WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Selasa, 20 Mei 2014

Seorang Arab, Sufi dan Singa (*)

Suatu ketika, ada seorang Arab datang bertemu kepada Abu Said Abul Khair. Ia ingin berguru. Abu Said Abul Khair adalah seorang tokoh sufi. Ia terkenal ramah dan gemar mengajar tasawuf di setiap pengajian. Rumah Abu Said Abul Khair, sang guru sufi, terletak di tengah-tengah padang pasir. Ketika orang Arab itu tiba, Abul Khair sedang memimpin majlis semaan (mendengarkan orang membaca doa) di tengah para pengikutnya. Pada waktu itu Abul Khair membaca Al-Fatihah. Ia tiba pada ayat: ghairil maghdhubi alaihim, wa laz zalim. Orang Arab itu berfikir, “Bagaimana mungkin aku boleh berguru kepadanya. Baca Al-Quran saja, ia tidak boleh.”
Orang Arab itu mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair.
Begitu keluar, orang Arab itu dihadang seekor singa padang pasir yang buas. Ia mundur tetapi dibelakangnya ada seekor singa lain yang menghalanginya. Lelaki Arab itu menjerit keras dan takut. Mendengar teriakannya, Abul Khair turun keluar meninggalkan majlis. Ia menatap kedua ekor singa dan menegur, “Bukankah sudah kubilang jangan ganggu para tamuku.” Kedua singa itu lalu bersimpuh di hadapan Abul Khair.
Sang sufi lalu mengelus telinga kedua singa dan menyuruhnya pergi.
“Bagaimana mungkin Anda bisa menaklukkan singa yang begitu liar?” tanya lelaki Arab yang tampak keheranan.
“ Aku sibukkan memperhatikan urusan hatiku. Untuk kesibukanku memperhatikan hati ini, Tuhan menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Sedangkan kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta,” jawab Abul Khair.(**)

Saudaraku …
Dalam kisah-kisah sufi banyak kita temukan hal-hal yang kelihatan ganjil dan tidak masuk akal. Namun adakah kita layak untuk menyatakan hal tersebut hanyalah dongeng belaka, hanya karena tidak masuk akal menurut kita? Apakah setiap yang tidak masuk akal tidak dapat diterima? Apakah akal satu-satunya alat untuk memahami sesuatu? Ketahuilah, akal hanyalah bagian dari diri kita untuk melakukan interaksi kehidupan. Untuk itu jika kita menemukan kisah-kisah sufi, lebih baik kita mengambil nilai-nilai yang terkandung dari pada memperdebatkan masuk akal atau tidak. Sebab memang kenyataannya dalam literatur kesufian, segala sesuatu yang digambarkan terkadang hanya bersifat majazi atau alegoris semata, dan arahnya lebih banyak pada pengajaran nilai.
Dalam tataran kisah di atas, apa yang terlintas dalam pemahaman kita? Ini bukan masalah pembenaran akan bacaan Sang Sufi yang memang salah. Tapi tentang pengajaran gambaran hidup. Bagaimana cara kita memandang hidup. Dari sudut mana kita menyikapi segala apa yang menimpa. Agar kita lebih menggunakan segala potensi dalam diri kita untuk memaknai hidup, bahwa hidup hakikatnya tidak sebatas apa yang kita lihat.
Dalam hidup, kita sering melihat dari kaca mata  lahiriah belaka. Padahal lahiriah umumnya adalah menipu, seperti fatamorgana genangan air ditengah terik mentari yang memperdaya kita. Banyak hal-hal lahiriah yang bersebrangan dengan yang sesungguhnya. Kecendrungan melihat lahiriah inilah yang menyebabkan kita merasa sempit dalam menempuh kehidupan. Hal ini akan terasa kala kita mendapati hidup yang tidak sesuai dengan keinginan. Kesulitan dan kesusahan yang mendera membuat kita resah. Semua itu akibat dari cara kita memandang hidup secara lahiriah.
Ini karena kita tidak mampu melihat melalui kacamata hati, yang mana disanalah bersarangnya segala muara persepsi tentang hidup. Kita tidak bisa memahami bahwa segala kesulitan dan kesusahan adalah bagian dari roda kehidupan yang harus kita tempuh. Ia merupakan bunga-bunga kehidupan yang akan membuat hidup itu lebih berwarna. Kesulitan dan kesusahan merupakan pembeda dalam hidup agar hidup tidak berjalan secara datar dan membosankan. Ia hadir sebagai pengolah keadaan jiwa agar tetap segar dan tidak beku akibat kemenotonan. Bukankah kita bosan dengan keadaan yang tidak berubah-ubah? Disanalah urgensi kesulitan dan kesusahan memainkan perannya.
Tapi akibat dari cara kita yang memandang kesulitan dan kesusahan secara lahiriah, maka yang tampak serta yang kita rasakan hanya beratnya. Muaranya tentu saja keluh kesah dan tidak bisa menerima takdir, mengutuk, mencaci, serta meratapi nasib. Jika telah sampai pada tahap ini, sudah dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Hidup kita akan diliputi kesulitan dan kesusahan yang mendera secara berkepanjangan.
Maka perhatikanlah perkataan Abul Khair, “ Aku sibukkan memperhatikan urusan hatiku. Untuk kesibukanku memperhatikan hati ini, Tuhan menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Sedangkan kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta.” Apa yang kita dapat dari untaian kata ini? Selama kita sibuk dengan urusan lahiriah, maka kita akan ditaklukkan oleh keadaan yang tampak kasat mata. Mengapa demikian? Karena hidup di dunia adalah sesuatu yang nyata dan kasat mata. Kita berada di wilayah tersebut, merasakan kesan dan sentuhannya. Mata kita melihat, telinga kita mendengar, kulit kita dapat meraba apa yang kita saksikan dan kita rasakan di dunia ini. Dengan mendapati ini kita terobsesi akan kenyataan lahiriah. Akibatnya apapun yang menimpa kita, maka kita tanggapi juga secara lahiriah. Jika kita ditimpa kesulitan dan kesusahan akan terasa berat, itulah yang menyebabkan mengapa kita merasa sulit dan resah. Lihatlah kesudahannya, sulit dan resah yang kita rasakan terasa sangat memberati kita, demikianlah yang dimaksud kita takluk dan takut olehnya, seperti perkataan Abul Khair,” … Sedangkan kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta.” Keadaan telah menjadi hantu bagi kita. Artinya kita takut atau merasakan keadaan hidup yang berat mendera sebagai beban yang berat. Sebagai buktinya, kita selalu cemas dan takut kesulitan dan kesusahan menimpa kita. Berbagai cara kita lakukan agar tidak menimpa kita, dan hal itu menyibukkan diri kita untuk hanya melepaskan beban hidup yang menghimpit. Kala kita tidak mampu melakukannya, apalagi yang muncul jika tidak keluh kesah, meratapi nasib, bahkan mengakibatkan hilangnya keadilan Allah swt. dihati kita dalam menetapkan urusan hidup? Na’udzubillaah. Semua itu terjadi karena kita takut dengan apa yang terjadi di permukaan bumi ini, takut dengan alam semesta, kata Abul Khair, sehingga kita dikuasai. Padahal kita hidup di permukaan bumi ini untuk menguasai Alam, bukan untuk dikuasainya.
Untuk itu, belajarlah untuk memandang sesuatu bukan secara lahiriah, lihatlah segala sesuatu itu dengan mata hati, seperti kata Abul Khair, “Aku sibukkan memperhatikan urusan hatiku. Untuk kesibukanku memperhatikan hati ini, Tuhan menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku.” Pemahaman yang dapat kita ambil, kala sesuatu kita lihat bukan berdasarkan lahiriah semata, tapi dengan hati kita, tak kasat mata, maka apapun yang menimpa kita lebih mampu kita pahami sebagai sesuatu yang mengandung manfaat. Kita tidak memandangnya sebagai musuh yang harus ditakuti, malah kita kuasai untuk mengambil pelajaran darinya dengan mengendalikannya secara bijak.
Yang dimaksud melihat dengan hati adalah menyaksikan segala apa yang kita lihat bukan dari kadar yang nampak semata, tapi mengambil nilai-nilai apa yang terkandung dari setiap apa yang kita saksikan. Kita tahu, kala kita mengakui Allah s.w.t. sebagai Tuhan kita, tentunya Allah s.w.t. menjadi sumber kebaikan dan kebenaran. Jika sumber kebaikan dan kebenaran, segala ketetapan-Nya tentulah baik dan benar. Sementara apa yang kita saksikan bersumber dari-Nya, tentu saja hal itu baik dan benar. Maka kala kita menyaksikan suatu hal yang tampak bersebrangan dengan kebaikan dan kebenaran yang berasal dari Allah s.w.t. pasti ada kebaikan dan kebenaran dibalik itu yang tidak kasat mata, hanya lahirnya saja yang tampak bersebrangan. Mengapa demikian? Banyak alasannya, bisa jadi untuk menguji kita sejauhmana kemampuan kita untuk mengetahui rahasia hidup yang misteri agar kita tidak hanya menggunakan alam lahiriah kita tapi menuntut memfungsikan batin kita.
Jika kita korelasikan dalam memaknai kesulitan dan kesusahan hidup, saat kita telah mampu melihat dengan mata hati bukan dengan lahiriah, maka saksikanlah seberat dan sebanyak apapun kesulitan dan kesusahan hidup akan mampu kita maknai secara bijak. Pasti ada kebaikan dan kebenaran yang hendak Allah s.w.t. tetapkan dalam urusan tersebut. Kala kita telah sampai pada puncak ini, masihkah memiliki peran segala keluh kesah, meratapi nasib hingga menganggap hidup tidak adil? Ooo… tidak, malah kita merasakan kelapangan hidup dalam kesempitan, malah kita merasakan anugrah lain dalam kesusahan yang menderanya. Yang tampak sekali kesulitan dan kesusahan hidup kala kita maknai dengan hati, dengan kita pahami ada kebaikan dan kebenaran di dalamnya, akan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah s.w.t. dan keyakinan kita kepada Allah s.w.t. akan kokoh. Tidak ada lagi ketakutan dengan apapun  yang mendera dalam hidup, sebab kita telah menguasainya. Demikianlah cara Allah s.w.t. mencintai hamba-Nya agar sang hamba itu juga mencintai-Nya sepenuhnya.

Inilah pembelajaran dari sebagian kecil dari kisah sufi yang dapat kita jadikan pelajaran dalam hidup yang penuh tantangan dan gelombang. Sungguh semua itu hanya dapat dipahami bagi kita yang bersedia menggunakan mata hati.

Keterangan :

(*) Judul berdasarkan Kisah
(**)Lihat kisah ini dalam Fienso  F.A & Endang Agustina, 97 Kisah Sufi, dalam bahasan Alam Semesta pun Takluk dengan Kekasih Tuhan (Jakarta: Edsa Mahkota, 2006), Cet. 1, h.  4-6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar