WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 02 Agustus 2014

Renungan Hujan : Antara Rahmat dan Malapetaka

Hujan, rahmat yang memiliki warna warni inspirasi bagi kehidupan insan. Ia datang tak bisa diukur, raibnya tak terkendali. Terkadang kala diharapkan ia enggan untuk sekedar memenuhi harapan tersebut, tapi kala tak dibutuhkan tiba-tiba muncul tanpa aba-aba. Kehadirannya menyentuh kalbu, bisa memebuat hati yang beku kala ditimpa kegalauan, tapi menjadi keindahan berpendar penuh kilauan bagi jiwa yang rindu akan kehadirannya. Ia membasahi jiwa-jiwa yang kering kerontang. Itulah hujan.
Luar biasa hujan dengan sifat kedatangannya yang misteri. Bisa saja manusia dengan pengetahuannya memprediksi kapan ia turun, tapi tak lebih dari perkiraan semata. Dan kala ia bersentuhan dengan taqdir Allah swt., maka perkiraan itu sirna laksana debu ditiup angin, sama sekali perkiraan itu jauh panggang dari api. Disanalah misterinya hujan. Kalau dalam musim-musim, ditentukan bulan ini musim hujan, tapi mengapa ada istilah kemarau panjang? Bukankah ia telah melindas musim-musim bulan datangnya hujan? Kalau ada yang mengira gumpalan awan hitam dilangit sedang menari-nari pertanda hujan akan turun, diiringi kilat menyambar-nyambar disahut dentuman gemuruh petir menandakan akan lebatnya hujan mengguyuri bumi? Mengapa dengan sekejap ia bisa saja hilang, dan langit kembali cerah? Hujan tidak turun. Sementara disisi lain, dalam kondisi langit cerah, panasnya mentari membakar bumi, tiba-tiba air hujan  membasahi bumi. Itulah hujan. Hujan begitu misteri.
Setiap kita butuh hujan, baik pada wilayah yang memang menggantungkan hidup pada curah hujan, termasuk pada wilayah yang berada di wilayah yang airnya melimpah. Untuk yang kedua ini, perlu menjadi renungan lebih lanjut, pada wilayah yang airnya melimpah seperti danau, rawa , sungai ataupun laut, mengapa penduduk yang hidup disekitarnya tetap berharap pada hujan? Sebab kelebihan limpahan air yang disediakan alam untuk mereka sama sekali tidak menutup kebutuhan mereka pada hujan. Bagaimanapun hujan tetap sebagai sumber kehidupan yang fundamental.
Ini artinya, hujan memiliki multifungsi yang tidak bisa diwakilkan. Boleh saja wilayah berair bangga dengan keberadaan airnya yang melimpah, namun sampai kapan ia akan bertahan jika hujan enggan menyambanginya. Bukankah musim panas yang berkepanjangan akan mengakibatkan keberadaan air menjadi susut dan jika tidak disuplai dengan air yang baru ia akan habis? Dan hujanlah penyuplai itu. Tanpa hujan sumur-sumur akan kering, air danau akan menguap tanpa tambahan, sungaipun berpotensi untuk kering, apalagi telaga. Jadi apa yang dibanggakan dari semua itu tanpa hujan?
Jelas sudah, hujan adalah kebutuhan vital, ia datang dan pergi menjalankan takdirnya, dan ia telah memberi cahaya kehidupan pada makhluk hidup dengan guyuran airnya yang membagi rata rezki makhluk dipermukaan bumi. Setiap kita akan rindu dengan hujan, dan kita berharap hujan akan selalu ada dalam kehidupan kita.
Namun pertanyaanya. Mengapa hujan terkadang menjadi musibah bagi kita? Ia datang bagaikan bala tentara musuh yang hendak mencabik-cabik kehidupan kita.  Dengan guyurannya yang besar, deras dan membahana, membuat air sungai meluap, menghantam pemukiman penduduk hingga menutup akses jalan, bahkan merusak jalanan sebagai jalur transportasi. Kota besar menjadi danau ataupun sungai, akibat ulahnya yang mengirim banjir besar. Kampung-kampung binasa akibat tanah longsor yang selalu dikikisnya. Sebelum dijawab mengapa hujan terkadang menjadi musibah bagi kita, mari kita beri pertanyaan selanjutnya, benarkah semua ini akibat ulah hujan? Hujan memang misteri, tapi untuk pertanyaan yang terakhir ini, ini bukanlah sebuah kemisterian hujan, sebab pertanyaan  ini berada pada ranah sebab akibat. Hanya saja, sebelum kita memvonis hujan sebagai penyebab dan melahirkan akibat, marilah kita mengaca apa yang telah kita buat dipermukaan bumi ini, sehingga hujan yang merupakan rahmat dari Allah swt., tapi akibatnya seakan menjadi malapetaka bagi kita. Apakah rahmat itu mengandung malapetaka? Atau kita yang tidak mampu memahami rahmat sehingga kita lebih memilih malapetaka?

Yang jelas hujan tetap hujan, ia datang menjadi rahmat. Lalu kala ia kita rasakan sebagai malapetaka, mengapa semua ini terjadi? Bertanyalah pada nurani dan apa yang telah kita buat. Jangan tanyakan pada hujan, karena hujan tak butuh untuk menjawab pertanyaan kita. Jawablah dengan nurani kita. Satu hal, dalam Islam kita diajarkan, jika hujan tak kunjung turun, agar kita melaksanakan shalat istisqa’, shalat minta hujan, dengan menundukkan kepala penuh permohonan, keinsyafan diri akan segala apa yang dilakukan. Renungkanlah ! Sungguh semuanya memiliki serpihan-serpihan makna, agar kita lebih menyadari bahwa segala apa yang terjadi tak ada yang luput dari pantauan Allah swt. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar