WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Sabtu, 02 Agustus 2014

Refleksi Tentang Ukhuwah Kita

Aku sangat yakin dengan kekuatan ukhuwah. Ukhuwah itu tak dapat dibayar dengan materi sebesar apapun. Satu hal, ia hanya akan  terwujud kala kesatuan hati terbina melalui suatu proses yang bukan dibangun atas kamuflase atau “atas nama kepentingan”, tapi dibangun  atas kesamaan pandangan, tujuan dan cita-cita. Disanalah manifestasi ukhuwah itu mengakar hingga melahirkan pohon yang kokoh, bercabang, berdaun hingga berbuah ranum, lezat sekali hasilnya.
Terkadang …, apa yang kita rasakan dari ukhuwah malah melebihi dari pada apa yang kita pahami. Bisa saja kita memahami konsep-konsep ukhuwah sebagai suatu persaudaraan yang kokoh. Yang mana dalam konsepnya ia berwujud dalam bentuk saling mencintai dan merasakan hidup dalam satuan perasaan yang saling mengikat. Namun selama konsep itu hanya berada dalam tataran ilmiah dan pembicaraan-pembicaraan belaka, maka ia tak lebih dari pada pelajaran-pelajaran dalam lembaran ilmu yang kering dari rasa dan nilai. Sebab rasa dan nilai itu bukanlah teori,  tapi menghunjam ke dalam hati sanubari dan mempengaruhi pola tingkah laku serta cara pandang. Demikianlah ukhuwah, kedahsyatannya akan nampak dan kewibawaannya membumbung tinggi kala ia telah menjadi bagian dari perilaku hidup, dirasakan, bukan sekedar dipahami. Inilah yang aku maksud, terkadang apa yang kita rasakan dari ukhuwah melebihi dari apa yang kita pahami.
Ukhuwah kala telah terwujud,  mampu membentuk jiwa untuk lebih menyadari bahwa hidup adalah suatu jama’ah, ia saling mengikat dan saling menguatkan antara satu sama lain. Disanalah kegembiraan hati akan bersemi dalam taman-taman keindahan. Hati yang gersang akan disirami cahaya cinta yang penuh gelora, ia akan selalu dibangkitkan  oleh kehadiran hati yang lain, walaupun hanya sekedar untuk memandang wajahnya. Siraman cahaya ukhuwah itulah yang menggerakkannya, sehingga hanya dengan melihat wajah saudara se-Iman telah mampu membangkitkan hati yang terkapar  tak berdaya, hanya dengan seulas senyuman dari saudara se-Iman mampu menjadi alat penggerak untuk bangkit dari keterpurukan. Mengapa? Karena saudara se-Iman adalah alarm pengingat akan makna iman itu sendiri, makna perjuangan akan iman, dan makna bahwa imanlah yang mengantarkan kita pada derajat ketinggian. Sebab iman kita diantaranya terbentuk dan mengurai dalam lingkup-lingkup proses tarbiyah jama’ah orang-orang beriman. Kita sama-sama belajar tentang iman, kita sama-sama berjuang untuk iman, dan satu hal iman itulah yang mengikat kita, sehingga ia menjadi suatu ukhuwah. Demikianlah hebatnya Allah swt menggambarkan ukhuwah dalam surat al-Hujuraat ayat 10 : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”.
Apa yang pertama dilakukan Rasulullah saw terhadap orang beriman kala hijrah ke Yastrib yang akhirnya bernama Madinah? Ya, ukhuwah, mempersaudarakan kaum muhajirin dan anshar. Menyatukan hati orang-orang beriman. Menanamkan pada mereka bahwa mereka satu kesatuan dalam panji-panji iman.  Kesudahannya, terbentuklah kekokohan iman dalam persatuan yang berpijak pada permadani ukhuwah. Terbentuklah suatu kekuatan besar dalam derap-derap langkah yang teratur. Hingga perang diizinkan dan pasukan dimobilisasi, kala musuh hendak menyerang, maka yang ada adalah keberanian, yang muncul adalah perlawanan, yang bersemi dalam jiwa adalah tekad serta semangat yang membara untuk mempertahankan keimanan. Sebab hati itu telah kuat, jiwa itu saling mengokohkan, perasaan itu punya kekuatan besar. Apa yang membuat ragu? Apa yang membuat takut? Apa yang membuat lemah? Kala ia telah dikokohkan oleh iman, kala ia telah diikat kesatuan ukhuwah yang membentuk kekuatan besar, laksana benteng kokoh yang takkan jangankan roboh bergoyangpun tidak?

Demikianlah dahsyatnya ukhuwah. Pertanyaannya, sejauhmana ukhuwah kita hari ini? Dimana nilai-nilai persaudaraan itu kita sandang? Ditengah zaman dan kondisi umat Islam dibeberapa belahan bumi ini tercabik-cabik? Mengapa harus ada saudara-saudara kita yang terzhalimi  dengan kezhaliman yang berkepanjangan, seakan tak ada pembelaan? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar