WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 02 Agustus 2014

Refleksi Tentang Persatuan Kita (Hikmah Untaian Kalimat Ust. M. Anis Matta) (*)

Dalam “Arsitek Peradaban: Kumpulan Esai Penggugah Jiwa”, merupakan kumpulan pemikiran-pemikiran Ust. M. Anis Matta yang memang menggugah jiwa, ada hal menarik yang beliau suguhkan tentang persatuan(**). Sebagai refleksi bagi kita untuk lebih memahami persatuan bukan sekedar keterikatan semata, kita coba mengurai dan mengambil beberapa nilai-nilai tersebut dengan harapan mampu menggugah dan meletakkan makna persatuan pada etalase kehidupan yang sesungguhnya, agar keberagaman kita dalam membangun umat lebih memiliki suatu kesamaan persepsi dan lebih menjuruskan langkah mewujudkan persatuan umat yang didambakan.

Diantara ungkapan beliau :

“Tingkatan ukhuwwah (marâbitul ukhuwwah) yang disebut Rasulullah saw., mulai dari salâmatus shadr hingga îtsar, semuanya mengacu pada suasana jiwa. Jiwa yang dapat bersatu adalah jiwa yang memiliki watak ‘permadani’. Ia dapat diduduki oleh yang kecil dan besar, alim dan awam, remaja dan dewasa. Ia adalah jiwa yang besar, yang dapat ‘merangkul’ dan ‘menerima’ semua jenis watak manusia. Ia adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, merawat, mengembangkan, membahagiakan, dan mencintai.”(h. 64)

Watak ‘permadani’, demikian beliau mengibaratkan jiwa yang mampu untuk bersatu. Permadani sebagaimana yang kita pahami, suatu hal yang menarik, indah penuh warna-warni dengan segala pernak-pernik hiasan memukau, walau mungkin saja terdapat yang polos, namun tetap indah. Permadani bagi siapa saja memiliki kebebasan untuk mendudukinya, dalam artian ia tak pandang siapa yang layak berada di atasnya, mampu  menerima tanpa “seleksi”.

Inilah mungkin yang hendak ditawarkan beliau. Persatuan hanya akan terwujud kala dalam diri kita berkembang watak yang tidak memandang sesuatu berdasarkan kelebihan diri dan semua orang harus mengikuti apa yang menjadi keinginan ataupun pemikiran kita. Tapi hendaknya kita mencoba menerima apa yang menjadi pemikiran ataupun kehendak orang lain walaupun bisa jadi dalam waktu tertentu bersebrangan dengan keinginan diri kita. Kita mencoba untuk menerima dengan lapang dada dan meletakkan segala hal dalam bingkai husnudzan (berprasangka baik) , mungkin itulah yang terbaik. Sehingga yang kita suguhkan, seperti kata beliau, “ Ia adalah jiwa yang besar, yang dapat ‘merangkul’ dan ‘menerima’ semua jenis watak manusia. Ia adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, merawat, mengembangkan, membahagiakan, dan mencintai” (h. 64)

Selanjutnya, beliau mengungkapkan :

“Jiwa seperti itu sepenuhnya terbebas dari mimpi buruk ‘kemahahebatan’, ‘keserbabisaan’. Ia juga terbebas dari ketidakmampuan untuk menghargai, menilai, dan mengetahui segi-segi positif dari karya dan kepribadian orang lain” (h.64).

Selanjutnya:

“Jiwa seperti itu sepenuhnya merdeka dari ‘narsisme’ individu atau kelompok. Maksudnya bahwa ia tidak mengukur kebaikan orang lain dari kadar manfaat yang ia peroleh dari orang itu. Tapi ia lebih melihat manfaat apa yang ia dapat berikan kepada orang tersebut. Ia juga tidak mengukur kebenaran atau keberhasilan seseorang atau kelompok berdasarkan apa yang ia ‘inginkan’ dari orang atau kelompok tersebut”(h.64).

Ya, rasa saling menghargai, menghormati, dan selalu meletakkan kedudukan saudara  seiman dalam bingkai kecintaan pada dirilah persatuan akan terwujud. Sehingga tak akan muncul merasa diri lebih dari segalanya, yang ada saling berlomba dalam kebenaran, dan saling bahu membahu untuk sama-sama mencapai derajat tersebut tanpa harus saling menjatuhkan dan menyalahkan. Sebab yang terpatri dalam jiwa hanyalah keinginan untuk memberi dan bermanfaat untuk umat, bukan untuk menonjolkan diri dan merasa diri telah berperan, apalagi memaksakan kehendak diri untuk diikuti.

Indah sekali beliau menggambarkan   figur contoh keteladanan sahabat Rasulullah saw. yang telah mewujudkannya :

“Umar bin Khattab, mungkin merupakan contoh dari sahabat Rasulullah saw. yang dapat memadukan hampir semua prestasi puncak dalam bidang ruhiyah, jihad, qiyadah, akhlak, dan lainnya. Tapi semua kehebatan itu sama sekali tidak menghalangi beliau untuk berambisi menjadi sehelai rambut dalam dada Abu Bakar. Sebuah wujud keterlepasan penuh dari mimpi buruk ‘kemahahebatan’ ” (h. 65).

Subhaanallaah ! Demikianlah Umar bin Khattab sebagai figur contoh dalam memaknai persatuan, walaupun bisa saja ia merasa lebih dari Abu Bakar dalam banyak hal, tapi ia sama sekali tidak menjadikan tolok ukur bagi dirinya untuk merasa lebih dari pada Abu Bakar. Dalam ungkapan Ust. M. Anis Matta “Sebuah wujud keterlepasan penuh dari mimpi buruk ‘kemahahebatan’ ”.

Untuk kita, yang bercita-cita dan punya keinginan untuk mewujudkan persatuan, dalam pergerakan kita yang bermacam-macam bentuk dan metode yang tentunya persatuan suatu hal yang didambakan, mari kita bertanya kepada relung hati kita yang terdalam, bagi kita yang merasa kala kebenaran menurut kita yang kita perjuangkan seakan tidak mendapatkan dukungan, dan kala kita merasa resah melihat perjuangan saudara kita yang lain yang mungkin tidak sejalan dengan ide perjuangan kita dan kita anggap suatu perjuangan yang tidak benar.  Renungannya adalah : Apakah benar perjuangan yang kita tempuh benar dan perjuangan yang ditempuh orang lain salah? Pertanyaannya : Apakah yang telah kita pahami, rasakan dan amalkan telah mampu menandingi kalibernya Umar bin Khattab seperti kata Ust. M. Anis Matta : “...Tapi semua kehebatan itu sama sekali tidak menghalangi beliau untuk berambisi menjadi sehelai rambut dalam dada Abu Bakar…”?. Renungkanlah ! Semoga hati kita disatukan dalam derap-derap ukhuwah bersama bingkai persatuan Islam yang hakiki, hingga tak satupun yang dapat menghantamnya, apalagi hanya sekedar menggerus.
___

(*) Ulasan ini hanya berdasarkan yang Ana pahami, hakikat makna yang sebenarnya dikembalikan kepada penulisnya : Ust. M. Anis Matta 

(**) Lihat : M. Anis Matta, Arsitek Peradaban: Kumpulan Esai Penggugah Jiwa, Editor : Deka Kurniawan (Jakarta: Fitrah Rabbani, 2007). Cet. II.

NB : Mohon maaf jika terdapat kesalahan petikan atau penulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar