WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Jumat, 01 Agustus 2014

Pelajaran Ilmu Hadits : Apa Yang Dimaksud Hadits Hasan ?

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kepada Allah swt, shalawat buat Rasulullah saw.

Haaa….iii ! Kaifa haluk ???

Semoga tetap semangat belajar tentang Islam, termasuk yang hendak kita bahas pada bagian ini tentang HADITS HASAN. Wooo…w pelajaran anak PK memang luar biasa. Kita belajar tentang hakikat ilmu yang sesungguhnya, ilmu yang akan membuat bangga orang kita kala kita menguasainya, ilmu yang membuat ditinggikan derajat kita dan membuat kita mulia di dunia maupun di akhirat.

Sebelum kita belajar tentang Hadits Hasan, diingatkan ya,  harus ngerti dulu tentang hadits shahih, bagi yang belum ngerti lihat pembelajarannya pada pembahasan “Apa Yang Dimaksud Hadits Shahih ? ”.

Sudah ??? Bisa kita lanjutkan ? Jika bisa, mari maju, let’s go !!!

Kapan dikatakan hadits disebut hasan? Untuk menjawabnya dapat kita pahami bahwa hadits hasan itu terbagi dua. Perhatikan baik-baik, Oke??? Mulai memeras otak :

1. HASAN LIDZATIHI
Apabila hadits tersebut  cukup dengan syarat hadits shahih (lihat syarat hadits shahih : click here), namun perawinya kurang dhabith (kurang kuat ingatannya/hafalannya), dan tidak ada hadits lain yang sederajat dengannya, maka di sebut HASAN LIDZATIHI. Jika ada yang sederajat dengannya, berarti hadits itu dibantu dengan hadits hasan lidzatihi yang lain, maka kedudukannya bukan lagi Hasan Lidzatihi, tapi naik menjadi Shahih Lighairihi (untuk keterangan shahih lighairihi, lihat pembelajarannya disini : click here )

Jadi Kata kunci Hadits Hasan Lidzatihi :

-          Perawinya kurang dhabith (kurang kuat ingatannya).
-          Tidak ada hadits lain yang sederajat dengannya.

Kira-kira ngerti ngak yaaa …???

Kalau udah ngerti, next !!!

2. HADITS HASAN LIGHAIRIHI

Apabila hadits tersebut dha’if (lemah) karena perawinya buruk hafalannya, atau karena mastur (tidak dikenal siapa dirinya), namun  ia didukung oleh hadits dha’if (lemah) yang sederajat dengannya, maka ia menjadi HADITS HASAN LIGHAIRIHI , tapi jika tidak didukung hadits lain, maka ia tetap disebut hadits dha’if (lemah) .

Stop !!!

Apapula ini hadits dha’if (lemah) ??? Istilah baru nih. Sabar…, sabar …, tentang hadits dha’if (lemah) nanti pembahasannya, insya Allah, belajarnya pelan-pelan yaaa…???

Kita kembali pada Hadits Hasan Lighairihi yang berasal dari hadits dha’if (lemah). Ini contohnya biar mudah dipahami :

Hadits Pertama :

(kataTurmudzy) telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’, telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Ziyad dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Barra’ bin ‘Azib ra. berkata, Rasulullah bersabda:

حَقًّا عَلَى الْمُسْلِمِيْنَا أَنْ يَغْتَسِلُوْا يَوْمَ الْجَمَعَةِ

“Adalah suatu kewajiban orang muslim mandi pada hari jum’at.” (Diriwayatkan Turmudzy)

Dalam hadist tersebut terdapat rawi-rawi yang terpercaya, kecuali Hasyim bin Ziyad, ia terkenal dengan mudallis (suka menyembunyikan aib/cacat seseorang yang meriwayatkan hadits, padahal dalam rawi hadits ini penting untuk mengetahui apakah perawinya cacat atau tidak, untuk menentukan diterima atau tidaknya periwayatan darinya). Karena itu hadits di atas dianggap lemah (dha’if).

Untuk sementara pahamkan makna hadits dha’if (lemah) ? Tapi nanti untuk keterangan hadits dha’if (lemah)kita ulas lebih dalam, sebab cabang dan ketentuannya banyak, insya Allah.

Hadits Kedua :

Melalui jalan sanad yang lain, terdapat hadits yang sederajat dengan hadits pertama, sehingga hadits tersebut menguatkannya. Yakni riwayat Turmudzy juga, dengan  jalur sanad :

Turmudzy – Aly bin Hasan Al-Kufy – Abu Yahya Ismail bin Ibrahim Attaimy – Yazid bin Ziyad – Abdurrahman bin A’bi Laila – Barra bin ‘Azib.

Dalam sanad ini yang dianggap menyebabkan dha’if (lemah) adalah Abu Yahya (namun tidak terlalu lemah).

Kesimpulannya :

Hadist pertama yang dha’if (lemah) dikuatkan dengan hadits kedua yang juga dha’if (lemah) namun haditsnya sederajat, maka kedudukan haditsnya naik menjadi HASAN LIGHAIRIHI

Catatan yang harus diingat, Penting !!!

Tidak semua hadits dha’if (lemah) bisa menjadi Hasan Lighairihi, hanya hadits dha’if (lemah) yang disebabkan oleh :
- Rawinya buruk hafalannya (kurang dhabith)
- Rawinya mastur (tidak dikenal identitasnya)
- Rawinya mudallas (suka menyembunyikan cacat perawi)

Oke???

Pahami baik-baik, pikirkan matang-matang. Selamat menikmati dahsyatnya Ilmu Islam.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakatuh.
___
Maraaji’ :
·    Drs. A. Basyuni M. Nur, dkk, Hadis – Ilmu Hadis 3 Untuk Madrasah Aliyah Kelas III, editor : H. Ubaidillah Muchtar dan Drs. Marzuki, Direktorat Pembinaan Perguruan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama R.I,  Dicetak oleh CV. Bintraco – Jakarta, Cetakan pertama Tahun Aggaran 1983/1984, h. 174-177. (Dengan beberapa tambahan dan perubahan redaksi)

·         Tulisan Arab dibuat melalui Arabic Pad 1.03, Freeware ©2007 by Ebta Setiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar