Aku
sangat yakin dengan kekuatan ukhuwah. Ukhuwah itu tak dapat dibayar dengan
materi sebesar apapun. Satu hal, ia hanya akan
terwujud kala kesatuan hati terbina melalui suatu proses yang bukan
dibangun atas kamuflase atau “atas nama kepentingan”, tapi dibangun atas kesamaan pandangan, tujuan dan
cita-cita. Disanalah manifestasi ukhuwah itu mengakar hingga melahirkan pohon
yang kokoh, bercabang, berdaun hingga berbuah ranum, lezat sekali hasilnya.
Terkadang
…, apa yang kita rasakan dari ukhuwah malah melebihi dari pada apa yang kita
pahami. Bisa saja kita memahami konsep-konsep ukhuwah sebagai suatu
persaudaraan yang kokoh. Yang mana dalam konsepnya ia berwujud dalam bentuk
saling mencintai dan merasakan hidup dalam satuan perasaan yang saling
mengikat. Namun selama konsep itu hanya berada dalam tataran ilmiah dan
pembicaraan-pembicaraan belaka, maka ia tak lebih dari pada pelajaran-pelajaran
dalam lembaran ilmu yang kering dari rasa dan nilai. Sebab rasa dan nilai itu
bukanlah teori, tapi menghunjam ke dalam
hati sanubari dan mempengaruhi pola tingkah laku serta cara pandang.
Demikianlah ukhuwah, kedahsyatannya akan nampak dan kewibawaannya membumbung
tinggi kala ia telah menjadi bagian dari perilaku hidup, dirasakan, bukan
sekedar dipahami. Inilah yang aku maksud, terkadang apa yang kita rasakan dari
ukhuwah melebihi dari apa yang kita pahami.
Ukhuwah
kala telah terwujud, mampu membentuk
jiwa untuk lebih menyadari bahwa hidup adalah suatu jama’ah, ia saling mengikat
dan saling menguatkan antara satu sama lain. Disanalah kegembiraan hati akan
bersemi dalam taman-taman keindahan. Hati yang gersang akan disirami cahaya
cinta yang penuh gelora, ia akan selalu dibangkitkan oleh kehadiran hati yang lain, walaupun hanya
sekedar untuk memandang wajahnya. Siraman cahaya ukhuwah itulah yang
menggerakkannya, sehingga hanya dengan melihat wajah saudara se-Iman telah
mampu membangkitkan hati yang terkapar
tak berdaya, hanya dengan seulas senyuman dari saudara se-Iman mampu
menjadi alat penggerak untuk bangkit dari keterpurukan. Mengapa? Karena saudara
se-Iman adalah alarm pengingat akan makna iman itu sendiri, makna perjuangan
akan iman, dan makna bahwa imanlah yang mengantarkan kita pada derajat
ketinggian. Sebab iman kita diantaranya terbentuk dan mengurai dalam
lingkup-lingkup proses tarbiyah jama’ah orang-orang beriman. Kita sama-sama
belajar tentang iman, kita sama-sama berjuang untuk iman, dan satu hal iman
itulah yang mengikat kita, sehingga ia menjadi suatu ukhuwah. Demikianlah
hebatnya Allah swt menggambarkan ukhuwah dalam surat al-Hujuraat ayat 10 : “Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara…”.
Apa
yang pertama dilakukan Rasulullah saw terhadap orang beriman kala hijrah ke
Yastrib yang akhirnya bernama Madinah? Ya, ukhuwah, mempersaudarakan kaum
muhajirin dan anshar. Menyatukan hati orang-orang beriman. Menanamkan pada
mereka bahwa mereka satu kesatuan dalam panji-panji iman. Kesudahannya, terbentuklah kekokohan iman
dalam persatuan yang berpijak pada permadani ukhuwah. Terbentuklah suatu
kekuatan besar dalam derap-derap langkah yang teratur. Hingga perang diizinkan
dan pasukan dimobilisasi, kala musuh hendak menyerang, maka yang ada adalah
keberanian, yang muncul adalah perlawanan, yang bersemi dalam jiwa adalah tekad
serta semangat yang membara untuk mempertahankan keimanan. Sebab hati itu telah
kuat, jiwa itu saling mengokohkan, perasaan itu punya kekuatan besar. Apa yang
membuat ragu? Apa yang membuat takut? Apa yang membuat lemah? Kala ia telah
dikokohkan oleh iman, kala ia telah diikat kesatuan ukhuwah yang membentuk
kekuatan besar, laksana benteng kokoh yang takkan jangankan roboh bergoyangpun
tidak?
Demikianlah
dahsyatnya ukhuwah. Pertanyaannya, sejauhmana ukhuwah kita hari ini? Dimana
nilai-nilai persaudaraan itu kita sandang? Ditengah zaman dan kondisi umat
Islam dibeberapa belahan bumi ini tercabik-cabik? Mengapa harus ada
saudara-saudara kita yang terzhalimi
dengan kezhaliman yang berkepanjangan, seakan tak ada pembelaan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar