Siapa yang tidak kenal dengan anjing?
Binatang yang tergolong mengidap najis berat. Apabila air liurnya menyentuh
kita, maka haruslah dicuci tujuh kali dengan air dan satunya dicampur dengan
tanah, barulah najis itu dikategorikan hilang.
Dalam interaksi keseharian, istilah
penggunaan kata anjing adalah kata-kata kotor yang di sandarkan kepada
seseorang yang dianggap menjijikkan. Ia merupakan kosakata yang tidak
mengandung pendidikan, dan sedapat mungkin hendaknya dihindari dalam
tulisan-tulisan ilmiah atau pembicaraan agar istilah ini sama-sama dianggap
tabu dan tidak boleh dikembangkan karena mengandung mudharat.
Sungguh, jika kita mencoba melihat
kenyataan, perilaku yang ditonjolkan anjing diantaranya memang perilaku yang
menjijikkan, parahnya lagi perilaku tersebut kemungkinan saja diwarisi oleh sosok manusia.
Itulah manusia-manusia yang berwatak anjing, perilakunya perilaku anjing, dan
sikapnya, sikapnya anjing.
Bagaimanakah watak anjing ini?
Perhatikanlah ! Yang paling santer anjing suka menggonggong tak karuan,
menyalak setiap orang yang lewat di depan mereka. Seakan hendak menyerang, tapi
itu hanya gertak belaka. Menyalak dari
kejauhan, biasanya dekat kandang dengan
cara ramai-ramai, seakan-akan untuk menumbuhkan rasa takut bagi yang disalak.
Jika mereka melihat yang disalak ketakutan dan menunjukkan gelagat hendak
melarikan diri, maka anjing itu akan semakin berani dan mulai menampakkan
ancar-ancar hendak menyerang, sok jagoan. Tapi, jika yang disalak seakan tidak
peduli, acuh tak acuh saja, anjing tersebut tetap berdiri di tempatnya dengan
terus menyalak, ia tak hendak menunjukkan gelagat menyerang, karena bisa jadi
sangat tidak percaya diri dengan salakannya. Parahnya, jika yang disalak
menunjukkan gelagat hendak melawan, seperti seseorang yang menunjukkan hendak
mengambil batu untuk melempari, maka anjing itu dengan terbirit-birit akan lari
ketakutan, padahal belum tentu benar-benar hendak dilempar, baru sebatas
menunduk belaka, pengecut. Itulah watak yang ditonjolkan anjing, sok jaogoan,
tukang sorak, dan pengecut.
Pertanyaanya ? Adakah manusia yang berwatak
seperti ini ? Kalau ada, inilah ciri dari sosok manusia atau kelompok yang
hanya berani dengan komentar penuh sorak, kala komentarnya menampakkan
pengaruh dan membuat orang lain terpedaya, ia semakin memperkuat komentarnya
dan semakin berani dengan komentarnya. Namun kala komentarnya tak dipedulikan
orang, ia sendiripun tidak mampu memperjuangkan kekuatan komentarnya untuk dapat
diterima orang lain, maka tinggallah ia dengan komentarnya belaka, tukang sorak,
anehnya ia tetap saja komentar tak karuan walau telah ditinggalkan orang.
Parahnya, kala ia diserang orang, dibantah dan digertak, ia menjadi kecut, tak
berdaya, dan berupaya mencari helah untuk menyelamatkan diri. Intinya ia tak
pernah berbuat, ia hanya mampu berkomentar, tukang sorak, dan berharap
orang mengikuti keinginannya. Mereka berharap kala orang telah mengikuti
keinginan mereka, barulah mereka bergerak. Tapi jika belum, mereka lebih senang
menjadi tukang sorak, tukang komentar, dan jika dituntut untuk
mewujudkan komentar mereka dan membuktikan, palingan mereka akan jawab dengan
alasan klise, “belum saatnya”.
Mereka mengira dengan komentar mereka itu
akan dapat mengubah keadaan, seperti anjing yang mengira dengan salakannya itu
membuat semua yang ada di depannya takut. Padahal salakannya tersebut lebih
menunjukkan kebodohan dirinya bahwa dirinya adalah pengecut, sebab salakan itu
hanyalah alat untuk menakut-nakuti. Demikianlah ahli komentar yang mengira
dengan komentar mereka itu akan merubah keadaan, padahal tidak lebih
menunjukkan mereka hanya tukang sorak. Dan mereka hanyalah sosok lemah
yang tidak berdaya. Berlindung dari ketajaman lidah yang sama sekali membinasakan
dirinya sendiri. Menyembunyikan watak diri yang suka mengomentari tapi enggan
untuk bergerak, pengecut.
Adakah dalam sejarah orang-orang yang
banyak omong, tukang komentar mampu mengubah dunia? Apakah mereka mengira
dengan sorak tersebut dapat membangkitkan semangat untuk bangkit dari
keterpurukan? Sama sekali tidak. Segala sesuatu hanya akan terbangun dengan
kerja keras dan kerja nyata, dimulai dari apa yang bisa dilakukan, lalu
memperjuangkannya. Bukannya komentar dengan sorak, tapi tak pernah
berbuat apa-apa. Ibarat anjing yang
hanya menakut-nakuti dengan salakan, kala yang disalak tak peduli, maka
salakan itu tinggal senandung hina dan lebih layak dicampakkan pada tong
sampah, disebabkan sama sekali tak mendatangkan manfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar