WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Senin, 14 Januari 2013

Cinta di Atas Cinta (Bagian 1)

Mengapa kau mencintai seseorang ?

Yaaa…karena agamalah, diakan rajin shalat, ahli ibadah, rajin baca al-Qur’an, paham ilmu agama.

Aaaa...h yang benar  ajalah! 

Apakah memang itu alasanmu ?

Lho… kok nanyanya gitu ?

Nggaaa…k cuma ragu aja. 

Hah ??? Kok ragu ???

Iya, masalahnya nih, coba kalau ditanya lagi, bagaimana kalau kriteria orang tersebut memang demikian, tapi wajahnya jelek. Sama sekali nggak menarik, apakah kamu bersedia mencintainya ???

Tetaplah mencintainya ! Bukankah seseorang itu yang penting agamanya dulu baru yang lain-lain ?

Yang benaaa …rrr !!! Atau itu hanya sebagai jawaban belaka, jika memang keadaan tersebut bena-benar menimpamu apakah kamu betul sanggup menerimanya ???

Bagaimana jika pertanyaan itu terlontar kepada kita ??? Apa jawaban kita ? Mungkin secara jujur kita nggak sanggup jawabnya. Jujur ajalah, siapa pula manusia ini yang nggak cinta keindahan, jelaslah ia ingin mencintai seseorang yang memiliki keindahan. Jika kita seorang laki-laki kita mendambakan pendamping hidup perempuan cantik, lalu kita embel-embeli dibelakangnya, cantik dan shalehah. Ha…ha…ha…. Begitu juga kalau kita perempuan, yang kita inginkan tentulah seorang laki-laki gagah, punya mata pencarian yang memadai dengan bentuk fisik memukau and atletis, juga kita embel-embeli dibelakangnya, yang nggak pernah ninggalin shalat, huuu…..yang benar aja.

Ya, itulah kita, dengan segala kekurangan kita yang tidak mampu membendung keinginan hati kita yangs sesungguhnya, bahwa sebenarnya kita memang cinta akan keindahan dari seseorang, kalau urusan agamanya, secara jujur, lebih kita posisikan nomor kesekian kalinya.

Pertanyaannya, mengapa hal tersebut bisa terjadi pada diri kita ? Mungkin juga kita pernah mencoba menepis semua itu, kita mencoba untuk menata hati agar lebih mencintai seseorang berdasarkan agamanya, tapi daya tarik untuk mengedepankan keindahan fisik lebih dominan. Terkadang karena kita kalah dengan peperangan batin itu, akhirnya kita mencari pebenaran, Bukankah Allah itu indah dan sangat mencintai keindahan. Akhirnya jatuhlah kita pada jurang membenarkan kenyataan, bahwa mencintai seseorang karena keindahan fisiknya tak masalah. Na’udzubillah.

Ketahuilah, yang perlu kita pahami makna Allah Maha Indah dan mencintai keindahan itu perlu kita luruskan, agar kita tak terperosok terlalu jauh dalam mengada-adakan urusan, apalagi mengaitkan dengan Allah swt, bahaya …waspadalah !!!

Kita pernah dengar bukan ? Kemuliaan orang disisi Allah swt bukanlah berdasarkan keindahan fisiknya, tapi berdasarkan ketaqwaannya, jadi indah dalam pandangan Allah swt merupakan keindahan yang dilandasi kepatuhan dan keta’atan kepada-Nya. Bukan berdasarkan fisik yang sama sekali terkadang malah membawa bencana. Camkan ini dulu … ini dalam maknanya.

Sudah direnungkan ??? Oke ??? Kita lanjut ya …

Sesungguhnya kecintaan kita pada keindahan fisik seseorang karena lantaran memang itulah yang tampak bagi kita, jelas nyata, wajah yang tampan, atau paras yang cantik memukau. Sehingga membuat mata terpesona yang melahirkan angan-angan. Tak salah jika semua itu bermula dari pandangan mata. Bisa dilihat, disaksikan terpampang tanpa hijab.

Inilah alasannya mengapa kita tidak mampu mencintai Allah swt, karena Allah swt itu tidak tampak dalam pandangan mata lahir kita, keberadaan-Nya tidak terpampang jelas di mata lahir, bagaimanapun kita berupaya menggambarkan keindahan Allah swt, kita tidak akan mampu, bahkan kala kita mencoba menggambarkan keindahan Allah swt malah menjatuhkan kita pada jurang kemusyrikan, sebab Allah swt itu berbeda dengan makhluk-Nya, tidak ada satupun yang menyerupai-Nya (Lihat surat al-Ikhlas ayat 4).

Sehingga keadaan ini tidak melahirkan rasa cinta itu pada Allah swt Yang Maha Indah. Kala rasa cinta itu tidak dimiliki, maka kita tidak akan pernah mencintai seseorang karena agama-Nya, sebab mencintai seseorang karena agama-Nya adalah bukti cinta kita kepada Allah swt. Inilah yang dimaksud “ Aku mencintaimu karena Allah swt. ”

Setelah mengetahui semua ini, masihkah kau sesumbar mengatakan bahwa kau mencintai seseorang karena agamanya ??? Ah, itu hanya ucapan bibirmu yang sama sekali berseberangan dengan hatimu, nyatanya kau masih menjatuhkan pilihan pada keindahan fisik seseorang karena memang sebenarnya kau tidak pernah mencintai Allah swt, kau hanya berkata mencintai Allah swt tapi sebenarnya kau sendiri tidak paham dengan perkataanmu. Rumit memang, tapi demikianlah kenyataan hati kita.

Berbenahlah … sebelum terlambat …agar kau tak menyesal kelak. Menyesal karena engkau menipu dirimu sendiri. Akhir semua keindahan adalah kala kau tak lagi peduli dengan segala keindahan dunia yang tampak memukau ini, tapi kau terpesona dengan keindahan Allah swt, yang dipancarkan dan dilahirkan dalam diri orang-orang yang beriman,  walau fisiknya sama sekali tidak menarik.

Gimana dooo…ng, mungkin dilain waktu saja kita ulas.

Hanya sebelum kututup, ingin kurangkai sebuah kisah indah yang dituturkan Zaprul Khan dalam Kisah-Kisah Penuh Hikmah Yang Sanggup Menumbuhkan IQ, SQ dan EQ (terbitan Mitra Pustaka 2006), tentang kisah yang melegenda bagi sang pencinta. Simak yaaa …

Mengapa Qais mencintai Layla yang tidak menawan ? Hingga kawan-kawan Qais merasa heran hinggga mereka menanyakan pada Qais. Renungkan apa jawaban Qais :

“ … Layla gadis miskin yang terlihat bersahaja dan tidak menarik di mata kalian, justru indah dalam pandanganku. Layla memang miskin dalam harta, tapi kaya jiwanya. Ia berparas biasa saja, namun cantik akhlaknya. Ia mungkin tampak hina secara jasmaniah, tapi agung secara rohaniah. Kelemahlembutan tutur sapanya, ungkapan kasih sayangnya, kemuliaan sifatnya dan kehangatan hatinya menyelimuti keburukan parasnya dengan kecantikan bidadari.

Sungguh, ia bagiku laksana mawar berduri yang menebarkan harum semerbak dan memancarkan keindahan tersendiri yang tidak dapat ditemukan di taman bunga umum. Itulah yang menjadikan Layla menjelma indah dan mempesona dalam penglihatanku. Memang penglihatanku berbeda dengan penglihatan kalian. Bersihkanlah pikiran kalian dan hati kalian dari keruhnya gelora nafsu birahi, sehingga kalian bisa melihat apa yang aku saksikan. Lepaskanlah ikatan jasmaniah yang menutupi mata batin kalian, niscaya kalian akan dapat menyaksikan keindahan ruhaniyah Layla yang membuatku terpesona. Dan keindahan ruhaniah itu jauh melebihi keindahan jasmaniah.”

Lalu Qais bersyair :

Wahai bulan purnama, bagaimana caranya aku
menjelaskan keindahan cahayamu kepada mereka yang terlelap
di malam hari? Karena itu, aku mohon kepadamu,
katakan kepada mereka: “Berjagalah pada malam hari,
agar engkau mampu melihat keagungan
cahaya wajahmu.”

Subhaanallaah !

Maka, untuk kalian yang mengumbar cinta diberbagai tempat, apakah melalui SMS atau jejaring sosial Facebook, berhentilah … berhentilah mulai saat ini, karena kalian sebenarnya terpedaya oleh cinta semu, cinta buta yang hanya akan menjatuhkan kemuliaan cinta yang sesungguhnya ada pada diri kalian.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar