WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Rabu, 06 Agustus 2014

Wasiat Untuk Remaja Islam (10) : Carilah Pasangan Hidup Yang Mengokohkanmu di Jalan Iman

Saudaraku …

Jangan kau mencari-cari alasan, bahwa kau memilih orang yang jelek akhlaknya sebagai pasangan hidupmu dengan tujuan memperbaiki akhlaknya.  Sesungguhnya hal itu hanyalah alasanmu untuk mencapai keinginan syahwatmu yang lebih memandang seseorang itu berdasarkan nafsu belaka.

Pentingnya memilih pasangan merupakan kebutuhan akan tumbuhnya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Muaranya akan lahir generasi yang shaleh. Berlanjut keturunan yang shaleh. Dan ketahuilah …semua itu bermula dari kemampuan memilih pasangan hidup.

Memilih pasangan yang mengokohkanmu di jalan iman, demikianlah yang harus kau lakukan. Tentunya yang kau cari adalah pasangan yang selalu berupaya mengokohkan imannya. Karena tidak mungkin ia akan mengokohkanmu jika ia sendiri tidak berupaya mengokoh imannya.

Bersatunya ikatan hati dalam pernikahan suci, terbentuknya sebuah keluarga merupakan sunnah Rasulullah saw., maka tanamkanlah nawaitumu untuk membangun keluarga dengan tujuan mengamalkan sunnah. Bagaimana sunnah mengajarkan untuk mencari pasangan, demikianlah hendaknya kau tunaikan.

Sudah jelas bahwa yang paling mulia dari segalanya adalah memilih pasangan berdasarkan agamanya. Berdasarkan agama tentu saja yang beriman. Dengan iman itulah ia akan mengokohkanmu.

Tak terlalu rumit untuk mengetahui seseorang itu beriman atau tidak, saksikan perilaku kesehariannya, karena iman itu nampak dari perilaku. Jika bertentangan dengan ketetapan syari’at, akhlakul karimah, dan segala rambu-rambu yang telah digariskan syara’, sungguh ia tidak beriman.

Waspadalah ! 

Tidak ada jaminan, seseorang yang tampak bagimu rajin datang ke masjid, atau melakukan gerakan shalat lantas ia disebut orang beriman. Dan tidak dijamin pula seseorang yang tampak menggunakan pakaian yang menunjukkan keshalehan seperti perempuan yang menggunakan jilbab lalu ia menjadi orang shaleh.

Bukti iman dan keshalehan terpatri dari akhlak yang tercermin dari kesehariannya. Jika kau hendak mengetahui akidah seseorang, benar atau tidak, maka saksikanlah pandangannya terhadap syari’at, apakah dia patuh, ketakutannya akan maksiat apakah benar-benar ia tinggalkan, cara dia menyikapi permasalahan hidup, kemana ia menggantungkan urusan.

Engkau bisa menyaksikan dari keluh kesahnya, sikapnya, serta bentuk perilakunya. Jika ia orang yang sering mengeluh, sungguh ia hakikatnya bukanlah orang yang beriman dengan sebenar-benar beriman. Jika ia tampak bagimu menutup aurat tapi perilakunya tidak mencerminkan dari pakaian yang ia pakai, sungguh imannya perlu dipertanyakan. Jika ia tampak bagimu seakan seperti ahli ibadah, rajin shalat, rajin puasa sunnah, tapi perilakunya tidak lepas dari menyakiti orang lain, menyebut kejelekan saudaranya dan lain sebagainya, lantas dimana imannya ?

Selektiflah ! 

Engkau harus mampu memilah dan memilih, istikharah penting bagimu. Jangan kau terjebak dalam bisikan-bisikan syetan untuk menyegerakan pernikahan lalu kau dengan serampangan mencari pasangan dengan alasan umurmu telah terlalu lewat dan terlambat untuk menikah, sehingga kau terlalu ceroboh dan tergesa-gesa untuk menyegerakannya.

Memang menyegerakan pernikahan itu penting, sebab penyegeraan itu akan menjagamu dari bencana yang besar. Tapi jika kau ceroboh, bencana lebih besarpun akan menimpamu.

Memang tidak ada manusia yang sempurna, dengan pernikahanlah kesempurnaan akan diperoleh, karena adanya saling mengisi kekurangan. Tapi ini bukan berarti engkau harus memilih pasanganmu yang lemah kesempurnaannya. Kau harus berupaya mencari titik-titik yang dapat mencapai kesempurnaan itu.

Dan titik itu, itulah yang mengokohkan iman. Ini juga bukan berarti kau harus mencari pasangan yang telah sempurna keimanannya, sebab itu kemungkinan besar tidak mungkin kau temukan, walaupun tetap saja mungkin. Tapi yang dimaksud, carilah pasangan yang dapat mengokohkanmu di jalan iman. Keberadaannya bukan melemahkan imanmu, tapi semakin membuat ghirahmu semakin menggebubu untuk mencapai kesempurnaan iman. Semua itu tidak akan kau dapat jika kau tidak selektif, dan tidak akan kau temukan jika kau sendiri tidak paham dengan makna iman itu sendiri.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Beginilah Jama'ah Mendidik Kita

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai …”
(T.Q.S. Ali Imran : 103)

Jama’ah, itulah yang membuat kita tegar. Jama’ah, disanalah kekuatan jiwa tertempa. Dan Jama’ah, disana mekar taman-taman cinta penuh gelora ukhuwah. Karena dalam jama’ah kita bertemu banyak orang, bukan sembarang orang, tapi kumpulan orang yang memiliki komitmen dalam satu nawaitu yang begitu dahsyat, sama-sama mencari ridha Allah swt. Disanalah jiwa yang asing mendapat keramaian, kegalauan pupus dihembus angin saling mengingatkan, kefuturan luluh lantak dalam semangat ukhuwah, dan iman yang menurun secara cepat menanjak naik dengan lesatan yang begitu memukau. Itulah jama’ah, disanalah keutamaannya.
Dalam pergerakan Islam ataupun membangun kekuatan dan tataran nilai-nilai Islami, jama’ah merupakan suatu keharusan, ia menjadi pemicu bangkitnya semangat untuk bergerak. Jangan kita mengira apa yang kita lakukan akan mampu menyelesaikan perkara dengan dalamnya ilmu kita tanpa adanya kekuatan jama’ah. Mungkin saja ilmu kita luas dan pemahaman kita mumpuni dalam hal materi dakwah ataupun pergerakan, tapi itu bukan berarti kita bisa bergerak sendiri tanpa adanya jama’ah.
Apakah kita lupa, bahwa terkadang semangat itu terkadang naik dan terkadang datar, malah terkadang menurun. Kala ia menurun maka jama’ahlah yang menguatkannya. Pertemuan dengan saudara dalam jama’ah bagaikan amunisi yang kembali menghidupkan ghirah. Tahukah kita segala kekurangan diri hanya akan dapat ditambal oleh jama’ah. Artinya bisa saja kita memiliki banyak kemampuan, tapi ada yang tidak kita miliki, namun dimiliki anggota jama’ah, maka jama’ahlah yang akan menyempurnakannya. Yang perlu diingat  tak ada kita yang sempurna, kesempurnaan hanya akan terbentuk dengan menyatukan serpihan-serpihan yang terserak-serak hingga membentuk satu kesatuan, jama’ah adalah wadahnya.
Kesadaran inilah yang membuat kita merasa butuh dengan jama’ah, membuat kita merasa memiliki, membuat kita merasa bahwa hidup bukanlah sendiri. Hingga hal tersebut menumbuhkan suatu rasa bahwa hidup berjama’ah merupakan suatu keharusan.
Maka perhatikanlah bagaimana Islam menanamkan indahnya konsep jama’ah dalam shalat berjama’ah. Mulai dari fadhilah yang menjanjikan dua puluh derajat nilainya dibandingkan shalat sendirian, hingga nilai-nilai penerapannya. Jama’ah yang dibangun dengan satu kepemimpinan, dan dilarang membentuk jama’ah tandingan dalam waktu dan tempat yang bersamaan suatu isyarat bahwa kita harus bersatu dalam satu komando kepemimpinan. Kepatuhan akan pemimpin menjadi syarat diterima shalatnya berjama’ah, tak dibenarkan mendahului imam (pemimpin) walau sekecil apapun bentuk tindakannya, ancamannya, siapa yang melanggar kelak diakhirat akan dibangkitkan kepalanya diganti dengan himar. Aduhai …apakah gambaran binatang yang lebih bodoh dari pada himar?
Dalam jama’ah, kita dibina saling mengingatkan, dan saling menghargai. Bukankah kala sang imam (pemimpin) salah, menjadi keharusan bagi ma’mum untuk meluruskannya. Ini berarti orang atau sosok yang kita didahulukan dan yang memimpin sekalipun ada kemungkinan melakukan kesalahan, dan walaupun ia pemimpin jika salah tetap salah, harus diluruskan. Subhaanallaah ! Begitu dahsyatnya jama’ah.
Adakah yang melebihi seseorang dalam shalat berjama’ah? Ya, ketaqwaannnya dan kefahamannya akan agama, maka yang lebih itu berhak menjadi imam. Demikianlan jama’ah mengajarkan bahwa seseorang yang layak dimuliakan hanyalah berdasarkan ketaqwaannya dan kefahamannya akan agama, bukan berdasarkan kekayaan atau keindahan fisik. Dan lihatlah pancaran shalat jama’ah itu dalam shaf-shaf para makmum yang mengikuti imam. Bagaikan pasukan yang tersusun rapi dalam satu komando yang teratur, tak ada yang saling mendahului, sama-sama terikat dengan arahan sang imam. Bahu mereka saling bersentuhan, serentak rukuk dan sujud, mereka berlomba berebut shaf terdepan, semuanya punya hak mendapatkan keutamaan, tak ada yang harus didahulukan karena kedudukannya di dunia.

Sungguh…, demikianlah jama’ah, yang membuat hati lapang bersamanya, membuat jiwa terbang kealam keindahan  penuh pesona, alam yang membuat kita merasa hidup terasa indah. Alam yang memupus strata sosial, mengikis keangkuhan pribadi dan arogansi jiwa. Alam yang menyatukan hati untuk tunduk pada satu poros pengabdian hanya untuk Allah swt. Beruntunglah orang-orang  yang mengambil keutamaan jama’ah, dan  kerugian besar akan menimpa orang-orang yang memisahkan diri dari jama’ah. 

Refleksi Tentang Persatuan Kita (Hikmah Untaian Kalimat Ust. M. Anis Matta) (*)

Dalam “Arsitek Peradaban: Kumpulan Esai Penggugah Jiwa”, merupakan kumpulan pemikiran-pemikiran Ust. M. Anis Matta yang memang menggugah jiwa, ada hal menarik yang beliau suguhkan tentang persatuan(**). Sebagai refleksi bagi kita untuk lebih memahami persatuan bukan sekedar keterikatan semata, kita coba mengurai dan mengambil beberapa nilai-nilai tersebut dengan harapan mampu menggugah dan meletakkan makna persatuan pada etalase kehidupan yang sesungguhnya, agar keberagaman kita dalam membangun umat lebih memiliki suatu kesamaan persepsi dan lebih menjuruskan langkah mewujudkan persatuan umat yang didambakan.

Diantara ungkapan beliau :

“Tingkatan ukhuwwah (marâbitul ukhuwwah) yang disebut Rasulullah saw., mulai dari salâmatus shadr hingga îtsar, semuanya mengacu pada suasana jiwa. Jiwa yang dapat bersatu adalah jiwa yang memiliki watak ‘permadani’. Ia dapat diduduki oleh yang kecil dan besar, alim dan awam, remaja dan dewasa. Ia adalah jiwa yang besar, yang dapat ‘merangkul’ dan ‘menerima’ semua jenis watak manusia. Ia adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, merawat, mengembangkan, membahagiakan, dan mencintai.”(h. 64)

Watak ‘permadani’, demikian beliau mengibaratkan jiwa yang mampu untuk bersatu. Permadani sebagaimana yang kita pahami, suatu hal yang menarik, indah penuh warna-warni dengan segala pernak-pernik hiasan memukau, walau mungkin saja terdapat yang polos, namun tetap indah. Permadani bagi siapa saja memiliki kebebasan untuk mendudukinya, dalam artian ia tak pandang siapa yang layak berada di atasnya, mampu  menerima tanpa “seleksi”.

Inilah mungkin yang hendak ditawarkan beliau. Persatuan hanya akan terwujud kala dalam diri kita berkembang watak yang tidak memandang sesuatu berdasarkan kelebihan diri dan semua orang harus mengikuti apa yang menjadi keinginan ataupun pemikiran kita. Tapi hendaknya kita mencoba menerima apa yang menjadi pemikiran ataupun kehendak orang lain walaupun bisa jadi dalam waktu tertentu bersebrangan dengan keinginan diri kita. Kita mencoba untuk menerima dengan lapang dada dan meletakkan segala hal dalam bingkai husnudzan (berprasangka baik) , mungkin itulah yang terbaik. Sehingga yang kita suguhkan, seperti kata beliau, “ Ia adalah jiwa yang besar, yang dapat ‘merangkul’ dan ‘menerima’ semua jenis watak manusia. Ia adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, merawat, mengembangkan, membahagiakan, dan mencintai” (h. 64)

Selanjutnya, beliau mengungkapkan :

“Jiwa seperti itu sepenuhnya terbebas dari mimpi buruk ‘kemahahebatan’, ‘keserbabisaan’. Ia juga terbebas dari ketidakmampuan untuk menghargai, menilai, dan mengetahui segi-segi positif dari karya dan kepribadian orang lain” (h.64).

Selanjutnya:

“Jiwa seperti itu sepenuhnya merdeka dari ‘narsisme’ individu atau kelompok. Maksudnya bahwa ia tidak mengukur kebaikan orang lain dari kadar manfaat yang ia peroleh dari orang itu. Tapi ia lebih melihat manfaat apa yang ia dapat berikan kepada orang tersebut. Ia juga tidak mengukur kebenaran atau keberhasilan seseorang atau kelompok berdasarkan apa yang ia ‘inginkan’ dari orang atau kelompok tersebut”(h.64).

Ya, rasa saling menghargai, menghormati, dan selalu meletakkan kedudukan saudara  seiman dalam bingkai kecintaan pada dirilah persatuan akan terwujud. Sehingga tak akan muncul merasa diri lebih dari segalanya, yang ada saling berlomba dalam kebenaran, dan saling bahu membahu untuk sama-sama mencapai derajat tersebut tanpa harus saling menjatuhkan dan menyalahkan. Sebab yang terpatri dalam jiwa hanyalah keinginan untuk memberi dan bermanfaat untuk umat, bukan untuk menonjolkan diri dan merasa diri telah berperan, apalagi memaksakan kehendak diri untuk diikuti.

Indah sekali beliau menggambarkan   figur contoh keteladanan sahabat Rasulullah saw. yang telah mewujudkannya :

“Umar bin Khattab, mungkin merupakan contoh dari sahabat Rasulullah saw. yang dapat memadukan hampir semua prestasi puncak dalam bidang ruhiyah, jihad, qiyadah, akhlak, dan lainnya. Tapi semua kehebatan itu sama sekali tidak menghalangi beliau untuk berambisi menjadi sehelai rambut dalam dada Abu Bakar. Sebuah wujud keterlepasan penuh dari mimpi buruk ‘kemahahebatan’ ” (h. 65).

Subhaanallaah ! Demikianlah Umar bin Khattab sebagai figur contoh dalam memaknai persatuan, walaupun bisa saja ia merasa lebih dari Abu Bakar dalam banyak hal, tapi ia sama sekali tidak menjadikan tolok ukur bagi dirinya untuk merasa lebih dari pada Abu Bakar. Dalam ungkapan Ust. M. Anis Matta “Sebuah wujud keterlepasan penuh dari mimpi buruk ‘kemahahebatan’ ”.

Untuk kita, yang bercita-cita dan punya keinginan untuk mewujudkan persatuan, dalam pergerakan kita yang bermacam-macam bentuk dan metode yang tentunya persatuan suatu hal yang didambakan, mari kita bertanya kepada relung hati kita yang terdalam, bagi kita yang merasa kala kebenaran menurut kita yang kita perjuangkan seakan tidak mendapatkan dukungan, dan kala kita merasa resah melihat perjuangan saudara kita yang lain yang mungkin tidak sejalan dengan ide perjuangan kita dan kita anggap suatu perjuangan yang tidak benar.  Renungannya adalah : Apakah benar perjuangan yang kita tempuh benar dan perjuangan yang ditempuh orang lain salah? Pertanyaannya : Apakah yang telah kita pahami, rasakan dan amalkan telah mampu menandingi kalibernya Umar bin Khattab seperti kata Ust. M. Anis Matta : “...Tapi semua kehebatan itu sama sekali tidak menghalangi beliau untuk berambisi menjadi sehelai rambut dalam dada Abu Bakar…”?. Renungkanlah ! Semoga hati kita disatukan dalam derap-derap ukhuwah bersama bingkai persatuan Islam yang hakiki, hingga tak satupun yang dapat menghantamnya, apalagi hanya sekedar menggerus.
___

(*) Ulasan ini hanya berdasarkan yang Ana pahami, hakikat makna yang sebenarnya dikembalikan kepada penulisnya : Ust. M. Anis Matta 

(**) Lihat : M. Anis Matta, Arsitek Peradaban: Kumpulan Esai Penggugah Jiwa, Editor : Deka Kurniawan (Jakarta: Fitrah Rabbani, 2007). Cet. II.

NB : Mohon maaf jika terdapat kesalahan petikan atau penulisan.

Refleksi Tentang Ukhuwah Kita

Aku sangat yakin dengan kekuatan ukhuwah. Ukhuwah itu tak dapat dibayar dengan materi sebesar apapun. Satu hal, ia hanya akan  terwujud kala kesatuan hati terbina melalui suatu proses yang bukan dibangun atas kamuflase atau “atas nama kepentingan”, tapi dibangun  atas kesamaan pandangan, tujuan dan cita-cita. Disanalah manifestasi ukhuwah itu mengakar hingga melahirkan pohon yang kokoh, bercabang, berdaun hingga berbuah ranum, lezat sekali hasilnya.
Terkadang …, apa yang kita rasakan dari ukhuwah malah melebihi dari pada apa yang kita pahami. Bisa saja kita memahami konsep-konsep ukhuwah sebagai suatu persaudaraan yang kokoh. Yang mana dalam konsepnya ia berwujud dalam bentuk saling mencintai dan merasakan hidup dalam satuan perasaan yang saling mengikat. Namun selama konsep itu hanya berada dalam tataran ilmiah dan pembicaraan-pembicaraan belaka, maka ia tak lebih dari pada pelajaran-pelajaran dalam lembaran ilmu yang kering dari rasa dan nilai. Sebab rasa dan nilai itu bukanlah teori,  tapi menghunjam ke dalam hati sanubari dan mempengaruhi pola tingkah laku serta cara pandang. Demikianlah ukhuwah, kedahsyatannya akan nampak dan kewibawaannya membumbung tinggi kala ia telah menjadi bagian dari perilaku hidup, dirasakan, bukan sekedar dipahami. Inilah yang aku maksud, terkadang apa yang kita rasakan dari ukhuwah melebihi dari apa yang kita pahami.
Ukhuwah kala telah terwujud,  mampu membentuk jiwa untuk lebih menyadari bahwa hidup adalah suatu jama’ah, ia saling mengikat dan saling menguatkan antara satu sama lain. Disanalah kegembiraan hati akan bersemi dalam taman-taman keindahan. Hati yang gersang akan disirami cahaya cinta yang penuh gelora, ia akan selalu dibangkitkan  oleh kehadiran hati yang lain, walaupun hanya sekedar untuk memandang wajahnya. Siraman cahaya ukhuwah itulah yang menggerakkannya, sehingga hanya dengan melihat wajah saudara se-Iman telah mampu membangkitkan hati yang terkapar  tak berdaya, hanya dengan seulas senyuman dari saudara se-Iman mampu menjadi alat penggerak untuk bangkit dari keterpurukan. Mengapa? Karena saudara se-Iman adalah alarm pengingat akan makna iman itu sendiri, makna perjuangan akan iman, dan makna bahwa imanlah yang mengantarkan kita pada derajat ketinggian. Sebab iman kita diantaranya terbentuk dan mengurai dalam lingkup-lingkup proses tarbiyah jama’ah orang-orang beriman. Kita sama-sama belajar tentang iman, kita sama-sama berjuang untuk iman, dan satu hal iman itulah yang mengikat kita, sehingga ia menjadi suatu ukhuwah. Demikianlah hebatnya Allah swt menggambarkan ukhuwah dalam surat al-Hujuraat ayat 10 : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”.
Apa yang pertama dilakukan Rasulullah saw terhadap orang beriman kala hijrah ke Yastrib yang akhirnya bernama Madinah? Ya, ukhuwah, mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar. Menyatukan hati orang-orang beriman. Menanamkan pada mereka bahwa mereka satu kesatuan dalam panji-panji iman.  Kesudahannya, terbentuklah kekokohan iman dalam persatuan yang berpijak pada permadani ukhuwah. Terbentuklah suatu kekuatan besar dalam derap-derap langkah yang teratur. Hingga perang diizinkan dan pasukan dimobilisasi, kala musuh hendak menyerang, maka yang ada adalah keberanian, yang muncul adalah perlawanan, yang bersemi dalam jiwa adalah tekad serta semangat yang membara untuk mempertahankan keimanan. Sebab hati itu telah kuat, jiwa itu saling mengokohkan, perasaan itu punya kekuatan besar. Apa yang membuat ragu? Apa yang membuat takut? Apa yang membuat lemah? Kala ia telah dikokohkan oleh iman, kala ia telah diikat kesatuan ukhuwah yang membentuk kekuatan besar, laksana benteng kokoh yang takkan jangankan roboh bergoyangpun tidak?

Demikianlah dahsyatnya ukhuwah. Pertanyaannya, sejauhmana ukhuwah kita hari ini? Dimana nilai-nilai persaudaraan itu kita sandang? Ditengah zaman dan kondisi umat Islam dibeberapa belahan bumi ini tercabik-cabik? Mengapa harus ada saudara-saudara kita yang terzhalimi  dengan kezhaliman yang berkepanjangan, seakan tak ada pembelaan? 

Renungan Hujan : Antara Rahmat dan Malapetaka

Hujan, rahmat yang memiliki warna warni inspirasi bagi kehidupan insan. Ia datang tak bisa diukur, raibnya tak terkendali. Terkadang kala diharapkan ia enggan untuk sekedar memenuhi harapan tersebut, tapi kala tak dibutuhkan tiba-tiba muncul tanpa aba-aba. Kehadirannya menyentuh kalbu, bisa memebuat hati yang beku kala ditimpa kegalauan, tapi menjadi keindahan berpendar penuh kilauan bagi jiwa yang rindu akan kehadirannya. Ia membasahi jiwa-jiwa yang kering kerontang. Itulah hujan.
Luar biasa hujan dengan sifat kedatangannya yang misteri. Bisa saja manusia dengan pengetahuannya memprediksi kapan ia turun, tapi tak lebih dari perkiraan semata. Dan kala ia bersentuhan dengan taqdir Allah swt., maka perkiraan itu sirna laksana debu ditiup angin, sama sekali perkiraan itu jauh panggang dari api. Disanalah misterinya hujan. Kalau dalam musim-musim, ditentukan bulan ini musim hujan, tapi mengapa ada istilah kemarau panjang? Bukankah ia telah melindas musim-musim bulan datangnya hujan? Kalau ada yang mengira gumpalan awan hitam dilangit sedang menari-nari pertanda hujan akan turun, diiringi kilat menyambar-nyambar disahut dentuman gemuruh petir menandakan akan lebatnya hujan mengguyuri bumi? Mengapa dengan sekejap ia bisa saja hilang, dan langit kembali cerah? Hujan tidak turun. Sementara disisi lain, dalam kondisi langit cerah, panasnya mentari membakar bumi, tiba-tiba air hujan  membasahi bumi. Itulah hujan. Hujan begitu misteri.
Setiap kita butuh hujan, baik pada wilayah yang memang menggantungkan hidup pada curah hujan, termasuk pada wilayah yang berada di wilayah yang airnya melimpah. Untuk yang kedua ini, perlu menjadi renungan lebih lanjut, pada wilayah yang airnya melimpah seperti danau, rawa , sungai ataupun laut, mengapa penduduk yang hidup disekitarnya tetap berharap pada hujan? Sebab kelebihan limpahan air yang disediakan alam untuk mereka sama sekali tidak menutup kebutuhan mereka pada hujan. Bagaimanapun hujan tetap sebagai sumber kehidupan yang fundamental.
Ini artinya, hujan memiliki multifungsi yang tidak bisa diwakilkan. Boleh saja wilayah berair bangga dengan keberadaan airnya yang melimpah, namun sampai kapan ia akan bertahan jika hujan enggan menyambanginya. Bukankah musim panas yang berkepanjangan akan mengakibatkan keberadaan air menjadi susut dan jika tidak disuplai dengan air yang baru ia akan habis? Dan hujanlah penyuplai itu. Tanpa hujan sumur-sumur akan kering, air danau akan menguap tanpa tambahan, sungaipun berpotensi untuk kering, apalagi telaga. Jadi apa yang dibanggakan dari semua itu tanpa hujan?
Jelas sudah, hujan adalah kebutuhan vital, ia datang dan pergi menjalankan takdirnya, dan ia telah memberi cahaya kehidupan pada makhluk hidup dengan guyuran airnya yang membagi rata rezki makhluk dipermukaan bumi. Setiap kita akan rindu dengan hujan, dan kita berharap hujan akan selalu ada dalam kehidupan kita.
Namun pertanyaanya. Mengapa hujan terkadang menjadi musibah bagi kita? Ia datang bagaikan bala tentara musuh yang hendak mencabik-cabik kehidupan kita.  Dengan guyurannya yang besar, deras dan membahana, membuat air sungai meluap, menghantam pemukiman penduduk hingga menutup akses jalan, bahkan merusak jalanan sebagai jalur transportasi. Kota besar menjadi danau ataupun sungai, akibat ulahnya yang mengirim banjir besar. Kampung-kampung binasa akibat tanah longsor yang selalu dikikisnya. Sebelum dijawab mengapa hujan terkadang menjadi musibah bagi kita, mari kita beri pertanyaan selanjutnya, benarkah semua ini akibat ulah hujan? Hujan memang misteri, tapi untuk pertanyaan yang terakhir ini, ini bukanlah sebuah kemisterian hujan, sebab pertanyaan  ini berada pada ranah sebab akibat. Hanya saja, sebelum kita memvonis hujan sebagai penyebab dan melahirkan akibat, marilah kita mengaca apa yang telah kita buat dipermukaan bumi ini, sehingga hujan yang merupakan rahmat dari Allah swt., tapi akibatnya seakan menjadi malapetaka bagi kita. Apakah rahmat itu mengandung malapetaka? Atau kita yang tidak mampu memahami rahmat sehingga kita lebih memilih malapetaka?

Yang jelas hujan tetap hujan, ia datang menjadi rahmat. Lalu kala ia kita rasakan sebagai malapetaka, mengapa semua ini terjadi? Bertanyalah pada nurani dan apa yang telah kita buat. Jangan tanyakan pada hujan, karena hujan tak butuh untuk menjawab pertanyaan kita. Jawablah dengan nurani kita. Satu hal, dalam Islam kita diajarkan, jika hujan tak kunjung turun, agar kita melaksanakan shalat istisqa’, shalat minta hujan, dengan menundukkan kepala penuh permohonan, keinsyafan diri akan segala apa yang dilakukan. Renungkanlah ! Sungguh semuanya memiliki serpihan-serpihan makna, agar kita lebih menyadari bahwa segala apa yang terjadi tak ada yang luput dari pantauan Allah swt. 

Watak Generasi Tukang Sorak


Siapa yang tidak kenal dengan anjing? Binatang yang tergolong mengidap najis berat. Apabila air liurnya menyentuh kita, maka haruslah dicuci tujuh kali dengan air dan satunya dicampur dengan tanah, barulah najis itu dikategorikan hilang.
Dalam interaksi keseharian, istilah penggunaan kata anjing adalah kata-kata kotor yang di sandarkan kepada seseorang yang dianggap menjijikkan. Ia merupakan kosakata yang tidak mengandung pendidikan, dan sedapat mungkin hendaknya dihindari dalam tulisan-tulisan ilmiah atau pembicaraan agar istilah ini sama-sama dianggap tabu dan tidak boleh dikembangkan karena mengandung mudharat.
Sungguh, jika kita mencoba melihat kenyataan, perilaku yang ditonjolkan anjing diantaranya memang perilaku yang menjijikkan, parahnya lagi perilaku tersebut  kemungkinan saja diwarisi oleh sosok manusia. Itulah manusia-manusia yang berwatak anjing, perilakunya perilaku anjing, dan sikapnya, sikapnya anjing.
Bagaimanakah watak anjing ini? Perhatikanlah ! Yang paling santer anjing suka menggonggong tak karuan, menyalak setiap orang yang lewat di depan mereka. Seakan hendak menyerang, tapi itu hanya gertak belaka.  Menyalak dari kejauhan, biasanya  dekat kandang dengan cara ramai-ramai, seakan-akan untuk menumbuhkan rasa takut bagi yang disalak. Jika mereka melihat yang disalak ketakutan dan menunjukkan gelagat hendak melarikan diri, maka anjing itu akan semakin berani dan mulai menampakkan ancar-ancar hendak menyerang, sok jagoan. Tapi, jika yang disalak seakan tidak peduli, acuh tak acuh saja, anjing tersebut tetap berdiri di tempatnya dengan terus menyalak, ia tak hendak menunjukkan gelagat menyerang, karena bisa jadi sangat tidak percaya diri dengan salakannya. Parahnya, jika yang disalak menunjukkan gelagat hendak melawan, seperti seseorang yang menunjukkan hendak mengambil batu untuk melempari, maka anjing itu dengan terbirit-birit akan lari ketakutan, padahal belum tentu benar-benar hendak dilempar, baru sebatas menunduk belaka, pengecut. Itulah watak yang ditonjolkan anjing, sok jaogoan, tukang sorak, dan pengecut.
Pertanyaanya ? Adakah manusia yang berwatak seperti ini ? Kalau ada, inilah ciri dari sosok manusia atau kelompok yang hanya berani dengan komentar penuh sorak, kala komentarnya menampakkan pengaruh dan membuat orang lain terpedaya, ia semakin memperkuat komentarnya dan semakin berani dengan komentarnya. Namun kala komentarnya tak dipedulikan orang, ia sendiripun tidak mampu memperjuangkan kekuatan komentarnya untuk dapat diterima orang lain, maka tinggallah ia dengan komentarnya belaka, tukang sorak, anehnya ia tetap saja komentar tak karuan walau telah ditinggalkan orang. Parahnya, kala ia diserang orang, dibantah dan digertak, ia menjadi kecut, tak berdaya, dan berupaya mencari helah untuk menyelamatkan diri. Intinya ia tak pernah berbuat, ia hanya mampu berkomentar, tukang sorak, dan berharap orang mengikuti keinginannya. Mereka berharap kala orang telah mengikuti keinginan mereka, barulah mereka bergerak. Tapi jika belum, mereka lebih senang menjadi tukang sorak, tukang komentar, dan jika dituntut untuk mewujudkan komentar mereka dan membuktikan, palingan mereka akan jawab dengan alasan klise, “belum saatnya”.
Mereka mengira dengan komentar mereka itu akan dapat mengubah keadaan, seperti anjing yang mengira dengan salakannya itu membuat semua yang ada di depannya takut. Padahal salakannya tersebut lebih menunjukkan kebodohan dirinya bahwa dirinya adalah pengecut, sebab salakan itu hanyalah alat untuk menakut-nakuti. Demikianlah ahli komentar yang mengira dengan komentar mereka itu akan merubah keadaan, padahal tidak lebih menunjukkan mereka hanya tukang sorak. Dan mereka hanyalah sosok lemah yang tidak berdaya. Berlindung dari ketajaman lidah yang sama sekali membinasakan dirinya sendiri. Menyembunyikan watak diri yang suka mengomentari tapi enggan untuk bergerak, pengecut.

Adakah dalam sejarah orang-orang yang banyak omong, tukang komentar mampu mengubah dunia? Apakah mereka mengira dengan sorak tersebut dapat membangkitkan semangat untuk bangkit dari keterpurukan? Sama sekali tidak. Segala sesuatu hanya akan terbangun dengan kerja keras dan kerja nyata, dimulai dari apa yang bisa dilakukan, lalu memperjuangkannya. Bukannya komentar dengan sorak, tapi tak pernah berbuat apa-apa. Ibarat anjing yang  hanya menakut-nakuti dengan salakan, kala yang disalak tak peduli, maka salakan itu tinggal senandung hina dan lebih layak dicampakkan pada tong sampah, disebabkan sama sekali tak mendatangkan manfaat.

Jumat, 01 Agustus 2014

Pelajaran Ilmu Hadits : Apa Yang Dimaksud Hadits Hasan ?

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Haaa….iii ! Kaifa haluk ???

Semoga tetap semangat belajar tentang Islam, termasuk yang hendak kita bahas pada bagian ini tentang HADITS HASAN. Wooo…w pelajaran anak PK memang luar biasa. Kita belajar tentang hakikat ilmu yang sesungguhnya, ilmu yang akan membuat bangga orang kita kala kita menguasainya, ilmu yang membuat ditinggikan derajat kita dan membuat kita mulia di dunia maupun di akhirat.

Sebelum kita belajar tentang Hadits Hasan, diingatkan ya,  harus ngerti dulu tentang hadits shahih, bagi yang belum ngerti lihat pembelajarannya pada pembahasan “Apa Yang Dimaksud Hadits Shahih ? ”.

Sudah ??? Bisa kita lanjutkan ? Jika bisa, mari maju, let’s go !!!

Kapan dikatakan hadits disebut hasan? Untuk menjawabnya dapat kita pahami bahwa hadits hasan itu terbagi dua. Perhatikan baik-baik, Oke??? Mulai memeras otak :

1. HASAN LIDZATIHI
Apabila hadits tersebut  cukup dengan syarat hadits shahih (lihat syarat hadits shahih : click here), namun perawinya kurang dhabith (kurang kuat ingatannya/hafalannya), dan tidak ada hadits lain yang sederajat dengannya, maka di sebut HASAN LIDZATIHI. Jika ada yang sederajat dengannya, berarti hadits itu dibantu dengan hadits hasan lidzatihi yang lain, maka kedudukannya bukan lagi Hasan Lidzatihi, tapi naik menjadi Shahih Lighairihi (untuk keterangan shahih lighairihi, lihat pembelajarannya disini : click here )

Jadi Kata kunci Hadits Hasan Lidzatihi :

-          Perawinya kurang dhabith (kurang kuat ingatannya).
-          Tidak ada hadits lain yang sederajat dengannya.

Kira-kira ngerti ngak yaaa …???

Kalau udah ngerti, next !!!

2. HADITS HASAN LIGHAIRIHI

Apabila hadits tersebut dha’if (lemah) karena perawinya buruk hafalannya, atau karena mastur (tidak dikenal siapa dirinya), namun  ia didukung oleh hadits dha’if (lemah) yang sederajat dengannya, maka ia menjadi HADITS HASAN LIGHAIRIHI , tapi jika tidak didukung hadits lain, maka ia tetap disebut hadits dha’if (lemah) .

Stop !!!

Apapula ini hadits dha’if (lemah) ??? Istilah baru nih. Sabar…, sabar …, tentang hadits dha’if (lemah) nanti pembahasannya, insya Allah, belajarnya pelan-pelan yaaa…???

Kita kembali pada Hadits Hasan Lighairihi yang berasal dari hadits dha’if (lemah). Ini contohnya biar mudah dipahami :

Hadits Pertama :

(kataTurmudzy) telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Ziyad dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Barra’ bin ‘Azib ra. berkata, Rasulullah bersabda:

حَقًّا عَلَى الْمُسْلِمِيْنَا أَنْ يَغْتَسِلُوْا يَوْمَ الْجَمَعَةِ

“Adalah suatu kewajiban orang muslim mandi pada hari jum’at.” (Diriwayatkan Turmudzy)

Dalam hadist tersebut terdapat rawi-rawi yang terpercaya, kecuali Hasyim bin Ziyad, ia terkenal dengan mudallis (suka menyembunyikan aib/cacat seseorang yang meriwayatkan hadits, padahal dalam rawi hadits ini penting untuk mengetahui apakah perawinya cacat atau tidak, untuk menentukan diterima atau tidaknya periwayatan darinya). Karena itu hadits di atas dianggap lemah (dha’if).

Untuk sementara pahamkan makna hadits dha’if (lemah) ? Tapi nanti untuk keterangan hadits dha’if (lemah)kita ulas lebih dalam, sebab cabang dan ketentuannya banyak, insya Allah.

Hadits Kedua :

Melalui jalan sanad yang lain, terdapat hadits yang sederajat dengan hadits pertama, sehingga hadits tersebut menguatkannya. Yakni riwayat Turmudzy juga, dengan  jalur sanad :

Turmudzy – Aly bin Hasan Al-Kufy – Abu Yahya Ismail bin Ibrahim Attaimy – Yazid bin Ziyad – Abdurrahman bin A’bi Laila – Barra bin ‘Azib.

Dalam sanad ini yang dianggap menyebabkan dha’if (lemah) adalah Abu Yahya (namun tidak terlalu lemah).

Kesimpulannya :

Hadist pertama yang dha’if (lemah) dikuatkan dengan hadits kedua yang juga dha’if (lemah) namun haditsnya sederajat, maka kedudukan haditsnya naik menjadi HASAN LIGHAIRIHI

Catatan yang harus diingat, Penting !!!

Tidak semua hadits dha’if (lemah) bisa menjadi Hasan Lighairihi, hanya hadits dha’if (lemah) yang disebabkan oleh :
- Rawinya buruk hafalannya (kurang dhabith)
- Rawinya mastur (tidak dikenal identitasnya)
- Rawinya mudallas (suka menyembunyikan cacat perawi)

Oke???

Pahami baik-baik, pikirkan matang-matang. Selamat menikmati dahsyatnya Ilmu Islam.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh.
___
Maraaji’ :
·    Drs. A. Basyuni M. Nur, dkk, Hadis – Ilmu Hadis 3 Untuk Madrasah Aliyah Kelas III, editor : H. Ubaidillah Muchtar dan Drs. Marzuki, Direktorat Pembinaan Perguruan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama R.I,  Dicetak oleh CV. Bintraco – Jakarta, Cetakan pertama Tahun Aggaran 1983/1984, h. 174-177. (Dengan beberapa tambahan dan perubahan redaksi)

·         Tulisan Arab dibuat melalui Arabic Pad 1.03, Freeware ©2007 by Ebta Setiawan