WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO
WENDRI NALDI EL-MANINJAUI KHATIB BANDARO

Jumat, 18 Januari 2013

Cinta Di Atas Cinta (Bagian 2)


Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Oooo…jiwa-jiwa yang dirundung cinta, jiwa-jiwa yang bergelora kerinduan, mungkin kau telah lelah untuk mencari dimana kesucian  cinta itu sesungguhnya, tapi kau tak kunjung menemukannya. Sampai-sampai kau merasa ragu, apakah benar ada cinta hakiki itu,apakah syair-syair para sufi tentang cinta itu hanyalah utopia yang tak berujung, apakah benar mereka telah mengecap manisnya cinta hingga membuat mereka terbuai ? Aduhai …ketahuilah, para sufi itu benar adanya, jika kau meragukan, itu hanyalah karena kau tak pernah sampai padanya.

Ketahuilah …langkah awal yang harus kau ketahui …betapa bahaya menimpamu kala kau mencintai yang fana ini sepenuh jiwa. Saat kau mencintai manusia karena kegagahannya atau karena keanggunannya, sungguh suatu saat kau akan menyesal karena telah tertipu. Ketertipuan itu akan terasa kala kau telah terjatuh dan tersungkur. Artinya kau akan merasakan kecintaanmu telah salah alamat kala kau mengetahui dan merasakan ternyata cintamu tidak berlabuh pada dermaga yang dituju, tapi tedampar pada bayang-bayang semu perih tak tertahankan. Alegoris memang, namun begini sederhananya, saat kau mencintai seseorang karena kegagahannya atau karena keanggunannya, lalu saat kegagahan itu memudar dan keanggunan itu mulai pias, akankah kau masih mencintainya ? Tidak akan, engkau akan berupaya mencari kegagahan yang lain dan keanggunan yang lain, pertanyaannya, sampai kapan semua itu akan berakhir ? Karena semua itu tak punya ujung …semua itu akan membuat kau lelah, tapi tak kunjung kau mendapatkan cinta yang hakiki. Saat itulah kau akan merasakan ketertipuan. Ini tentu saja jika cinta itu memang mendapat tempatnya, artinya kala kau mendapatkan cinta dari  kegagahan atau kecantikan. Tapi bagaimana jika kau sama sekali tidak mendapatkannnya ? Bagaimana jika didepanmu ia menyatakan cinta padamu, lalu dibelakangmun ia menipumu ? Bagaimana jika ia sebenarnya tidak mencintaimu sepenuh jiwa, tapi ada sesuatu yang lain yang ia harapkan darimu ? Sungguh dirimu akan kecewa, dirimu akan merana, lantas apakah kau akan menyalahkannya ? Apakah kau akan menganggap ia sebagai pecundang dalam hidupmu ?

Ooo…ketahuilah, semua itu tak akan merubah keadaan, karena sesungguhnya melampiaskan kesalahan pada pihak lain sama sekali tidak akan mengeluarkanmu dari jerat masalah. Mengapa ? Karena masalah itu lahir dari dirimu sendiri, kau yang mengundang masalah, kau yang memfungsikan cinta pada pantai yang terlarang untuk berlabuh. Maka siapa yang menyemai, tentu ia yang memanen.

Sekarang coba, kala kau mencoba melabuhkan cintamu pada Allah SWT, pernahkah Ia mengecewakanmu ? Pernahkah segala keinginanmu tak dikabulkan ? Mungkin memang pernah kau berdo’a pada-Nya, lalu tak dikabulkan, itu bukan berarti tak dikabulkan, bisa jadi do’amu tak layak dikabulkan, karena tidak layak untuk dirimu, apakah hal itu mengecewakanmu ? Apakah kau kecewa kala keinginanmu tak terkabulkan, ternyata keinginan itu membahayakanmu ? Tentunya kau malah bersyukur.

Saat kau melakukan kesalahan, Allah SWT segera menegurmu, apakah dengan musibah, sehingga musibah itu menyadarkanmu akan kesalahanmu, adakah yang melebihi kecintaan melebihi kecintaan ini ? Subhaanallaah !

Coba, kala kau mencintai manusia sepenuh jiwa, saat kau melakukan kesalahan apakah ia menegur ? Tak akan, ia tidak akan menegurmu, mengapa ? Karena baginya bagaimana dirimu tidak tersakiti dan tetap mencintainya, bukankah teguran itu secara kasat mata memang menyakitkan ? Kala Allah SWT menegurmu dengan musibah, bukankah musibah itu menyakitkan ? Tapi apakah kau lupa, bahwa obat yang menyembuhkan adalah pahit ? Namun manusia enggan melakukan itu terhadapmu, ia akan selalu menampakkan  hal yang menyenangkan  bagimu, sampai-sampai ia membenarkan kesalahanmu, agar kau tetap mencintaimu, bukankah manusia seperti ini sebenarnya tidak mencintaimu, tapi punya keinginan lain dari dirimu ? Dan ketahuilah sungguh ini musuhmu yang nyata, berhati-hatilah …!!!

Mungkin kau berkilah, tak semua manusia seperti itu. Kita jawab, memang, manusia yang tergolong pengecualian inilah yang hidupnya penuh dengan kecintaan pada Allah SWT. Tapi kau tak akan mendapatkan manusia seperti ini sebelum kau mencintai Allah SWT. Sebab manusia seperti ini, kecintaannya sebenarnya bukan pada dirimu, tapi pada Allah SWT. Kala ia menyaksikan kesalahan yang kau perbuat, lalu ia menegurmu, ketahuilah ….jangan kau menyangak ia mencintaimu …tapi karena ia mencintai Allah SWT, kala ia melihat suatu kesalahan yang diperbuat oleh manusia lalu langsung menegur karena memang demikian yang diperintahkan Allah SWt untuknya, karena kecintaannya pada Allah SWT maka ia melakukan teguran.

Maka, kala kau mencintai Allah SWT, niscaya kau akan mendapatkan  seseorang yang juga mencintai Allah SWT, saat dua hati bersatu karena saling mencintai karena Allah SWT, inilah yang dimaksud, “ Aku mencintaimu karena Allah SWT. “ Muaranya, kau takkan pernah kecewa, kalau toh kau berpisah dengan  orang yang kau cintai karena Allah SWT, kau tidak akan merana, bukankah kau mencintainya karena Allah SWT, bukan karena dirinya. Ia hancur, hilang, binasa, tapi Allah SWT tidak akan.

Ambillah pelajaran dari kecintaan shahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, bagaimana ia memahami hakikat cinta yang sesungguhnya, ia adalah sosok yang begitu mencintai Rasulullah SAW, namun apa isi pidatonya kala mendapati Rasulullah SAW wafat ? Kala menyaksikan orang yang dicintainya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya ? Segaimana dituturkan Drs. M. Masyhur Amin, M.Ag dalam Sejarah Peradaban Islam (Terbitan Indonesia Spirit Foundation tahun 2004, halaman 54), :

Abu Bakar berkata, sekiranya dibenarkan aku meratapi kewafatannya niscaya aku curahkan air mataku untuknya

Namun, apa pidatonya ? :

“ Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka beliau telah meninggal dunia dan barangsiapa menyembah Allah  maka Dia Mahahidup dan tidak akan pernah mati.”

Kalau begini caranya, bagaimana mencintai Allah SWT ? Lain waktu, Insya Allah, kita sambung.

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

1 komentar:

  1. Masyaallah. Puncak kenikmatan cinta adalah sempurna nya Cinta dan dicintai oleh-Nya. Karena ini lah hakikatnya mimpi para pemimpi dan rindu para perindu. (Febri Rahmadhani, Ketua Departemen Kaderisasi Rohis BRI MAN Maninajau 2012

    BalasHapus