WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 02 Agustus 2014

Watak Generasi Tukang Sorak


Siapa yang tidak kenal dengan anjing? Binatang yang tergolong mengidap najis berat. Apabila air liurnya menyentuh kita, maka haruslah dicuci tujuh kali dengan air dan satunya dicampur dengan tanah, barulah najis itu dikategorikan hilang.
Dalam interaksi keseharian, istilah penggunaan kata anjing adalah kata-kata kotor yang di sandarkan kepada seseorang yang dianggap menjijikkan. Ia merupakan kosakata yang tidak mengandung pendidikan, dan sedapat mungkin hendaknya dihindari dalam tulisan-tulisan ilmiah atau pembicaraan agar istilah ini sama-sama dianggap tabu dan tidak boleh dikembangkan karena mengandung mudharat.
Sungguh, jika kita mencoba melihat kenyataan, perilaku yang ditonjolkan anjing diantaranya memang perilaku yang menjijikkan, parahnya lagi perilaku tersebut  kemungkinan saja diwarisi oleh sosok manusia. Itulah manusia-manusia yang berwatak anjing, perilakunya perilaku anjing, dan sikapnya, sikapnya anjing.
Bagaimanakah watak anjing ini? Perhatikanlah ! Yang paling santer anjing suka menggonggong tak karuan, menyalak setiap orang yang lewat di depan mereka. Seakan hendak menyerang, tapi itu hanya gertak belaka.  Menyalak dari kejauhan, biasanya  dekat kandang dengan cara ramai-ramai, seakan-akan untuk menumbuhkan rasa takut bagi yang disalak. Jika mereka melihat yang disalak ketakutan dan menunjukkan gelagat hendak melarikan diri, maka anjing itu akan semakin berani dan mulai menampakkan ancar-ancar hendak menyerang, sok jagoan. Tapi, jika yang disalak seakan tidak peduli, acuh tak acuh saja, anjing tersebut tetap berdiri di tempatnya dengan terus menyalak, ia tak hendak menunjukkan gelagat menyerang, karena bisa jadi sangat tidak percaya diri dengan salakannya. Parahnya, jika yang disalak menunjukkan gelagat hendak melawan, seperti seseorang yang menunjukkan hendak mengambil batu untuk melempari, maka anjing itu dengan terbirit-birit akan lari ketakutan, padahal belum tentu benar-benar hendak dilempar, baru sebatas menunduk belaka, pengecut. Itulah watak yang ditonjolkan anjing, sok jaogoan, tukang sorak, dan pengecut.
Pertanyaanya ? Adakah manusia yang berwatak seperti ini ? Kalau ada, inilah ciri dari sosok manusia atau kelompok yang hanya berani dengan komentar penuh sorak, kala komentarnya menampakkan pengaruh dan membuat orang lain terpedaya, ia semakin memperkuat komentarnya dan semakin berani dengan komentarnya. Namun kala komentarnya tak dipedulikan orang, ia sendiripun tidak mampu memperjuangkan kekuatan komentarnya untuk dapat diterima orang lain, maka tinggallah ia dengan komentarnya belaka, tukang sorak, anehnya ia tetap saja komentar tak karuan walau telah ditinggalkan orang. Parahnya, kala ia diserang orang, dibantah dan digertak, ia menjadi kecut, tak berdaya, dan berupaya mencari helah untuk menyelamatkan diri. Intinya ia tak pernah berbuat, ia hanya mampu berkomentar, tukang sorak, dan berharap orang mengikuti keinginannya. Mereka berharap kala orang telah mengikuti keinginan mereka, barulah mereka bergerak. Tapi jika belum, mereka lebih senang menjadi tukang sorak, tukang komentar, dan jika dituntut untuk mewujudkan komentar mereka dan membuktikan, palingan mereka akan jawab dengan alasan klise, “belum saatnya”.
Mereka mengira dengan komentar mereka itu akan dapat mengubah keadaan, seperti anjing yang mengira dengan salakannya itu membuat semua yang ada di depannya takut. Padahal salakannya tersebut lebih menunjukkan kebodohan dirinya bahwa dirinya adalah pengecut, sebab salakan itu hanyalah alat untuk menakut-nakuti. Demikianlah ahli komentar yang mengira dengan komentar mereka itu akan merubah keadaan, padahal tidak lebih menunjukkan mereka hanya tukang sorak. Dan mereka hanyalah sosok lemah yang tidak berdaya. Berlindung dari ketajaman lidah yang sama sekali membinasakan dirinya sendiri. Menyembunyikan watak diri yang suka mengomentari tapi enggan untuk bergerak, pengecut.

Adakah dalam sejarah orang-orang yang banyak omong, tukang komentar mampu mengubah dunia? Apakah mereka mengira dengan sorak tersebut dapat membangkitkan semangat untuk bangkit dari keterpurukan? Sama sekali tidak. Segala sesuatu hanya akan terbangun dengan kerja keras dan kerja nyata, dimulai dari apa yang bisa dilakukan, lalu memperjuangkannya. Bukannya komentar dengan sorak, tapi tak pernah berbuat apa-apa. Ibarat anjing yang  hanya menakut-nakuti dengan salakan, kala yang disalak tak peduli, maka salakan itu tinggal senandung hina dan lebih layak dicampakkan pada tong sampah, disebabkan sama sekali tak mendatangkan manfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar