Assalaamu’alaikum
Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Puji syukur kepada Allah
swt, shalawat buat Rasulullah saw.
Haaa….iii ! Kaifa haluk
???
Semoga
tetap semangat belajar tentang Islam, termasuk yang hendak kita bahas pada
bagian ini tentang HADITS HASAN. Wooo…w pelajaran anak PK memang luar biasa.
Kita belajar tentang hakikat ilmu yang sesungguhnya, ilmu yang akan membuat
bangga orang kita kala kita menguasainya, ilmu yang membuat ditinggikan derajat
kita dan membuat kita mulia di dunia maupun di akhirat.
Sebelum
kita belajar tentang Hadits Hasan, diingatkan ya, harus ngerti dulu tentang hadits shahih, bagi
yang belum ngerti lihat pembelajarannya pada pembahasan “Apa Yang Dimaksud Hadits Shahih ? ”.
Sudah
??? Bisa kita lanjutkan ? Jika bisa, mari maju, let’s go !!!
Kapan
dikatakan hadits disebut hasan? Untuk menjawabnya dapat kita pahami bahwa
hadits hasan itu terbagi dua. Perhatikan baik-baik, Oke??? Mulai memeras otak :
1. HASAN LIDZATIHI
Apabila
hadits tersebut cukup dengan syarat
hadits shahih (lihat syarat hadits shahih : click here), namun perawinya kurang
dhabith (kurang kuat ingatannya/hafalannya), dan tidak ada hadits lain yang sederajat
dengannya, maka di sebut HASAN LIDZATIHI. Jika ada yang sederajat dengannya,
berarti hadits itu dibantu dengan hadits hasan lidzatihi yang lain, maka
kedudukannya bukan lagi Hasan Lidzatihi, tapi naik menjadi Shahih Lighairihi
(untuk keterangan shahih lighairihi, lihat pembelajarannya disini : click here )
Jadi
Kata kunci Hadits Hasan Lidzatihi :
-
Perawinya kurang
dhabith (kurang kuat ingatannya).
-
Tidak ada hadits
lain yang sederajat dengannya.
Kira-kira ngerti ngak yaaa …???
Kalau udah ngerti, next !!!
2. HADITS HASAN LIGHAIRIHI
Apabila
hadits tersebut dha’if (lemah) karena perawinya buruk hafalannya, atau
karena mastur (tidak dikenal siapa dirinya), namun ia didukung oleh hadits dha’if (lemah)
yang sederajat dengannya, maka ia menjadi HADITS HASAN LIGHAIRIHI
, tapi jika tidak didukung hadits lain, maka ia tetap disebut hadits dha’if (lemah)
.
Stop
!!!
Apapula
ini hadits dha’if (lemah) ??? Istilah baru nih. Sabar…, sabar …, tentang
hadits dha’if (lemah) nanti pembahasannya, insya Allah, belajarnya
pelan-pelan yaaa…???
Kita
kembali pada Hadits Hasan Lighairihi yang berasal dari hadits dha’if (lemah).
Ini contohnya biar mudah dipahami :
Hadits
Pertama :
(kataTurmudzy)
telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’, telah menceritakan kepada kami Hasyim
bin Ziyad dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Barra’ bin ‘Azib ra.
berkata, Rasulullah bersabda:
حَقًّا عَلَى الْمُسْلِمِيْنَا أَنْ
يَغْتَسِلُوْا يَوْمَ الْجَمَعَةِ
“Adalah
suatu kewajiban orang muslim mandi pada hari jum’at.” (Diriwayatkan Turmudzy)
Dalam
hadist tersebut terdapat rawi-rawi yang terpercaya, kecuali Hasyim bin
Ziyad, ia terkenal dengan mudallis (suka menyembunyikan aib/cacat seseorang
yang meriwayatkan hadits, padahal dalam rawi hadits ini penting untuk
mengetahui apakah perawinya cacat atau tidak, untuk menentukan diterima atau
tidaknya periwayatan darinya). Karena itu hadits di atas dianggap lemah (dha’if).
Untuk
sementara pahamkan makna hadits dha’if (lemah) ? Tapi nanti untuk
keterangan hadits dha’if (lemah)kita ulas lebih dalam, sebab cabang dan
ketentuannya banyak, insya Allah.
Hadits
Kedua :
Melalui
jalan sanad yang lain, terdapat hadits yang sederajat dengan hadits pertama,
sehingga hadits tersebut menguatkannya. Yakni riwayat Turmudzy juga,
dengan jalur sanad :
Turmudzy
– Aly bin Hasan Al-Kufy – Abu Yahya Ismail bin Ibrahim Attaimy – Yazid
bin Ziyad – Abdurrahman bin A’bi Laila – Barra bin ‘Azib.
Dalam
sanad ini yang dianggap menyebabkan dha’if (lemah) adalah Abu Yahya
(namun tidak terlalu lemah).
Kesimpulannya
:
Hadist
pertama yang dha’if (lemah) dikuatkan dengan hadits kedua yang juga dha’if
(lemah) namun haditsnya sederajat, maka kedudukan haditsnya naik menjadi HASAN
LIGHAIRIHI
Catatan
yang harus diingat, Penting !!!
Tidak
semua hadits dha’if (lemah) bisa menjadi Hasan Lighairihi, hanya hadits dha’if
(lemah) yang disebabkan oleh :
-
Rawinya buruk hafalannya (kurang dhabith)
-
Rawinya mastur (tidak dikenal identitasnya)
-
Rawinya mudallas (suka menyembunyikan cacat perawi)
Oke???
Pahami
baik-baik, pikirkan matang-matang. Selamat menikmati dahsyatnya Ilmu Islam.
Assalaamu’alaikum
Warahmatullaahi Wabarakatuh.
___
Maraaji’ :
· Drs. A. Basyuni M.
Nur, dkk, Hadis – Ilmu Hadis 3 Untuk Madrasah Aliyah Kelas III, editor : H.
Ubaidillah Muchtar dan Drs. Marzuki, Direktorat Pembinaan Perguruan Agama
Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama
R.I, Dicetak oleh CV. Bintraco –
Jakarta, Cetakan pertama Tahun Aggaran 1983/1984, h. 174-177. (Dengan beberapa
tambahan dan perubahan redaksi)
·
Tulisan Arab dibuat
melalui Arabic Pad 1.03, Freeware ©2007 by Ebta Setiawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar