Hujan, rahmat yang memiliki warna warni
inspirasi bagi kehidupan insan. Ia datang tak bisa diukur, raibnya tak
terkendali. Terkadang kala diharapkan ia enggan untuk sekedar memenuhi harapan
tersebut, tapi kala tak dibutuhkan tiba-tiba muncul tanpa aba-aba. Kehadirannya
menyentuh kalbu, bisa memebuat hati yang beku kala ditimpa kegalauan, tapi
menjadi keindahan berpendar penuh kilauan bagi jiwa yang rindu akan
kehadirannya. Ia membasahi jiwa-jiwa yang kering kerontang. Itulah hujan.
Luar biasa hujan dengan sifat kedatangannya
yang misteri. Bisa saja manusia dengan pengetahuannya memprediksi kapan ia
turun, tapi tak lebih dari perkiraan semata. Dan kala ia bersentuhan dengan
taqdir Allah swt., maka perkiraan itu sirna laksana debu ditiup angin, sama
sekali perkiraan itu jauh panggang dari api. Disanalah misterinya hujan. Kalau
dalam musim-musim, ditentukan bulan ini musim hujan, tapi mengapa ada istilah
kemarau panjang? Bukankah ia telah melindas musim-musim bulan datangnya hujan?
Kalau ada yang mengira gumpalan awan hitam dilangit sedang menari-nari pertanda
hujan akan turun, diiringi kilat menyambar-nyambar disahut dentuman gemuruh
petir menandakan akan lebatnya hujan mengguyuri bumi? Mengapa dengan sekejap ia
bisa saja hilang, dan langit kembali cerah? Hujan tidak turun. Sementara disisi
lain, dalam kondisi langit cerah, panasnya mentari membakar bumi, tiba-tiba air
hujan membasahi bumi. Itulah hujan. Hujan
begitu misteri.
Setiap kita butuh hujan, baik pada wilayah
yang memang menggantungkan hidup pada curah hujan, termasuk pada wilayah yang
berada di wilayah yang airnya melimpah. Untuk yang kedua ini, perlu menjadi
renungan lebih lanjut, pada wilayah yang airnya melimpah seperti danau, rawa ,
sungai ataupun laut, mengapa penduduk yang hidup disekitarnya tetap berharap
pada hujan? Sebab kelebihan limpahan air yang disediakan alam untuk mereka sama
sekali tidak menutup kebutuhan mereka pada hujan. Bagaimanapun hujan tetap
sebagai sumber kehidupan yang fundamental.
Ini artinya, hujan memiliki multifungsi
yang tidak bisa diwakilkan. Boleh saja wilayah berair bangga dengan keberadaan
airnya yang melimpah, namun sampai kapan ia akan bertahan jika hujan enggan
menyambanginya. Bukankah musim panas yang berkepanjangan akan mengakibatkan
keberadaan air menjadi susut dan jika tidak disuplai dengan air yang baru ia
akan habis? Dan hujanlah penyuplai itu. Tanpa hujan sumur-sumur akan kering,
air danau akan menguap tanpa tambahan, sungaipun berpotensi untuk kering,
apalagi telaga. Jadi apa yang dibanggakan dari semua itu tanpa hujan?
Jelas sudah, hujan adalah kebutuhan vital,
ia datang dan pergi menjalankan takdirnya, dan ia telah memberi cahaya
kehidupan pada makhluk hidup dengan guyuran airnya yang membagi rata rezki makhluk
dipermukaan bumi. Setiap kita akan rindu dengan hujan, dan kita berharap hujan
akan selalu ada dalam kehidupan kita.
Namun pertanyaanya. Mengapa hujan terkadang
menjadi musibah bagi kita? Ia datang bagaikan bala tentara musuh yang hendak
mencabik-cabik kehidupan kita. Dengan
guyurannya yang besar, deras dan membahana, membuat air sungai meluap,
menghantam pemukiman penduduk hingga menutup akses jalan, bahkan merusak
jalanan sebagai jalur transportasi. Kota besar menjadi danau ataupun sungai,
akibat ulahnya yang mengirim banjir besar. Kampung-kampung binasa akibat tanah
longsor yang selalu dikikisnya. Sebelum dijawab mengapa hujan terkadang menjadi
musibah bagi kita, mari kita beri pertanyaan selanjutnya, benarkah semua ini
akibat ulah hujan? Hujan memang misteri, tapi untuk pertanyaan yang terakhir
ini, ini bukanlah sebuah kemisterian hujan, sebab pertanyaan ini berada pada ranah sebab akibat. Hanya
saja, sebelum kita memvonis hujan sebagai penyebab dan melahirkan akibat,
marilah kita mengaca apa yang telah kita buat dipermukaan bumi ini, sehingga
hujan yang merupakan rahmat dari Allah swt., tapi akibatnya seakan menjadi
malapetaka bagi kita. Apakah rahmat itu mengandung malapetaka? Atau kita yang
tidak mampu memahami rahmat sehingga kita lebih memilih malapetaka?
Yang jelas hujan tetap hujan, ia datang
menjadi rahmat. Lalu kala ia kita rasakan sebagai malapetaka, mengapa semua ini
terjadi? Bertanyalah pada nurani dan apa yang telah kita buat. Jangan tanyakan
pada hujan, karena hujan tak butuh untuk menjawab pertanyaan kita. Jawablah
dengan nurani kita. Satu hal, dalam Islam kita diajarkan, jika hujan tak
kunjung turun, agar kita melaksanakan shalat istisqa’, shalat minta hujan,
dengan menundukkan kepala penuh permohonan, keinsyafan diri akan segala apa yang
dilakukan. Renungkanlah ! Sungguh semuanya memiliki serpihan-serpihan makna,
agar kita lebih menyadari bahwa segala apa yang terjadi tak ada yang luput dari
pantauan Allah swt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar