora? Jangan terlalu cepat memvonis anak kita adalah anak durhaka, anak yang tidak berbakti pada ibu bapak. Bisa jadi hal tersebut adalah akibat dari perbuatan kita yang sama sekali membuat anak-anak kita tidak merasa tertarik dan patuh dengan nasehat kita. Mungkin kita sendiri tidak pernah menunaikan nasehat yang kita ajarkan pada mereka. Kita hanya mampu memberi pandangan-pandangan nasehat pada mereka, sementara kita sendiri tidak begitu yakin jika dibawakan pada diri kita. Sebagai bukti ketidak yakinan kita, kita tidak menunaikannya. Lalu apakah mungkin anak-anak kita akan menerima nasehat dari kita, yang kita sendiri sama sekali tidak pernah menunaikannya?
Bisa jadi ini teguran dari Allah swt. untuk kita, melalui anak-anak kita, bahwa ternyata kita belum pernah melakukan nasehat yang kita yakini. Artinya kita tidak lebih hanya baru mengetahui makna-makna  butiran nasehat tapi belum mengamalkannya. Padahal segala pengetahuan intinya adalah pengamalan. Sehingga melalui cara seperti ini, maka Allah swt. berikan akibatnya melalui anak-anak kita dengan menutup jalan penerimaan mereka untuk menerima nasehat dari kita. Tujuannya agar kita menyadari, ternyata kita selama ini telah lalai akan suatu pengetahuan yang ada dalam diri kita. Segala pengetahuan kita tidak lebih hanya bagaikan perhiasan yang indah dan mempesona, tapi hanya menawan untuk dilihat, tidak membawa manfaat apapun.
Jika kita rujuk pada kisah-kisah orang shaleh nampak sekali kenyataan ini. Seperti kisah Imam Syafi’i yang mengalami musibah akibat dari kesalahan yang ia lakukan :
Suatu ketika Imam Syafi’i duduk di hadapan Imam Malik. Ketika itu Imam Malik terkesima dengan kelebihan yang dimiliki Imam Syafi’i. Lalu Imam Malik berkata, “Allah telah menganugerahkan seberkas cahaya dalam hatimu, maka janganlah sekali-kali kamu memadamkannya dengan kegelapan maksiat.”
Namun pada suatu hari ketika Imam Syafi’i sedang dalam perjalanan menuju rumah gurunya, Waki’ Ibnul Jarah, wasiat Imam Malik tersebut ia langgar. Ia melihat tumit seorang wanita. Seketika itu pulalah hafalannya kacau, padahal ia terkenal mampu menghafal persis seperti yang tertulis, bahkan agar hafalannya tak tercampur, ia meletakkan sebelah tangannya di atas lembaran berikutnya. Imam Waki’ pun kembali mengingatkan Syafi’i terhadap nasihat Imam Malik, yaitu agar ia meninggalkan dosa sebagai obat manjur untuk menguatkan hafalannya.
Kuadukan kepada Waki’
Buruknya hafalanku
Maka ia menasihatiku
agar aku meninggalkan maksiat
Ia juga mengingatkanku
bahwa ilmu adalah cahaya
Dan cahaya Allah takkan diberikan
kepada pelaku maksiat(2)
             
Berangkat dari sini, dapatlah kita pahami, apa yang terkandung dari makna mutiara hadits di atas, ’Seorang hamba tertimpa suatu musibah, atau yang lebih dari itu atau yang kurang dari itu, hanyalah akibat suatu dosa (yang telah dia perbuat). Senada dengan hadits, ayat di atas menjelaskan“apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri …,”.

Saudaraku …

Begitu hebatnya Allah swt. mengatur urusan hamba-Nya, dan begitu besarnya kasih sayang Allah swt. pada kita. Kala kita melakukan kesalahan, Allah swt. memiliki cara tersendiri untuk mengarahkan kita agar kembali pada jalan kebaikan. Kala kita lupa, maka kita diberikan peringatan. Kala kita lalai kita diingatkan dengan cara yang membuat hati kita tertarik untuk keluar dari kelalaian tersebut. Namun ketahuilah …hal ini hanya akan dipahami dengan kelembutan hati, berpangkal dari perasaan jiwa yang benar-benar hendak mendapatkan mutiara hidup yang berharga, niscaya segala pendaran hikmahnya dapat diraup dengan cepat. Tidak bagi hati yang diliputi kesombongan, keangkuhan penuh muatan arogansi, apapun peristiwa yang ditimpakan oleh Allah swt. terhadapnya tidak lebih dari prasangkanya pada Allah swt. dengan prasangka buruk. Menganggap Allah swt. telah zhalim dan aniaya pada dirinya. Inilah yang membuat manusia semakin jauh dari hidayah.
Perhatikan penggalan-penggalan pesan terakhir dari hadits diatas,” Dan dosa yang Allah ampuni adalah (karunia yang) lebih banyak (daripada musibah itu). Begitu juga pada ayat, ”…dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Ketetapan Allah swt. terhadap hamba agar sang hamba menjadi baik lebih tinggi dan kuat dari pada ancaman-Nya pada kita. Renungkanlah !
Adakah keindahan yang melebihi ajaran ini? Adakah ketinggian kearifan yang mampu melangkauinya? Dalam segala apapun ketetapan Allah swt. selalu untuk mengarahkan kita agar menjadi baik dan lurus, sehingga kelak kita akan selamat.
Setelah ini, segala apa yang menimpa kita, apakah musibah, dan segala macam yang menyulitkan kita, layakkah kita untuk berkeluh kesah dan berprasangka buruk pada Allah swt.? Tentu saja yang layak kita semai dalam lubuk hati kita adalah syukur yang tak terhingga karena Allah swt. telah menuntun kita pada jalan yang diridhai-Nya dengan jalan dan cara-Nya yang begitu bijaksana. Sungguh Allah swt. sangat tepat urusannya.

Keterangan :

(1)Lihat Kisah tersebut dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, diterjemahkan dari ‘Uddah ash-Shâbirîn wa Dzakhîrah asy-Syâkirîn oleh Iman Firdaus, Lc., Q.Dpl dengan judul ‘Uddatush Shâbirîn: Bekal Untuk Orang-Orang yang Sabar (Jakarta: Qisthi Press, 2010), Cet. 1, h. 129-130

(2)Lihat kisah tersebut dalam Dr. Khalid Abu Syadih, diterjemahkan dari judul asli Wa Aswataahu Wa In ‘Afauta  oleh Ahmad Ikhwani dengan judul terjemahan Alangkah Buruknya Dosa (Penerbit Gema Insani), h. 13-14


(*) Judul berdasarkan kisah dalam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar