Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Oooo…jiwa-jiwa yang dirundung cinta,
jiwa-jiwa yang bergelora kerinduan, mungkin kau telah lelah untuk mencari
dimana kesucian cinta itu sesungguhnya,
tapi kau tak kunjung menemukannya. Sampai-sampai kau merasa ragu, apakah benar
ada cinta hakiki itu,apakah syair-syair para sufi tentang cinta itu hanyalah
utopia yang tak berujung, apakah benar mereka telah mengecap manisnya cinta
hingga membuat mereka terbuai ? Aduhai …ketahuilah, para sufi itu benar adanya,
jika kau meragukan, itu hanyalah karena kau tak pernah sampai padanya.
Ketahuilah …langkah awal yang harus kau
ketahui …betapa bahaya menimpamu kala kau mencintai yang fana ini sepenuh jiwa.
Saat kau mencintai manusia karena kegagahannya atau karena keanggunannya,
sungguh suatu saat kau akan menyesal karena telah tertipu. Ketertipuan itu akan
terasa kala kau telah terjatuh dan tersungkur. Artinya kau akan merasakan
kecintaanmu telah salah alamat kala kau mengetahui dan merasakan ternyata
cintamu tidak berlabuh pada dermaga yang dituju, tapi tedampar pada bayang-bayang
semu perih tak tertahankan. Alegoris memang, namun begini sederhananya, saat
kau mencintai seseorang karena kegagahannya atau karena keanggunannya, lalu
saat kegagahan itu memudar dan keanggunan itu mulai pias, akankah kau masih
mencintainya ? Tidak akan, engkau akan berupaya mencari kegagahan yang lain dan
keanggunan yang lain, pertanyaannya, sampai kapan semua itu akan berakhir ?
Karena semua itu tak punya ujung …semua itu akan membuat kau lelah, tapi tak
kunjung kau mendapatkan cinta yang hakiki. Saat itulah kau akan merasakan
ketertipuan. Ini tentu saja jika cinta itu memang mendapat tempatnya, artinya
kala kau mendapatkan cinta dari kegagahan
atau kecantikan. Tapi bagaimana jika kau sama sekali tidak mendapatkannnya ? Bagaimana
jika didepanmu ia menyatakan cinta padamu, lalu dibelakangmun ia menipumu ?
Bagaimana jika ia sebenarnya tidak mencintaimu sepenuh jiwa, tapi ada sesuatu
yang lain yang ia harapkan darimu ? Sungguh dirimu akan kecewa, dirimu akan
merana, lantas apakah kau akan menyalahkannya ? Apakah kau akan menganggap ia
sebagai pecundang dalam hidupmu ?
Ooo…ketahuilah, semua itu tak akan
merubah keadaan, karena sesungguhnya melampiaskan kesalahan pada pihak lain
sama sekali tidak akan mengeluarkanmu dari jerat masalah. Mengapa ? Karena
masalah itu lahir dari dirimu sendiri, kau yang mengundang masalah, kau yang
memfungsikan cinta pada pantai yang terlarang untuk berlabuh. Maka siapa yang
menyemai, tentu ia yang memanen.
Sekarang coba, kala kau mencoba
melabuhkan cintamu pada Allah SWT, pernahkah Ia mengecewakanmu ? Pernahkah
segala keinginanmu tak dikabulkan ? Mungkin memang pernah kau berdo’a pada-Nya,
lalu tak dikabulkan, itu bukan berarti tak dikabulkan, bisa jadi do’amu tak
layak dikabulkan, karena tidak layak untuk dirimu, apakah hal itu
mengecewakanmu ? Apakah kau kecewa kala keinginanmu tak terkabulkan, ternyata
keinginan itu membahayakanmu ? Tentunya kau malah bersyukur.
Saat kau melakukan kesalahan, Allah SWT
segera menegurmu, apakah dengan musibah, sehingga musibah itu menyadarkanmu
akan kesalahanmu, adakah yang melebihi kecintaan melebihi kecintaan ini ?
Subhaanallaah !
Coba, kala kau mencintai manusia sepenuh
jiwa, saat kau melakukan kesalahan apakah ia menegur ? Tak akan, ia tidak akan
menegurmu, mengapa ? Karena baginya bagaimana dirimu tidak tersakiti dan tetap
mencintainya, bukankah teguran itu secara kasat mata memang menyakitkan ? Kala
Allah SWT menegurmu dengan musibah, bukankah musibah itu menyakitkan ? Tapi
apakah kau lupa, bahwa obat yang menyembuhkan adalah pahit ? Namun manusia
enggan melakukan itu terhadapmu, ia akan selalu menampakkan hal yang menyenangkan bagimu, sampai-sampai ia membenarkan
kesalahanmu, agar kau tetap mencintaimu, bukankah manusia seperti ini
sebenarnya tidak mencintaimu, tapi punya keinginan lain dari dirimu ? Dan
ketahuilah sungguh ini musuhmu yang nyata, berhati-hatilah …!!!
Mungkin kau berkilah, tak semua manusia seperti
itu. Kita jawab, memang, manusia yang tergolong pengecualian inilah yang hidupnya
penuh dengan kecintaan pada Allah SWT. Tapi kau tak akan mendapatkan manusia
seperti ini sebelum kau mencintai Allah SWT. Sebab manusia seperti ini,
kecintaannya sebenarnya bukan pada dirimu, tapi pada Allah SWT. Kala ia
menyaksikan kesalahan yang kau perbuat, lalu ia menegurmu, ketahuilah ….jangan
kau menyangak ia mencintaimu …tapi karena ia mencintai Allah SWT, kala ia
melihat suatu kesalahan yang diperbuat oleh manusia lalu langsung menegur
karena memang demikian yang diperintahkan Allah SWt untuknya, karena
kecintaannya pada Allah SWT maka ia melakukan teguran.
Maka, kala kau mencintai Allah SWT,
niscaya kau akan mendapatkan seseorang
yang juga mencintai Allah SWT, saat dua hati bersatu karena saling mencintai
karena Allah SWT, inilah yang dimaksud, “ Aku mencintaimu karena Allah SWT. “ Muaranya,
kau takkan pernah kecewa, kalau toh kau berpisah dengan orang yang kau cintai karena Allah SWT, kau
tidak akan merana, bukankah kau mencintainya karena Allah SWT, bukan karena
dirinya. Ia hancur, hilang, binasa, tapi Allah SWT tidak akan.
Ambillah pelajaran dari kecintaan
shahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, bagaimana ia memahami hakikat
cinta yang sesungguhnya, ia adalah sosok yang begitu mencintai Rasulullah SAW,
namun apa isi pidatonya kala mendapati Rasulullah SAW wafat ? Kala menyaksikan
orang yang dicintainya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya ? Segaimana
dituturkan Drs. M. Masyhur Amin, M.Ag dalam Sejarah Peradaban Islam (Terbitan
Indonesia Spirit Foundation tahun 2004, halaman 54), :
Abu Bakar berkata,
sekiranya dibenarkan aku meratapi kewafatannya niscaya aku curahkan air mataku
untuknya.
Namun, apa pidatonya ? :
“ Barangsiapa yang menyembah
Muhammad, maka beliau telah meninggal dunia dan barangsiapa menyembah
Allah maka Dia Mahahidup dan tidak akan
pernah mati.”
Kalau begini caranya, bagaimana mencintai
Allah SWT ? Lain waktu, Insya Allah, kita sambung.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Masyaallah. Puncak kenikmatan cinta adalah sempurna nya Cinta dan dicintai oleh-Nya. Karena ini lah hakikatnya mimpi para pemimpi dan rindu para perindu. (Febri Rahmadhani, Ketua Departemen Kaderisasi Rohis BRI MAN Maninajau 2012
BalasHapus