Dalam
“Arsitek Peradaban: Kumpulan Esai Penggugah Jiwa”, merupakan kumpulan
pemikiran-pemikiran Ust. M. Anis Matta yang memang menggugah jiwa, ada hal
menarik yang beliau suguhkan tentang persatuan(**). Sebagai refleksi bagi kita
untuk lebih memahami persatuan bukan sekedar keterikatan semata, kita coba
mengurai dan mengambil beberapa nilai-nilai tersebut dengan harapan mampu
menggugah dan meletakkan makna persatuan pada etalase kehidupan yang
sesungguhnya, agar keberagaman kita dalam membangun umat lebih memiliki suatu
kesamaan persepsi dan lebih menjuruskan langkah mewujudkan persatuan umat yang
didambakan.
Diantara
ungkapan beliau :
“Tingkatan
ukhuwwah (marâbitul ukhuwwah) yang disebut Rasulullah saw., mulai dari salâmatus
shadr hingga îtsar, semuanya mengacu pada suasana jiwa. Jiwa yang
dapat bersatu adalah jiwa yang memiliki watak ‘permadani’. Ia dapat diduduki
oleh yang kecil dan besar, alim dan awam, remaja dan dewasa. Ia adalah jiwa
yang besar, yang dapat ‘merangkul’ dan ‘menerima’ semua jenis watak manusia. Ia
adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan,
merawat, mengembangkan, membahagiakan, dan mencintai.”(h. 64)
Watak
‘permadani’, demikian beliau mengibaratkan jiwa yang mampu untuk bersatu.
Permadani sebagaimana yang kita pahami, suatu hal yang menarik, indah penuh
warna-warni dengan segala pernak-pernik hiasan memukau, walau mungkin saja
terdapat yang polos, namun tetap indah. Permadani bagi siapa saja memiliki
kebebasan untuk mendudukinya, dalam artian ia tak pandang siapa yang layak
berada di atasnya, mampu menerima tanpa “seleksi”.
Inilah
mungkin yang hendak ditawarkan beliau. Persatuan hanya akan terwujud kala dalam
diri kita berkembang watak yang tidak memandang sesuatu berdasarkan kelebihan
diri dan semua orang harus mengikuti apa yang menjadi keinginan ataupun
pemikiran kita. Tapi hendaknya kita mencoba menerima apa yang menjadi pemikiran
ataupun kehendak orang lain walaupun bisa jadi dalam waktu tertentu
bersebrangan dengan keinginan diri kita. Kita mencoba untuk menerima dengan
lapang dada dan meletakkan segala hal dalam bingkai husnudzan
(berprasangka baik) , mungkin itulah yang terbaik. Sehingga yang kita suguhkan,
seperti kata beliau, “ Ia adalah jiwa yang besar, yang dapat ‘merangkul’ dan
‘menerima’ semua jenis watak manusia. Ia adalah jiwa yang digejolaki oleh
keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, merawat, mengembangkan,
membahagiakan, dan mencintai” (h. 64)
Selanjutnya,
beliau mengungkapkan :
“Jiwa seperti itu sepenuhnya terbebas dari
mimpi buruk ‘kemahahebatan’, ‘keserbabisaan’. Ia juga terbebas dari
ketidakmampuan untuk menghargai, menilai, dan mengetahui segi-segi positif dari
karya dan kepribadian orang lain” (h.64).
Selanjutnya:
“Jiwa
seperti itu sepenuhnya merdeka dari ‘narsisme’ individu atau kelompok.
Maksudnya bahwa ia tidak mengukur kebaikan orang lain dari kadar manfaat yang
ia peroleh dari orang itu. Tapi ia lebih melihat manfaat apa yang ia dapat
berikan kepada orang tersebut. Ia juga tidak mengukur kebenaran atau
keberhasilan seseorang atau kelompok berdasarkan apa yang ia ‘inginkan’ dari
orang atau kelompok tersebut”(h.64).
Ya,
rasa saling menghargai, menghormati, dan selalu meletakkan kedudukan saudara seiman dalam bingkai kecintaan pada dirilah
persatuan akan terwujud. Sehingga tak akan muncul merasa diri lebih dari
segalanya, yang ada saling berlomba dalam kebenaran, dan saling bahu membahu
untuk sama-sama mencapai derajat tersebut tanpa harus saling menjatuhkan dan
menyalahkan. Sebab yang terpatri dalam jiwa hanyalah keinginan untuk memberi
dan bermanfaat untuk umat, bukan untuk menonjolkan diri dan merasa diri telah
berperan, apalagi memaksakan kehendak diri untuk diikuti.
Indah
sekali beliau menggambarkan figur contoh
keteladanan sahabat Rasulullah saw. yang telah mewujudkannya :
“Umar
bin Khattab, mungkin merupakan contoh dari sahabat Rasulullah saw. yang dapat memadukan hampir semua prestasi puncak dalam bidang ruhiyah, jihad,
qiyadah, akhlak, dan lainnya. Tapi semua kehebatan itu sama sekali tidak
menghalangi beliau untuk berambisi menjadi sehelai rambut dalam dada Abu Bakar.
Sebuah wujud keterlepasan penuh dari mimpi buruk ‘kemahahebatan’ ” (h. 65).
Subhaanallaah
!
Demikianlah Umar bin Khattab sebagai figur contoh dalam memaknai persatuan,
walaupun bisa saja ia merasa lebih dari Abu Bakar dalam banyak hal, tapi ia
sama sekali tidak menjadikan tolok ukur bagi dirinya untuk merasa lebih dari
pada Abu Bakar. Dalam ungkapan Ust. M. Anis Matta “Sebuah wujud keterlepasan
penuh dari mimpi buruk ‘kemahahebatan’ ”.
Untuk
kita, yang bercita-cita dan punya keinginan untuk mewujudkan persatuan, dalam
pergerakan kita yang bermacam-macam bentuk dan metode yang tentunya persatuan
suatu hal yang didambakan, mari kita bertanya kepada relung hati kita yang
terdalam, bagi kita yang merasa kala kebenaran menurut kita yang kita
perjuangkan seakan tidak mendapatkan dukungan, dan kala kita merasa resah
melihat perjuangan saudara kita yang lain yang mungkin tidak sejalan dengan ide
perjuangan kita dan kita anggap suatu perjuangan yang tidak benar. Renungannya adalah : Apakah benar perjuangan
yang kita tempuh benar dan perjuangan yang ditempuh orang lain salah?
Pertanyaannya : Apakah yang telah kita pahami, rasakan dan amalkan telah mampu
menandingi kalibernya Umar bin Khattab seperti kata Ust. M. Anis Matta : “...Tapi
semua kehebatan itu sama sekali tidak menghalangi beliau untuk berambisi
menjadi sehelai rambut dalam dada Abu Bakar…”?. Renungkanlah ! Semoga hati
kita disatukan dalam derap-derap ukhuwah bersama bingkai persatuan Islam yang
hakiki, hingga tak satupun yang dapat menghantamnya, apalagi hanya sekedar
menggerus.
___
(*) Ulasan ini hanya
berdasarkan yang Ana pahami, hakikat makna yang sebenarnya dikembalikan
kepada penulisnya : Ust. M. Anis Matta
(**) Lihat : M. Anis
Matta, Arsitek Peradaban: Kumpulan Esai Penggugah Jiwa, Editor : Deka
Kurniawan (Jakarta: Fitrah Rabbani, 2007). Cet. II.
NB : Mohon maaf jika terdapat kesalahan petikan atau penulisan.
NB : Mohon maaf jika terdapat kesalahan petikan atau penulisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar