Yaaa…karena
agamalah, diakan rajin shalat, ahli ibadah, rajin baca al-Qur’an, paham ilmu
agama.
Aaaa...h yang benar ajalah!
Apakah memang itu
alasanmu ?
Lho… kok
nanyanya gitu ?
Nggaaa…k
cuma ragu aja.
Hah ??? Kok ragu
???
Iya,
masalahnya nih, coba kalau ditanya lagi, bagaimana kalau kriteria orang tersebut
memang demikian, tapi wajahnya jelek. Sama sekali nggak menarik, apakah kamu
bersedia mencintainya ???
Tetaplah
mencintainya ! Bukankah seseorang itu yang penting agamanya dulu baru yang
lain-lain ?
Yang benaaa
…rrr !!! Atau itu hanya sebagai jawaban belaka, jika memang keadaan tersebut
bena-benar menimpamu apakah kamu betul sanggup menerimanya ???
Bagaimana
jika pertanyaan itu terlontar kepada kita ??? Apa jawaban kita ? Mungkin secara
jujur kita nggak sanggup jawabnya. Jujur ajalah, siapa pula manusia ini yang
nggak cinta keindahan, jelaslah ia ingin mencintai seseorang yang memiliki
keindahan. Jika kita seorang laki-laki kita mendambakan pendamping hidup perempuan
cantik, lalu kita embel-embeli dibelakangnya, cantik dan shalehah. Ha…ha…ha….
Begitu juga kalau kita perempuan, yang kita inginkan tentulah seorang laki-laki
gagah, punya mata pencarian yang memadai dengan bentuk fisik memukau and
atletis, juga kita embel-embeli dibelakangnya, yang nggak pernah ninggalin
shalat, huuu…..yang benar aja.
Ya, itulah
kita, dengan segala kekurangan kita yang tidak mampu membendung keinginan hati
kita yangs sesungguhnya, bahwa sebenarnya kita memang cinta akan keindahan dari
seseorang, kalau urusan agamanya, secara jujur, lebih kita posisikan nomor
kesekian kalinya.
Pertanyaannya,
mengapa hal tersebut bisa terjadi pada diri kita ? Mungkin juga kita pernah
mencoba menepis semua itu, kita mencoba untuk menata hati agar lebih mencintai
seseorang berdasarkan agamanya, tapi daya tarik untuk mengedepankan keindahan
fisik lebih dominan. Terkadang karena kita kalah dengan peperangan batin itu,
akhirnya kita mencari pebenaran, Bukankah Allah itu indah dan sangat mencintai
keindahan. Akhirnya jatuhlah kita pada jurang membenarkan kenyataan, bahwa
mencintai seseorang karena keindahan fisiknya tak masalah. Na’udzubillah.
Ketahuilah,
yang perlu kita pahami makna Allah Maha Indah dan mencintai keindahan itu perlu
kita luruskan, agar kita tak terperosok terlalu jauh dalam mengada-adakan
urusan, apalagi mengaitkan dengan Allah swt, bahaya …waspadalah !!!
Kita pernah
dengar bukan ? Kemuliaan orang disisi Allah swt bukanlah berdasarkan keindahan
fisiknya, tapi berdasarkan ketaqwaannya, jadi indah dalam pandangan Allah swt
merupakan keindahan yang dilandasi kepatuhan dan keta’atan kepada-Nya. Bukan
berdasarkan fisik yang sama sekali terkadang malah membawa bencana. Camkan ini
dulu … ini dalam maknanya.
Sudah
direnungkan ??? Oke ??? Kita lanjut ya …
Sesungguhnya
kecintaan kita pada keindahan fisik seseorang karena lantaran memang itulah
yang tampak bagi kita, jelas nyata, wajah yang tampan, atau paras yang cantik
memukau. Sehingga membuat mata terpesona yang melahirkan angan-angan. Tak salah
jika semua itu bermula dari pandangan mata. Bisa dilihat, disaksikan terpampang
tanpa hijab.
Inilah
alasannya mengapa kita tidak mampu mencintai Allah swt, karena Allah swt itu
tidak tampak dalam pandangan mata lahir kita, keberadaan-Nya tidak terpampang jelas di
mata lahir, bagaimanapun kita berupaya menggambarkan keindahan Allah swt, kita
tidak akan mampu, bahkan kala kita mencoba menggambarkan keindahan Allah swt
malah menjatuhkan kita pada jurang kemusyrikan, sebab Allah swt itu berbeda
dengan makhluk-Nya, tidak ada satupun yang menyerupai-Nya (Lihat surat
al-Ikhlas ayat 4).
Sehingga
keadaan ini tidak melahirkan rasa cinta itu pada Allah swt Yang Maha Indah.
Kala rasa cinta itu tidak dimiliki, maka kita tidak akan pernah mencintai
seseorang karena agama-Nya, sebab mencintai seseorang karena agama-Nya adalah
bukti cinta kita kepada Allah swt. Inilah yang dimaksud “ Aku mencintaimu
karena Allah swt. ”
Setelah
mengetahui semua ini, masihkah kau sesumbar mengatakan bahwa kau mencintai
seseorang karena agamanya ??? Ah, itu hanya ucapan bibirmu yang sama sekali
berseberangan dengan hatimu, nyatanya kau masih menjatuhkan pilihan pada
keindahan fisik seseorang karena memang sebenarnya kau tidak pernah mencintai
Allah swt, kau hanya berkata mencintai Allah swt tapi sebenarnya kau sendiri
tidak paham dengan perkataanmu. Rumit memang, tapi demikianlah
kenyataan hati kita.
Berbenahlah
… sebelum terlambat …agar kau tak menyesal kelak. Menyesal karena engkau menipu
dirimu sendiri. Akhir semua keindahan adalah kala kau tak lagi peduli dengan
segala keindahan dunia yang tampak memukau ini, tapi kau terpesona dengan
keindahan Allah swt, yang dipancarkan dan dilahirkan dalam diri orang-orang
yang beriman, walau fisiknya sama sekali
tidak menarik.
Gimana dooo…ng,
mungkin dilain waktu saja kita ulas.
Hanya sebelum
kututup, ingin kurangkai sebuah kisah indah yang dituturkan Zaprul Khan dalam
Kisah-Kisah Penuh Hikmah Yang Sanggup Menumbuhkan IQ, SQ dan EQ (terbitan Mitra
Pustaka 2006), tentang kisah yang melegenda bagi sang pencinta. Simak yaaa …
Mengapa Qais
mencintai Layla yang tidak menawan ? Hingga kawan-kawan Qais merasa heran
hinggga mereka menanyakan pada Qais. Renungkan apa jawaban Qais :
“ … Layla
gadis miskin yang terlihat bersahaja dan tidak menarik di mata kalian, justru
indah dalam pandanganku. Layla memang miskin dalam harta, tapi kaya jiwanya. Ia
berparas biasa saja, namun cantik akhlaknya. Ia mungkin tampak hina secara
jasmaniah, tapi agung secara rohaniah. Kelemahlembutan tutur sapanya, ungkapan
kasih sayangnya, kemuliaan sifatnya dan kehangatan hatinya menyelimuti
keburukan parasnya dengan kecantikan bidadari.
Sungguh, ia
bagiku laksana mawar berduri yang menebarkan harum semerbak dan memancarkan
keindahan tersendiri yang tidak dapat ditemukan di taman bunga umum. Itulah
yang menjadikan Layla menjelma indah dan mempesona dalam penglihatanku. Memang
penglihatanku berbeda dengan penglihatan kalian. Bersihkanlah pikiran kalian
dan hati kalian dari keruhnya gelora nafsu birahi, sehingga kalian bisa melihat
apa yang aku saksikan. Lepaskanlah ikatan jasmaniah yang menutupi mata batin
kalian, niscaya kalian akan dapat menyaksikan keindahan ruhaniyah Layla yang
membuatku terpesona. Dan keindahan ruhaniah itu jauh melebihi keindahan
jasmaniah.”
Lalu Qais
bersyair :
Wahai bulan
purnama, bagaimana caranya aku
menjelaskan keindahan
cahayamu kepada mereka yang terlelap
di malam
hari? Karena itu, aku mohon kepadamu,
katakan
kepada mereka: “Berjagalah pada malam hari,
agar engkau
mampu melihat keagungan
cahaya wajahmu.”
Subhaanallaah
!
Maka, untuk
kalian yang mengumbar cinta diberbagai tempat, apakah melalui SMS atau jejaring
sosial Facebook, berhentilah … berhentilah mulai saat ini, karena kalian
sebenarnya terpedaya
oleh cinta semu, cinta buta yang hanya akan menjatuhkan kemuliaan cinta yang
sesungguhnya ada pada diri kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar